Beranda > Gunung > Inilah Realitas Kabanta, Terimakasih Telah Terus Terjaga

Inilah Realitas Kabanta, Terimakasih Telah Terus Terjaga

Kontur daerah Bima bervariasi, deretan gunung dan bukit menjulang dengan dikelilingi laut yang indah tentunya bukan tempat yang mudah untuk ditelusuri. Dengan medan yang begitu rupa, keasrian dan kecantikan pemandangan alam akan terjaga sekaligus kehidupan masyarakat setempat juga tersisihkan pembangunan akibat sulitnya akses mereka menuju dunia luar. Ironis bukan? tetapi inilah uniknya Bima….

Perjalanan kami pada hari Kamis (17/1/2013) membawa aku mendatangi beberapa puncak yang menawan di Kota dan Kabupaten Bima. Rencanaku dan Dedi hari itu adalah membawa dua orang crew Trans7, presenter program Indonesiaku Miladia Rahma (Mila) dan Gion sang kameramen untuk melakukan liputan di sejumlah tempat diantaranya: Kabanta, Wawo, dan Donggo.

Mereka ingin mengangkat potret masyarakat terpencil dalam programnya, dan hari sebelumnya kami sudah selesai dengan liputan masyarakat nelayan di Songgela dan para pemecah batu di Kelurahan Waki Kota bima.

Kabanta, Puncak Pertama

Menuju tempat pertama, kami harus banyak melakukan perencanaan. Akses jalan mendaki dengan bebatuan dan lumpur menjadi tantangan tersendiri yang sudah kami prediksi sebelumnya. Aku pun menyarankan tim meninggalkan mobil Toyota Avanza yang sejak hari pertama dipakai meliput di Kota Bima.  Mobil diparkir rapi di Kelurahan Kendo, tempat ‘beraspal bagus’ terakhir sebelum Kabanta, sedangkan kami berempat menggunakan sepeda motor.

Kami harus berangkat pagi, bersama rombongan guru-guru MIN Al-Ikhlas yang ‘ikhlas’ menjadi host kami. Mereka bergabung dengan kami di tanjakan pertama, sekitar 3 km arah selatan Kendo. Sepertinya sedari pagi mereka sudah menunggu rombonganku yang suka kesiangan…🙂

Saya membonceng Mila, sementara Dedi melaju bersama Gion dan ransel besar berisi kamera di punggungnya. Sementara rombongan guru-guru MTS dan penduduk setempat itu telah menghilang dari pandangan. Mesin sepeda motorku meraung keras di tanjakan menuju Kabanta pada pukul 7.15 pagi itu. Karena beberapa ratus meter telah diaspal, jalur terjal pertama itu mudah saja kami lewati.

Medan selanjutnya menjadi lebih menantang, batu-batu seukuran kepalan jari berserakan sepanjang lintasan yang mendaki itu. Terkadang pula kami harus rela bergesekan dengan semak, melaju di pinggir jalan akibat jalur tengah berlumpur atau terhadang batu besar.

Sepanjang perjalanan kami disuguhkan dengan pemandangan yang memukau mata. Hijaunya bukit-bukit dimusim penghujan seakan mengapus penat kami seketika. Dinamika warga setempat yang menuju huma dan ladang, pria-pria beruban yang memikul dua jerigen air, dan ibu-ibu yang menjunjung benih padi di sepanjang perjalanan menambah warna rute kami.

Dan karena skill berkendara ku cukup akrab dengan medan seperti itu, sekitar 20 menit kemudian tibalah kami di Kabanta.

suasana kelas MTS Al-Ikhlas Kabanta kota Bima

Selamat datang di Kabanta Kota Bima

suasana kelas MTS Al-Ikhlas Kabanta kota Bima

Aktivitas sampingan ibu-ibu warga Kabanta

Inilah realitas, terimakasih telah terus terjaga

suasana kelas MTS Al-Ikhlas Kabanta kota Bima

Kondisi sekolah MTS Al-Ikhlas Kabanta kota Bima

Awalnya aku mengira sekolah kecil di muka kampung itu yang akan kami tuju. “Kondisinya cukup bagus, kelasnya bertembok semen dan beberapa lokal tengah dibangun,” pikirku. Rupanya aku harus menarik kata-kataku setelah rombongan yang berjalan kaki masuk kampung lalu memutar ke arah belakang sekolah yang kumaksud yang rupanya bangunan sekolah SDN itu…

Sebuah bangunan berbahan kayu, berlantai tanah, dan beratapkan seng berdiri, “Lebih mirip gubuk,” batinku. Di bangunan sepanjang 15 meter dan disekat dengan bambu menjadi tiga ruangan itu terlihat aktivitas belajar mengajar dilakukan. Murid-murid dengan pakaian seragam yang sama sekali tidak seragam duduk tenang diatas meja dan bangku kayu seadanya. Sementara di salah satu kelas, salah seorang guru melakukan rutinitasnya membawa wawasan baru pada anak-anak dusun itu.

