Everyone wants to live on top of the mountain, but all the happiness and growth occurs while you're climbing it...! Sudahkah Anda membaca Berita Bima Hari Ini?

Perkampungan Bajo Pulau Terbakar, Ayo Peduli

November 26, 2015 Tinggalkan komentar

Musibah tak kenal tempat dan waktu. Inalillahi wainailaihirojiun, Rabu (25/11) sore, telah terjadi musibah kebakaran besar yang melanda desa Bajo Pulo, Kabupaten Bima. Ratusan warga setempat sedang menanti uluran tangan kita sekarang.

Lokasi kebakaran di pulau kecil dengan akses utama transportasi laut menyebabkan pekerjaan memadamkan api menjadi hal yang mustahil. Api begitu cepat merambat dan menghanguskan satu demi satu rumah penduduk yang didominasi rumah panggung yang terbuat dari kayu. Rumah penduduk yang berdempetan di pulau kecil itu telah rata dengan tanah, meninggalkan puing yang tak lagi berguna.

Desa Bajo Pulo merupakan desa yang terletak sebuah pulau dengan tiga dusun, yaitu Bajo Barat, Bajo Tengah, dan Pasir Putih. Desa ini berpenduduk 1800 jiwa dengan 509 kepala keluarga. Kebakaran para Rabu malam telah memusnahkan 63 unit rumah milik sekitar 100 kepala keluarga.

Selain rumah milik 323 jiwa, sejumlah fasilitas umum yang terdiri dari pasar, masjid, polindes, posyandu, dan fasilitas pengajaran Alquran (TPQ) musnah menjadi abu.  Dua unit perahu warga setempat juga tak luput dari kobaran api sehingga praktis mereka tidak dapat melaut.

Puluhan hingga ratusan rumah rata dengan tanah

Puluhan hingga ratusan rumah rata dengan tanah

Bajo Pulo adalah pemukiman terbesar suku Bajo dan Bugis di Kabupaten Bima – NTB. Berdiri diatas pulau cadas di lepas pantai Kecamatan Sape, Pulau cantik ini menyandarkan kebutuhan pangan dan air bersih dari daratan Sape di pulau utama. Penghasilan pokok masyarakatnya adalah sebagai nelayan yang menggantungkan hidup dari laut.

Hingga postingan ini diterbitkan, pemerintah setempat tengah mengupayakan tanggap darurat dengan mendirikan tenda pengungsi serta mendata kerugian. Untuk membantu meringankan beban para korban kebakaran, relawan lokal juga sedang berusaha memberikan penanganan pasca kejadian ini.

Jika ingin mengirim barang (obat-obatan, pakaian, peralatan sekolah, logistik, dll) dapat dikirim ke alamat :
Basecamp Pengajar Muda Bima
Jl Soekarno Hatta Gunung 2 No 14 (depan pom bensin Taman Ria)
Kelurahan Monggonao Kecamatan Mpunda Kabupaten
Bima Nusa Tenggara Barat Kode pos 84100
atau check poin terdekat dari lokasi:
Muhammad Olan Wardiansyah  (Olan Sang Ilalang)
Dusun nari RT. 009 Rw. 005 Desa Naru Kecamatan Sape Kabupaten Bima NTB.
CP 085945190514.
 Donasi juga bisa disalurkan melalui No. Rekening:

    BRI 1662.01.003160.505 a.n Etika Indah Febriani
BNI 0378459248 a.n Etika Indah Febriani
BNI 0409646257 a.n Husnul Khatimah

 
Contact person:
  1.  Etika
    HP +6282282342200
    WA +6285755988405
  2. Marwan (082147802090)
  3. Sisi Timur (085205714880)

Mohon doa dan bantuannya.

(Data akan diupdate)

 

Kategori:INFO Tag:, ,

Menjaga Laut Kita Dengan Teknologi

Oktober 29, 2015 1 komentar

Illegal fishing dewasa ini telah menjadi masalah serius bagi sejumlah negara, khususnya negara-negara pantai dan kepulauan. Indonesia yang terdiri dari 13 ribu pulau tengah giat menjaga laut dan samuderanya dari penjarahan hasil laut dari bangsa-bangsa lain.

Pada tahun 2014, tercatat kerugian Indonesia akibat aktivitas illegal di laut terutama pencurian ikan mencapai angka Rp 240 triliun. Jumlah itu diyakini masih jauh dari gambaran sebenarnya, karena penjarahan besar-besaran kekayaan Indonesia yang harusnya dimanfaatkan untuk membangun bangsa dan negara ini berlangsung secara sembunyi-sembunyi .

Dibawah kepemimpinan Presiden RI Joko Widodo, upaya mencegah kehilangan potensi kekayaan negara ini menjadi fokus utama arah kebijakan pemerintah. Kementerian Kelautan dan Perikanan RI sebagai stakeholder bidang kelautan dan perikanan menyatakan perang terbuka terhadap para pelaku illegal fishing. Upaya pemberantasan illegal fishing pun dilakukan secara massive dengan melakukan pengawasan, penangkapan, dan penenggelaman terhadap banyak kapal ikan asing yang terbukti melakukan pelanggaran dengan secara sembunyi-sembunyi menangkap ikan di dalam wilayah perairan kita.

Namun luasnya perairan kita menjadi sebuah masalah tersendiri dalam upaya penegakan kedaulatan atas pemanfaatan sumber daya kelautan. Wilayah laut Indonesia seluas 20 juta km² hanya dijaga oleh 31 unit kapal pengawas. Kapal-kapal pengawas itu setiap hari melakukan pengawasan pada titik-titik utama yang dicurigai menjadi jalur keluar masuk kapal ikan asing. Praktis ada banyak blank spot khususnya pada wilayah-wilayah perbatasan laut yang tidak mendapatkan pantauan dan pengawasan petugas.

Tampilan radar pantai LPTK yang diaplikasikan dalam area konservasi

Tampilan radar pantai LPTK yang diaplikasikan dalam area konservasi

Di berbagai negara maju, pengawasan teritorial laut dari illegal fishing tidak hanya melibatkan armada-armada pengawasan konvensional. Teknologi multi-satelit untuk melacak posisi dan pergerakan armada kapal terbukti efektif dalam menjawab tantangan pengawasan laut pada area yang luas. Basis data objek-objek yang terindikasi sebagai kapal-kapal ilegal tersebut kemudian akan menjadi modal awal bagi jajaran armada pengawas dalam merancang serta melaksanakan operasi penegakkan hukum pemberantasan illegal fishing yang efektif dan efisien.

Kementerian Kelautan dan Perikanan sejak tahun 2014 telah memanfaatkan teknologi satelit untuk pengawasan laut. Penggunaan teknologi radarsat, satelit khusus untuk pengidentifikasi objek-objek tertentu itu telah berhasil meningkatkan jumlah kapal ilegal yang berhasil ditangkap khususnya untuk wilayah-wilayah yang jauh dari pangkalan kapal pengawas. KKP juga mengembangkan sistem pemantauan kapal perikanan dengan berbasis transponder kapal atau yang lebih dikenal sebagai Vessel Monitoring System (VMS). Dengan memasang ‘pelacak’ pada kapal-kapal ikan legal, maka citra kapal-kapal yang tertangkap oleh teknologi satelit akan dapat difilter untuk membedakan jenis dan status perijinan kapal yang beroperasi di dalam wilayah perairan kita.

Selain kedua teknologi yang sudah diterapkan tersebut, untuk meningkatkan akurasi dan keragaman data kapal, KKP perlu mengintegrasikan ragam teknologi lainnya ke dalam sistem. Auto Identification System (AIS) yang juga berbasis transponder telah lama diaplikasikan untuk kapal-kapal barang dan penumpang atau kapal-kapal lainnya yang melakukan pelayaran lintas negara dan benua.

Untuk pengawasan yang lebih intensif, pembangunan stasiun radar maritim sudah selayaknya digiatkan di sejumlah titik. Perairan konservasi seperti Taman Nasional Laut (TNL) dan juga beberapa titik-titik terluar Indonesia yang selama ini menjadi jalur lalu-lalangnya kapal-kapal ilegal harus mendapatkan pengawasan ekstra dengan memanfaatkan teknologi radar. Ini dilakukan mengingat besarnya potensi ekonomi, ekologi, dan kepentingan kedaulatan negara yang harus dijaga pada kawasan tersebut.

Keterkaitan antar teknologi pemantauan: satelit, VMS, AIS, dan radar pantai diyakini oleh banyak pihak akan mampu memberikan peran serta yang besar dalam upaya pemberantasan illegal fishing. Tentunya seiring peningkatan kemampuan pengawasan laut dan pesisir, maka potensi kekayaan alam bangsa kita akan terus terjaga untuk bisa dimanfaatkan oleh rakyat kita sendiri dalam bingkai kelestarian sumber daya hayati. Dengan demikian Indonesia akan mampu mewujudkan cita-cita luhurnya dalam mensejahterakan rakyat serta melindungi seluruh tumpah darah Indonesia.

Radar pantai LPTK ketika menerima kunjungan Kepala Basarnas

Radar pantai LPTK ketika menerima kunjungan Kepala Basarnas

Sistem radar pantai

Sistem radar pantai

Segelas Kopi Hitam dan Paras Senja Wakatobi

Oktober 25, 2015 Tinggalkan komentar

Surga nyata bawah laut di pusat segitiga karang dunia, begitu daerah ini punya tagline. Nyata memang, tak ada yang meragukan warna-warni surga bawah laut itu. Namun Wakatobi punya sisi keindahan lain, senja yang dilepas menuju peraduan dengan hangat secangkir kopi hitam.

Adalah dermaga Pangulubelo, nadi utama transportasi antar provinsi di kabupaten ujung tenggara Sulawesi. Dari dermaga pelabuhan ini, pulau Kapota jelas terlihat dengan hilir mudik perahu bermotor yang mengantarkan penduduk menyeberang dari Wanci, ibukota kabupaten.

Aktivitas menantikan senja datang menjelang malam bebetapa minggu terakhir kian hangat. Ya, oleh segelas kopi hitam yang dijual Dodon, pemuda yang belakangan ini mengisi salah satu sisi timur jalan menuju dermaga.

image

Penjual kopi ini sedikit unik punya, berbekal sepedamotor jenis vespa yang ia modifikasi sedemikian rupa, ia secara mobile berpindah-pindah tempat mangkal. “Kalau sore sampai magrib,  saya disini (pelabuhan). Tapi kalau malam saya jualan di alun-alun depan kantor bupati,”  kata dia pada saat awal saya cicipi kopinya. Suaranya lamat-lamat tenggelam dalam lantunan musik (kebanyakan berirama reggae) semakin membuat asyik suasana pantai sore itu. Baca selanjutnya…

Kategori:Oprexz

Bencana Ekologis Menanti Sail Komodo 2013

September 14, 2013 8 komentar

Medio bulan September ini Indonesia khususnya pada wilayah Kepulauan Nusa Tenggara disibukkan dengan berbagai even akbar internasional. Sebut saja pegelaran Miss World 2013 dan APEC Summit di Pulau Dewata Bali juga kegiatan maritim ‘Sail Komodo 2013’ yang puncaknya dipusatkan di Labuan Bajo Provinsi NTT.

Bangkai Penyu (ilustrasi)

Bangkai Penyu (ilustrasi)

Terlepas dari kepentingan promosi pariwisata yang akan mengangkat nama Pulau Komodo di mata dunia, even yang terakhir disebutkan tidak ayal akan menyisakan permasalahan ekologis yang semestinya diantisipasi oleh pemerintah dan penyelenggara acara. Baca selanjutnya…

Begini Cara Posting WordPress Dengan Menggunakan Smartphone Blackberry

Agustus 21, 2013 5 komentar

Terkadang dalam kondisi tertentu kita memiliki keterbatasan dalam mengakses website/blog kita secara langsung. Dengan kelebihan kepraktisannya, perangkat genggam seperti smartphone maupun menjadi pilihan yang tepat untuk tetap terhubung dengan dunia maya.

Nah, postingan ini merupakan postingan pertama saya dari perangkat Blackberry. Dalam hal ini, saya menggunakan apliklasi WordPress for Blackberry yang saya miliki.

Dengan mempergunakan aplikasi seperti itu, kita diberikan tiga pilihan koneksi yaitu blog gratisan wordpress.com, blog kita yang dihosting dari server wordpress.com, dan opsi ketiga untuk menghubungkan ke website yang kita posting sendirim

Fitur dan tampilannya pun tidak banyak yang berbeda. Keribetan Dashboard wordpress diwakilkan dengan menu-menu penting sederhana yang dapat memungkinkan kita membuat/mengedit berita, melihat statistik pengunjung, mengatur komentar, pengaturan blog, dan banyak hal lainnya.

Hanya saja yang saya rasakan, dengan menggunakan aplikasi ini interaksi kita dalam dapur wordpress menjadi lebih lambat. Wajar saja aplikasi ini setiap kali dibuka akan meload seluruh data dashboard sehingga ketika menu dibuka satu-persatu akan menjadi lebih cepat karena tersimpan secara lokal.

Selain itu aplikasi ini mutlak membutuhkan kestabilan jaringan internet untuk menopang konektivitas data yang tinggi.

Salah satu kelebihan yang saya senangi dari aplikasi ini adalah kemampuan untuk menyimpan draft tulisan secara offline sebelum kita memutuskan untuk menerbitkannya. Praktis bukan?

Perkaya Jiwa Dengan Traveling

Juni 14, 2013 3 komentar

Malam ini saya berkunjung ke Youtube. Untungnya, walaupun jam segini dia masih buka, ya sudah saya masuk saja:mrgreen: Beberapa video yang pernah saya posting, saya putar ulang. Termasuk diantaranya beberapa video perjalanan saya dan teman-teman mengunjungi beberapa pantai menarik di Bima.

Melihat kembali beberapa dokumentasi penjelajahan yang pernah saya lakukan membuat perasaan rindu untuk kembali bertualang. Menggelar perjalanan-perjalanan kecil menyusuri aneka ragam kondisi medan dan bertemu hal-hal baru, begitu menggoda untuk dilakukan lagi.

Hasrat ingin tahu dan bertemu dengan hal-hal baru salah satunya bisa dilakukan dengan ber-traveling. Kendati kita bisa saja menjelajahi setiap sudut dunia maya, melihat gambar atau membaca tulisan orang lain yang melakukan traveling, tentunya hal ini tak dapat menggantikan sensasi jika mengalami sendiri pengalaman bertualang itu.

Apalagi, melakukan perjalanan selain menambah pengalaman, juga sarat dengan nutrisi yang bisa memperkaya jiwa kita. Bagaimana tidak, berada di tempat yang jauh dari zona kenyamanan, bersatu dengan alam, sendiri di tempat yang belum terjamah membuat kita mengalami sensasi-sensasi yang sebelumnya mungkin tak pernah dirasakan.

Sengsara Membawa Nikmat

Jalan rusak menuju destinasi, terkadang merupakan destinasi itu sendiri

Jalan rusak menuju destinasi, terkadang merupakan destinasi itu sendiri

Ada kalanya kita mengalami kesulitan di perjalanan atau di tempat yang kita tuju. Kendaraan mogok, jalan rusak, tersasar, lupa bawa bekal, atau melewati tempat yang menyeramkan misalnya. Tantangan-tantangan ini biasa terjadi bagi orang yang bepergian, tentunya dengan persiapan yang matang tentunya hal ini bisa dihindari.

Minimal kita harus memperkaya informasi mengenai tempat yang hendak kita tuju maupun persiapan yang harus kita lengkapi sebelum kita memutuskan untuk memulai perjalanan. Dan biasanya, dengan melakukan perjalanan bersama banyak orang, kesulitan-kesulitan itu tak akan begitu payah dirasakan, bahkan bisa menjelma menjadi keasyikan tersendiri untuk diceritakan nantinya.

Team CLBK di lokasi survey

Semua beban akan sirna ketika tiba di tujuan

Menggelar acara berkemah di tempat terbuka, seperti pantai atau gunung juga memiliki nilai tersendiri. Dekat dengan alam semesta, tentunya akan semakin lebih mendekatkan diri dengan tuhan, begitu salah seorang temanku pernah berkata. Berada jauh dari hiruk pikuk dan keramaian kota, membuat kita merasa kecil di tengah semesta. Desiran angin dingin gunung dan nyanyian ombak menjadi pelipur lara yang efektif untuk para manusia yang hendak lepas dari kepenatan bekerja. Begitu pula dengan keindahan panorama alam serta keunikan tempat-tempat yang kita kunjungi, beratnya perjalanan akan terlupakan dengan sendirinya digantikan dengan ketakjuban yang menjadi hiburan.

Kenikmatan itu tentunya bisa didapatkan dengan mengunjungi sejumlah tempat yang direferensikan untuk dikunjungi. Namun sejumlah catatan traveling yang banyak beredar di jagat maya masih miskin menceritakan objek perjalanan di Bima. Para traveler lokal tentunya sudah mahfum dengan sejumlah destinasi andalan di liar daerah, namun pertanyaannya, sudahkah anda menelusuri daerah kita sendiri?

Tak Perlu Jauh-Jauh ke Luar Daerah

Memandang ke arah selatan, Kota Bima sedang bertumbuh

Memandang ke arah selatan, Kota Bima sedang bertumbuh

Traveling tak harus dilakukan dengan mengunjungi tempat-tempat yang jauh. Tak perlu keluar kota, di sekitar tempat tinggal kita tentunya masih banyak tempat-tempat yang belum pernah kita kunjungi. Atau kita bisa saja mendatangi tempat yang pernah kita kunjungi semasa kecil, sekaligus bernostalgia dengan kenangan-kenangan lampau. Aku pernah mengunjungi bukit kecil yang berdiri tepat depan rumah dan membuat catatan untuk itu.

Untuk Kota Bima sendiri, beberapa tempat yang saya rekomendasikan untuk dikunjungi diantaranya: Kompleks istana dan masjid kesultanan Bima, Pelabuhan Bima, Komplek pekuburan kesultanan (Dana taraha dan Tolo Bali), Museum Samparaja. Selain itu sentra kerajinan tenun tradisional di Kelurahan Rabadompu, Ntobo, dan Kendo juga layak masuk dalam destinasi yang harus anda kunjungi.

Lebih jauh lagi dari pusat kota, pecinta pantai dan laut bisa mengunjungi pesisir Ule-Kolo. Disana banyak spot menarik untuk mandi laut atau sekedar berfoto. Untuk yang memiliki perangkat selam seperti snorkel ataupun scuba diving, di ujung barat Kolo ada pantai yang bernama So Numbe yang masih kaya dengan panorama bawah air.

Bosan ke pantai?, masih dalam wilayah kota anda bisa bertualang bersama rekan mendaki puncak Pundu Nence. Beberapa jam pendakian dari Kelurahan Lelamase anda akan tiba di bukit yang memiliki pemandangan indah ke arah kota dan Kabupaten Bima. Dirikanlah tenda dan habiskan malam mengelilingi api unggun, saya yakin pengalamannya tak akan terlupakan.

Dekat di Luar Kota Bima

Snorkeling di Oi Fanda

Snorkeling di Oi Fanda

Ingin lebih jauh lagi? Kunjungi Oi Fanda dan dua pantai di dekatnya, kita hanya butuh tak lebih dari satu setengah jam untuk sampai kesana.  Lebih ke arah utara lagi, kita bisa saja melanjutkan ke pantai Sanosu atau bercengkerama dengan ular-ular laut yang jinak di Pulau Ular dan Pantai Oi Caba Kecamatan Wera. Untuk yang masih punya waktu dan tertantang dengan pengalaman lebih, bisa saja melanjutkan perjalanan pada jalur yang sama. Menuju Sape dengan terlebih dahulu singgah di Pantai Toro Wamba yang berpasir putih.

Masih di Sape, tak jauh dari pelabuhan terdapat sebuah pulau yang dihuni oleh penduduk Suku Bajo (Bajau) yang merupakan pendatang dari Sulawesi. Aku visualisasikan pantai disana merupakan perpaduan pantai di Belitung yang bercadas dan berbatu besar. Pasirnya pun putih dengan air yang jernih. Para pecinta fotografi saya yakin akan menemukan surganya disana. Panorama pantai, maupun keseharian anak-anak suku bajo yang bersaudara dengan laut, saya rasa terlalu berharga untuk dilewatkan oleh jepretan kamera.

Sedikit Lebih Jauh di Pelosok Bima

Perkampungan nelajan bako di bajo Pulau - Sape

Perkampungan nelajan bako di bajo Pulau – Sape

Sedikit lebih jauh ke timur Kecamatan Sape, di Kecamatan Lambu terdapat pantai Papa yang eksotis. Jalur jalan yang sudah teraspal bagus membuat anda tiba dalam setengah jam dari Sape. Ingin mencoba track yang lebih ekstrim? cobalah ke Baku. Daerah transmigrasi yang jarang disebut ini konon menyimpan keindahan panorama pantai yang unik. Ganggang-ganggang dan tumbuhan laut membuat karang di sepanjang pantai yang berjarak 2 jam dari Sape ini memukau mata. Hanya saja akses jalan yang masih berbatu membuat tempat ini sulit untuk didatangi dengan menggunakan kendaraan. Penulis sendiri belum pernah kesana, namun tak sabar untuk membuktikannya.

Ke arah selatan kota, berkendara selama satu atau dua jam bisa saja membawa anda ke sejumlah tempat menarik. Saya merekomendasikan anda mengunjungi perkampungan tradisional di Sambori yang bisa dicapai dengan menempuh jalur ke arah timur dari perempatan Talabiu. Jika anda beruntung, gambaran masyarakat tradisional bima yang agraris bisa ditemukan disana lengkap dengan ragam kesenian dan budaya daerah. Tempat ini berada di pegunungan yang sekarang relatif lebih mudah dijangkau dengan kondisi jalan yang bagus.

Tempat yang sejenis bisa ditemukan di pegunungan Donggo. Di pegunungan yang ada di seberang barat Kota Bima ini, selain desa adat kita bisa menggelar kegiatan napak tilas dengan mendatangi sejumlah objek wisata sejarah. Kunjungi juga peternakan kuda tradisional di Donggo Mpili, niscaya anda akan menemukan susu kuda liar yang dipercaya berkhasiat untuk kesehatan.

Sementara pada bagian pesisirnya, di Kecamatan Soromandi dapat kita temui prasasti sejarah Wadu Tunti yang merupakan tonggak catatan sejarah Daerah Bima. Deretan pantai yang eksotis juga bisa menjadi hiburan menarik jika anda memutuskan mengunjunginya. Adapula puing-puing benteng Asakota yang pernah berdiri tegak melindungi Kesultanan Bima dulu dari serangan bajak laut dan Belanda.

Sementara pada musim kemarau, akses jalan menuju puncak Pulau Kambing konon terbuka. Menurut teman-temanku yang pernah kesana, hamparan ilalang di pulau kecil itu begitu indah ketika berpadu dengan laut Teluk Bima. Kita bisa bebas memandangi teluk Bima dari segala penjuru di puncak Doro Nisa (pulau Kambing). “Pulau kecil yang dapat ditempuh dalam waktu 15 menit dari pelabuhan bima itu harus dicoba sendiri,” ujarnya.

Masih kategori berjarak tak terlalu jauh dari Kota, jangan lewatkan mengunjungi deretan pantai selatan. Pantai Wane, Rontu, Woro, Pusu, dan Tamandaka merupakan beberapa nama yang kerap disebut oleh pecinta traveling lokal. Sayangnya dari nama-nama itu, baru pantai Rontu yang pernah saya datangi. Pantai ini berombak besar dengan hamparan pasir putih khas pantai-pantai laut selatan Indonesia. Jikalau ingin mencari padanannya dengan pantai terkenal lainnya, karakteristiknya mirip pantai Kuta di Bali atau pantai Lakey di Dompu yang menjadi primadona para bule peselancar. Insya Allah pantai-pantai selatan lainnya yang berlokasi di tiga kecamatan berbeda ini satu persatu akan saya datangi.

Lebih Jauh Lagi….

Jika dua kategori diatas saya urut berdasarkan jarak, maka pada bagian terakhir ini saya ingin menyajikan menu-menu perjalanan yang terbilang cukup jauh dari kota Bima. Di Kabupaten Bima, Kecamatan yang paling jauh adalah Kecamatan Sanggar dan Tambora. Sesi ini secara khusus mengangkat sejumlah destinasi di dua kecamatan itu yang sayang untuk dilewatkan.

Dalam suatu kesempatan saya pernah mengunjungi dua Kecamatan itu sekaligus. Untuk mencapai Sanggar kita membutuhkan waktu tiga hingga empat jam berkendara. Di Kecamatan yang pernah memiliki kerajaan sendiri ini, terdapat kompleks pemakaman kerajaan yang terletak di pusat kota Kore. Ada pula pelabuhan kecil yang menjadi salah satu urat nadi perekonomian masyarakat setempat, aktivitas nelayan yang mungkin harus anda saksikan. Ada juga Oi Tampiro, pemandian alami air tawar yang berlokasi di pesisir Piong.

sekali-kali TS nampang narsis

sekali-kali TS nampang narsis

Sementara menyusuri jalur lingkar utara menuju Tambora, panorama khas Sabana dan kehidupan satwa liar pernah saya angkat disini. Oi Marai, sebuah sungai yang bersih dan asri dengan air terjun yang tak kalah cantiknya menanti tapak kaki kita. Selain alam, sejumlah desa transmigran sepanjang perjalanan memiliki keunikan tersendiri. Terdapat sebuah desa yang isinya transmigran Bali di Desa Oi Bura, dekat jalur pendakian Tambora. Ada pula kebun kopi peninggalan Belanda di desa yang sama yang begitu unik. Dan tentunya bagi pecinta gunung bisa merasakan pengalaman mendaki gunung yang pernah menggelap-gulitakan daratan eropa ini.

Itulah beberapa mozaik keindahan Bima yang bisa saya hadirkan. Tentunya masih banyak lagi tempat yang belum terekspos dalam tulisan. Ia menungguku atau siapa saja untuk menceritakannya. So, tunggu apa lagi? Sebelum berpetualang ke luar daerah, tak ada salahnya mendatangi tempat-tempat menarik di daerah sendiri. Kunjungi mereka dan ceritakan pengalamanmu…

Sebenarnya Anda Cukup Beruntung Jika Dibandingkan Dengan…

Maret 31, 2013 1 komentar

Kawanku, jika saja seluruh penduduk di bumi ini bisa diwakilkan dengan 100 orang saja, atau seluruh populasi manusia berkurang hingga menjadi sebuah desa berpenduduk hanya 100 orang, seperti apakah profil desa kecil yang heterogen ini?

Ilustrasi

Ilustrasi

Jika seluruh perhitungan rasio kependudukan dianggap masih berlaku, Phillip M. Harter, M.D., seorang Professor  di Fakultas Kedokteran Stanford University Amerika Serikat mencoba menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut. Berikut jawabannya mengenai komposisi 100 jiwa pada desa kecil itu:

  • 57 orang Asia
  • 21 orang Eropa
  • 14 orang berasal dari belahan bumi sebelah barat
  • 8 orang Afrika
  • 52 perempuan
  • 48 laki-laki
  • 80 bukan kulit putih
  • 20 kulit putih
  • 89 heteroseksual
  • 11 homoseksual
  • 6 orang memiliki 59% dari seluruh kekayaan bumi, dan keenam orang tersebut seluruhnya berasal dari Amerika Serikat.
  • 80 orang tinggal di rumah-rumah yang tidak menenuhi standard
  • 70 orang tidak dapat membaca
  • 50 orang menderita kekurangan gizi
  • 1 orang hampir meninggal
  • 1 orang sedang hamil
  • 1 orang memiliki latar belakang perguruan tinggi
  • 1 orang memiliki komputer

Sekarang mari kita renungkan analisa Hartner dan simak hal-hal berikut ini :

  1. Jika anda tinggal di rumah yang baik, memiliki banyak makanan dan dapat membaca — maka anda adalah bagian dari kelompok terpilih dan lebih kaya dari 75% penduduk bumi yang lain.

  2. Jika anda memiliki rumah yang baik, memiliki banyak makanan , dapat membaca, memiliki komputer –maka anda adalah bagian dari kelompok elit.

  3. Jika anda bangun pagi ini dan merasa sehat — anda lebih beruntung dari jutaan orang yang mungkin yang mungkin tidak dapat bertahan hidup hingga minggu ini Baca selanjutnya…