Kategori
Budaya Mbojo sejarah bima

Tradisi Berburu Suku Bima Masa Lampau


Berburu merupakan kegiatan yang paling tua yang dilakukan umat manusia. Sebelum era bercocok-tanam dan berternak dikenal, manusia bertahan hidup dengan “memanen” hewan langsung dari alam.

Dou Mbojo (Suku Bima) sebagai suku yang agraris telah lama dikenal melakukan perburuan bersama atau yang dalam Nggahi Mbojo (Bahasa Bima) disebut Nggalo.

Kegiatan ini biasanya digelar pada musim kemarau agar lebih muda menyasar hewan buruan yaitu rusa/menjangan yang turun minum di sungai atau mencari makan di padang rumput yang tersisa.

Proses perburuan rusa tradisional di Bima NTB
Proses perburuan rusa tradisional di Bima NTB

Tidak hanya berburu hewan untuk dikonsumsi dagingnya, para pemburu juga memiliki tradisi berburu babi hutan (celeng) yang merupakan hama bagi sawa dan ladang petani.

Aktifitas berburu celeng ini biasanya pada awal musim tanam (penghujan). Hasil buruan biasanya dijual ke orang Bali/NTT yang biasa mengonsumsi dagingnya.

Pada masa lalu perburuan masih dilakukan secara tradisional dengan mengerahkan anjing pemburu untuk mengendus lokasi buruan dan mengarahkan hewan buruan ke area penjebakan. Lalu rusa yang terjebak akan diakhiri hidupnya dengan tombak para pemburu.

Selain tombak, pemburu juga membuat semacam jerat dari tali atau kawat yang kuat. Tidak jarang pemburu mendapatkan buruan yang terjerat dalam kondisi hidup.

Hasil buruan kemudian dibagi bersama sejumlah anggota kawanan pemburu untuk dikonsumsi atau dijual.

Itu pada masa lalu. Kalau zaman sekarang, dengan senjata api, pemburu tidak perlu mengendap-endap cukup dekat dengan buruan sebelum melumpuhkan target. Selain itu, dengan pencahayaan senter yang cukup terang maka pemburu bisa berburu pada malam hari karena buruan yang matanya terkena cahaya menyilaukan tidak alan lari malah tetap pada posisinya.

Seiring merosotnya jumlah rusa di alam, praktek perburuan kini sudah semakin jarang ditemukan. Namun kalaupun ada, pastinya merupakan sebuah perburuan yang “tidak adil” lagi bagi hewan buruan.

Foto dari berbagai sumber. Nanti akan diperbaharui keterangan masing-masing fotonya.

Kategori
INFO JOKE

PSBB Kek, COVID-19 Kek, Terserah Deh


Nonton berita ada mobil naik mobil lainnya (derek), eh.. di dalamnya ternyata penuh dengan penumpang mudik. Ada juga pemudik bermotor bawa plat nomor palsu sesuai kode plat nomor kota yang dilalui.

Di daratan yang mudik dihadang rajia berlapis, tapi yang pulang kampung lewat udara bisa sedikit tersenyum manis. Tidak hanya sertifikat pelatihan online bisa diunduh, surat bebas Covid pun kini tersedia di lapak daring ketika butuh.

Hingga hari ini katanya ada pelonggaran PSBB. Moda transportasi antar kota kembali boleh berfungsi, tetapi tidak boleh angkut pemudik. Lah, pemerintahan masih WFH sampai 29 Mei, perjalanan dinas gak ada. Ini mau lebaran mereka ngangkut apaan dong? Gedebok pisang?

Masjid masih dikenakan larangan berjamaah. Solat Ied pun dibuat tuntunannya untuk dilaksanakan di rumah. Sebagian daerah yang masuk zona hijau ada yang berkeras ied di lapangan.

Begitu pun di pasar, mulai terlihat ramai. Secara resmi diimbau taat aturan protokol COVID-19, namun rupanya membeli baju dan bahan kue lebaran lebih penting dari hidup dan terus sehat. Pengunjung pasar berjubel sampai sulit berjalan. Begitu pula mall dan swalayan. Dilarang oleh petugas buka, mereka patuh. Pintu depan ditutup, namun pintu belakang dibuka. Sama saja. Jadi kepikiran, kalau wabah masih berlanjut sampai lebaran, mereka pakai baju baru buat dipamerin ke siapakah?

Sementara tayangan stasiun tivi pukul empat sore masih tetap bikin bergidik. Angka positif baru mencapai 400-600 orang sehari. Sementara angka sembuh tertulis seperempatnya. Entah sampai kapan rumah sakit rujukan masih punya space untuk mengobati pasien terjangkit.

Dan tentunya lebaran ini, secara garis besar sama dengan lebaran-lebaran yang lalu. Semua serba baru. Baju baru, sarung baru, sandal baru. Katanya ada kenormalan yang baru. Bagaimana rupanya itu? Entahlah, mudah mudahan bukan tatanan dunia baru.
Nanti si jering ketawa senang.

Oh iya, buat kamu yang membaca celotehan ini sampai selesai, selamat. Akhir-akhir ini semakin langka orang yang suka membaca tulisan panjang.

 

Kategori
I THINK Oprexz

Selamat Jalan Nenek


Dalam mimpi kulihat jempol kananku kukunya pecah. Lalu ku terbangun tiba-tiba. Faiz meminta menyalakan televisi. Tak berselang lama, datang lah video call dari kampung.

96414955_10219892916167995_5042905910381379584_oMungkin itu sedikit pertanda. Begitu kuangkat telepon itu, dunia terasa senyap tanpa kata. Beberapa kali tangannya yang kurus menunjuk ke arah mulut tanda meminta sesendok air. Nenekku, di akhir usianya yang seabad memang menderita sakit di bagian mulut sehingga kesulitan menelan makanan. Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah memberikan air dengan sendok. Disanalah dilarutkan vitamin sekedar penambah daya tahan tubuh.

Yang mengantarkanmu, kulihat begitu ramai sanak keluarga. Ayah dan paman di telinga. Ibu dan lainnya mengaji sembari menghapus air mata. Semua ada kecuali saya, dan bibi bungsu yang masih di Jakarta. Selamat jalan cintaku, nenek seabad.

Nenek Kalisom Binti Duruhama, nenek saya berpulang di Talapitidiberikan tempat yang layak disisi Allah SWT. Aaamin

Kategori
I THINK

Akhirnya, Signal Telkomsel Menjamah Desa Nenek


Selain tiga kebutuhan pokok, apakah dua benda yang paling dibutuhkan manusia di abad ke 21 ini? angkat tangan bagi yang bisa jawab. Hei, kamu yang jawab pacar… salah. Tanpa pacar kamu masih bisa keluar rumah, traveling ke tempat wisata eksotis, salto dari puncak monas. #eh

Jawaban yang benar adalah listrik dan signal komunikasi.

Berdasarkan riset dari OnTheSpot, acara rangking salah satu televisi yang ada angka 7-nya, tanpa listrik dan signal manusia abad Jokowi ini tidak akan bertahan hidup dengan keceriaan. Orang tidak akan keluar rumah tanpa handphone yang terisi penuh, tidak betah di tempat-tempat terpencil, kegilaan dan histeria massal juga kadang akan muncul bila signal seluler untuk komunikasi mati total.

Selain energi, komunikasi adalah sektor vital bagi bangsa dan negara. Tanpa komunikasi, hidup akan sunyi. Tidak percaya? mari tanyakan kebenarannya pada nenek saya yang karena uzur tidak bisa mendengar lagi dengan baik.

Bicara soal nenek, saya punya cerita. Alkisah di sebuah desa yang bernama Talapiti. Hiduplah seorang nenek tua renta yang beberapa tahun lagi usianya seabad lamanya. (backsound jreng jreng)

Nenek super, masih mengenali yang punya blog ini tahun lalu.

Sekiranya lebih dari sepuluh tahun yang lalu, sang nenek yang sakit-sakitan setelah terjatuh saat pergi ke sawah. Setelah seminggu dirawat di rumahnya penyakitnya semakin parah hingga seluruh keluarga besar diabsen satu per satu dan saling memohonkan maaf.

Konon dalam sakitnya nenek bermimpi bertemu dengan almarhum suaminya, sebut saja namanya kakek. “Kakek datang menjemput saya? Saya sudah capek sakit-sakitan tapi tak kunjung juga meninggalkan dunia ini,” curhat nenek kepada kakek. Curhatan searah nenek tak kunjung dijawab oleh pria yang pernah menemaninya hampir separuh usianya itu…

Waktu itu Desa Konohagure Talapiti begitu terisolir. Dipagari pegunungan dan harus tiga kali menyeberang sungai untuk menuju kesana. Hal itu pula lah  yang membuat kabel listrik dan sinyal seluler sungkan untuk masuk ke desa.

Usai sakit keras, nenek ajaibnya berangsur pulih. Nenekku yang begitu perkasa pun pernah berkata, belum akan pergi sebelum rumah kediamannya benderang di malam hari. Juga belum pergi kalau dari tempat tidurnya belum bisa berbicara dengan anaknya yang tinggal di lain kota. Beliau begitu mendambakan pembangunan dan teknologi menjamah desa tempat ia menghabiskan hari-hari terakhirnya.

Jembatan Nggaronangga-Tolowata. Dulu disini salah satu dari tiga sungai yang harus disebrangi.

Hingga suatu hari jalanan berbatu menuju Talapiti diterabas buldozer, tak lama kemudian diaspal. juga beberapa tahun yang lalu, listrik menjamah Talapiti.

Kategori
INFO

Perkampungan Bajo Pulau Terbakar, Ayo Peduli


Musibah tak kenal tempat dan waktu. Inalillahi wainailaihirojiun, Rabu (25/11) sore, telah terjadi musibah kebakaran besar yang melanda desa Bajo Pulo, Kabupaten Bima. Ratusan warga setempat sedang menanti uluran tangan kita sekarang.

Lokasi kebakaran di pulau kecil dengan akses utama transportasi laut menyebabkan pekerjaan memadamkan api menjadi hal yang mustahil. Api begitu cepat merambat dan menghanguskan satu demi satu rumah penduduk yang didominasi rumah panggung yang terbuat dari kayu. Rumah penduduk yang berdempetan di pulau kecil itu telah rata dengan tanah, meninggalkan puing yang tak lagi berguna.

Desa Bajo Pulo merupakan desa yang terletak sebuah pulau dengan tiga dusun, yaitu Bajo Barat, Bajo Tengah, dan Pasir Putih. Desa ini berpenduduk 1800 jiwa dengan 509 kepala keluarga. Kebakaran para Rabu malam telah memusnahkan 63 unit rumah milik sekitar 100 kepala keluarga.

Selain rumah milik 323 jiwa, sejumlah fasilitas umum yang terdiri dari pasar, masjid, polindes, posyandu, dan fasilitas pengajaran Alquran (TPQ) musnah menjadi abu.  Dua unit perahu warga setempat juga tak luput dari kobaran api sehingga praktis mereka tidak dapat melaut.

Puluhan hingga ratusan rumah rata dengan tanah
Puluhan hingga ratusan rumah rata dengan tanah

Bajo Pulo adalah pemukiman terbesar suku Bajo dan Bugis di Kabupaten Bima – NTB. Berdiri diatas pulau cadas di lepas pantai Kecamatan Sape, Pulau cantik ini menyandarkan kebutuhan pangan dan air bersih dari daratan Sape di pulau utama. Penghasilan pokok masyarakatnya adalah sebagai nelayan yang menggantungkan hidup dari laut.

Hingga postingan ini diterbitkan, pemerintah setempat tengah mengupayakan tanggap darurat dengan mendirikan tenda pengungsi serta mendata kerugian. Untuk membantu meringankan beban para korban kebakaran, relawan lokal juga sedang berusaha memberikan penanganan pasca kejadian ini.

Jika ingin mengirim barang (obat-obatan, pakaian, peralatan sekolah, logistik, dll) dapat dikirim ke alamat :
Basecamp Pengajar Muda Bima
Jl Soekarno Hatta Gunung 2 No 14 (depan pom bensin Taman Ria)
Kelurahan Monggonao Kecamatan Mpunda Kabupaten
Bima Nusa Tenggara Barat Kode pos 84100
atau check poin terdekat dari lokasi:
Muhammad Olan Wardiansyah  (Olan Sang Ilalang)
Dusun nari RT. 009 Rw. 005 Desa Naru Kecamatan Sape Kabupaten Bima NTB.
CP 085945190514.
 Donasi juga bisa disalurkan melalui No. Rekening:

    BRI 1662.01.003160.505 a.n Etika Indah Febriani
BNI 0378459248 a.n Etika Indah Febriani
BNI 0409646257 a.n Husnul Khatimah

 
Contact person:
  1.  Etika
    HP +6282282342200
    WA +6285755988405
  2. Marwan (082147802090)
  3. Sisi Timur (085205714880)

Mohon doa dan bantuannya.

(Data akan diupdate)

 

Kategori
Teknologi

Menjaga Laut Kita Dengan Teknologi


Illegal fishing dewasa ini telah menjadi masalah serius bagi sejumlah negara, khususnya negara-negara pantai dan kepulauan. Indonesia yang terdiri dari 13 ribu pulau tengah giat menjaga laut dan samuderanya dari penjarahan hasil laut dari bangsa-bangsa lain.

Pada tahun 2014, tercatat kerugian Indonesia akibat aktivitas illegal di laut terutama pencurian ikan mencapai angka Rp 240 triliun. Jumlah itu diyakini masih jauh dari gambaran sebenarnya, karena penjarahan besar-besaran kekayaan Indonesia yang harusnya dimanfaatkan untuk membangun bangsa dan negara ini berlangsung secara sembunyi-sembunyi .

Dibawah kepemimpinan Presiden RI Joko Widodo, upaya mencegah kehilangan potensi kekayaan negara ini menjadi fokus utama arah kebijakan pemerintah. Kementerian Kelautan dan Perikanan RI sebagai stakeholder bidang kelautan dan perikanan menyatakan perang terbuka terhadap para pelaku illegal fishing. Upaya pemberantasan illegal fishing pun dilakukan secara massive dengan melakukan pengawasan, penangkapan, dan penenggelaman terhadap banyak kapal ikan asing yang terbukti melakukan pelanggaran dengan secara sembunyi-sembunyi menangkap ikan di dalam wilayah perairan kita.

Namun luasnya perairan kita menjadi sebuah masalah tersendiri dalam upaya penegakan kedaulatan atas pemanfaatan sumber daya kelautan. Wilayah laut Indonesia seluas 20 juta km² hanya dijaga oleh 31 unit kapal pengawas. Kapal-kapal pengawas itu setiap hari melakukan pengawasan pada titik-titik utama yang dicurigai menjadi jalur keluar masuk kapal ikan asing. Praktis ada banyak blank spot khususnya pada wilayah-wilayah perbatasan laut yang tidak mendapatkan pantauan dan pengawasan petugas.

Tampilan radar pantai LPTK yang diaplikasikan dalam area konservasi
Tampilan radar pantai LPTK yang diaplikasikan dalam area konservasi

Di berbagai negara maju, pengawasan teritorial laut dari illegal fishing tidak hanya melibatkan armada-armada pengawasan konvensional. Teknologi multi-satelit untuk melacak posisi dan pergerakan armada kapal terbukti efektif dalam menjawab tantangan pengawasan laut pada area yang luas. Basis data objek-objek yang terindikasi sebagai kapal-kapal ilegal tersebut kemudian akan menjadi modal awal bagi jajaran armada pengawas dalam merancang serta melaksanakan operasi penegakkan hukum pemberantasan illegal fishing yang efektif dan efisien.

Kementerian Kelautan dan Perikanan sejak tahun 2014 telah memanfaatkan teknologi satelit untuk pengawasan laut. Penggunaan teknologi radarsat, satelit khusus untuk pengidentifikasi objek-objek tertentu itu telah berhasil meningkatkan jumlah kapal ilegal yang berhasil ditangkap khususnya untuk wilayah-wilayah yang jauh dari pangkalan kapal pengawas. KKP juga mengembangkan sistem pemantauan kapal perikanan dengan berbasis transponder kapal atau yang lebih dikenal sebagai Vessel Monitoring System (VMS). Dengan memasang ‘pelacak’ pada kapal-kapal ikan legal, maka citra kapal-kapal yang tertangkap oleh teknologi satelit akan dapat difilter untuk membedakan jenis dan status perijinan kapal yang beroperasi di dalam wilayah perairan kita.

Selain kedua teknologi yang sudah diterapkan tersebut, untuk meningkatkan akurasi dan keragaman data kapal, KKP perlu mengintegrasikan ragam teknologi lainnya ke dalam sistem. Auto Identification System (AIS) yang juga berbasis transponder telah lama diaplikasikan untuk kapal-kapal barang dan penumpang atau kapal-kapal lainnya yang melakukan pelayaran lintas negara dan benua.

Untuk pengawasan yang lebih intensif, pembangunan stasiun radar maritim sudah selayaknya digiatkan di sejumlah titik. Perairan konservasi seperti Taman Nasional Laut (TNL) dan juga beberapa titik-titik terluar Indonesia yang selama ini menjadi jalur lalu-lalangnya kapal-kapal ilegal harus mendapatkan pengawasan ekstra dengan memanfaatkan teknologi radar. Ini dilakukan mengingat besarnya potensi ekonomi, ekologi, dan kepentingan kedaulatan negara yang harus dijaga pada kawasan tersebut.

Keterkaitan antar teknologi pemantauan: satelit, VMS, AIS, dan radar pantai diyakini oleh banyak pihak akan mampu memberikan peran serta yang besar dalam upaya pemberantasan illegal fishing. Tentunya seiring peningkatan kemampuan pengawasan laut dan pesisir, maka potensi kekayaan alam bangsa kita akan terus terjaga untuk bisa dimanfaatkan oleh rakyat kita sendiri dalam bingkai kelestarian sumber daya hayati. Dengan demikian Indonesia akan mampu mewujudkan cita-cita luhurnya dalam mensejahterakan rakyat serta melindungi seluruh tumpah darah Indonesia.

Radar pantai LPTK ketika menerima kunjungan Kepala Basarnas
Radar pantai LPTK ketika menerima kunjungan Kepala Basarnas
Sistem radar pantai
Sistem radar pantai
Kategori
Oprexz

Segelas Kopi Hitam dan Paras Senja Wakatobi


Surga nyata bawah laut di pusat segitiga karang dunia, begitu daerah ini punya tagline. Nyata memang, tak ada yang meragukan warna-warni surga bawah laut itu. Namun Wakatobi punya sisi keindahan lain, senja yang dilepas menuju peraduan dengan hangat secangkir kopi hitam.

Adalah dermaga Pangulubelo, nadi utama transportasi antar provinsi di kabupaten ujung tenggara Sulawesi. Dari dermaga pelabuhan ini, pulau Kapota jelas terlihat dengan hilir mudik perahu bermotor yang mengantarkan penduduk menyeberang dari Wanci, ibukota kabupaten.

Aktivitas menantikan senja datang menjelang malam bebetapa minggu terakhir kian hangat. Ya, oleh segelas kopi hitam yang dijual Dodon, pemuda yang belakangan ini mengisi salah satu sisi timur jalan menuju dermaga.

image

Penjual kopi ini sedikit unik punya, berbekal sepedamotor jenis vespa yang ia modifikasi sedemikian rupa, ia secara mobile berpindah-pindah tempat mangkal. “Kalau sore sampai magrib,  saya disini (pelabuhan). Tapi kalau malam saya jualan di alun-alun depan kantor bupati,”  kata dia pada saat awal saya cicipi kopinya. Suaranya lamat-lamat tenggelam dalam lantunan musik (kebanyakan berirama reggae) semakin membuat asyik suasana pantai sore itu.

Kategori
Pantai

Bencana Ekologis Menanti Sail Komodo 2013


Medio bulan September ini Indonesia khususnya pada wilayah Kepulauan Nusa Tenggara disibukkan dengan berbagai even akbar internasional. Sebut saja pegelaran Miss World 2013 dan APEC Summit di Pulau Dewata Bali juga kegiatan maritim ‘Sail Komodo 2013’ yang puncaknya dipusatkan di Labuan Bajo Provinsi NTT.

Bangkai Penyu (ilustrasi)

Bangkai Penyu (ilustrasi)

Terlepas dari kepentingan promosi pariwisata yang akan mengangkat nama Pulau Komodo di mata dunia, even yang terakhir disebutkan tidak ayal akan menyisakan permasalahan ekologis yang semestinya diantisipasi oleh pemerintah dan penyelenggara acara.

Kategori
web/blog

Begini Cara Posting WordPress Dengan Menggunakan Smartphone Blackberry


Terkadang dalam kondisi tertentu kita memiliki keterbatasan dalam mengakses website/blog kita secara langsung. Dengan kelebihan kepraktisannya, perangkat genggam seperti smartphone maupun menjadi pilihan yang tepat untuk tetap terhubung dengan dunia maya.

Nah, postingan ini merupakan postingan pertama saya dari perangkat Blackberry. Dalam hal ini, saya menggunakan apliklasi WordPress for Blackberry yang saya miliki.

Dengan mempergunakan aplikasi seperti itu, kita diberikan tiga pilihan koneksi yaitu blog gratisan wordpress.com, blog kita yang dihosting dari server wordpress.com, dan opsi ketiga untuk menghubungkan ke website yang kita posting sendirim

Fitur dan tampilannya pun tidak banyak yang berbeda. Keribetan Dashboard wordpress diwakilkan dengan menu-menu penting sederhana yang dapat memungkinkan kita membuat/mengedit berita, melihat statistik pengunjung, mengatur komentar, pengaturan blog, dan banyak hal lainnya.

Hanya saja yang saya rasakan, dengan menggunakan aplikasi ini interaksi kita dalam dapur wordpress menjadi lebih lambat. Wajar saja aplikasi ini setiap kali dibuka akan meload seluruh data dashboard sehingga ketika menu dibuka satu-persatu akan menjadi lebih cepat karena tersimpan secara lokal.

Selain itu aplikasi ini mutlak membutuhkan kestabilan jaringan internet untuk menopang konektivitas data yang tinggi.

Salah satu kelebihan yang saya senangi dari aplikasi ini adalah kemampuan untuk menyimpan draft tulisan secara offline sebelum kita memutuskan untuk menerbitkannya. Praktis bukan?

Kategori
Gunung Pantai TRAVELLER

Perkaya Jiwa Dengan Traveling


Malam ini saya berkunjung ke Youtube. Untungnya, walaupun jam segini dia masih buka, ya sudah saya masuk saja :mrgreen: Beberapa video yang pernah saya posting, saya putar ulang. Termasuk diantaranya beberapa video perjalanan saya dan teman-teman mengunjungi beberapa pantai menarik di Bima.

Melihat kembali beberapa dokumentasi penjelajahan yang pernah saya lakukan membuat perasaan rindu untuk kembali bertualang. Menggelar perjalanan-perjalanan kecil menyusuri aneka ragam kondisi medan dan bertemu hal-hal baru, begitu menggoda untuk dilakukan lagi.

Hasrat ingin tahu dan bertemu dengan hal-hal baru salah satunya bisa dilakukan dengan ber-traveling. Kendati kita bisa saja menjelajahi setiap sudut dunia maya, melihat gambar atau membaca tulisan orang lain yang melakukan traveling, tentunya hal ini tak dapat menggantikan sensasi jika mengalami sendiri pengalaman bertualang itu.

Apalagi, melakukan perjalanan selain menambah pengalaman, juga sarat dengan nutrisi yang bisa memperkaya jiwa kita. Bagaimana tidak, berada di tempat yang jauh dari zona kenyamanan, bersatu dengan alam, sendiri di tempat yang belum terjamah membuat kita mengalami sensasi-sensasi yang sebelumnya mungkin tak pernah dirasakan.

Sengsara Membawa Nikmat

Jalan rusak menuju destinasi, terkadang merupakan destinasi itu sendiri
Jalan rusak menuju destinasi, terkadang merupakan destinasi itu sendiri

Ada kalanya kita mengalami kesulitan di perjalanan atau di tempat yang kita tuju. Kendaraan mogok, jalan rusak, tersasar, lupa bawa bekal, atau melewati tempat yang menyeramkan misalnya. Tantangan-tantangan ini biasa terjadi bagi orang yang bepergian, tentunya dengan persiapan yang matang tentunya hal ini bisa dihindari.

Minimal kita harus memperkaya informasi mengenai tempat yang hendak kita tuju maupun persiapan yang harus kita lengkapi sebelum kita memutuskan untuk memulai perjalanan. Dan biasanya, dengan melakukan perjalanan bersama banyak orang, kesulitan-kesulitan itu tak akan begitu payah dirasakan, bahkan bisa menjelma menjadi keasyikan tersendiri untuk diceritakan nantinya.

Team CLBK di lokasi survey
Semua beban akan sirna ketika tiba di tujuan

Menggelar acara berkemah di tempat terbuka, seperti pantai atau gunung juga memiliki nilai tersendiri. Dekat dengan alam semesta, tentunya akan semakin lebih mendekatkan diri dengan tuhan, begitu salah seorang temanku pernah berkata. Berada jauh dari hiruk pikuk dan keramaian kota, membuat kita merasa kecil di tengah semesta. Desiran angin dingin gunung dan nyanyian ombak menjadi pelipur lara yang efektif untuk para manusia yang hendak lepas dari kepenatan bekerja. Begitu pula dengan keindahan panorama alam serta keunikan tempat-tempat yang kita kunjungi, beratnya perjalanan akan terlupakan dengan sendirinya digantikan dengan ketakjuban yang menjadi hiburan.

Kenikmatan itu tentunya bisa didapatkan dengan mengunjungi sejumlah tempat yang direferensikan untuk dikunjungi. Namun sejumlah catatan traveling yang banyak beredar di jagat maya masih miskin menceritakan objek perjalanan di Bima. Para traveler lokal tentunya sudah mahfum dengan sejumlah destinasi andalan di liar daerah, namun pertanyaannya, sudahkah anda menelusuri daerah kita sendiri?

Tak Perlu Jauh-Jauh ke Luar Daerah

Memandang ke arah selatan, Kota Bima sedang bertumbuh
Memandang ke arah selatan, Kota Bima sedang bertumbuh

Traveling tak harus dilakukan dengan mengunjungi tempat-tempat yang jauh. Tak perlu keluar kota, di sekitar tempat tinggal kita tentunya masih banyak tempat-tempat yang belum pernah kita kunjungi. Atau kita bisa saja mendatangi tempat yang pernah kita kunjungi semasa kecil, sekaligus bernostalgia dengan kenangan-kenangan lampau. Aku pernah mengunjungi bukit kecil yang berdiri tepat depan rumah dan membuat catatan untuk itu.

Untuk Kota Bima sendiri, beberapa tempat yang saya rekomendasikan untuk dikunjungi diantaranya: Kompleks istana dan masjid kesultanan Bima, Pelabuhan Bima, Komplek pekuburan kesultanan (Dana taraha dan Tolo Bali), Museum Samparaja. Selain itu sentra kerajinan tenun tradisional di Kelurahan Rabadompu, Ntobo, dan Kendo juga layak masuk dalam destinasi yang harus anda kunjungi.

Lebih jauh lagi dari pusat kota, pecinta pantai dan laut bisa mengunjungi pesisir Ule-Kolo. Disana banyak spot menarik untuk mandi laut atau sekedar berfoto. Untuk yang memiliki perangkat selam seperti snorkel ataupun scuba diving, di ujung barat Kolo ada pantai yang bernama So Numbe yang masih kaya dengan panorama bawah air.

Bosan ke pantai?, masih dalam wilayah kota anda bisa bertualang bersama rekan mendaki puncak Pundu Nence. Beberapa jam pendakian dari Kelurahan Lelamase anda akan tiba di bukit yang memiliki pemandangan indah ke arah kota dan Kabupaten Bima. Dirikanlah tenda dan habiskan malam mengelilingi api unggun, saya yakin pengalamannya tak akan terlupakan.

Dekat di Luar Kota Bima

Snorkeling di Oi Fanda
Snorkeling di Oi Fanda

Ingin lebih jauh lagi? Kunjungi Oi Fanda dan dua pantai di dekatnya, kita hanya butuh tak lebih dari satu setengah jam untuk sampai kesana.  Lebih ke arah utara lagi, kita bisa saja melanjutkan ke pantai Sanosu atau bercengkerama dengan ular-ular laut yang jinak di Pulau Ular dan Pantai Oi Caba Kecamatan Wera. Untuk yang masih punya waktu dan tertantang dengan pengalaman lebih, bisa saja melanjutkan perjalanan pada jalur yang sama. Menuju Sape dengan terlebih dahulu singgah di Pantai Toro Wamba yang berpasir putih.

Masih di Sape, tak jauh dari pelabuhan terdapat sebuah pulau yang dihuni oleh penduduk Suku Bajo (Bajau) yang merupakan pendatang dari Sulawesi. Aku visualisasikan pantai disana merupakan perpaduan pantai di Belitung yang bercadas dan berbatu besar. Pasirnya pun putih dengan air yang jernih. Para pecinta fotografi saya yakin akan menemukan surganya disana. Panorama pantai, maupun keseharian anak-anak suku bajo yang bersaudara dengan laut, saya rasa terlalu berharga untuk dilewatkan oleh jepretan kamera.

Sedikit Lebih Jauh di Pelosok Bima

Perkampungan nelajan bako di bajo Pulau - Sape
Perkampungan nelajan bako di bajo Pulau – Sape

Sedikit lebih jauh ke timur Kecamatan Sape, di Kecamatan Lambu terdapat pantai Papa yang eksotis. Jalur jalan yang sudah teraspal bagus membuat anda tiba dalam setengah jam dari Sape. Ingin mencoba track yang lebih ekstrim? cobalah ke Baku. Daerah transmigrasi yang jarang disebut ini konon menyimpan keindahan panorama pantai yang unik. Ganggang-ganggang dan tumbuhan laut membuat karang di sepanjang pantai yang berjarak 2 jam dari Sape ini memukau mata. Hanya saja akses jalan yang masih berbatu membuat tempat ini sulit untuk didatangi dengan menggunakan kendaraan. Penulis sendiri belum pernah kesana, namun tak sabar untuk membuktikannya.

Ke arah selatan kota, berkendara selama satu atau dua jam bisa saja membawa anda ke sejumlah tempat menarik. Saya merekomendasikan anda mengunjungi perkampungan tradisional di Sambori yang bisa dicapai dengan menempuh jalur ke arah timur dari perempatan Talabiu. Jika anda beruntung, gambaran masyarakat tradisional bima yang agraris bisa ditemukan disana lengkap dengan ragam kesenian dan budaya daerah. Tempat ini berada di pegunungan yang sekarang relatif lebih mudah dijangkau dengan kondisi jalan yang bagus.

Tempat yang sejenis bisa ditemukan di pegunungan Donggo. Di pegunungan yang ada di seberang barat Kota Bima ini, selain desa adat kita bisa menggelar kegiatan napak tilas dengan mendatangi sejumlah objek wisata sejarah. Kunjungi juga peternakan kuda tradisional di Donggo Mpili, niscaya anda akan menemukan susu kuda liar yang dipercaya berkhasiat untuk kesehatan.

Sementara pada bagian pesisirnya, di Kecamatan Soromandi dapat kita temui prasasti sejarah Wadu Tunti yang merupakan tonggak catatan sejarah Daerah Bima. Deretan pantai yang eksotis juga bisa menjadi hiburan menarik jika anda memutuskan mengunjunginya. Adapula puing-puing benteng Asakota yang pernah berdiri tegak melindungi Kesultanan Bima dulu dari serangan bajak laut dan Belanda.

Sementara pada musim kemarau, akses jalan menuju puncak Pulau Kambing konon terbuka. Menurut teman-temanku yang pernah kesana, hamparan ilalang di pulau kecil itu begitu indah ketika berpadu dengan laut Teluk Bima. Kita bisa bebas memandangi teluk Bima dari segala penjuru di puncak Doro Nisa (pulau Kambing). “Pulau kecil yang dapat ditempuh dalam waktu 15 menit dari pelabuhan bima itu harus dicoba sendiri,” ujarnya.

Masih kategori berjarak tak terlalu jauh dari Kota, jangan lewatkan mengunjungi deretan pantai selatan. Pantai Wane, Rontu, Woro, Pusu, dan Tamandaka merupakan beberapa nama yang kerap disebut oleh pecinta traveling lokal. Sayangnya dari nama-nama itu, baru pantai Rontu yang pernah saya datangi. Pantai ini berombak besar dengan hamparan pasir putih khas pantai-pantai laut selatan Indonesia. Jikalau ingin mencari padanannya dengan pantai terkenal lainnya, karakteristiknya mirip pantai Kuta di Bali atau pantai Lakey di Dompu yang menjadi primadona para bule peselancar. Insya Allah pantai-pantai selatan lainnya yang berlokasi di tiga kecamatan berbeda ini satu persatu akan saya datangi.

Lebih Jauh Lagi….

Jika dua kategori diatas saya urut berdasarkan jarak, maka pada bagian terakhir ini saya ingin menyajikan menu-menu perjalanan yang terbilang cukup jauh dari kota Bima. Di Kabupaten Bima, Kecamatan yang paling jauh adalah Kecamatan Sanggar dan Tambora. Sesi ini secara khusus mengangkat sejumlah destinasi di dua kecamatan itu yang sayang untuk dilewatkan.

Dalam suatu kesempatan saya pernah mengunjungi dua Kecamatan itu sekaligus. Untuk mencapai Sanggar kita membutuhkan waktu tiga hingga empat jam berkendara. Di Kecamatan yang pernah memiliki kerajaan sendiri ini, terdapat kompleks pemakaman kerajaan yang terletak di pusat kota Kore. Ada pula pelabuhan kecil yang menjadi salah satu urat nadi perekonomian masyarakat setempat, aktivitas nelayan yang mungkin harus anda saksikan. Ada juga Oi Tampiro, pemandian alami air tawar yang berlokasi di pesisir Piong.

sekali-kali TS nampang narsis
sekali-kali TS nampang narsis

Sementara menyusuri jalur lingkar utara menuju Tambora, panorama khas Sabana dan kehidupan satwa liar pernah saya angkat disini. Oi Marai, sebuah sungai yang bersih dan asri dengan air terjun yang tak kalah cantiknya menanti tapak kaki kita. Selain alam, sejumlah desa transmigran sepanjang perjalanan memiliki keunikan tersendiri. Terdapat sebuah desa yang isinya transmigran Bali di Desa Oi Bura, dekat jalur pendakian Tambora. Ada pula kebun kopi peninggalan Belanda di desa yang sama yang begitu unik. Dan tentunya bagi pecinta gunung bisa merasakan pengalaman mendaki gunung yang pernah menggelap-gulitakan daratan eropa ini.

Itulah beberapa mozaik keindahan Bima yang bisa saya hadirkan. Tentunya masih banyak lagi tempat yang belum terekspos dalam tulisan. Ia menungguku atau siapa saja untuk menceritakannya. So, tunggu apa lagi? Sebelum berpetualang ke luar daerah, tak ada salahnya mendatangi tempat-tempat menarik di daerah sendiri. Kunjungi mereka dan ceritakan pengalamanmu…

Kategori
INFO

Sebenarnya Anda Cukup Beruntung Jika Dibandingkan Dengan…


Kawanku, jika saja seluruh penduduk di bumi ini bisa diwakilkan dengan 100 orang saja, atau seluruh populasi manusia berkurang hingga menjadi sebuah desa berpenduduk hanya 100 orang, seperti apakah profil desa kecil yang heterogen ini?

Ilustrasi
Ilustrasi

Jika seluruh perhitungan rasio kependudukan dianggap masih berlaku, Phillip M. Harter, M.D., seorang Professor  di Fakultas Kedokteran Stanford University Amerika Serikat mencoba menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut. Berikut jawabannya mengenai komposisi 100 jiwa pada desa kecil itu:

  • 57 orang Asia
  • 21 orang Eropa
  • 14 orang berasal dari belahan bumi sebelah barat
  • 8 orang Afrika
  • 52 perempuan
  • 48 laki-laki
  • 80 bukan kulit putih
  • 20 kulit putih
  • 89 heteroseksual
  • 11 homoseksual
  • 6 orang memiliki 59% dari seluruh kekayaan bumi, dan keenam orang tersebut seluruhnya berasal dari Amerika Serikat.
  • 80 orang tinggal di rumah-rumah yang tidak menenuhi standard
  • 70 orang tidak dapat membaca
  • 50 orang menderita kekurangan gizi
  • 1 orang hampir meninggal
  • 1 orang sedang hamil
  • 1 orang memiliki latar belakang perguruan tinggi
  • 1 orang memiliki komputer

Sekarang mari kita renungkan analisa Hartner dan simak hal-hal berikut ini :

  1. Jika anda tinggal di rumah yang baik, memiliki banyak makanan dan dapat membaca — maka anda adalah bagian dari kelompok terpilih dan lebih kaya dari 75% penduduk bumi yang lain.

  2. Jika anda memiliki rumah yang baik, memiliki banyak makanan , dapat membaca, memiliki komputer –maka anda adalah bagian dari kelompok elit.

  3. Jika anda bangun pagi ini dan merasa sehat — anda lebih beruntung dari jutaan orang yang mungkin yang mungkin tidak dapat bertahan hidup hingga minggu ini

Kategori
Gunung

Inilah Realitas Kabanta, Terimakasih Telah Terus Terjaga


Kontur daerah Bima bervariasi, deretan gunung dan bukit menjulang dengan dikelilingi laut yang indah tentunya bukan tempat yang mudah untuk ditelusuri. Dengan medan yang begitu rupa, keasrian dan kecantikan pemandangan alam akan terjaga sekaligus kehidupan masyarakat setempat juga tersisihkan pembangunan akibat sulitnya akses mereka menuju dunia luar. Ironis bukan? tetapi inilah uniknya Bima….

Perjalanan kami pada hari Kamis (17/1/2013) membawa aku mendatangi beberapa puncak yang menawan di Kota dan Kabupaten Bima. Rencanaku dan Dedi hari itu adalah membawa dua orang crew Trans7, presenter program Indonesiaku Miladia Rahma (Mila) dan Gion sang kameramen untuk melakukan liputan di sejumlah tempat diantaranya: Kabanta, Wawo, dan Donggo.

Mereka ingin mengangkat potret masyarakat terpencil dalam programnya, dan hari sebelumnya kami sudah selesai dengan liputan masyarakat nelayan di Songgela dan para pemecah batu di Kelurahan Waki Kota bima.

Kabanta, Puncak Pertama

Menuju tempat pertama, kami harus banyak melakukan perencanaan. Akses jalan mendaki dengan bebatuan dan lumpur menjadi tantangan tersendiri yang sudah kami prediksi sebelumnya. Aku pun menyarankan tim meninggalkan mobil Toyota Avanza yang sejak hari pertama dipakai meliput di Kota Bima.  Mobil diparkir rapi di Kelurahan Kendo, tempat ‘beraspal bagus’ terakhir sebelum Kabanta, sedangkan kami berempat menggunakan sepeda motor.

Kami harus berangkat pagi, bersama rombongan guru-guru MIN Al-Ikhlas yang ‘ikhlas’ menjadi host kami. Mereka bergabung dengan kami di tanjakan pertama, sekitar 3 km arah selatan Kendo. Sepertinya sedari pagi mereka sudah menunggu rombonganku yang suka kesiangan… 🙂

Saya membonceng Mila, sementara Dedi melaju bersama Gion dan ransel besar berisi kamera di punggungnya. Sementara rombongan guru-guru MTS dan penduduk setempat itu telah menghilang dari pandangan. Mesin sepeda motorku meraung keras di tanjakan menuju Kabanta pada pukul 7.15 pagi itu. Karena beberapa ratus meter telah diaspal, jalur terjal pertama itu mudah saja kami lewati.

Medan selanjutnya menjadi lebih menantang, batu-batu seukuran kepalan jari berserakan sepanjang lintasan yang mendaki itu. Terkadang pula kami harus rela bergesekan dengan semak, melaju di pinggir jalan akibat jalur tengah berlumpur atau terhadang batu besar.

Sepanjang perjalanan kami disuguhkan dengan pemandangan yang memukau mata. Hijaunya bukit-bukit dimusim penghujan seakan mengapus penat kami seketika. Dinamika warga setempat yang menuju huma dan ladang, pria-pria beruban yang memikul dua jerigen air, dan ibu-ibu yang menjunjung benih padi di sepanjang perjalanan menambah warna rute kami.

Dan karena skill berkendara ku cukup akrab dengan medan seperti itu, sekitar 20 menit kemudian tibalah kami di Kabanta.

suasana kelas MTS Al-Ikhlas Kabanta kota Bima
Selamat datang di Kabanta Kota Bima
suasana kelas MTS Al-Ikhlas Kabanta kota Bima
Aktivitas sampingan ibu-ibu warga Kabanta

Inilah realitas, terimakasih telah terus terjaga

suasana kelas MTS Al-Ikhlas Kabanta kota Bima
Kondisi sekolah MTS Al-Ikhlas Kabanta kota Bima

Awalnya aku mengira sekolah kecil di muka kampung itu yang akan kami tuju. “Kondisinya cukup bagus, kelasnya bertembok semen dan beberapa lokal tengah dibangun,” pikirku. Rupanya aku harus menarik kata-kataku setelah rombongan yang berjalan kaki masuk kampung lalu memutar ke arah belakang sekolah yang kumaksud yang rupanya bangunan sekolah SDN itu…

Kategori
sejarah bima

Sejarah Bima: Hikayat Indra Zamrud dan Indra Kumala


Syahdan, berdasarkan legenda yang sekian lama hidup ditengah masyarakat Dana Mbojo (Suku Bima, red), cikal bakal berdirinya kerajaan Bima adalah dimulai dengan kedatangan Sang Bima, tokoh Kerajaan Majapahit yang melakukan perjalanan ke daratan di ujung timur pulau Sumbawa.

Pada saat menginjakkan kaki di Dana Mbojo, belum terbentuk kerajaan besar. Sang Bima lah yang dikatakan telah mempersatukan seluruh Ncuhi, Kepala Suku yang berkuasa di beberapa wilayah seluas wilayah kecamatan yang ada sekarang. Secara musyawarah, konfederasi para Ncuhi itu menunjuk dan mengangkat Sang Bima untuk menjadi pemimpin Dana Mbojo.

Wadu Paa, ukiran di dinding batu di Soromandi yang dikatakan menjadi bukti sejarah kehadiran Sang bima di Dana Mbojo.
Wadu Paa, ukiran di dinding batu di Soromandi yang dikatakan menjadi bukti sejarah kehadiran Sang bima di Dana Mbojo.

Lanjut legenda itu, Sang Bima tak lantas mengiyakan permintaan konfederasi para Ncuhi yang dipimpin oleh Ncuhi Dara itu. Ia menjanjikan bahwa kelak akan datang anak keturunannya yang ia utus untuk mewujudkan harapan Dou Mbojo tentang kepemimpinan yang menyatukan seluruh Dou Labo Dana (segenap warga, wilayah dan tumpah darah Bima).

Menurut legenda, Sebelum mencapai daratan Dana Mbojo, Sang Bima pertama kali berlabuh di pulau Satonda, kemudian melihat dengan seekor naga bersisik emas. Akibat tatapan Sang Bima, maka hamil lah naga itu dan melahirkan seorang putri dan kemudian diberi nama putri Indra Tasi Naga. Alkisah, Sang Bima yang melakukan perjalanan kembali ke Jawa itu ketika singgah di Pulau Satonda jatuh hati dan menikahi putri Indra Tasi Naga yang merupakan anaknya sendiri. Pernikahan itu menghasilkan dua orang putra yang diberi nama Indra Zamrud dan Indra Kumala.

Kedatangan Indra Zamrud dan Indra Kumala kecil ke Dana Mbojo sebelumnya telah di nubuwat (diramalkan) oleh ayahandanya, Sang Bima. Kepada para Ncuhi itu, pemimpin Dana Mbojo akan datang dengan berupa sebatang bambu yang dibawa oleh arus laut dan ombak pantai. Demikianlah menurut cerita, terdapatlah sebatang bambu dengan dua ruas yang terdampar di pantai Teluk Cempi – Dompu. Dari bambu tersebut, terdengarlah tetabuhan yang mengalun, bertanda itu bukan bambu biasa.

Sepasang Ompu dan Wai (nenek dan kakek) yang berdiam tak jauh dari tempat bambu itu terdampar tertarik oleh suara tetabuhan dari bambu itu. Karena rasa penasarannya, dibelahnya bambu itu menjadi dua. Ajaibnya, dari dua ruas bambu itu, keluarlah dua orang anak lelaki yang begitu baik dan elok parasnya. Mereka Indra Zamrud dan Indra Kumala pun diangkat menjadi anak oleh Ompu dan Wai tersebut.

Dari Dompu, kemudian kedua orang anak itu lalu dibesarkan di Bima, tempat yang diperintahkan oleh ayahnya, Sang Bima. Setelah tinggal beberapa lama di Gunung Parewa, mereka tinggal di bukit Londa. Semua Ncuhi di daerah itu, terutama Ncuhi Dara dan Ncuhi  Padolo datang untuk menjemput dan memohon mereka menjadi raja Dana Mbojo. Dengan demikian, tinggallah mereka berdua di wilayah Ncuhi Padolo, di bagian barat Kota Bima sekarang.

Tak lama berselang, Ncuhi Doro Wuni yang mengepalai para Ncuhi di bagian timur meminta kepada rapa Ncuhi wilayah barat agar salah satu anak tersebut diasuh di wilayahnya. Dengan demikian Indra Zamrud diasuh oleh Ncuhi Bagian Timur yaitu Ncuhi Doro Wuni yang berdiam di bagian timur yang secara geografis merupakan pegunungan, sedangkan saudaranya Indra Kumala dibesarkan dalam asuhan Ncuhi yang memegang wilayah pesisir barat Dana Mbojo.

Perselisihan Antara Dua Saudara

Kedua saudara yang dibesarkan dengan latar belakang yang berbeda ini bukannya tanpa cobaan. Watak keduanya yang berbeda akibat perbedaan pola asuh dan latar belakang tempat mereka dibesarkan menjadi masalah tersendiri.

Alkisah, Indra Kumala yang dibesarkan oleh Ncuhi Dara dan Ncuhi Padolo gemar mengail ikan, karena itu oleh kedua bapak angkatnya ia diberikan sebuah kail emas yang kerap ia gunakan memancing. Sedangkan Indra Zamrud yang gemar bertani oleh ayahnya diberikan tempat bibit berupa tempurung kelapa yang terbuat dari emas.

Suatu waktu, Indra Zamrud yang berkunjung ke kediaman kakaknya di pesisir bermaksud meminjam kail emas milik Indra Kumala. Permintaan itu dikabulkan dengan syarat adiknya itu harus berhati-hati menggunakannya karena kail emas itu sangat penting artinya bagi Indra Kumala.  Ia pun menerima kail itu dan memancing di Tanjung Tonggohala, suatu tempat di dekat Kota Bima.

Kategori
I THINK

Resolusi 2013 Ala Rhakateza


23:58 PM, terhitung dua menit lagi jam di komputerku akan kembali ter-reset ke angka 00.00 menuju hari baru tertanggal 31 Desember 2012. Aku berharap bisa menulis lebih lama, hingga menyambut datangnya hari terakhir dalam penanggalan tahun ini dengan menulis di blog yang semakin jarang ku lirik ini.

newyearfireworks

Melepas Tahun 2012

Dalam postingan pengujung tahun ini aku hanya ingin melakukan sedikit review perjalanan kehidupanku selama tahun yang katanya menjadi tahun terakhir dalam siklus kalender Suku Maya. Ada banyak tonggak-tonggak sejarah penting (subjektif) yang dipancangkan pada tahun ini.

Di bidang karir, banyak pencapaian-pencapaian penting yang telah ku raih, kendati tidak signifikan dalam menolong napas dompet yang tetap aja kembang kempis. Banyak job-job kecil yang mutlak harus ku syukuri, banyak planning yang sukses tereksekusi walaupun lebih banyak lagi yang betah tidur dalam ruang mimpi. Ada kebebasan berkarya untuk kaum sanguin,  yang mesti disyukuri.

Dibalik dinamika psikologi, suhu kantong, dan anomali cuaca yang unik di Kota Kelahiranku, aku bersyukur tahun ini tidak pernah merasakan hambatan dalam hal kesehatan. Satu-satunya gangguan kesehatan yang kualami selama tahun ini adalah serangan flu ringan yang berlangsung hanya sehari. Alhamdulillah dan semoga bisa dipertahankan.

Kategori
Budaya Mbojo JOKE web/blog

Pemerintah, Berkat Togel Program Bebas Buta Aksara Berhasil


Saya kaget sampai terkoprol-koprol hari itu, melihat La Hasa dan La Duru (sebut saja namanya begitu). Keduanya kudapati sedang duduk di salah satu pos jaga di dekat rumah. La Hasa terlihat sedang mengoret-oret kertas sedangkan La Duru dengan antusias dan sedikit tak sabaran menanti temannya itu selesai menulis.

Rasa heran saya datangnya dari track record mereka berdua. La Hasa seingatku tidak pernah makan bangku SD (menurutnya kurang enak kali yah?).  Di usianya yang mendekati 30 tahun saya tidak pernah tahu kalau dia bisa baca-tulis, bahkan di kampungku dia tak jarang jadi bahan olok-olokan gara-gara buta huruf.

Samar-sama yang saya tangkap dari pembicaraan mereka, ada beberapa istilah ilmiah yang terucap. “Ekor naga bercabang dua, katanya tuh Hasae,” ujar La Duru. “E.. bukan Durue, itu angka mati,” kata La Hasa menimpali. Setelah beberapa saat ku berpikir, jelaslah apa yang menjadi objek fokus diskusi mereka hari itu. Keduanya ternyata sedang meriset angka-angka ramalan togel yang akan keluar besok hari.

Saya berpikir, alangkah hebatnya togel, bisa menyulap orang buta huruf jadi melek dengan abjad dan angka. La Hasa yang dulu mendadak rabun kalau disuruh membaca, hari itu begitu lincah menulis untaian angka. Nafsu ingin mendapatkan uang banyak dengan cara instant telah memaksa mereka bisa menulis dan membaca, minimal angka-angka.

Ramalan togel SGP bedah syair? Wedehel…!!

Sepertinya pemerintah kita harus mengevaluasi sistem pendidikan dan pengajaran yang selama ini digalakkan untuk memberantas buta huruf. Bentuk pendidikan formal (setengah memaksa) dengan sistem kelompok belajar paket A (Kejar Paket A) atau program lain yang terkait ABINO (Angka Buta Huruf Nol) saya pikir harus dirombak total kurikulumnya. Bagaimana kalau unsur pendidikan togel juga dimasukkan dalam kurikulum? Saya yakin akan lebih banyak orang-orang yang notabene buta huruf secara sukarela mendaftar untuk mendapatkan ilmu. Kwkwkkww…

Kategori
Oprexz

Pusing, Dashboard WordPress.com yang baru bikin pusing!


Kaget lihat tampilan posting page di dashboard wordpress yang baru begitu berbeda. Setelah nulis banyak, eh ternyata kaget lagi gegara  page gak sengaja  keganti dan lalu tulisan yg sudah hampir satu buku itu hilang dari peredaran. Rupanya gak ada tombol save dan autosave nya pemirsah….

Rupanya sudah terlalu lama saya tinggalkan blog ini sampe² gak apdet dengan perubahannya…

Bukannya saya mau curhat ala ababil di fesbuk, tapi iya sih emImejeng curhat ini namanya… :p

 

 

Kategori
I THINK

Hari Kemerdekaan Indonesia


Hari Kemerdekaan Indonesia!

Hari Kemerdekaan Indonesia
Hari Kemerdekaan Indonesia, sebuah doodle dari Google.co.id

Sebuah pekik yang mewakilkan semangat rakyat indonesia yang terbebas dari belenggu penjajahan pada pertengahan bulan ini terdengar lagi. Sejak 67 tahun yang lalu saat dwitunggal Soekarno-Hatta memploklamirkan kemerdekaan negara di Jakarta, 17 Agustus selalu diidentikkan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia, hari untuk mengingat berdirinya tonggak bangsa ini. Namun belakangan pekik merdeka seakan berkurang kesakralannya, renungan serta upacara peringatan hanya terkesan sebagai seremonial belaka. Masih pentingkah memperingati hari kemerdekaan? ataukah sejatinya memang kita belum merdeka?

Tak dapat dipungkiri, dalam sejarah bangsa ini, kemerdekaan sebagai sebuah negara telah berhasil kita wujudkan pada tahun 1945. Namun lebih dari itu, kemerdekaan bangsa dari penjajahan itu harusnya bisa mengantarkan rakyat Indonesia ke dalam dunia yang merdeka pula. Bangunan Kemerdekaan Indonesia, seharusnya bisa melindungi rakyat dari penindasan yang dilakukan oleh bangsa lain maupun oleh sesama anak bangsa sendiri.

Apabila prinsip terlepasnya belenggu bangsa lain terhadap sebuah negara dijadikan ukuran sebuah kemerdekaan, maka Indonesia belum bisa dikatakan telah merdeka. Penjajahan bangsa asing terhadap negara kita masih terus terjadi hingga sekarang, baik secara ekonomi, politik, maupun ideologi. Tak terhitung harta simpanan kekayaan bangsa yang secara kepemilikan merupakan milik rakyat yang habis dirampok dan dinikmati sendiri oleh pihak asing. Perampokan ‘legal’ ini nyatanya direstui oleh segelintir orang yang mengendalikan arah kebijakan negara ini, sementara rakyat terusir dari tanah dan airnya sendiri dan dipaksa sadar maupun tidak untuk hidup seadanya sambil menyaksikan negara-negara lain berpesta pora menikmati setiap jengkal tanah kita yang kaya.

Bukan menjadi rahasia umum jika setiap kebijakan yang dihasilkan oleh penguasa negara ini merupakan titipan dari pihak asing. Swastanisasi BUMN yang menguasai sektor-sektor vital negara seperi migas, industri dasar, perkebunan dan kehutanan merupakan indikasi kuat keberpihakan penguasa ini terhadap kepentingan asing. Presiden sebagai pemegang kekuasaan tertinggi terkesan didikte dan menjadi budak kapitalisme negara-negara adidaya. Pada saat seperti inilah, ketegasan hati dan kemandirian ideologis seorang Ir. Soekarno dan  Drs. Moh. Hatta menjadi begitu dirindukan.

Arah kebijakan yang merampas hak hidup seseorang maupun sekelompok kaum dari tanah dan airnya inilah yang menjadi ciri ketidak-merdekaan Indonesia. Merdeka adalah keleluasaan menentukan pilihan hidup tanpa ada rasa ketakutan, tekanan dan paksaan. Kemerdekaan diikuti dengan pengakuan adanya kemerdekaan yang sama pada diri orang atau pihak lain. Seseorang yang merasa merdeka tetapi merampas kemerdekaan orang lain pada hakikatnya ia belum merdeka. Karena biasanya perilaku merampas, merampok, dan memaksakan kehendak itu adalah ciri-ciri dari kekurangan, keterikatan dan ketergantungan orang pada hal atau pihak lain. Artinya orang itu belumlah merdeka dalam arti yang sebenarnya.

Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia!

 

 

 

Kategori
Pantai Save Bima Coral

Resume Kegiatan Group CLBK 4 Agustus 2012 (Pesisir Kolo Kota Bima)


Kronologis Singkat Perjalanan Team

Tanggal 4 agustus 2012, team Cinta Laut Bima Kita (CLBK) berinisiasi untuk mengadakan sebuah kegiatan yang insyallah bermanfaat besar bagi lingkungan laut, masyarakat pesisir dan pemerintah nantinya. kegiatan tersebut adalah kegiatan transplantasi karang, atau biasa disebut budidaya karang yang dilakukan manusia untuk memberikan intervensi terhadap kondisi lingkungannya.

Team CLBK menunggu teman-teman yang lain sebelum memulai perjalanan

Sesuai dengan tujuan inisiasi yang disampaikan admin group CLBK (Arif), bahwa kawan-kawan yang ingin berpartisipasi dan bergabung dalam kegiatan tersebut diharapkan bisa ikut serta dalam survei lokasi, dengan lokasi berkumpul (gathering point) di Museum Asi Mbojo pada pukul 14:00 wita, dan tempat survei yang dituju adalah kecamatan kolo, kota bima. Tepat jam 13.45 kawan-kawan kumpul dan berangkat dan ada juga yang menyusul kemudian. Asiknya, proses perkenalan sesama anggota survei lokasi dilakukan pertama kali di gathering point, di perjalanan dan selama kegiatan berlangsung. Secara latar belakang, anggota team survei berasal dari berbagai golongan. Ada peserta yang sudah menikah, bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil, wartawan, penggiat sosial dan ada pula yang masih berstatus mahasiswa. Dengan keragaman warna dalam team, jelas menunjukkan bahwa laut itu memiliki tempat di hati siapa saja.

Perjalan menuju kolo kami tempuh 1:30 jam. Sebelumnya team survey lokasi singgah di posko KKNP Mahasiswa UGM, untuk berkoordinasi singkat dan bertukar informasi mengenai beberapa spot yang layak untuk dikunjungi. Kami pun sempat bercerita singkat berkaitan dengan kegiatan dan mereka juga membagi pengalaman snorkeling dan diving di berbagai spot dive di sekitar kawasan Kolo.

Dalam perjalanan ini kami membawa serta 5 set Alat Selam dasar, yang terdiri dari masker, snorkel, dan beberapa pasang fin (sepatu katak). Dari hasil temu dengan mahasiswa UGM di posko KKN mereka, kami mendapatkan tambahan alat sebanyak dua unit yang sangat membantu team di lokasi.

Gambaran Umum Lokasi Survey

gambaran umum lokasi saat surut

Lokasi survei adalah So Sanumbe, sebuah daerah teluk yang memiliki vegetasi tumbuhan pantai berupa pohon , pasir putih,dan bersubtrat pasir dan patahan karang mati. Kedalaman mencapai 3-7 meter dan memiliki gobahan bawah laut yang menjadi luapan pasir yang dibawa oleh ombak dan arus bawah laut. Sesuai dengan hasil pemantau team coral dengan metode RRA (Rural Rapid Assesment), tutupan karang hidup mencapai 30% yang diwakili oleh karang keras (hard Coral ) dengan bentuk pertubuhan, Acropra Brenching, Masive, tabulate dan Foliose, Karang Mati 40%, Pasir 20% dan 20 % lainnya terdiri dari softcoral (karang lunak) yang diwakili oleh lobophilia Sp.

Kondisi Oseografi

Team hanya memantau diwaktu sore hari, padahal untuk mengataui kondisi osfis diperlukan 139 jam dengan tujuan  untuk mengetahui pola pasang surut dan tipe gelombang yang ada di lokasi survei. Karena kebutuhan itu tak mungkin dilaksanakan maka team survey mengamati langsung, dalam waktu beberapa menit. Ditemukan tipe pasang surutnya yaitu satu kali pasang dan satu kali surut dan ombak tak begitu besar. Artinya kondisi ini memang sesuai dengan lokasi yang akan dijadikan tempat transplantasi karang, yaitu daerah teluk semi tertutup.

Rencana tindak Lanjut

Berdasarkan hasil survey awal yang dilakukan Team terhadap kondisi di titik pengamatan (pantai Sanumbe), maka kami memberikan beberapa rekomendasi yang akan di-follow up dengan mata kegiatan sebagai berikut:

  1. Program transplantasi karang untuk konservasi lingkungan laut So Sanumbe
  2. Melakukan survei serupa di titik-titik (pantai) lainnya di Kota dan Kabupaten bima
  3. Menginisiasi terbentuknya lembaga formal/semi-formal untuk mendukung terselenggaranya kegiatan yang dimaksud.

Update kegiatan akan kami kabarkan secepatnya…

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

 

 

Kategori
Wisata Daerah Bima

Wisata Snorkling di Pantai Oi Fanda (Ambalawi)


Selain berenang, aktivitas yang paling kusukai ketika berwisata pantai adalah bersnorkling ria apabila kebetulan kondisi perairan memungkinkan. Terakhir kali saya menjajal indahnya panorama bawah laut dengan perangkat snorkel dan fin adalah lebih dari setahun yang lalu ketika ikut serta dalam kegiatan Sail Takabonerate yang dihelat oleh Pemprov Sulsel. Semenjak ekspedisi diatas KRI Diponegoro bersama puluhan sahabat dari berbagai Negara itu, praktis saya tidak pernah lagi melakukan snorkeling lantaran tak adanya alat dan terbatasnya spot penyelaman yang saya ketahui di Bima (Pulau Sumbawa – NTB).

Pantai oi Fanda Ambalawi, tempat yang tepat untuk rekreasi bawah air
Pantai oi Fanda Ambalawi, tempat yang tepat untuk rekreasi bawah air

Kesempatan sepertinya baru berpihak kepadaku ketika beberapa hari yang lalu kakak ku yang pindah tugas ke Bima membawa serta peralatan snorklingnya. Sayapun langsung menyusun rencana berkaitan dengan target-target pantai yang saya rasa ideal untuk dijelajahi dengan snorkel. Pilihan pertama saya jatuh ke Pantai Oi Fanda yang terletak di Kecamatan Ambalawi Kabupaten Bima karena berdasarkan pengalaman saya waktu berkunjung, kondisi karang dan visibilitas air lautnya relatif lebih baik dari spot-spot lainnya yang pernah saya kunjungi.

Untuk mencapai pantai Oi Fanda tidak terlalu sulit. Dari Kota Bima hanya dibutuhkan waktu tidak lebih dari 1 setengah jam dengan perincian satu jam menelusuri jalan menuju Kabupaten Wera yang saat ini dalam kondisi teraspal mulus lalu belok kiri pada pertigaan menuju desa Ujung Kalate. Dari desa terakhir ini butuh sekitar 10 menit untuk tiba di lokasi So Oi Fanda melalui diatas jalanan tanah berbatu. Opsi lain apabila anda ingin mencapai Oi Fanda dari Kelurahan Kolo, dari area wisata So Ati pengunjung tinggal meneruskan perjalanan selama 15 menit, hanya saja jalur yang harus ditempuh lebih menantang karena tanjakan dan kondisi jalan yang ekstrim.

Fishes goes to school
Fishes goes to school

Benar saja, Minggu 8 Juli kemarin ketika saya menyelam di Oi Fanda ternyata prediksi saya tidak meleset. Kendati pesisir Ambalawi dan kecamatan lain di Bima dulu pernah terkenal dengan catatan buruk mengenai tangan-tangan rakus nelayan yang suka mencari ikan dengan bom dan racun, namun kawasan Oi Fanda masih menyisakan koral-koral hidup dan ikan ikan yang menggantungkan hidup padanya yang beraneka jenis dan rupa.

Di pantai yang berada antara dua tebing karang ini lokasi snorkeling terbaik adalah pada karang bagian utara yang sedikit lebih jauh dari aktivitas perahu nelayan. Lokasi ini cenderung terjaga biotanya karena sepanjang pantai lebih didominasi bebatuan karang, bukannya pasir yang menjadi incaran para pecinta rekreasi pantai. Meski  luasan areal jelajahnya sempit namun keunggulan spot ini adalah kedalamannya yang dangkal. Dengan ketinggian air mulai dari 1-2 meter pada waktu surut akan sangat memudahkan penyelam pemula sekalipun untuk menikmati sajian pemandangan berbagai jenis karang hidup, ikan hias, bintang laut, dan lain-lain dengan mudah dan aman.

Seperti tipikal daerah pantai lainnya di Bima, kondisi Oi Fanda memang butuh perhatian kita semua. Vegetasi hutan lamun yang dulu kaya kini menyusut akibat praktek pencarian ikan oleh nelayan setempat yang tidak bersahabat dengan alam. Racun dan bom ikan telah merubah hamparan karang dengan kehidupannya menjadi hamparan karang mati yang membutuhkan waktu lama untuk kembali seperti sediakala. Semoga sepotong surga yang tertinggal di pantai Oi Fanda ini bisa bertahan hingga masih bisa dinikmati sampai anak cucu kita.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Kategori
JOKE sejarah bima

Talapiti – Bima Setelah 4512 Tahun Berlalu (Sejarah Listrik Dunia)


Apakah penemuan terbesar sepanjang 200 tahun ini? kalau anda menjawab internet, komputer, nuklir, mesin uap atau boiben korea artinya kita tak sependapat. Menurut ku LISTRIK menjadi sesuatu yang sangat vital dewasa ini yang memastikan segala macam alat buatan kesenangan, keperluan, dan kebutuhan manusia bisa tercipta. Hidup tanpa listrik itu jauh lebih sengsara bagiku jika dibandingkan dengan penderitaan sejumlah ABG alay jika Tuhan dengan kuasaNya menghapuskan boiben dari catatan sejarah umat manusia.

Bagaimana sejarah panjang penemuan listrik dan penggunaannya secara luas khususnya di Indonesia? mari kita buka catatan materi kuliah sejarah kita hari ini!

Listrik yang konsep awalnya pertama kali ditemukan sekitar 2.500 tahun Sebelum Masehi oleh seorang cendikiawan Yunani yang bernama Thales dari Melitus, yang  mengemukakan fenomena batu ambar yang bila digosok-gosokkan dengan kain akan dapat menarik bulu atau jerami. Selanjutnya dari sebuah energi yang misterius, klenik, dan dipercaya sebagai kuasa dewa/dewi primitif Yunani, konsep listrik terus berkembang menjadi lebih ilmiah seperti yang kita kenal sekarang. Sejarahnya panjang, disini saya ingin menyajikannya dalam sebuah bentuk lini masa (timeline) untuk mempermudah anda mengikutinya.

Sejarah Panjang Penemuan Listrik di Dunia dan Indonesia:

  • Pada tahun 1600 M seorang dokter dari Inggris, William Gilbert mengemukakan bahwa selain batu Amber masih banyak lagi benda-benda yang dapat diberi muatan dengan cara digosok. Oleh Gilbert, batu tersebut diberi nama electrica. Kata electrica diambil dari bahasa Yunani “elektron” yang artinya amber.
  • Pada 1646, seorang penulis dan dokter dari Inggris, Thomas Brown menggunakan istilah electricity yang diterjemahkan listrik ke dalam bahasa Indonesia.
  • Tahun 1670, Otto Von Guericke (ahli fisika, Jerman) menemukan Bahwa listrik dapat mengalir melalui suatu zat.
  • Pada awal tahun 1700-an, peristiwa hantaran listrik juga di temukan oleh Stephen Gray, lebih jauh Gray juga berhasil mencatat beberapa benda yang bertindak sebagai konduktor dan insolator listrik.
  • Pada awal tahun 1700-an, Charles Dufay(ilmuan Prancis) secara terpisah mengamati bahwa muatan listrik terdiri dari dua jenis. Ia menemukan fakta bahwa muatan listrik yang sejenis akan tolak menolak, sedangkan muatan listrik yang berbeda jenis akan tarik menarik.
  • Tahun 1752-an ilmuan amerika, Benjamin Franklin merumuskan teori bahwa listrik merupakan sejenis fluida yang dapat mengalir dari satu benda ke benda lain. Kilat merupakan salah satu gejala kelistrikan.
  • Tahun 1766 ahli kimia inggris, Joseph Priestley membuktikan bahwa gaya di antara muatan-muatan listrik berbanding terbalik dengan kuadrat jarak di antara muatan-muatan tersebut. Selain itu ahli fisika perancis, Charles Augustin de Coloumb berhasil menemukan alat untuk menentukan gaya yang berinteraksi di antara muatan-muatan listrik. Alat ini di namakan neraca torsi.
  • Pada tahun 1791, Luigi Galvani (ahli Biologi, Italia) mengumumkan hasil percobaannya yaitu otot pada kaki katak akan berkontraksi ketika di beri arus listrik.
  • Pada tahun 1800, ilmuan italia, Alessandro Volta menciptakan baterai pertama kalinya.
  • Pada tahun 1819, ilmuan Denmark, Hans Christian Oersted mendemonstrasikan bahwa arus listrik dikelilingi oleh medan magnet.
  • Andre Marie Ampere (1775-1836) seorang ilmuwan Prancis menjadi pelopor di bidang listrik dinamis (eletrodinamika).
  • Tahun 1827, Georg Simon Ohm (ilmuan Jerman) menjelaskan kemampuan beberapa zat dalam menghantarkan arus listrik dan mengemukakan hukum Ohm tentang hantaran listrik.
  • Tahun 1830 ahli fisika amerika, Joseph Henry menemukan bahwa medan magnet yang bergerak akan menimbulkan arus listrik induksi.
  • Tahun 1831 Gejala yang sama juga di temukan oleh Michael Faraday satu tahun kemudian. Faraday juga menggunakan konsep garis gaya listrik untuk menjelaskan gejala tersebut dan menciptakan generator listrik yang menjadi sumber pembangkit energi yang digunakan hingga sekarang
  • Pada tahun 1840, ilmuan inggris James Prescott Joule dan ilmuan jerman, Herman Ludwig Ferdinand Von Helmholt mendemonstrasikan bahwa listrik merupakan salah satu bentuk energi.
  • Tanggal 21 Oktober 1879 lahirlah lampu pijar listrik pertama oleh tangan si jenius Thomas Alva Edison
  • akhir abad ke-19 sejarah Ketenagalistrikan di Indonesia dimulai ketika beberapa perusahaan Belanda mendirikan pembangkit tenaga listrik untuk keperluan sendiri. dasar kompeni!. Pengusahaan tenaga listrik tersebut berkembang menjadi untuk kepentingan umum, diawali dengan perusahaan swasta Belanda yaitu NV. NIGM yang memperluas usahanya dari hanya di bidang gas ke bidang tenaga listrik. Selama Perang Dunia II berlangsung, perusahaan-perusahaan listrik tersebut dikuasai oleh Jepang
  • tanggal 17 Agustus 1945, setelah kemerdekaan Indonesia, perusahaan-perusahaan listrik tersebut direbut oleh pemuda-pemuda Indonesia pada bulan September 1945 dan diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia. Merdeka!
  • Pada tanggal 27 Oktober 1945, Presiden Soekarno membentuk Jawatan Listrik dan Gas, dengan kapasitas pembangkit tenaga listrik saat itu sebesar 157,5 MW.
  • Tanggal 1 Januari 1961, Jawatan Listrik dan Gas diubah menjadi BPU-PLN (Badan Pimpinan Umum Perusahaan Listrik Negara) yang bergerak di bidang listrik, gas dan kokas.
  • Tanggal 1 Januari 1965, BPU-PLN dibubarkan dan dibentuk 2 perusahaan negara yaitu Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang mengelola tenaga listrik. Saat itu kapasitas pembangkit tenaga listrik PLN sebesar 300 MW.
  • Tanggal 20 Mei 2012, tiang-tiang jaringan listrik PLN mulai di-dropp untuk melayani desa Talapiti Kecamatan Ambalawi Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Kategori
I THINK MBOJO BIMA TRAVELLER

Romantika Masa Kecil di Bukit Dewa Tula


Tepat di depan rumahku berdiri sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi. Bukit Dewa tula, begitu sebagian orang di kampung memberi nama. Saya sendiri tidak begitu tau dari mana asal nama itu, namun semenjak kecil nama  Dewa Tula sudah begitu melekat dengan bukit yang berada di sebelah timur laut kantor walikota Bima itu.

Tak ada pohon yang besar di bukit ini, seingatku dulu ada sebuah pohon mangga besar pada sisi bukit yang menghadap rumahku, namun sudah ditebang sekitar sepuluh tahun yang lalu. Praktis bukit ini hanya ditumbuhi semak belukar dan pepohonan lamtoro yang dari dulu hingga sekarang tak kunjung besar. Beberapa pohon garoso (sirsak) yang yang dulu selalu ranum berbuah dan biasa ku petik kini semakin berkurang, kalaupun ada menurutku tak kan menjanjikan buah sirsak sebanyak dulu.

Kalau bukan karena ayah saya berhasil membunuh seekor tikus yang besar komplit dengan tiga ekor anaknya, tak bakalan saya mendaki bukit Dewa Tula. Siang itu saya kebagian tugas dari Ayah melenyapkan hama pengganggu itu di rumah dengan membuangnya di atas bukit. Sebuah plastik besar berwarna kuning berisi empat ekor tikus hasil perburuan Ayah di samping kamar mandi menjadi paket yang segera harus saya enyahkan. Mendaki bukit Dewa Tula pun harus saya lakoni demi tugas suci nan mulia itu, walaupun setelah sekian lama saya tidak pernah lagi menapakkan kaki diatas bukit itu.

Memandangi kantor walikota Bima dari bukit Dewa Tula

Yah, semenjak tamat SD atau kalau dinumerikkan setelah sekitar 15 tahun saya tidak pernah lagi mendaki sampai puncak bukit yang berjarak tak lebih dari 20 meter dari depan rumah itu. Dulu sewaktu kanak-kanak, Dewa Tula seakan menjadi tempat bermain wajib bagi saya dan anak-anak lain di lingkungan tempat tinggalku. Bukit yang rimbun dengan semak belukar dan batu-batu besar yang ideal untuk bersembunyi menjadikan bukit ini sebuah tempat yang pas untuk bermain petak umpet dan perang-perangan.

Pada setiap musim garoso, saya dan beberapa orang teman masa kecil selalu menyempatkan berburu buah yang manis ini. “dei garoso,” begitu orang Bima menyebutnya. Dulu kami selalu berebutan untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya garoso untuk dibawa pulang. Kalau kebetulan buah garoso tak terjangkau tangan atau dahannya terlalu kecil untuk dipijaki, sebatang galah kecil yang kami bawa sukses menjalankan tugasnya. Setelah mengantongi beberapa buah garoso untuk dinikmati berhari-hari, kami mengumpulkan seikat besar daun lamtoro untuk pakan ternak kambing di rumah masing-masing untuk menyogok orang tua yang terkadang melarang kami bermain di bukit.

Pohon Kamboja tua masih tegak berdiri, masih sama seperti dulu, -tak berdaun.

Bagi warga yang berdiam sedikit lebih jauh dari kaki bukit, Dewa Tula terbilang angker. Pernah kejadian salah seorang anak tetangga rumahku entah bagaimana ceritanya raib dari kamar di subuh buta. Warga kampung mencari ke seluruh tempat, dan ajaibnya sang bocah ditemukan sedang pulas tertidur di salah satu dahan pohon mangga yang kini sudah ditebang.

Di puncak bukit juga tak kalah kental aura mistisnya, sebatang pohon kamboja besar tanpa daun berdiri hingga kini. Dulu sering kami melihat semacam sesajen yang diletakkan oleh orang-orang yang konon mencari ilham, atau mungkin sekedar mengadu peruntungan dengan meminta nomor togel cantik pada penunggu bukit. Entahlah… malah dulu sering saya menemukan sisa api unggun, tulang ayam berserakan, dan bulu ayam di sekitar pohon yang entah kebetulan atau tidak warna bulu ayam di bawah pohon kamboja itu persis sama dengan ciri-ciri ayam tetangga kampung ku yang hilang kemarin malam. 🙂

Kami, anak-anak di lingkungan sekitar bukit tak pernah memandang bukit kecil ini angker. Malah ribuan kesenangan telah kami dapatkan dengan menjadikan Dewa Tula sebagai tempat bermain dan beraktivitas. Mulai dari bermain petak umpet, perang perangan (lewa pehe), mencari jamur, berburu gagang katapel (haju ncanga), dei garoso, menerbangkan layangan dan mengadu dengan tetangga kampung, mencari pakan kambing, atau sekedar duduk di batu besar dan memandangi seluruh penjuru kota dengan takjub.

Kategori
JOKE

CERITA LUCU 2 Butir Kacang Ijo dan Rp.5000


CERITA LUCU. Sepasang suami istri telah menikah begitu lama. Untuk menghormati privacy, setelah 15 tahun menikah masing-masing mengajukan permintaan.  Suami tak ingin handphone atau BB-nya dibuka oleh istri. Sementara sang istri hanya meminta agar suaminya tidak membuka laci meja di kamar tidur.

Dengan kesepakatan itu sang suami merasa aman perselingkuhannya dengan beberapa wanita tak akan diketahui oleh istrinya. Kata-kata mesra dan percakapan via SMS dan BB tak akan terendus oleh istrinya. Diapun leluasa menggunakan handphone dan BB sebagai alat komunikasi untuk selingkuh.

Setelah 10 tahun kesepakatan itu dipegang kuat akhirnya luntur juga.  Sang suami tegoda untuk membuka laci meja di kamar tidur. Begitu ia membua laci itu ternyata hanya berisi 2 butir kacang ijo dan uang Rp5.000.

Istri ketahuan selingkuh

“Ya ampun cuma ini tho, yang tak boleh aku ketahui,” bisik suami.  Sembari meminta maaf karena telah melangar kesepakatan, lelaki yang usianya sudah menjelang 50 tahun itupun penasaran bertanya, “Apa artinya dua butir kacang ijo dan uang lima ribu rupiah ini?” Sang istri kemudian menjawab, “Setelah aku cerita apakah bapak berjanji tetap sayang sama saya?” “So pastilah sayangku,” seru suaminya.

Sambil menarik napas panjang istri itu bekata: “Maaf suamiku, sebenarnya aku wanita yang rusak, aku pernah selingkuh. Untuk mengingatkanku, setiap aku selingkuh aku meletakkan satu butir kacang ijo di laci meja itu.” Sang suami terdiam, dia berbisik di dalam hati, “Gak apa-apalah, kan cuma dua kali selingkuh sementara aku sudah melakukan belasan kali.”

Kategori
web/blog

Membangun Situs Berita Lokal Bercitarasa Internasional


Setelah sekian lama saya tidak menulis disini, postingan ini harusnya menjadi ‘sesuatu’ yang harus dirayakan. Dalam blog sederhana ini sebenarnya begitu banyak yang ingin saya tulis, mulai dari kemana saja saya pergi, atau anak ayam saya yang mati kemarin sore. Sungguhpun ingin saya aktif menulis seperti dulu, namun apalah daya rutinitas saya belakangan ini cukup menyita waktu dan pikiran. Maafkan saya, pembaca…

Sebenarnya saya tetap menulis, walaupun dengan kemasan dan tempat menulis yang lain. 25 hari yang lalu saya dan beberapa orang teman bersepakat untuk membuat sebuah website berita. Media online yang bernama “KAHABA” ini merupakan hasil inisiatif saya, Agus ‘cobe’ Mawardy, Bin Kalman, dan beberapa rekan yang lain yang se-ide mengenai eksisnya sebuah situs berita lokal yang bercitarasa internasional. Ibaratnya sop ikan palumara, tetapi dihidangkan di restoran cepat saji, begitu yang kerap saya bilang.

Kahaba.info “Kabar Harian Bima”

Dengan sumberdaya yang ada kami memulai sebuah langkah kecil, namun terencana. Saat itu kami mulai menyusun konsep awal mengenai apa dan bagaimana kami memulai aktivitas jurnalistik gaya baru ini, termasuk pemilihan nama media yang sedikit fenomenal, -setidaknya menurut saya.

Kata “KAHABA” itu sendiri memiliki sejarah penemuan nama yang menarik, dalam momen kumpul-kumpul kebo itu setiap orang mencoba mengusulkan beberapa nama yang akan diusung menjadi brand media, termasuk Mbojo News, Kabar Bima, Bima News, Fajar Bima, bahkan yang lebih ekstreem lagi si me’e mengusulkan nama gamugaca.com. KAHABA saya usulkan karena merupakan singkatan dari Kabar Harian Bima, lebih dari itu kata kahaba sendiri merupakan sebuah kata kerja dalam bahasa Bima yang berarti mengabarkan atau menyampaikan kabar. Jadi perkara nama deal, tinggal dibungkus. :p

Kategori
KJS

Minggu kedua, Berkunjung Ke Bumi Paradise ~ catatan Roadshow Pendidikan Tinggi 2012 (part 5)


Kegiatan Roadshow Pendidikan Tinggi 2012 direncanakan digelar tiap minggu dengan mengunjungi masing-masing dua sekolah pada hari jum’at dan sabtu.  Dengan pola seperti itu target delapan sekolah selama satu bulan secara realistis bisa dicapai. Setelah mengunjungi Sanggar dan Tambora pada minggu lalu, tanggal 3 Februari adalah giliran SMAN 1 Parado untuk kami datangi.

Berbeda dengan kegiatan minggu sebelumnya, mengunjungi Parado dan Langgudu  kami hanya menggunakan satu mobil. Sebenarnya kami sudah menyiapkan dua buah mobil untuk berjaga-jaga kalau kebutuhan di hari-H memaksa. Dengan alasan efisiensi berhubung jumlah anggota Team yang berangkat dari Kota Bima ternyata tidak lebih dari delapan orang disamping itu karena sebagian anggota Team Roadshow sudah standbye sehari sebelumnya di Parado dan setelah kegiatan mereka juga akan langsung menuju ke Langgudu untuk kegiatan keesokan harinya (4 Februari) maka kami hanya menggunakan satu mobil kijang kapsul milik dinas Dikpora.  Selain menggunakan mobil, jarak Bima-Parado yang relatif dekat membuat beberapa orang anggota Team mempergunakan tiga buah sepeda motor.

Saya ikut rombongan motor dan start bersamaan dengan rombongan lain. Seumur hidup saya baru kali ini berkunjung ke Parado, jadi navigasi sepenuhnya saya serahkan pada Bagus, boncengan saya yang “katanya” hafal jalan kesana. Rupanya driver dan navigator sama-sama tidak hafal jalan, bertanya pun enggan karena kepedean. Kami berdua baru sadar kalau sudah melenceng 20 km dari jalur semula setelah melihat gerbang selamat datang di Kecamatan langgudu :mrgreen: Sebuah insiden memalukan hahaha… Untunglah kami langsung menerima SMS dari anggota team lainnya yang katanya sudah hampir sampai di tujuan seharusnya, kalau tidak insiden nyasar ini kan keterusan sampai di kecamatan sebelah.

Setelah kembali ke jalan yang benar dan tiba di tujuan yang seharusnya, kami mendapati acara rupanya sudah dimulai. Seremoni pembukaan oleh petinggi sekolah dan ketua panitia menjadi tanda dimulainya kegiatan. Jumlah siswa yang menjadi peserta pada Sekolah Menengah Atas yang baru beberapa tahun berdiri ini adalah sejumlah 50an orang yang tersebar pada dua kelas. Mereka dibimbing untuk menemukan bakat dan minatnya lewat instrumen test psikologi, selanjutnya diberikan motivasi dengan menyajikan tayangan video dan slide yang menggugah semangat belajar dan berusaha. Pada sesi ini didapati beberapa orang siswi mengeluarkan air mata padahal seingat saya video motivasi dari dr. Hidayat yang saya edit tidak sedih-sedih amat, malah musik yang ceria dan semangat saya jadikan latar video (kalau tidak percaya, silahkan cekidot video berikut ini)

Sambil menunggu lembar test diperiksa oleh team fasilitator, peserta diajak untuk mengunjungi satu demi satu kampus-kampus negeri yang ada di Indonesia lewat presentasi kampus. Team Panitia yang kebetulan berasal dari universitas berbeda-beda memberikan presentasi mengenai gambaran umum, fasilitas, biaya pendidikan, biaya hidup, dan banyak hal-hal lainnya pada kampusnya masing-masing . Tidak lupa pula beasiswa Bidik Misi yang menjadi prioritas beasiswa yang direkomendasikan untuk diikuti kami presentasikan sehingga diharapkan selain peserta menemukan jurusan/kampus sesuai dengan minat dan bakatnya mereka akan memiliki motivasi yang lebih untuk bersaing mendapatkan keringanan biaya pendidikan melalui program Bidik Misi. Setelah itu peserta dibimbing oleh fasilitator melakukan proses pengambilan keputusan (decision making) melalui sebuah game outdoor.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Kategori
I THINK

BALADA ANAK SEKRET KOPMA UNHAS


Malam ini saya ngobrol via chat FB dengan kawan lama semasa masih jaman kuliah, dimana pada jaman dulu  kala siang dan malam terbalik 360°, namun sekarang… sama saja :mrgreen:.  Ngobrol ngalor ngidul dan berbagi cerita nostalgia mengenai suka duka di kampus atau bagaimana bedanya sensasi gigitan nyamuk sekretariat PKM dengan gedung senat mahasiswa, atau terkadang berbagi info tentang mantan oddo’² (gebetan) sewaktu jadi pejantan gagal tangguh. Tak terasa tepat setahun saya tinggalkan Makassar dan kembali ke kampung halaman, sebuah waktu yang terlalu singkat untuk bisa melupakan masa-masa dirantauan.

Anggap saja rumah sendiri....

Salah satu cerita menarik yang hangat dibahas adalah cerita tentang keterbatasan uang kiriman yang mempengaruhi gaya hidup (terkadang mempengaruhi kewarasan otak) mahasiswa. Dulu saya tinggal di kost-kosan sederhana, lalu beranjak menjadi penjaga kampus, alasan awalnya bukan perkara kantong yang tak mampu menyewa kost (kalau di Makassar namanya pondokan) namun lebih dari itu akses yang dekat diharapkan membuat frekuensi kehadiran ke kelas kuliah menjadi meningkat. Hal ini TIDAK TERBUKTI 😦

Faktor uang kiriman bulanan sungguh sangat mempengaruhi gaya hidup mahasiswa Makassar dan mungkin juga mahasiswa lainnya se-Indonesia. Cekidot!!!

#Pembersih wajah#
awal bulan : Olay Anti Aging
tengah bulan : Tje fuk
akhir bulan : Mama Lemon di laci piring juga oke

#Komunikasi dengan pacar#
awal bulan : teleponan
tengah bluan : smsan
akhir bulan : sms mama minta pulsa..