Di depan bangunan itu teronggok sebilah papan yang dicat berwarna hijau. Hampir separuh papan itu habis dimakan rayap, membuatnya tak lagi bisa terpaku kuat pada dua buah tiang yang salah satunya telah miring. MTS Al-Ikhlas, terbaca samar dari papan pengumuman yang ditaruh saja di tanah itu. Kami berempat seketika mematung, tak bisa lagi banyak berkata..

suasana kelas MTS Al-Ikhlas Kabanta kota Bima

Dinding kelas MTS Al-Ikhlas Kabanta kota Bima disekat dengan bambu

“Selamat datang di sekolah kami, Ini adalah tiga kelas yang menjadi rumah ilmu anak-anak kabanta” kata Kepala Sekolah MTS Al-Ikhlas, Abdulah Yacub, S.Pd. Ia menerangkan, sebelum adanya sekolah ini, warga Kabanta yang hendak menempuh pendidikan sekolah lanjutan harus berjalan kaki beberapa kilometer menuju kota. “Karenanya banyak penduduk di sini yang putus sekolah akibat ketiadaan biaya untuk menyewa jasa ojek atau tak sanggup tiap hari berjalan kaki, maka kami terpanggil untuk hadir mengabdi,” lanjutnya.

Pekerjaan utama warga dusun yang ditinggali sekitar 150 kepala keluarga itu adalah bertani dengan mengandalkan datangnya musim hujan. Karena hal itu juga, praktis membuat setiap musim penghujan menjadi musuh tebesar dunia pendidikan disini. Anak-anak mau-tidak mau harus membantu orang tuanya, menjaga ladang/huma hingga musim panen tiba. Adanya MTS darurat itu, pikirku pasti telah banyak menolong masyarakat setempat.

Sayangnya keberadaan MTS swasta itu tidak banyak mendapat perhatian pemerintah. Dibalik vitalnya peranan institusi pendidikan agama dan megahnya sejumlah sekolah di wilayah jantung kota, kondisi gubuk kelas itu menjadi bukti nyata betapa pendidikan di wilayah pinggir kota dianaktirikan.

suasana kelas MTS Al-Ikhlas Kabanta kota Bima

Suasana kelas MTS Al-Ikhlas Kabanta kota Bima

Pak Abdulah mengatakan, satu-satunya partisipasi pemerintah terkait keberadaan MTS itu adalah dikucurkannya dana senila Rp 200 juta untuk membangun empat lokal sekolah permanen tak jauh dari tempat sekolah sekarang. Itu pun, dikucurkan pemerintah setempat setelah salah satu media televisi nasional secara khusus meliput keberadaan tempat itu.

Gedung baru yang tengah dibangun tersebut pun terhenti pembangunannya pada akhir tahun 2012 karena tak cukup biaya. Medan berat menuju Kabanta yang tak sepenuhnya bisa dilalui truk pengangkut material dari kota menjadi hambatan besar dalam merampungkannya.

Sungguh, berada di Kabanta membuatku mengerti. Besarnya peran para guru dan pendiri sekolah MTS Al-Ikhlas yang terus ‘terjaga’ dan ‘ikhlas’ berjuang membuka jendela keilmuan anak-anak kabanta, membuatku harus menaruh respek dan terimakasih tak terhingga. Karena dari ribuan langkah kaki mereka, potensi ‘anak-anak gunung’ itu tergali, ditengah tidurnya para pemimpin kita.

  1. Januari 23, 2013 pukul 10:23 pm

    sangat berkesan,,.. dengan keterbatasan yg dimiliki,,,, semangat para pendidik tuk dunia pendidikan harus di suport lebih baik lg oleh para perintah kota bima khususx dinas terkait….

    acara indonesiaku liput kota bima akan tayang kapan bro…???

    • Januari 25, 2013 pukul 1:28 am

      Belum ada infonya tuh, budah-mudahan secepatnya

  2. ayat_nufus
    Februari 6, 2013 pukul 8:15 am

    yahhh cukup terkesan sekalis mengharukan,,, ternyata bima blm banyak berubah… seperti biasa daerah pinggir kota masih terus dianaktirikan…. bgaimana Bima mau maju coba,,,

  3. firdaus_lambarasa@yahoo.com
    Februari 7, 2013 pukul 12:11 pm

    kontras dg sekolah-sekolah di kota bima, bertingkat, megah dan fasilitas lengkap !! kenapa ????????????

  4. Februari 20, 2013 pukul 11:16 pm

    cuma bisa ngelus dada. perih sekali…

  5. Dirman jp
    April 6, 2014 pukul 12:29 am

    sepertinya sekolah baru sudah siap dibangun, walau belum lengkap,,

  1. Februari 10, 2015 pukul 11:38 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: