Beranda > INFO, MBOJO BIMA > Bima – Makassar, sebuah sejarah ikatan darah

Bima – Makassar, sebuah sejarah ikatan darah

Arus modernisasi dan demokratisasi disegala bidang kehidupan telah mempengaruhi cara pandang dan cara berpikir seluruh element masyarakat. Hubungan keakrabatan antar etnis dan bahkan hubungan darah sekalipun terpisahkan oleh tembok modernisasi dan demokrasi hari ini. Hubungan keakrabatan dan kekeluargaan yang terjalin selama kurun waktu 1625 – 1819 (194 tahun) pun terputus hingga hari ini. Hubungan kekeluargaan antara dua kesultanan besar dikawasan Timur Indonesia yaitu Kesultanan Gowa dan Kesultanan Bima terjalin sampai pada turunan yang ke- VII. Hubungan ini merupakan perkawinan silang antara Putra Mahkota Kesultanan Bima dan Putri Mahkota Kesultanan Gowa terjalin sampai turunan ke- VI. Sedangkan yang ke- VII adalah pernikahan Putri Mahkota Kesultanan Bima dan Putra Mahkota Kesultanan Gowa. Berikut urutan pernikahan dari silsilah kedua kerajaan ini :

  1. Sultan Abdul Kahir (Sultan Bima I) menikah dengan Daeng Sikontu, Putri Karaeng Kasuarang, yang merupakan adik iparnya Sultan Alauddin pada tahun 1625. dari pernikahan ini melahirkan Sultan Abil Khair (Sultan Bima ke-II)
  2. Sultan Abil Khair (Sultan Bima ke- II) menikah dengan Karaeng Bonto Je’ne. Adalah adik kandung Sultan Hasanuddin, Gowa pada tanggal 13 April 1646. dari pernikahan ini melahirkan Sultan Nuruddin (Sultan Bima ke-III) pada tahun 1651.
  3. Sultan Nuruddin (Sultan Bima ke-III) menikah dengan Daeng Ta Memang anaknya Raja Tallo pada tanggal 7 mei 1684. dari pernikahan tersebut melahirkan Sultan Jamaluddin (Sultan Bima ke-IV)
  4. Sultan Jamaluddin (Sultan Bima ke IV) menikah dengan Fatimah Karaeng Tanatana yang merupakan putri Karaeng Bessei pada tanggal 8 Agustus 1693. dari pernikan tersebut melahirkan Sultan Hasanuddin (sultan Bima ke- V).
  5. Sultan Hasanuddin (Sultan Bima ke- V) menikah dengan Karaeng Bissa Mpole anaknya Karaeng Parang Bone dengan Karaeng Bonto Mate’ne, pada tanggal 12 september 1704. dari pernikahan ini melahirkan Sultan Alaudin Muhammad Syah pada tahun 1707 (Sultan Bima ke- VI)
  6. Sultan Alaudin Muhammad Syah (Sultan Bima ke- VI) menikah dengan Karaeng Tana Sanga Mamonca Raji putrinya sultan Gowa yaitu Sultan Sirajuddin pada tahun 1727. pernikahan ini melahirkan Kumala Bumi Pertiga dan Abdul Kadim yang kemudian diangkat menjadi Sultan Bima ke- VII pada tahun 1747. ketika itu beliau baru berumur 13 tahun. Kumala Bumi Pertiga putrinya Sultan Alauddin Muhammad Syah dengan Karaeng Tana Sanga Mamonca Raji ini kemudian menikah dengan Abdul Kudus Putra Sultan Gowa pada tahun 1747. dan dari pernikahan ini melahirkan Amas Madina Batara Gowa ke-II. Sementara Sultan Abdul Kadim yang lahir pada tahun 1729 dari pernikahan dari pernikahannya melahirkan Sultan Abdul Hamid (Sultan Bima ke- VIII). Sultan Abdul Hamid (La Hami) dilahirkan pada tahun 1762 kemudian diangkat menjadi sultan Bima tahun 1773.
  7. Sultan Abdul Kadim (Sultan Bima ke- VII) dari pernikahannya (Istrinya tidak terlacak oleh dalam referensi sejarah yang kami baca- mohon Maaf) melahirkan Sultan Abdul Hamid pada tahun 1762 dan Sultan Abdul Hamid diangkat menjadi Sultan Bima ke- VIII pada tahun 1773.
  8. Sultan Abdul Hamid (Sultan Bima ke- VIII) dari pernikahannya (Istrinya tidak terlacak oleh dalam referensi sejarah yang kami baca- Mohon Maaf) melahirkan Sultan Ismail pada tahun 1795. ketika sultan Abdul Hamid meninggal dunia pada tahun 1819, pada tahun ini juga Sultan Ismail diangkat menjadi Sultan Bima ke- IX
  9. Sultan Ismail (Sultan Bima ke- IX) dari pernikahannya (Istrinya tidak terlacak oleh dalam referensi sejarah yang kami baca- Mohon Maaf) melahirkan sultan Abdullah pada tahun 1827
  10. Sultan Abdullah (Sultan Bima ke- X) menikah dengan Sitti Saleha Bumi Pertiga, putrinya Tureli Belo. Dari pernikahan ini abdul Aziz dan Sultan Ibrahim.
  11. Sultan Ibrahim (Sultan Bima ke- XI) dari pernikahannya melahirkan Sultan Salahuddin yang kemudian diangkat menjadi Sultan Bima ke- XII pada tahun 1888 dan memimpin kesultanan hingga tahun 1917.
  12. Sultan Salahuddin (Sultan Bima ke- XII) sebagai Sultan Bima terakhir dari pernikahannya melahirkan Abdul Kahir II (Ama Ka’u Kahi) yang biasa dipanggil dengan Putra Kahi dan St Maryam Rahman (Ina Ka’u Mari). Putra Kahir ini kemudian Menikah dengan Putri dari Keturunan Raja Banten (Saudari Kandung Bapak Ekky Syachruddin) dan dari pernikahannya melahirkan Bapak Fery Zulkarnaen

Adalah sangat Ironi memang jika pada hari ini generasi baru dari kedua Kesultanan Besar ini kemudian tidak saling kenal satu sama lain. Bahkan pada zaman kerajaan, pertumbuhan dan perkembangan penduduk Gowa dan Bima merupakan Etnis yang tidak bisa dipisahkan dan bahkan masyarakat Gowa pada umumnya tidak bisa dipisahkan dengan Etnis Bima (Mbojo) sebagai salah satu Etnis terpenting dalam perkembangan kekuatan kerajaan Gowa. Dari catatan sejarah yang dapat dikumpulkan dan dianalisa, hubungan kekeluargaan antara kedua kesultanan tersebut berjalan sampai pada keturunan ke- IX dari masing-masing kesultanan, dan jika dihitung hal ini berjalan selama 194 tahun. Dari data yang berhasil dikumpulkan, dapat disimpulkan bahwa hubungan kesultanan Bima dan Gowa dengan pendekatan kekeluargaan (Darah) terjalin sampai pada tahun 1819. Analisa ini berawal dari pemikiran bahwa ada hubungan darah yang masih dekat antara Amas Madina Batara Gowa Ke- II anaknya Kumala Bumi Pertiga dengan Sultan Abdul Hamid (Sultan Bima ke- VIII). Karena keduanya masih merupakan saudara sepupu satu kali. Bahkan ada kemungkinan yang lebih lama lagi hubungan ini terjalin. Yaitu ketika Sultan Abdul Hamid meninggal pada tahun 1819 dan pada tahun itu juga langsung digantikan oleh putra mahkotanya yaitu Sultan Ismail sebagai sultan Bima ke- IX. Karena Sultan Ismail ini kalau dilihat keturunannya masih merupakan kemenakan langsungnya Amas Madina Batara Gowa Ke- II, jadi hubungan ini ternyata berjalan kurang lebih 194 tahun.

Pada beberapa catatan yang kami temukan, bahwa pernikahan Salah satu Keturunan Sultan Ibrahim (Sultan Bima ke- XI) masih terjadi dengan keturunan Sultan Gowa. Sebab pada tahun 1900 (pada kepemimpinan Sultan Ibrahim), terjadi acara melamar oleh Kesultanan Bima ke Kesultanan Gowa. Mahar pada lamaran tersebut adalah Tanah Manggarai. Sebab Manggarai dikuasai oleh kesultanan Bima sejak abad 17. Namun, pada catatan sejarah tersebut tidak tercatat secara jelas.

Sumber Data :

  • Buku Sejarah Bima; Drs M. Hilir Ismail, 1997 (Mantan Ketua Harian Istana Kesultanan Bima)
  • BO, Catatan Sangaji Bima, Hj. Sitti Maryam Rahman, 1994 (Putri Sultan Bima terakhir)
  • Kumpulan artikel (Lontara) Sulawesi Selatan, Perpustakaan Daerah Sulawesi Selatan

Tulisan diatas, saya ambil dengan sedikit editan dari web bimacenter.com dipublish pada tanggal 18 maret 2008 dengan juul asli ” Mengungkap Kembali Hubungan Darah Bima-Bugis-Makassar” oleh anonim

  1. Furkan
    April 6, 2008 pukul 7:41 pm

    pertamaX

    Ane Pingginnya Nulis Tentang Kerajaan Sanggar

  2. April 6, 2008 pukul 7:45 pm

    iya… kerajaan sanggar, The Lost Treasure. Bagusnya, sekalian bikin skenario film nya, hehehehhe…..

  3. April 7, 2008 pukul 8:01 pm

    hmm menarik jg nih….sy suka ama sejarah sih hhehehe🙂

    yup, karena kita hari ini adalah sejarah untuk besok….

  4. April 11, 2008 pukul 12:59 am

    ake labo cou sih…….

    ada deh… Ini Mr. Muhsinin Kehutanan 2K kan???? pakabar om???

  5. April 11, 2008 pukul 4:05 pm

    iya. di buku sejarah gowa juga ada disebutkan tentang kekerabatan Gowa dan Bima.

    Tulisan yang bermanfaat sekali!

  6. viRoEs
    April 14, 2008 pukul 10:08 pm

    kebetulan nih. memperingati hari jadi BIMA dan napak tilas sejarah hubungan bima – makassar, KOPA Mbojo akan melakukan ekspedisi di dua puncak di makassar. rencananya ekspedisi akan dilakukan awal juli 2008 ini. ayooo dukuuung

    yup, saya dukung sepenuhnya… mau mendaki yah, mau dong ikut juga… eh, tapi hari ini ada anak Mapala Unhas meninggal di Gunung Bulusaraung, takut²!!!! soalnya saya gak pernah naek gunung

  7. April 24, 2008 pukul 4:58 pm

    bagaimana dengan ikatan darah antara BIMA DAN DOMPU om????

    wah, kalo Bima-Dompu tuh, udah kayak sodara kandung…. tapi saia belom dapat referensi buat nulis hal itu di blog

  8. bagas
    April 25, 2008 pukul 4:26 pm

    ( DARI SEJARAH NGANJUK )
    Adapun penguasa daerah Berbek dan Godean dapat dijelaskan sebagai berikut :
    1.Raja Bima mempunyai seorang putra, yaitu : Haji Datuk Sulaeman, yang kawin dengan putri Kyai Wiroyudo dan berputra 4 (empat) orang.

    Ayahnya Haji Datuk Sulaeman ini Raja Bima yang ke berapa?

    • Teta Lewisape
      Oktober 14, 2011 pukul 7:02 am

      Untuk Mas Bagas , benar , seorang putera raja Bima bernama Datuk Sulaiman merantau ke Ngayogyakarta dan menjadi Imam di Kesultanan Mataram yang pada waktu itu belum terpilah menjadi Kesunanan Solo dan Kesultanan Yogyakarta , dan sesudah terpilah lagi menjadi PAKUALAMAN dan KESULTANAN YOGYAKARATA. Pangeran Diponegoro adalah turunannya dari perkawinan puteranya dengan putera ” raja ” Madura . Diperkirakan Datuk Sulaiman berangkat ke Mataram ( Yogyakarta ) sekitar akhir abad ke-16 – awal abad 17 yaitu antara tahun 1585 – 1606 dan kawin dengan puteri istana kraton . . Kepastian waktu tidak terlacak . Dihubungkan dengan tahun tersebut , diperkirakan Datuk Sulaiman adalah putera Raja Sarise , raja Bima ke-21 atau Raja Mantau Limadaru , raja Bima ke-22 yang keduanya memerintah sebagai raja Bima pada tenggang tahun-tahun tersebut . Merantaunya Datu Sulaiman ke Mataram ( Yogyakarta ) diduga karena perbedaan akidah di mana pada waktu itu Istana Bima belum menerima Islam dan masih menganut agama Hindu/kepercayaan animisme , sedangkan Datu Sulaiman sudah memeluk Islam .
      Dan untuk diketahui, BENY MURDANI , yang pernah menjadi PANGAB/MENHANKAM , dan sekarang sudah wafat adalah turunan dari Datu Sulaiman . Kakek Beny Murdani kawin dengan wanita beragama Kristen ( -kalau tidak salah peranakan Belanda dan Katolik ) dan masuk Kristen sehingga anak cucunya termasuk Beny Murdani menjadi penganut Kristen .
      Sebagai turunan Raja Bima , Beny Murdani sangat menghormati putera-puteri Sultan Bima.
      Puteri Sultan Bima , Ruma Mari atau INA KA-U MARI ( – sapaan untuk puteri Sultan Bima : Hj.Siti Maryam , yang berarti : YANG DIPERTUAN PUTERI MARI – ) bercerita , sekali pada waktu sidang MPR , ketika Ruma Mari ( anggota MPR pada waktu itu ) masuk ke ruang sidang , diiringi Beny Murdani di belakangnya karena hormatnya terhadap anak Sultan Bima , padahal selaku MENHANKAM/PANGAB , sepatunya di depan lalu diikuti yang lain . Tentang pengakuan Beny Murdani selaku turunan Raja Bima , silakan baca riwayat hidupoya.

  9. hilman
    Mei 3, 2008 pukul 8:45 pm

    salam…. kemajuan dana mbojo ma ndai neka’i mba ruma ta’ala, dou mbojo labo dou makasar oru zama ma ntoi wau ra kadeni angi, munga tampu’u wara sangaji mbojo (lihat…BO), menurut mada mba ndeni angi ntoina aka laimpa kada ndeni angi wali, dalam artian rahi-wei raja dana mbojo ntoina ede ndei karu’u karongga dei zama ake aka daga kai, sekolah kai, labo maka lai-lai, laina ka ncara ma wau wara, mba au de…, konsekuansi ra ne’e dou ra rasa labo dana, ndei ake loa mbo ndai aka mbuneku katoho dana mbojo mulai ihake. salam……………………………………………………………………..thenks.

  10. radhinal
    Mei 19, 2008 pukul 7:47 pm

    aduh….
    maaf kangampu
    selama ini saya selalu membaca sejarah bima pasti dimulai dengan raja pertama bima yang memeluk islam, bagaimana sejarah sebelum itu
    sebelum bima mengenal islam?

    tolong, saya berkali kali browsing dan baca buku tetep tdk ada

  11. alif
    Juli 9, 2008 pukul 10:23 am

    ALIF,SALAM KENAL YACH CEzZZZ”””!!!

    yup !!!!!!!!!!

    Saya senang dengan termuatnya artikel sejarah RAJA-RAJA BIMA di WEBBLOGNYA RHAKATEZA’S———- soalnya lebih Mengingatkan,membawa kita pada kenyataan dana ro rasa MBOZO ndai yang sebenarnya,,,,,, mengenai sejarah asal usul serta hubungan darah antara kerajaan satu dengan kerajaan di luar bima ……malu lho..!! klo nda tau sejarah daerahnya sendiri,,,?????? jangan sampe ada orang nanya ?? t’long ceritain dong, gimana sich sejarah kerajaan di dearahmu ??? mau ngomong apalagi klo sejarahnya nda TAU !!!!!???????? MALU KAN……..(katanya daerah yang berkerajaan) ADUH,,,,, MAU DI SIMPAN DIMANA MUKA KU??

    lagian anak2 daerah mbozo sekarang banyak yang ndak tau mengenai sejarah raja-rajanya dulu kan,,,jangan kan pemahaman tantang kerajaan dulu,kerajaan sekarang aja mungkin pemahamanya masih ngambang nda jelas??????KARENA remaja-remaja BIMA sekarang lebih cenderung TAU ke sifat KEMODERNISASIAN sehingga budaya TRADISIONALNYA cenderung di abaikan,,,Bukan berarti saya melarang untuk berkembang !!!! justru,,mengetahui perkembangan itu sangatlah penting””””””””””” tapi alangkah bagusnya lagi kita padukan dan imbangi dengan kehidupan zaman sekarang. OK dech

    TQ ya……..UDAH KASI INFORMASI nya, klo bisa sosialisasikan lagi…. terutama untuk gerasi muda mbojo sendiri,,,

  12. Juli 20, 2008 pukul 12:33 am

    mohon editor mengulas mengupas keadaan bima di jaman pra sejarah, trima kasih

    yup, masalahnya saya bukan ahli sejarah. Adapun tulisan saya selama ini rata-rata saduran atau kupipes dari situs dan media lain.
    Salah satu ketertinggalan dou mbojo menurut saya, adalah belum ada dan berfungsinya sebuah media online yang bisa menghadirkan informasi selengkap-lengkapnya tentang Mbojo. Bahkan informasi tentang bima baik sebagai entitas sejarah maupun kultural kebanyakan saya sadur dari media yang menyajikan budaya Melayu

    saya sedang mencoba berkorespondensi dengan sang pemilik situs, agar artikel-artikelnya bisa juga ditampilkan disini.

  13. yusmi
    Agustus 3, 2008 pukul 10:52 am

    saya mau cari tulisan tentang peranan Sultan mehammad salahuddin dalam meningkatkan pendidikan islam di bima. asa yang tau ga kirim dong ke email gua. mengenai data sejarah bima lainnya ada juga di aku tapi kirimin aku tentang tulisan diatas

  14. yusmi
    Agustus 3, 2008 pukul 10:53 am

    saya mau cari tulisan tentang peranan Sultan mehammad salahuddin dalam meningkatkan pendidikan islam di bima. ada yang tau ga kirim dong ke email gua. mengenai data sejarah bima lainnya ada juga di aku tapi kirimin aku tentang tulisan diatas

  15. uday Dj Ibn Hasanuddin
    September 7, 2008 pukul 7:49 pm

    Sejarah akan mempercepat proses kembalinya persatuan yang sangat kuat didalam membangun Indonesia yang adil dan makmur. belajar dari sejarah dapat membuat kehidupan lebih bijak

  16. Ir Don yesriel Yohan Kusa Banunaek MT
    Januari 26, 2009 pukul 5:51 pm

    Saya ingin memperoleh data mengenai penyerangan TENTARA ISLAM GOWA TALLO KE TIMOR KHUSUSNYA BAGIAN SELATAN PULAU TIMOR YAKNI KE FATUMEAN PADA TAHUN 1641/42.
    HARIMAU MATI MENINGGALKAN BELANG MANUSIA MATI MENINGGALKAN NAMA. ORANG TUA MENJADI KEBANGGAAN ANAK CUCU.

    • Teta Lewisape
      Oktober 14, 2011 pukul 7:44 am

      Untuk Ir. Don Yesriel Yohan Kusa , rupanya anda adalah salah seorang turunan dari pasukan ekspedisi Gowa Tallo yang melakukan penaklukan Timor. Catatan tentang perjalanan ekspedisi Gowa Tallo tersebut dapat dibaca dalam Dagboeek Gowa-Tallo .
      Sekedar tambahan pengetahuan , diinformasikan di sini . Pasukan ekspedisi Gowa Tallo tersebut dipimpin oleh Mazhaffar , lengkap dengan gelarnya : TU MAMMALIYANG RI TIMORO MUZHAFFAR yang dapat diartikan kira-kira : ORANG YANG MENAKUKKAN TIMOR . Tokoh ini adalah putera dari raja Tallo / raja bicara ( Pabbicara ) Gowa : KARAENG MATOAYA dan sekaligus juga menantu dari raja Gowa MANGA’RANGI DAENG MANRABBIA SULTAN ALAUDDIN . Perjalanan penaklukan Timor oleh pasukan ekspedisi Gowa Tallo tersebut berlangsung selama kira-kira 5 bulan yaitu di mulai 15 Januari 1641 dan baru kembali pada 7 Mei 1641 . Dan beberapa hari sesampai di Tallo , tokoh penaklukkan Timor ini TU MAMMALIYANG RI TIMORO MUZHAFFAR , wafat yaitu pada 18 Mei 1641 . Penaklukan Timor oleh pasukan ekspedisi ini meninggalkan bekas yang dalam di Timor , baik nama tempat ataupun kultur termasuk di TIMOR TIMUR ( sekarang negara TIMOR LESTE ) . Sesuai dengan kebijakan Kesultanan Gowa yang mengikat hubungan Gowa dengan daerah souverinitasnya , maka bukan mustahil dari pasukan Gowa Tallo itu ada yang kawin dengan gadis-gadis setempat . Perkawinan ini memberikan turunan yang kini banyak bermukim di wilayah-wilayah pesisir Timor , ternasuk wilayah selatan Timor , daerah anda . Secara anthropologis, masyarakat di wilayah Timor banyak berkiblat ke Gowa dan Tallo .

  17. tiara
    April 28, 2009 pukul 12:31 pm

    kopa mbojo tu paan sich…..? dengar2 pencinta alam gitu yach……? bleh knlan ma anggtax? klo bleh langsung za kontak ke numb 085339529534,mutiara

  18. Hanafi
    Agustus 3, 2009 pukul 10:39 pm

    Mari kita bangun bima bersama,.. Mari kita saling tukar pikir.. By. Elsila. Almt blog. http://blogmbojobanget.blogspot.com

  19. Alan Malingi
    September 10, 2009 pukul 8:31 am

    Sy mohon ijin untuk mengkpi tulisan ini untuk dimuat di majalah Pemkab. Bima (Bima Akbar ) dengan tetap memuat sumber-sumber sebagaimana yang ada dalam blog ini.

    • September 10, 2009 pukul 8:56 pm

      @Bung Alan: Terima kasih atas pemberitahuannya…

      Artikel ini saya sadur dari alamat seperti yang tertulis pada akhir tulisan. Mengenai nama penulis yang tertulis Anonim, setelah saya cross chek ke web Bimacenter, penulis sebenarnya adalah Sdr. Rangga dari Komunitas Baca Babuju.

      jadi pengutipan bisa dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa koreksi seperti yang saya paparkan diatas.

      Terimakasih

  20. Ardi
    November 21, 2009 pukul 12:56 am

    Ceritanya bagus…saya mau tanya tentang indra jamrut raja bima yang pertama itu bagai mana kisahnya dan ayahnya sang BIMA itu berasal dari mana?

  21. Tajul As Dg. Mattola
    Desember 13, 2009 pukul 5:30 am

    Maaf, mgkn aku cuma mo nambahkan. Bahwa Catatan terakhir yang kalian temuakan memang benar adanya. Aku punya catatan asli dari I Bunta Dg. Majarre Kr. Mandalle. Bahwa putrinya yang bernama I Hapasa Kr. Salajo telah dilamar oleh sultan Ibrahim (XI). Yang akhirnya menikah dan mempunyai putri(kalau saya tidak salah)bernama “Bau Dima”. Nama “Bau Dima” aku peroleh dari keterangan ibuku dan keluarga dekat ibuku.

  22. Tajul As Dg. Mattola
    Desember 13, 2009 pukul 5:45 am

    Sekedar tambahan, I Bunta Dg. Majarre Karaengta Mandalle bersaudara kandung dengan Raja Gowa 34 Sultan Husain I Makkulau Dg. Serang karaengta Lembang Parang dan Raja gowa 35 I Mangimangi Dg. Matutu Karaengta Bontonompo.

  23. Hamon_Jazz
    Desember 22, 2009 pukul 10:38 pm

    Alhamdullillah, artikel ini menambah referensi saya tntang sejarah mbozo.

    Tpi dalam benak saya, saya ingin tahu juga masalah kerajaan Kalepe di rasa parado,,,,, yaitu kerajaan pada saat jaman naka.tolong beri referensi???? thanks

  24. ANDI MAPPABANGKA MANGGABARANI
    Februari 8, 2011 pukul 10:48 am

    SULTAN IBRAHIM (RJ,BM XI ) KAWIN DGN I HAPASA KARAENTA SALAJO (PUTRI I BUNTA’DAENG MAJARRE KARAENTA MANDALLE) MALAHIR ANDI AMINAH BAU DIMA ( TDK PUNYA KETURUNAN / TDK BERSUAMI )

  25. Teta Lewisape
    Agustus 7, 2011 pukul 12:33 pm

    Puteri Sultan Ibrahim dengan I Hapasa Karaenta Salajo , yang bernama Andi Aminah Bau Dima , di Istana Kesultanan Bima ( – yang disebut ASI BOU -) dan di lingkungan bangsawan ( Ruma ra Rato ) di sapa dengan RUMA GOWA. Tinggal bersama keponakan beliau dari Gowa bernama Daeng Kontu ( – sebenarnya Daeng Sikontu – ) , yang kemudian kawin dengan putera Ruma Uwi bernama Ruma Ludi. Daeng Kontu kemudian wafat karena sakit kanker di leher .Ruma Gowa , memang tidak punya turunan.
    Kata ” DIMA ” adalah bentuk dari kata ” BIMA ” menurut istilah Gowa dan Sumbawa . Di Sumbawa Besar ada perkampungan bernama KARANG DIMA . Konon adalah wilayah yang ditempati orang-orang dari Bima .Terpisah jauh dari ibukota Kesultanan Sumbawa. Tetapi sekarang sudah menyatu dengan kota Sumbawa Besar. Sedangkan kata ” BAU ” adalah bentuk dari kosa kata bahasa Bima : DOU . Dengan demikian ” BAU DIMA ” sama artinya : DOU BIMA – pasangan kata yang tidak selaras : DOU MBOJO atau ORANG BIMA

    • Agustus 11, 2011 pukul 7:53 pm

      Terimakasih atas masukan dan informasinya Teta….
      .

  26. Agustus 25, 2011 pukul 8:05 pm

    Sultan Abdul Hamid mempunyai dua orang isteri. Permaisuri pertama bernama Datu Sagiri, puteri raja Sumbawa Datu Ungkap Sermin,dan melahirkan Sultan Ismail. Setelah Datu Sagiri meninggal, Sultan Abdul Hamid kawin Shafiatuddin yang menjadi Sultanat Sumbawa menggantikan ayahnya Sultan Harunurrasyid Pada masa ini , terjadi konflik dengan Dewan Adat Kesultanan Sumbawa karena dirasakan Kesultanan Sumbawa diatur oleh Sultan Bima. Dan sultanat Shafiatuddin diturunkan dari tahta kemudian ke BIma sebagai permaisuri Sultan Abdul Hamid . Atas perlakuan tersebut, Sultan Abdul Hamid membawa sejumlah perlengkapan kerajaan Sumbawa karena Kesultanan Sumbawa berhutang pada Kesultanan Bima. Konflik ditengahi Kompeni Belanda dan Sultan Abdul Hamid mengembalikan pusaka kerajaan Sumbawa . Sultan Abdul Hamid tidak memperoleh anak dengan Shafiatuddin . Kuburannya di Dana Taraha , sedangkan permaisuri pertama Datu Sagiri dikuburkan di halaman barat Masjid Kesultanan Bima kampung Sigi Bima

  27. Agustus 28, 2011 pukul 4:43 am

    Terimakasih atas infonya bang ariflewisape…
    mungkin ide yang bagus membuatkan peta silsilah keturunan agar lebih bisa dipelajari.

  28. Teta Lewisape
    Oktober 3, 2011 pukul 6:56 am

    Sebuah kekeliruan jika mengatakan 5 Juli 1645 sebagai pelantikan pertama kali Sultan Abdul Kahir sebagai Sultan Bima , yang kemudian dijadikan dasar penetapan sebagai Hari Lahirnya Kabupaten Bima dalam pengertian sebagai awal mula berdirinya Kesultanan Bima . Tanggal tersebut adalah tanggal kembalinya Sultan Abdul Kahir menduduki tahta kesultanan Bima setelah dikuasai oleh Bumi Luma Rasana-e ( – saudara misan tiri Sultan Abdul Kahir – ). Perebutan kembali tahta kerajaan Bima oleh Sultan Abdul Kahir , berkat bantuan pasukan ekspedisi Gowa-Tallo . Tetapi tanggal 5 Juli 1645 juga merupakan konversi yang keliru dari penanggala hijriah Selama pemerintahannya Sultan Abdul Kahir mengalami tiga kali pemberontakan . Pemberontakan Bumi Luma Rasana-e adalah yang ketiga . Pemberontakan yang pertama dan kedua oleh Ruma Mantau Asi Peka ( Ruma Salisi ) dan Bumi Jara Sannga . Sultan Abdul Kahir dilantik sebagai Sultan Bima pertama kali sekitar tahun 1616 ( – menurut suatu pendapat – ) sesudah Islam-nya Kesultanan Luwu, Tallo , Gowa dan Bone. Tapi kajian atas NASKAH BO dengan 8 ( delapan versi ) teks dan juga berdasarkan DAGBOEK GOWA-TALLO , dan Register Kompeni Belanda yang merujuk pada catatan Spellman , Sultan Abdul Kahir dilantik pada tanggal 27 April tahun 1626 . Tapi diperlukan kajian yang lebih cermat tentang tanggal ini termasuk kecermatan konversi Hijriyah – Masehi . Untuk diketahui Islam-nya Sultan Abdul Kahir bukanlah awal masuk Islamnya Dou Mbojo. Masyarakat pesisir Bima pada waktu itu – walaupun minoritas – sudah memeluk agama Islam . Hanya lingkungan Istana Kerajaan Bima baru menerima Islam sejak Islam-nya Sultan Abdul Kahir ( LA KA-I ). Sebenarnya sebelum kerajaan Bima menerima Islam , Kerajaan KORE – berdasarkan historiografi Ternate-Tidore – pada tahun 1598 telah menjadi kerajaan Islam , yang mewakili KEKHILAFAHAN ISLAM NUSANTARA DIBAWAH PIMPINAN KESULTANAN TERNATE untuk wilayah selatan ( Sunda Kecil ) dengan nama SANGAJI KORE . Kata ” SANGAJI ” bukan singkatan dari ” SANGA BA JI ” melainkan paduan dari kata ” SANG AJI ” yang merupakan istilah simbolisasi ” kemandragunaan ” seseorang yang memegang tampuk pemerintahan . Gelar ini berlaku juga di Ternate/Maluku .

  29. Teta Lewisape
    Oktober 10, 2011 pukul 7:52 am

    Sultan Abdul Kadim mempunyai beberapa orang isteri . Isteri tertua – tetapi tidak dijadikan permaisuri – bernama HASIA anak Abdurrahim Rato Kadi yang menjadi ibu kandung Jeneli Bolo LA MANGGA DAENG PABETA , tokoh istana yang mencoba merebut tahta kerajaan dari Sultan Abdul Hamid , saudara tirinya . Tetapi Hasia anak Abdurrahim Rato Kadi bukan ibu kandung Sultan Abdul Hamid . Isteri lain dari Sultan Abdul Kadim bernama HAJIJA Nungga ( – mungkin nama sebenarnya : HADIJAH -) , seorang wanita berasal dari Nungga , sebuah desa pinggir timur laut kota Bima , dan melahirkan anak antara seorang anak perempuan bernama MINDARATU . Memang nama permaisuri Sultan Abdul Kadim tidak disebut dalam sumber tertulis Istana Bima , yang justru melahirkan anak kemudian menjadi Sultan Bima yaitu SULTAN ABDUL HAMID. Saudara kandung lainnya dari Sultan Abdul Hamid adalah RUMA JENATEKE ( – yang menurut Rouffaer bernama DAENG MATARA – ) dan DAENG MATAYANG . Jadi sebenarnya bukan yang menjadi putera Mahkota adalah RUMA JENATEKE ( – DAENG MATARA – ) tapi figur ini meninggal muda . Lalu diangkatlah Sultan Abdul Hamid sebagai JENA TEKE .
    Terjadinya usaha perebutan tahta Kesultanan Bima oleh LA MANGGA DAENG PABETA karena merasa berhak atas tahta Kesultanan Bima. Alasannya bisa jadi sangat rasional . Pertama , dia adalah putera tertua Sultan Abdul Kadim . Kedua, status kebangsawanan ibunya ( HASIA ANAK ABDURRAHMA RATO KADI ) sama dengan status kebangsawanan ibu kandung Sultan Abdul Hamid , yang dijadikan permaisuri . Ketiga memiliki kekerabatan yang dekat dengan Kesultanan Gowa . Tetapi sayangnya , Dewan Adat Kesultanan Bima menetapkan Sultan Abdul Hamid sebagai Jena Teke . Akhirnya LA MANGGA DAENG PABETA dibunuh di Manggarai ( – mencari perlindungan pada keluarga Gowa di Manggarai – ) oleh pasukan ” DENSUS “-nya Kesultanan Bima di bawah pimpinan RUMA MANGGEMACI , tokoh yang kemudian menjadi RUMA BICARA KESULTANAN BIMA .
    Kisah perebutan kekuasaan ini dilestarikan dalam cerita ” LA HAMI ” karya MARAH RUSLI , yang juga pengarang roman ” SITI NURBAYA ” yang terkenal . Marah Rusli adalah seorang dokter Hewan yang bertugas di Bima pada tahun 1920-an . Kata ” MARAH ” merupakan gelar bangsawan di Sumatera Barat/Sumatera Timur , sama seperti ” SUTAN ” dan ” SIDI “. Marah Rusli mendapatkan sumber cerita untuk roman ” LA HAMI ” dari LALU AHMAD yang bergelar RUMA NGGAMBI , bermukim di Dompu mengikuti saudara perempuannya bernama HADIJAH yang dipersunting putera Sultan Dompu. Lalu Ahmad alias Ruma Nggambi adalah cucu dari RUMA BICARA MA KALOSA WEKI , AHMAD DAENG MANASA .
    sayangnya cerita ” LA HAMI ” tidak benar-benar historis melainkan sudah diramu dalam untaian cerita untuk konsumsi sastra .

    • Oktober 18, 2011 pukul 5:41 am

      Terimakasih atas penjelasannya Teta… Saya salut pada informasi dan catatan sejarah yang Teta punya…
      kalau berkenan saya mengundang TetaLewisape untuk bisa berbagi informasi sejarah yang lebih banyak dalam blog ini. kalau Teta setuju, mohon mengirimkan pesan ke rhakateza[at]yahoo.com
      harapan saya semoga harta budaya dalam bentuk sejarah masa lalu dana Mbojo bisa dinikmati oleh lebih banyak orang.

      Terimakasih

  30. Teta Lewisape
    Desember 28, 2011 pukul 3:08 pm

    D I N A S T I K E S U L T A N A N B I M A
    DIBANGUN OLEH KEKERABATAN
    BIMA -GOWA -SUMBAWA

    Dinasti Kesultanan Bima ternyata dibangun oleh kekerabatan antara Kesultanan Bima – Kesultanan Gowa dan Kesultanan Sumbawa, melalui hubungan perkawinan yang bersambung . Tetapi sebenarnya hubungan Bima dengan Gowa tidak dibangun pada masa Kesultanan saja melainkan telah ada jauh sebelumnya. Hubungan perkawinan yang menyebabkan masuknya unsur Gowa dalam dinasti Kesultanan Bima dimulai sejak Sultan Abdul Kahir menikahi Daeng Sikontu ipar raja Gowa Sultan Alauddin ) , puteri Daeng Melu , Karaeng yang berasal dari Kasuarrang , sebelah selatan Sandrabone . Kemudian dilanjutkan dengan Sultan Abil Khair Sirajuddin – putera Sultan Abdul Kahir – yang menikahi I Pattimang Daeng Nissaking Karaeng Bontoje’ne , adik raja Gowa Sultan Hasanuddin ). Lalu diteruskan Sultan Nuruddin yang menikahi Daeng Tamemang anak ( adik ? ) perempuan Karaeng Langkese , seorang bangsawan kerajaan Gowa . Lalu Sultan Jamaluddin menikahi Siti Fatimah Karaeng Tanatana , puteri Karaeng Bisei ( lengkapnya : Karaeng Bisei –tu – Mateyari Jakattara ) juga bangsawan kerajaan Gowa, yang menurut Dagboek Raja Goa-Tallo, berlangsung pada tanggal koversi : 5 April 1727.
    Selanjutnya unsur Sumbawa mulai masuk dalam dinasti Kesultanan Bima ketika raja Bima Sultan Hasanuddin kawin dengan Datu Tengah , puteri Sultan Sumbawa Datu Loka dan melahirkan Sultan Alauddin . Tetapi sebenarnya dalam darah “ Datu Tengah “ inipun bercampur darah Bima-Gowa-Tallo-Sumbawa . Datu Tengah anak raja Sumbawa Datu Loka ( Mas Bantam ) tidak lain adalah buyut raja Bima Sultan Abil Khair Sirajuddin dan juga buyut raja Gowa Sultan Hasanuddin dan cucu Raja Tallo Taminar Lampana . Rangkaian silsilahnya demikian . Raja Bima Sultan Abil Khair Sirajuddin kawin dengan Karaeng Bontoje’ne , puteri Sultan Gowa dan melahirkan sejumlah anak antara lain Nuruddin yang kemudian menjadi Sultan Bima menggantikan Sultan Abil Khair Sirajuddin , Daeng Mami Ruma Paduka Dompu , permaisuri raja Dompu Sultan Abdur Rasul I dan seorang puteri bernama Karaeng Bonto Mate’ne . Setelah dewasa Karaeng Bonto Mate’ne kawin dengan Raja Tallo Tuminar Ri Lampana dan melahirkan seorang puteri bernama Siti Halimah Karaeng Tanasanga . Dan setelah dewasa , Siti Halimah Karaeng Tanasanga kawin dengan Raja Sumbawa Mas Bantam Datu Loka , dan melahirkan seorang puteri yang disapa dengan Datuk Tengah . Jelas sekali , Datuk Tengah adalah buyut ( bhs.Bima : “ Waro “ ) dari raja Bima Sultan Abil Khair Sirajuddin .
    Sejak perkawinan raja Bima Sultan Hasanuddin dengan Datu Tengah , unsur Sumbawa mulai masuk dinasti Kesultanan Bima . Tetapi sebenarnya Sultan Hasanuddin juga mengawini puteri dari kerajaan Gowa Karaeng Bissampole , anak perempuan Ibrahim Daeng Sisila Karaeng Mandalle , tetapi rupanya perkawinan ini tidak memberikan turunan .
    Keberadaan unsur Gowa dalam dinasti Kesultanan Bima masih dilanjutkan dengan pernikahan: Sultan Alauddin dengan Karaeng Tanasanga Mamuncaragi Mahbubah ( puteri Raja Gowa Sultan Sirajuddin dengan Karaeng Ballasari ) . Sedangkan mengenai permaisuri Sultan Abdul Kadim ( anak Sultan Alauddin ), tidak ada informasi naskah BO mengenai asal usulnya , apakah asal Bima atau Gowa atau Sumbawa . Tercatat dalam Naskah BO dan sumber Istana Bima bahwa Sultan Abdul Kadim memiliki isteri yang bukan permaisuri yaitu Hasia anak Abdurrahim Rato Kadi yang menjadi ibu kandung Jeneli Bolo La Mangga Daeng Pabeta , tokoh istana yang mencoba merebut tahta kerajaan dari Sultan Abdul Hamid . Tetapi Hasia anak Abdurrahim Rato Kadi bukan ibu kandung dari Sultan Abdul Hamid . Isteri lain dari Sultan Abdul Kadim bernama Hajija Nungga , seorang wanita yang berasal dari Nungga , sebuah desa pinggir timur laut kota Bima .
    Unsur Sumbawa mulai semakin mendominasi dalam struktur keluarga dinasti Kesultanan Bima ketika Sultan Abdul Hamid mengawini Datu Sugiri , puteri Sultan Sumbawa Datu Ungkap Sermin dan melahirkan anak : Sultan Ismail . Beberapa lama kemudian , sesudah mangkatnya Datu Sugiri , Sultan Abdul Hamid memperisteri Sultanah Sumbawa : Syafiatuddin , puteri raja Sumbawa : Sultan Harun Ar Rasyid , tapi kemudian wafat setelah diturunkan dari tahta Kesultanan oleh Dewan Adat Sumbawa karena adanya upaya dominasi Sultan Bima atas kesultanan Sumbawa akibat pernikahan tersebut ) . Sultanah Sumbawa : Syafiatuddin , permaisuri Sultan Abdul Hamid , meninggal di Bima . Tidak ada informasi sumber kuno Bima , apakah Sultanah Sumbawa : Syafiatuddin memberikan turunan kepada raja Bima Sultan Abdul Hamid . Dan sejak itu unsur Gowa tidak lagi masuk ke dalam dinasti Kesultanan Bima melalui perkawinan secara langsung , walaupun Sultan Ibrahim memperisteri keluarga Istana Gowa.
    Sekalipun unsur Sumbawa dan Gowa dalam dinasti kesultanan Bima tidak lagi melalui jalur rumpun “ Ma Nggampo Donggo “ ( rumpun Sultan Bima ) , namun ikatan itu tetap ada dan berkembang melalui rumpun ” Bilmana ” ( rumpun Raja Bicara ) . Raja Tallo yang pertama Islam yaitu I Mallingkaan Daeng Mannyonri atau nama Islamnya : Sultan Abdullah Awalul Islam dan terkenal dengan nama Karaeng Matoaya , kawin dengan puteri raja Gowa yang memberikan anak bernama I Mangnginyurang Daeng Makkio dengan nama Islam Sultan Mazaffar Karaeng Kanjilo dan dikenal dengan nama posthumous : Tumammaliangan Ri Timoro. Tokoh ini kemudian kawin dengan anak perempuan Sultan Hasanuddin bernama I Sekbe Daeng Matagang Karaeng Lampangan dan membuahkan seorang anak laki-laki bernama : I Mampio Daeng Mannyauruk dengan nama Islamnya: Sultan Harun Arrasyid sebagai Raja Tallo . Salah seorang anak perempuan ( atau mungkin cucu ) Raja Tallo Sultan Harun Arrasyid ini kemudian kawin dengan bangsawan Bima sekaligus pejabat kerajaan Bima bernama Tureli Sakuru Muhammad Hidir ( anak Raja Bicara Bima : Abdullah Ruma Bicara Mantau Dana Timu ) dan melahirkan seorang anak laki -laki yang diberi nama Anwar Abdul Nabi yang kemudian juga menjadi Raja Bicara Bima . Dengan demikian melalui kelompok Raja Bicara ini unsur Gowa semakin diperkuat dalam dinasti Kesultanan Bima . Selanjutnya Raja Bicara Anwar Abdul Nabi kawin dengan Datu Ijo anak Datuk Nga bangsawan Sumbawa . Sejak itu turunan di rumpun “ Bilmana “ ( rumpun Raja Bicara ) mulai ada yang bergelar “ LALU “. Perkawinan ini memberi sejumlah anak antara lain Muhammad Yakub Ruma Ma Kapenta Wadu yang nantinya menjadi Raja Bicara Kesultanan Bima . Anak perempuan Muhammad Yakub Ruma Ma Kapenta Wadu yang bernama Siti Hadijah Bumi Partiga menikah dengan raja Bima Sultan Ismail . Perkawinan ini kembali memadu unsur Gowa – Sumbawa dalam dinasti Kesultanan Bima sekalipun Sultan Ismail tidak menikah dengan puteri Gowa atau puteri Sumbawa . Jadi unsur Gowa dan Sumbawa dalam dinasti Kesultanan Bima diperkuat melalui rumpun Raja Bicara . Dan dominasi unsur Sumbawa semakin kuat karena ternyata berikutnya justru Sultan-Sultan Bima memperisteri puteri-puteri turunan dari Syahbandar Lalu Abdullah saudara laki-laki Datu Sugiri ( permaisuri raja Bima Sultan Abdul Hamid ) anak Sultan Sumbawa Datuk Ungkap Sermin ). Anak Syahbandar Lalu Abdullah bernama Lala Dendo kawin dengan Raja Bicara Muhammad Yakub Ruma Makepenta Wadu , anak Raja Bicara Anwar Abdul Nabi . Dan cucu Syahbandar Lalu Abdullah atau anak Tureli Belo Lalu Cela bernama Siti Saleha Bumi Partiga kawin dengan Sultan Abdullah ( anak Sultan Ismail ) dan melahirkan anak Sultan Abdul Aziz dan Sultan Ibrahim . Kemudian Sultan Ibrahim kawin dengan cucu Tureli Sakuru Lalu Cela bernama Siti Fatimah ( isteri pertama ) dan Siti Aminah ( isteri kedua setelah Siti Fatimah wafat ) , dan memberi anak bernama Sultan Muhammad Salahuddin . Dan kemudian Sultan Muhammad Salahuddin mempersunting Siti Maryam , puteri Raja Bicara Muhammad Quraisy dan melahirkan sejumlah anak perempuan tanpa anak laki-laki ( – yang secara tradisi akan menjadi pewaris tahta Kesultanan Bima – ) antara lain Siti Kalisom , Siti Saleha dan lainnya . Ikatan kekerabatan dengan kerajaan Sumbawa semakin kuat ketika Siti Hadijah puteri Sultan Muhammad Salahuddin kawin dengan raja Sumbawa Sultan Muhammad Kaharuddin II dan melahirkan sejumlah anak antara lain Daeng Ewang dan Lala Nindo. Begitu pula dengan puteri-puteri Raja Bicara Muhammad Yakub Ruma Makepenta Wadu ada yang dipersunting oleh bangsawan Kesultanan Sumbawa. Bahkan ibunda dari Sultan Sumbawa Kaharuddin II yang mempersunting puteri Sultan Bima Muhammad Salahuddin, adalah cucu Raja Bicara Bima Muhammad Yakub Ruma Ma Kapenta Wadu melalui anak perempuannya : Lala Rante ) . Ikatan ini semakin memperkuat hubungan kekerabatan Kesultanan Bima dan Kesultanan Sumbawa . Demikian hubungan perkawinan serta hubungan kekerabatan yang terbentuk antara Kesultanan Bima – Kesultanan Gowa dan Kesultanan Sumbawa membentuk dinasti Kesultanan Bima .

    TOKOH RAJA SUMBAWA DAN RAJA GOWA – TURUNAN SULTAN BIMA

    Ada dua tokoh yang tidak masuk dalam dinasti Kesultanan Bima tetapi memiliki darah Bima yaitu Amas Samawa Raja Sumbawa dan Mas Madina Raja Gowa . Untuk melengkapi khazanah informasi yang berkaitan dengan sejarah Bima , pembicaraan mengenai kedua tokoh tersebut disajikan secara singkat berikut ini .

    A. AMAS SAMAWA

    Nama “ Amas Samawa “ adalah nama sapaan Raja Sumbawa Sultan Muhammad Jalaluddin Syah , putera Mas Bantam Datu Loka ( bergelar posthumous : Dewa Dalam Bawa ). Dalam beberapa tulisan sejarah masa sekarang , nama “ Amas Samawa “ dikaitkan sebagai bernama “ Mas Madina “ , padahal “ Mas Madina “ adalah nama tokoh raja Gowa .
    Amas Samawa memerintah pada tahun 1702 menggantikan ayahnya Mas Bantam Datu Loka . Dari silsilah yang disajikan , jelas sekali Raja Sumbawa “ Amas Samawa “ ( Sultan Muhammad Jalaluddin Syah ) adalah buyut Raja Bima Sultan Abil Khair Sirjuddin . Sebagaimana yang tertera dalam silsilah dinasti Kesultanan Bima , Mas Bantam Datu Loka memperisteri Siti Halimah Karaeng Tanasanga yang tidak lain adalah cucu Raja Bima Sultan Abil Khair Sirajuddin , yaitu hasil perkawinan Karaeng Bonto Mate’ne ( puteri Sultan Abil Khair Sirajuddin) dengan Raja Rallo Tumirang Ri Lampana ( menurut BO : Taminar Lampana ). Dari perkawinan Mas Bantam Datu Loka dengan Siti Halimah Karaeng Tanasanga ini, lahir empat orang anak yaitu : Balasawo ( Dewa Loka ling Sampar ), Amas Samawa ( Sultan Muhammad Jalaluddin Syah ) , Datu Tengah ( diperisteri Raja Bima Sultan Hasanuddin ) dan Datu Jareweh ( Dewa Maja Jereweh ). Amas Samawa , raja Sumbawa mempunyai ikatan dengan kerajaan Selaparang di pulau Lombok .
    Ketika kerajaan Selaparang diserang oleh kerajaan Singosari dan kerajaan Banjar Getas , maka Raja Sumbawa Amas Samawa ( Sultan Muhammad Jalaluddin Syah ) atas pengaruh menantunya Karaeng Bontolangkasa dan seorang Syekh , memutuskan untuk pergi membantu kerajaan Selaparang. Tapi keterlibatan Amas Samawa untuk membantu kerajaan Selaparang lebih didorong oleh adanya hubungan politik dan kemungkinan kekerabatan . Ekspedisi ke Selaparang dipimpin Amas Samawa ( Sultan Muhammad Jalaluddin Syah ) dengan panglima perangnya : Karaeng Bontolangkasa dan Datu Jareweh ( Dewa Maja Jereweh ) . Sebagai wali kerajaan Sumbawa , ditunjuk saudaranya ( adiknya ) : Balasawo ( Dewa Loka ling Sampar ). Kesultanan Bima pun juga mengirim bantuan pasukan menyertai pasukan ekspedisi Kesultanan Sumbawa dalam membantu kerajaan Selaparang . Pasukan kerajaan Bima dipimpin langsung putera Sultan Hasanuddin raja Bima bernama Abdullah . Dalam perang Salaparang ini , putera raja Bima : Abdullah , tewas dalam pertempuran , sehingga bergelar : Ruma Mambora Di Salaparang ( dalam teks lain BO : Ruma Mambora Di Ipa Bali karena masyarakat Bima lebih mengenal Bali daripada Lombok ). Beberapa informasi yang masih perlu ditelusuri kebenaran-nya menyebutkan kuburan Abdullah: Ruma Mambora Di Salaparang ada di Praya Lombok Tengah, sebelah timur Masjid lama Praya dekat pasar ). Mengenai tokoh bernama “Abdullah “ putera raja Bima Sultan Hasanuddin ini , H. Manggaukang Raba berdasarkan sumber Sumbawa mengungkapkan ) :

    Dengan wafatnya Sultan Muhammad Jalaluddin Syah I , ponakannya Datu Dollah di Bima , ingin membalas dendam atas kematian pamannya . Ia pun berangkat ke Selaparang . Ikut pula menyusul Datu Taliwang dan Datu Jerweh . Datu Dollah wafat di sana ( karena diikat dan dibuang ke laut oleh Dea Ran Kali Kuasa , pembantu Datu Taliwang )

    Nama “ Abdullah “ dalam tradisi panggilan Bima adalah “ Dolla “ ( vokalisasi dari : “ Dollah “ panggilan untuk “ Abdullah “ ) . Cerita kematian “ Datu Dolah “ mirip dengan cerita cara kematian Amas Samawa ( Sultan Muhammad Jalaluddin Syah I ). Sumber Sumbawa ini semakin mempertegas kekerabatan Kesultanan Bima – Kesultanan Sumbawa .
    Dalam pertempuran itu , pasukan kerajaan Selaparang dan pasukan kerajaan Sumbawa bahu membahu melawan pasukan kerajaan Singasari dan kerajaan Banjar Getas . Menurut salah satu versi , ketika perang sudah menunjukkan kemenangan pasukan gabungan kerajaan Selaparang dan kerajaan Sumbawa , tiba-tiba terjadi pengkhianatan di dalam lingkungan pasukan kerajaan Sumbawa . Rupanya Balasawo ( Dewa Loka ling Sampar ) ingin menguasai tahta kerajaan Sumbawa secara tetap . Untuk itu Balasawo ( Dewa Loka ling Sampar ) mengirim satu kelompok orang kepercayaannya ke Salaparang untuk membunuh Amasa Samawa ( Sultan Muhammad Jalaluddin Syah ). Menurut cerita , Amasa Samawa ( Sultan Muhammad Jalaluddin Syah ) adalah orang yang kebal dari segala macam senjata . Oleh karena itu untuk membunuh Amasa Samawa ( Sultan Muhammad Jalaluddin Syah ) , orang-orang kepercayaan Balasawo ( Dewa Loka ling Sampar ) tidak langsung menggunakan senjata melainkan menangkap Amasa Samawa ( Sultan Muhammad Jalaluddin Syah ) ketika sedang tidur lalu mengikat dan membuangnya ke laut . Amasa Samawa ( Sultan Muhammad Jalaluddin Syah ) terdampar ke pantai dalam keadaan sakarat dan ditemukan pasukannya. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Amasa Samawa ( Sultan Muhammad Jalaluddin Syah ) masih sempat mengeluarkan kutukan terhadap adiknya agar dimakan api . Akhirnya Amasa Samawa ( Sultan Muhammad Jalaluddin Syah ) menghembuskan nafas terakhir dan dikuburkan di Apitaik ( Lombok Timur ) sehingga dikenal oleh masyarakat setempat dengan nama Datu Apitaik dan Datu Semong . Kematian Amasa Samawa ( Sultan Muhammad Jalaluddin Syah ) bagaimana pun membuat moral pasukannya tidak bulat lagi dan semangat bertempur pun mengendur sekalipun tetap bertempur melawan musuh. Pimpinan pasukan Kesultanan Sumbawa diambil alih oleh adiknya Datu Jareweh ( Dewa Maja Jereweh ) ). Bantuan pasukan dari Bali untuk kerajaan Singosari yang Hindu dan kerajaan Banjar Getas , membuat pasukan kesultanan Sumbawa dan kerajaan Salaparang terdesak mundur . Datu Jareweh ( Dewa Maja Jereweh ) tewas dalam pertempuran sedangkan Karaeng Bontolangkasa menghilang, tidak diketahui kemana menyingkirnya. Sisa-sisa pasukan kerajaan Sumbawa yang selamat sebagian kembali ke Sumbawa dan sebagian kecil lagi menetap di Lombok Timur, menjadi cikal bakal penduduk di Rempung , Rumbuk , Kabar , Jantuk dan lain-lain . Dengan kematian Amasa Samawa ( Sultan Muhammad Jalaluddin Syah ) , maka sebagai penggantinya untuk menjadi Raja Sumbawa adalah Balasawo ( Dewa Loka ling Sampar ) yang memang menginginkannya . Tetapi tidak lama kemudian , Istana Kesultanan Sumbawa terbakar dan Balasawo ( Dewa Loka ling Sampar ) meninggal terbakar , dan dikuburkan di pemakaman di perkuburan Sampar sehingga bergelar posthumous : Dewa Loka ling Sampar . Versi cerita yang berbeda mengenai hal ini diungkapkan H. Manggaukan Raba dalam tulisannya “ Fakta-Fakta Tentang Samawa “ . H. Manggaukang Raba tidak menyebutkan Amas Samawa terbunuh dengan cara diikat lalu dibuang ke laut . Melainkan yang mengalami kematian demikian adalah keponakan Amas Samawa yang tinggal di Bima bernama “ Datu Dollah “ ( menurut sejarah Bima : Abdullah Mambora Di Salaparang , putera raja Bima Sultan Hasanuddin ) yang dilakukan Dea Ran Kali Kuasa, pembantu Datu Taliwang yang hendak menguasai tahta Kesultanan Sumbawa . Jadi , upaya perebutan tahta kerajaan Sumbawa bukan oleh Datu Balasawo melainkan oleh Datu Taliwang . Dengan demikian , penggantian Amas Samawa oleh adiknya Datu Balasawo adalah proses yang wajar . Tidak seperti yang diceritakan dalam versi pertama . Dan ketika Datu Balasawo mangkat, naiklah Datu Taliwang menjadi Sultan Sumbawa pada tahun 1726 . Pada hari Rabu 26 Ramadhan 1145 , Istana Kesultanan Sumbawa ( disebut : Istana Bala Balong ) terbakar dan Datu Taliwang ikut terbakar ) . Ini versi lain tentang perebutan tahta kesultanan Sumbawa dari Amas Samawa .
    Keterlibatan kerajaan Sumbawa membantu kerajaan Selaparang menghadapi kerajaan Singasari dan kerajaan Banjar Getas didasarkan hubungan yang ada sebelumnya . Ketika kerajaan Gowa sudah memperluas kekuasaannya sampai ke kerajaan Lombok tahun 1640, terjadi ikatan yang erat antara Gowa dan Selaparang Kerajaan Gowa menempatkan Pemban Mas Aji Komala , ipar Raja Selaparang Dewa Mas Pakel sebagai Raja Muda yang mewakili Gowa di Sumbawa bagian barat . Dan ketika kerajaan Gowa kalah perang menghadapi pasukan koalisi Kompeni Belanda – Bone – Buton – Ternate yang diakhiri dengan Perjanjian Bungaya tahun 1667 , dengan sendirinya semua kerajaan di wilayah selatan ( Selaparang , Sumbawa , Dompu , Bima , Tambora ) menjadi lepas dari perlindungan kerajaan Gowa . Khusus untuk kerajaan Selaparang keadaan ini sangat mengkhawatirkan karena diincar kerajaan Karang Asam , yang berusaha menguasai kerajaan di Lombok . Oleh karena itu Raja Selaparang Dewa Mas Pakel menyerahkan dan memindahkan pusat pemerintahan kerajaan Selaparang kepada iparnya Pemban Mas Aji Komala yang menjadi Raja Muda mewakili Gowa di Sumbawa bagian barat . Kedudukan inilah yang menyebabkan terbentuknya ikatan emosional antara kerajaan Sumbawa dengan kerajaan Selaparang , sehingga ketika kerajaan Selaparang diserang oleh kerajaan Singasari dan kerajaan Banjar Getas , dengan serta merta raja Sumbawa Amas Samawa – yang tidak lain adalah buyut raja Bima Sultan Abil Khair Sirajuddin , memberikan bantuan dan dibantu pasukan kerajaan Bima .

    B. MAS MADINA
    Mas Madina ( nama aslinya : Usman ) adalah Raja Gowa , anak raja Gowa Sultan Abdul Qudus ( lengkapnya : Mappababasa Abdul Quddus Tu Wammenang ri Kalabiranna ) dari permaisuri I Taju Karaeng Balasari ( anak perempuan dari raja Bima Sultan Alauddin atau adik Sultanat Kemalat Syah ) . Mas Madina – menurut Dagboek Raja Gowa-Tallo – dilantik sebagai raja Gowa pada tanggal konversi 21 Desember 1753 dalam usia 6 tahun dan bergelar Batara Gowa , yang kemudian berkembang menjadi mitos Batara Gowa , simbol perlawanan Gowa terhadap Belanda pasca Perjanjian Bungaya. Keinginannya membangun kembali kejayaan kerajaan Gowa dengan menjalin hubungan baik dengan Inggeris sebagai wujud penentangannya terhadap Kompeni Belanda telah membangkitkan kemarahan Kompeni Belanda . Akibatnya Batara Gowa Mas Madina dan ibunya ( I Taju Karaeng Balasari ) dibuang oleh Kompeni Belanda ke Sailon pada tahun 1767 . Dan nama Mas Madina berkembang menjadi sebuah mitos . Seorang tokoh bernama I Sangkilang dan mengaku diri sebagai Batara Gowa muncul dan mampu menarik perhatian serta dukungan masyarakat Gowa . Kemudian I Sangkilang yang mengaku diri sebagai Batara Gowa ini mengklaim diri sebagai Raja Gowa . Salah satu versi menyatakan bahwa tokoh “ I Sangkilang “ adalah Batara Gowa Mas Madina yang dibuang ke Sailon tetapi dapat melepaskan diri dari Sailon . Tetapi versi lainnya menyatakan , Batara Gowa Mas Madina tidak pernah meninggalkan Sailon dan berkubur di Sailon . Tahun 1776 terjadi perebutan tahta kerajaan Gowa antara Batara Gowa I Sangkilang dengan Sultan Zainuddin yang sedang memerintah kerajaan Gowa pada waktu itu . Batara Gowa I Sangkilang berhasil merebut tahta kerajaan Gowa . Dalam perang ini , Sultan Zainuddin dibantu Kompeni Belanda – Sindereng dan Soppeng , sedangkan Batara Gowa I Sangkilang dibantu oleh Bone . Menurut D.F. van Bram Morris , Gubernur Selebes dan Daerah Takluknya dalam Nota yang disampaikan kepada Pemerintah Hindia Belanda tanggal 20 Oktober 1886, kerajaan Bima ikut pula membantu Kompeni Belanda dalam perang melawan pemberontakan Batara Gowa I Sangkilang ini . Perang saudara yang terjadi cukup lama , dan pada suatu kesempatan Batara Gowa I Sangkilang tewas dalam pertempuran dan dikuburkan di Tassese Makassar . Dalam mitos yang berkembang Batara Gowa ini muncul berkali-kali dan wafatnya pun berkali-kali . Kuburannya di Tassese ini merupakan kuburan yang kelima . Kuburan yang pertama di Bontang , kuburan kedua di Bima , kuburan ketiga di Sailon , dan kuburan yang keempat di Karebosi . Kepercayaan semacam ini biasa muncul dalam mitos messianic ( mitos Imam Mahdi ) ).

    P E N U T U P

    Kesultanan Bima berakhir tahun 1952 dengan wafatnya Sultan Muhammad Salahuddin pada tahun 1951 . Sepanjang sejarah Kesultanan Bima menghadirkan tiga belas orang Sultan mulai dari awal abad 17 dan berakhir pada awal abad 20 dengan peran masing-masing dalam kesejarahan Bima dan Nasional. Tiga Sultan Bima , dapat disebutkan di sini memiliki peran dalam kesejarahan nasional yaitu , Sultan Abil Khair Sirajuddin , Sultan Nuruddin dan Sultan Bima yang terakhir : Muhammad Salahuddin . Peran Sultan Abil Khair Sirajuddin adalah sebagai salah seorang panglima perang Sultan Hasanuddin , raja Gowa dalam perang Gowa melawan Kompeni Belanda . Dalam perang ini Kompeni Belanda yang bersekutu dengan Bone , Buton , Ternate dan lainnya. Sedangkan Sultan Nuruddin melanjutkan perang melawan Kompeni Belanda pasca Perjanjian Bongaya . Salah satu perang yang dijalani Sultan Nuruddin adalah bersama-sama Syekh Yusuf dan Pangeran Arya Kusuma melakukan perlawanan terhadap Kompeni Belanda dalam pertempuran di desa Tongilis Jawa Barat . Kemudian Sultan Muhammad Salahuddin , berperan dalam sejarah kemerdekaan Indonesia di Bima dan politik di Sunda Kecil , dengan penolakan kehadiran pasukan NICA Belanda yang hendak kembali menguasai Indonesia dengan menumpang kehadiran pasukan sekutu , pasca kekalahan Jepang . Putera beliau , yang akrab disapa dengan ” Putera Kahir ” – Ruma Jenateke , Putera Mahkota Kesultanan Bima – bergerilya di hutan-hutan daerah Bima – menyusun dan memberi perlawanan terhadap pasukan NICA Belanda yang mau menjajah kembali daerah Bima. Sejarah para Sultan Bima ini bisa menjadi pelajaran bagi putera-putera daerah Bima dalam menatap ke depan untuk membangun daerah Bima dalam semangat kepahlawan yang tanpa pamrih dan tanpa omong kosong .
    Catatan penting untuk generasi muda , lihatlah sejarah dalam kearifan ke masa depan . Jangan
    terpukau oleh euforia sesaat yang akan menghilangkan dan menghancurkan identitas budaya . Kehilangan dan kerugian yang dialami daerah Bima semakin menjadi-jadi ketika harus bergabung dengan pulau Lombok membentuk provinsi Nusa Tenggara Barat . Affan Gaffar berkata bahwa penggabungan pulau Sumbawa dengan pulau Lombok menjadi satu provinsi , benar-benar merupakan kecelakaan sejarah bagi sejarah masyarakat pulau Sumbawa pada umumnya dan daerah Bima secara khusus . Dalam penataan geografis untuk pengaturan tapal batas dengan propinsi Nusa Tenggara Timur , daerah Bima harus kehilangan pulau Komodo yang sebenarnya menjadi wilayahnya , yang juga seharusnya bisa menjadi daerah NTB jika dilakukan pengaturan yang benar . Wakil Nusa Tenggara Barat pada waktu itu – Lalu Munir dari Lombok Timur ( ? ) – karena ketidak-tahuannya – dalam pertemuan yang membahas batas propinsi antara NTB dengan NTT justru melepaskan pulau Komodo itu kepada Propinsi Nusa Tenggara Timur. Kekeliruan ini hanya dibayar dengan ucapan “ permintaan maaf “ dari ” Sang Duta NTB ” yang bernama Lalu Munir kepada Siti Maryam R.Salahuddin SH , puteri Sultan Bima Muhammad Salahuddin . Sungguh sebuah “ bayaran “ yang tidak pernah bisa mengembalikan pulau Komodo kepada daerah Bima untuk selama-lamanya ). Demi “ Nusa Tenggara Barat “ , daerah Bima harus kehilangan pulau Komodo dan banyak hal lainnya. Pengorbanan yang cukup besar ” demi NTB ” Kisah ini harus dikenang sepanjang zaman oleh anak bangsa daerah Bima dan oleh siapapun di NTB . Sebuah kesalahan sejarah akibat kebodohan . Jangan dilupakan ! Dan karena hal itu merupakan kecelakaan sejarah bagi masyarakat pulau Sumbawa maka keberadaan PROVINSI PULAU SUMBAWA merupakan satu keharusan . Tidak ada untungnya bagi masyarakat pulau Sumbawa dengan bergabung dalam PROVINSI NTB . Bahkan yang ada adalah kerugian dalam berbagai aspek . Apalagi kultur masyarakat pulau Sumbawa dengan masyarakat pulau Lombok sangat berbeda bahkan bertentangan secara diametrical sekalipun menganut agama yang sama. Agama hanya sekedar slogan dan tidak pernah bisa menyatukan . Orientasi kultur masyarakat pulau Sumbawa adalah ke Sulawesi – Kalimantan – Sumatera , sedangkan orientasi kultur masyarakat Lombok adalah ke Bali dan Jawa .

    • Januari 6, 2012 pukul 3:09 am

      Terimakasih atas tulisan panjangnya Teta, kalau boleh saya minta ijin menerbitkan ulang dalam 1 atau dua terbitan (karena terlalu panjang). kalau boleh saya mohon menyebutkan identitasnya (nama asli) agar bisa saya sematkan di akhir tulisan nanti.
      Terimakasih

  31. Januari 6, 2012 pukul 8:58 am

    thanks infonya. menambah informasi tentang bima.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: