Arsip

Archive for the ‘Gunung’ Category

Perkaya Jiwa Dengan Traveling

Juni 14, 2013 3 komentar

Malam ini saya berkunjung ke Youtube. Untungnya, walaupun jam segini dia masih buka, ya sudah saya masuk saja :mrgreen: Beberapa video yang pernah saya posting, saya putar ulang. Termasuk diantaranya beberapa video perjalanan saya dan teman-teman mengunjungi beberapa pantai menarik di Bima.

Melihat kembali beberapa dokumentasi penjelajahan yang pernah saya lakukan membuat perasaan rindu untuk kembali bertualang. Menggelar perjalanan-perjalanan kecil menyusuri aneka ragam kondisi medan dan bertemu hal-hal baru, begitu menggoda untuk dilakukan lagi.

Hasrat ingin tahu dan bertemu dengan hal-hal baru salah satunya bisa dilakukan dengan ber-traveling. Kendati kita bisa saja menjelajahi setiap sudut dunia maya, melihat gambar atau membaca tulisan orang lain yang melakukan traveling, tentunya hal ini tak dapat menggantikan sensasi jika mengalami sendiri pengalaman bertualang itu.

Apalagi, melakukan perjalanan selain menambah pengalaman, juga sarat dengan nutrisi yang bisa memperkaya jiwa kita. Bagaimana tidak, berada di tempat yang jauh dari zona kenyamanan, bersatu dengan alam, sendiri di tempat yang belum terjamah membuat kita mengalami sensasi-sensasi yang sebelumnya mungkin tak pernah dirasakan.

Sengsara Membawa Nikmat

Jalan rusak menuju destinasi, terkadang merupakan destinasi itu sendiri

Jalan rusak menuju destinasi, terkadang merupakan destinasi itu sendiri

Ada kalanya kita mengalami kesulitan di perjalanan atau di tempat yang kita tuju. Kendaraan mogok, jalan rusak, tersasar, lupa bawa bekal, atau melewati tempat yang menyeramkan misalnya. Tantangan-tantangan ini biasa terjadi bagi orang yang bepergian, tentunya dengan persiapan yang matang tentunya hal ini bisa dihindari.

Minimal kita harus memperkaya informasi mengenai tempat yang hendak kita tuju maupun persiapan yang harus kita lengkapi sebelum kita memutuskan untuk memulai perjalanan. Dan biasanya, dengan melakukan perjalanan bersama banyak orang, kesulitan-kesulitan itu tak akan begitu payah dirasakan, bahkan bisa menjelma menjadi keasyikan tersendiri untuk diceritakan nantinya.

Team CLBK di lokasi survey

Semua beban akan sirna ketika tiba di tujuan

Menggelar acara berkemah di tempat terbuka, seperti pantai atau gunung juga memiliki nilai tersendiri. Dekat dengan alam semesta, tentunya akan semakin lebih mendekatkan diri dengan tuhan, begitu salah seorang temanku pernah berkata. Berada jauh dari hiruk pikuk dan keramaian kota, membuat kita merasa kecil di tengah semesta. Desiran angin dingin gunung dan nyanyian ombak menjadi pelipur lara yang efektif untuk para manusia yang hendak lepas dari kepenatan bekerja. Begitu pula dengan keindahan panorama alam serta keunikan tempat-tempat yang kita kunjungi, beratnya perjalanan akan terlupakan dengan sendirinya digantikan dengan ketakjuban yang menjadi hiburan.

Kenikmatan itu tentunya bisa didapatkan dengan mengunjungi sejumlah tempat yang direferensikan untuk dikunjungi. Namun sejumlah catatan traveling yang banyak beredar di jagat maya masih miskin menceritakan objek perjalanan di Bima. Para traveler lokal tentunya sudah mahfum dengan sejumlah destinasi andalan di liar daerah, namun pertanyaannya, sudahkah anda menelusuri daerah kita sendiri?

Tak Perlu Jauh-Jauh ke Luar Daerah

Memandang ke arah selatan, Kota Bima sedang bertumbuh

Memandang ke arah selatan, Kota Bima sedang bertumbuh

Traveling tak harus dilakukan dengan mengunjungi tempat-tempat yang jauh. Tak perlu keluar kota, di sekitar tempat tinggal kita tentunya masih banyak tempat-tempat yang belum pernah kita kunjungi. Atau kita bisa saja mendatangi tempat yang pernah kita kunjungi semasa kecil, sekaligus bernostalgia dengan kenangan-kenangan lampau. Aku pernah mengunjungi bukit kecil yang berdiri tepat depan rumah dan membuat catatan untuk itu.

Untuk Kota Bima sendiri, beberapa tempat yang saya rekomendasikan untuk dikunjungi diantaranya: Kompleks istana dan masjid kesultanan Bima, Pelabuhan Bima, Komplek pekuburan kesultanan (Dana taraha dan Tolo Bali), Museum Samparaja. Selain itu sentra kerajinan tenun tradisional di Kelurahan Rabadompu, Ntobo, dan Kendo juga layak masuk dalam destinasi yang harus anda kunjungi.

Lebih jauh lagi dari pusat kota, pecinta pantai dan laut bisa mengunjungi pesisir Ule-Kolo. Disana banyak spot menarik untuk mandi laut atau sekedar berfoto. Untuk yang memiliki perangkat selam seperti snorkel ataupun scuba diving, di ujung barat Kolo ada pantai yang bernama So Numbe yang masih kaya dengan panorama bawah air.

Bosan ke pantai?, masih dalam wilayah kota anda bisa bertualang bersama rekan mendaki puncak Pundu Nence. Beberapa jam pendakian dari Kelurahan Lelamase anda akan tiba di bukit yang memiliki pemandangan indah ke arah kota dan Kabupaten Bima. Dirikanlah tenda dan habiskan malam mengelilingi api unggun, saya yakin pengalamannya tak akan terlupakan.

Dekat di Luar Kota Bima

Snorkeling di Oi Fanda

Snorkeling di Oi Fanda

Ingin lebih jauh lagi? Kunjungi Oi Fanda dan dua pantai di dekatnya, kita hanya butuh tak lebih dari satu setengah jam untuk sampai kesana.  Lebih ke arah utara lagi, kita bisa saja melanjutkan ke pantai Sanosu atau bercengkerama dengan ular-ular laut yang jinak di Pulau Ular dan Pantai Oi Caba Kecamatan Wera. Untuk yang masih punya waktu dan tertantang dengan pengalaman lebih, bisa saja melanjutkan perjalanan pada jalur yang sama. Menuju Sape dengan terlebih dahulu singgah di Pantai Toro Wamba yang berpasir putih.

Masih di Sape, tak jauh dari pelabuhan terdapat sebuah pulau yang dihuni oleh penduduk Suku Bajo (Bajau) yang merupakan pendatang dari Sulawesi. Aku visualisasikan pantai disana merupakan perpaduan pantai di Belitung yang bercadas dan berbatu besar. Pasirnya pun putih dengan air yang jernih. Para pecinta fotografi saya yakin akan menemukan surganya disana. Panorama pantai, maupun keseharian anak-anak suku bajo yang bersaudara dengan laut, saya rasa terlalu berharga untuk dilewatkan oleh jepretan kamera.

Sedikit Lebih Jauh di Pelosok Bima

Perkampungan nelajan bako di bajo Pulau - Sape

Perkampungan nelajan bako di bajo Pulau – Sape

Sedikit lebih jauh ke timur Kecamatan Sape, di Kecamatan Lambu terdapat pantai Papa yang eksotis. Jalur jalan yang sudah teraspal bagus membuat anda tiba dalam setengah jam dari Sape. Ingin mencoba track yang lebih ekstrim? cobalah ke Baku. Daerah transmigrasi yang jarang disebut ini konon menyimpan keindahan panorama pantai yang unik. Ganggang-ganggang dan tumbuhan laut membuat karang di sepanjang pantai yang berjarak 2 jam dari Sape ini memukau mata. Hanya saja akses jalan yang masih berbatu membuat tempat ini sulit untuk didatangi dengan menggunakan kendaraan. Penulis sendiri belum pernah kesana, namun tak sabar untuk membuktikannya.

Ke arah selatan kota, berkendara selama satu atau dua jam bisa saja membawa anda ke sejumlah tempat menarik. Saya merekomendasikan anda mengunjungi perkampungan tradisional di Sambori yang bisa dicapai dengan menempuh jalur ke arah timur dari perempatan Talabiu. Jika anda beruntung, gambaran masyarakat tradisional bima yang agraris bisa ditemukan disana lengkap dengan ragam kesenian dan budaya daerah. Tempat ini berada di pegunungan yang sekarang relatif lebih mudah dijangkau dengan kondisi jalan yang bagus.

Tempat yang sejenis bisa ditemukan di pegunungan Donggo. Di pegunungan yang ada di seberang barat Kota Bima ini, selain desa adat kita bisa menggelar kegiatan napak tilas dengan mendatangi sejumlah objek wisata sejarah. Kunjungi juga peternakan kuda tradisional di Donggo Mpili, niscaya anda akan menemukan susu kuda liar yang dipercaya berkhasiat untuk kesehatan.

Sementara pada bagian pesisirnya, di Kecamatan Soromandi dapat kita temui prasasti sejarah Wadu Tunti yang merupakan tonggak catatan sejarah Daerah Bima. Deretan pantai yang eksotis juga bisa menjadi hiburan menarik jika anda memutuskan mengunjunginya. Adapula puing-puing benteng Asakota yang pernah berdiri tegak melindungi Kesultanan Bima dulu dari serangan bajak laut dan Belanda.

Sementara pada musim kemarau, akses jalan menuju puncak Pulau Kambing konon terbuka. Menurut teman-temanku yang pernah kesana, hamparan ilalang di pulau kecil itu begitu indah ketika berpadu dengan laut Teluk Bima. Kita bisa bebas memandangi teluk Bima dari segala penjuru di puncak Doro Nisa (pulau Kambing). “Pulau kecil yang dapat ditempuh dalam waktu 15 menit dari pelabuhan bima itu harus dicoba sendiri,” ujarnya.

Masih kategori berjarak tak terlalu jauh dari Kota, jangan lewatkan mengunjungi deretan pantai selatan. Pantai Wane, Rontu, Woro, Pusu, dan Tamandaka merupakan beberapa nama yang kerap disebut oleh pecinta traveling lokal. Sayangnya dari nama-nama itu, baru pantai Rontu yang pernah saya datangi. Pantai ini berombak besar dengan hamparan pasir putih khas pantai-pantai laut selatan Indonesia. Jikalau ingin mencari padanannya dengan pantai terkenal lainnya, karakteristiknya mirip pantai Kuta di Bali atau pantai Lakey di Dompu yang menjadi primadona para bule peselancar. Insya Allah pantai-pantai selatan lainnya yang berlokasi di tiga kecamatan berbeda ini satu persatu akan saya datangi.

Lebih Jauh Lagi….

Jika dua kategori diatas saya urut berdasarkan jarak, maka pada bagian terakhir ini saya ingin menyajikan menu-menu perjalanan yang terbilang cukup jauh dari kota Bima. Di Kabupaten Bima, Kecamatan yang paling jauh adalah Kecamatan Sanggar dan Tambora. Sesi ini secara khusus mengangkat sejumlah destinasi di dua kecamatan itu yang sayang untuk dilewatkan.

Dalam suatu kesempatan saya pernah mengunjungi dua Kecamatan itu sekaligus. Untuk mencapai Sanggar kita membutuhkan waktu tiga hingga empat jam berkendara. Di Kecamatan yang pernah memiliki kerajaan sendiri ini, terdapat kompleks pemakaman kerajaan yang terletak di pusat kota Kore. Ada pula pelabuhan kecil yang menjadi salah satu urat nadi perekonomian masyarakat setempat, aktivitas nelayan yang mungkin harus anda saksikan. Ada juga Oi Tampiro, pemandian alami air tawar yang berlokasi di pesisir Piong.

sekali-kali TS nampang narsis

sekali-kali TS nampang narsis

Sementara menyusuri jalur lingkar utara menuju Tambora, panorama khas Sabana dan kehidupan satwa liar pernah saya angkat disini. Oi Marai, sebuah sungai yang bersih dan asri dengan air terjun yang tak kalah cantiknya menanti tapak kaki kita. Selain alam, sejumlah desa transmigran sepanjang perjalanan memiliki keunikan tersendiri. Terdapat sebuah desa yang isinya transmigran Bali di Desa Oi Bura, dekat jalur pendakian Tambora. Ada pula kebun kopi peninggalan Belanda di desa yang sama yang begitu unik. Dan tentunya bagi pecinta gunung bisa merasakan pengalaman mendaki gunung yang pernah menggelap-gulitakan daratan eropa ini.

Itulah beberapa mozaik keindahan Bima yang bisa saya hadirkan. Tentunya masih banyak lagi tempat yang belum terekspos dalam tulisan. Ia menungguku atau siapa saja untuk menceritakannya. So, tunggu apa lagi? Sebelum berpetualang ke luar daerah, tak ada salahnya mendatangi tempat-tempat menarik di daerah sendiri. Kunjungi mereka dan ceritakan pengalamanmu…

Inilah Realitas Kabanta, Terimakasih Telah Terus Terjaga

Januari 21, 2013 7 komentar

Kontur daerah Bima bervariasi, deretan gunung dan bukit menjulang dengan dikelilingi laut yang indah tentunya bukan tempat yang mudah untuk ditelusuri. Dengan medan yang begitu rupa, keasrian dan kecantikan pemandangan alam akan terjaga sekaligus kehidupan masyarakat setempat juga tersisihkan pembangunan akibat sulitnya akses mereka menuju dunia luar. Ironis bukan? tetapi inilah uniknya Bima….

Perjalanan kami pada hari Kamis (17/1/2013) membawa aku mendatangi beberapa puncak yang menawan di Kota dan Kabupaten Bima. Rencanaku dan Dedi hari itu adalah membawa dua orang crew Trans7, presenter program Indonesiaku Miladia Rahma (Mila) dan Gion sang kameramen untuk melakukan liputan di sejumlah tempat diantaranya: Kabanta, Wawo, dan Donggo.

Mereka ingin mengangkat potret masyarakat terpencil dalam programnya, dan hari sebelumnya kami sudah selesai dengan liputan masyarakat nelayan di Songgela dan para pemecah batu di Kelurahan Waki Kota bima.

Kabanta, Puncak Pertama

Menuju tempat pertama, kami harus banyak melakukan perencanaan. Akses jalan mendaki dengan bebatuan dan lumpur menjadi tantangan tersendiri yang sudah kami prediksi sebelumnya. Aku pun menyarankan tim meninggalkan mobil Toyota Avanza yang sejak hari pertama dipakai meliput di Kota Bima.  Mobil diparkir rapi di Kelurahan Kendo, tempat ‘beraspal bagus’ terakhir sebelum Kabanta, sedangkan kami berempat menggunakan sepeda motor.

Kami harus berangkat pagi, bersama rombongan guru-guru MIN Al-Ikhlas yang ‘ikhlas’ menjadi host kami. Mereka bergabung dengan kami di tanjakan pertama, sekitar 3 km arah selatan Kendo. Sepertinya sedari pagi mereka sudah menunggu rombonganku yang suka kesiangan… 🙂

Saya membonceng Mila, sementara Dedi melaju bersama Gion dan ransel besar berisi kamera di punggungnya. Sementara rombongan guru-guru MTS dan penduduk setempat itu telah menghilang dari pandangan. Mesin sepeda motorku meraung keras di tanjakan menuju Kabanta pada pukul 7.15 pagi itu. Karena beberapa ratus meter telah diaspal, jalur terjal pertama itu mudah saja kami lewati.

Medan selanjutnya menjadi lebih menantang, batu-batu seukuran kepalan jari berserakan sepanjang lintasan yang mendaki itu. Terkadang pula kami harus rela bergesekan dengan semak, melaju di pinggir jalan akibat jalur tengah berlumpur atau terhadang batu besar.

Sepanjang perjalanan kami disuguhkan dengan pemandangan yang memukau mata. Hijaunya bukit-bukit dimusim penghujan seakan mengapus penat kami seketika. Dinamika warga setempat yang menuju huma dan ladang, pria-pria beruban yang memikul dua jerigen air, dan ibu-ibu yang menjunjung benih padi di sepanjang perjalanan menambah warna rute kami.

Dan karena skill berkendara ku cukup akrab dengan medan seperti itu, sekitar 20 menit kemudian tibalah kami di Kabanta.

suasana kelas MTS Al-Ikhlas Kabanta kota Bima

Selamat datang di Kabanta Kota Bima

suasana kelas MTS Al-Ikhlas Kabanta kota Bima

Aktivitas sampingan ibu-ibu warga Kabanta

Inilah realitas, terimakasih telah terus terjaga

suasana kelas MTS Al-Ikhlas Kabanta kota Bima

Kondisi sekolah MTS Al-Ikhlas Kabanta kota Bima

Awalnya aku mengira sekolah kecil di muka kampung itu yang akan kami tuju. “Kondisinya cukup bagus, kelasnya bertembok semen dan beberapa lokal tengah dibangun,” pikirku. Rupanya aku harus menarik kata-kataku setelah rombongan yang berjalan kaki masuk kampung lalu memutar ke arah belakang sekolah yang kumaksud yang rupanya bangunan sekolah SDN itu… Baca selanjutnya…

Menapaki Lingkar Utara Tambora ~ catatan Roadshow Pendidikan Tinggi 2012 (3)

Februari 17, 2012 4 komentar

Seusai menggelar kegiatan Roadshow Pendidikan Tinggi di SMAN 1 Sanggar pada hari jumat, menjelang sore kami melajutkan perjalanan menuju Kecamatan Tambora. Di kecamatan yang paling jauh dari pusat kota inilah lokasi kedua yang akan kami datangi dalam rangkaian Roadshow di delapan sekolah kepanitiaan bersama Komunitas Jalan setapak dan Pengajar Muda dari Gerakan Indonesia Mengajar.

Pada perjalanan menuju Tambora ini baru kami mengakui ketajaman feeling Mr. dedi dalam memprediksi kebutuhan kendaraan (untuk mengangkut 15 orang dengan barang-barang yang banyak) ketika Team yang berangkat dari kota Bima bergabung dengan Team Tambora yang standbye di Sanggar (Kalau dalam inventory bakat, Mr. dedi ini sepertinya bertipe Generated Idea).

Perjalanan menuju Tambora menempuh waktu sekitar 5 jam, dengan melewati medan yang cukup berat. Mesin mobil meraung-raung menapaki tanjakan jalan berbatu dan penuh pasir khas sabana. Penampakan alam tambora begitu eksotis, mengingatkan saya pada sabana afrika yang sering muncul di TV. Terkadang satwa liar melintasi jalan di depan kami, mulai dari sapi dan kerbau yang dilepas-liar di padang rumput, kuda liar yang tersohor dengan produk susu kuda liarnya, beberapa ekor ayam hutan yang menggoda kami untuk menangkap (padahal mustahil untuk ditangkap), dan pada malam hari seekor kijang tersorot lampu mobil sedang menyebrang jalan. Pada hal terakhir sebagian anggota Team khususnya yang terkenal sebagai Sando Lambu, sepakat kalau itu penampakan mistis… hii syerem.

Kuda liar Tambora

Jalur lingkar utara yang melewati Kore, Boro, Piong, Kawinda Toi, katupa, Kawinda Nae, Labuhan Kenanga itu secara umum dalam kondisi buruk. Selepas dari Piong, kami melewati jalan tanah berpasir dengan perkerasan sehingga bisa dilalui dengan kecepatan sedang, terkadang kami mendapati jalan aspal yang terpotong-potong oleh lintasan banjir gunung, dan mayoritas jalan yang terlalu offroad untuk dilalui mobil berjenis city car. Yang paling berbahaya pada perjalanan kali ini adalah jalur yang sedang dilakukan perbaikan, dimana hampir semua jembatan di sepanjang jalur sedang dibangun sehingga pada saat melewati jembatan mobil harus mengambil jalur di kanan/kiri jembatan. Ulah kontraktor proyek jembatan yang tidak memasang rambu/penanda jembatan rusak membuat mobil kami yang sedang bergerak dengan kecepatan lumayan tinggi beberapa kali hampir disate, terperangkap dalam besi/baja cor jembatan yang sedang dibangun. Baca selanjutnya…

Langit Penuh Bintang di TALAPITI

Agustus 3, 2011 7 komentar

Beautiful stars only seen in the totally dark night, Bintang yang indah hanya akan terlihat jelas dalam malam yang betul-betul gelap. Ungkapan ini terlepas dari makna kiasannya adalah sebuah fakta yang saya dapatkan. Untuk menikmati langit yang penuh dengan taburan bintang yang terlihat jelas, tempat yang gelap tanpa penerangan buatan adalah lokasi terbaik untuk mengagumi keindahan Sang Pencipta. Untuk itu Tuhan menciptakan Desa Talapiti tanpa penerangan listrik PLN dan betul-betul gelap.

Selayang Pandang Desa Talapiti

Talapiti adalah sebuah desa yang sejak “wabah pemekaran” merajalela tahun 2009 yang lalu dimekarkan dari desa induk yaitu Desa Tolowata dan sekarang secara definitif masuk ke dalam wilayah administratif Kecamatan Ambalawi Kabupaten Bima. Desa ini memiliki beberapa dusun diantaranya: Nggaro Nangga, Tolowata, Tala Na’e, Tala Rasabou, dan Boka. Sebanyak 2.348 orang mendiami desa ini. Jumlah itu terdiri dari laki-laki (1.135 orang) dan perempuan (1.213 orang) dengan jumlah KK 683.

Jelajahi Desa Talapiti Lewat Udara klik: wikimapia.org

Kata TALAPITI sendiri sampai sekarang masih banyak versi yang tersebar mengenai asal-muasal penamaan desa ini. Dalam perbendaharaan kosa kata Bahasa Bima, kata TALA memiliki 2 makna yaitu: Bicara dan Berderet (berjejer), dan kata PITI memiliki makna: uang. Mayoritas penduduk setempat lebih mempercayai dinamakannya TALAPITI karena cikal-bakal pembentukan desa adalah bermula pada sebuah area jauh kedalam dari wilayah desa sekarang yang konon terdapat gua yang ditemukan banyak uang yang berjejer (kebenaran mengenai cerita ini akan saya coba telusuri kalau saya berkunjung lagi kesana).

Dilihat dari topografinya, Desa Talapiti tergolong dataran tinggi dan berbukit karena berada pada ketinggian 200m (dpl) dengan suhu udara rata-rata 16 – 35 °C dan curah hujan tahunan mencapai 60 mm mm/tahun. Desa ini berada di sepanjang sungai Sori Tala Nae yang mengalir sepanjang tahun ke arah sungai Tera di Desa Tolowata. Secara adminstratif desa ini berbatasan dengan Desa Tolowata (sebelah utara), kelurahan Ntobo Kota Bima (sebelah selatan), Desa Rite (sebelah Barat) dan Desa Wora (sebelah timur).

Desa yang terletak 31 Km sebelah utara Kota Bima ini memiliki jarak tempuh 1-1,5 jam dengan jalan darat. Untuk menuju desa ini jalur yang ditempuh adalah jalur utara Kota Bima menuju Jatibaru, selanjutnya tinggal mengikuti jalur menuju Kec. Wera sampai Desa Tolowata dan belok kanan pada persimpangan depan SDN No.1 Tolowata. Kondisi jalan bervariasi, Aspal mulus hotmix  sampai puncak Ncai Kapenta (perbatasan Kota Bima dengan Kabupaten Bima), dan betul-betul Off Road pada saat penurunan dan bervariasi/terkadang bagai kubangan sampai Desa Tolowata.  Jalan dari Desa Tolowata ke Desa Talapiti dalam keadaan baik, Aspalisasi terakhir pada tahun 2008 membuat desa ini bisa dijangkau dengan mudah dari desa tetangga namun dari beberapa dusun yang sudah teraspal, masih ada dua dusun yang masih berupa jalan tanah berbatu yaitu desa Tala Rasabou dan Boka. Rupanya proyek Rp 1,2 milyar itu belum bisa menuntaskan kurang dari 1 km jalan yang seharusnya dikerjakan, akan tetapi jika membandingkan dengan kondisi 10 tahun yang lalu, sekarang sungguh luar biasa kemajuannya. Saya masih ingat dulu, bentang alam pegunungan dan akses masuk menyusuri sungai sepanjang sungai sejauh 5 km melalui jalan tanan berbatu, kadang menanjak curam dan terkadang (3 kali) menyebrangi sungai bagi orang luar seperti menuju desa terpencil alias desa “kerongkongan“. Baca selanjutnya…

The Year Without Summer, Bencana Dunia Berawal Dari Sumbawa

September 8, 2009 12 komentar

Tahun tanpa musim panas, juga dikenal sebagai Tahun Kemiskinan dan Seribu delapan ratus dan membeku hingga mati, terjadi pada 1816, ketika penyimpangan iklim musim panas menghancurkan panen di Eropa Utara, Amerika timur laut dan Kanada timur.

Kini orang umumnya menduga bahwa penyimpangan itu terjadi karena ledakan vulkanik Gunung Tambora pada tanggal 5 April–15 April 1815. Gunung ini terletak di pulau Sumbawa di Hindia Belanda (kini Indonesia) yang melontarkan lebih dari satu setengah juta ton – atau 400 km³ – debu ke lapisan atas atmosfer. Seperti umumnya diketahui, setelah sebuah letusan gunung berapi yang dahsyat, temperatur di seluruh dunia menurun karena berkurangnya cahaya matahari yang bersinar melalui atmosfer.

Akibat letusan

Penyimpangan iklim yang luar biasa pada 1816 menimbulkan pengaruh yang sangat hebat di Amerika timur laut, Kanada Maritim dan Eropa utara. Biasanya, pada akhir musim semi dan musim panas di Amerika timur laut cuacanya relatif stabil: temperatur rata-rata sekitar 20–25°C, dan jarang sekali turun hingga Baca selanjutnya…