Archive

Archive for the ‘TRAVELLER’ Category

Bencana Ekologis Menanti Sail Komodo 2013

September 14, 2013 7 komentar

Medio bulan September ini Indonesia khususnya pada wilayah Kepulauan Nusa Tenggara disibukkan dengan berbagai even akbar internasional. Sebut saja pegelaran Miss World 2013 dan APEC Summit di Pulau Dewata Bali juga kegiatan maritim ‘Sail Komodo 2013’ yang puncaknya dipusatkan di Labuan Bajo Provinsi NTT.

Bangkai Penyu (ilustrasi)

Bangkai Penyu (ilustrasi)

Terlepas dari kepentingan promosi pariwisata yang akan mengangkat nama Pulau Komodo di mata dunia, even yang terakhir disebutkan tidak ayal akan menyisakan permasalahan ekologis yang semestinya diantisipasi oleh pemerintah dan penyelenggara acara. Baca selanjutnya…

Perkaya Jiwa Dengan Traveling

Juni 14, 2013 3 komentar

Malam ini saya berkunjung ke Youtube. Untungnya, walaupun jam segini dia masih buka, ya sudah saya masuk saja :mrgreen: Beberapa video yang pernah saya posting, saya putar ulang. Termasuk diantaranya beberapa video perjalanan saya dan teman-teman mengunjungi beberapa pantai menarik di Bima.

Melihat kembali beberapa dokumentasi penjelajahan yang pernah saya lakukan membuat perasaan rindu untuk kembali bertualang. Menggelar perjalanan-perjalanan kecil menyusuri aneka ragam kondisi medan dan bertemu hal-hal baru, begitu menggoda untuk dilakukan lagi.

Hasrat ingin tahu dan bertemu dengan hal-hal baru salah satunya bisa dilakukan dengan ber-traveling. Kendati kita bisa saja menjelajahi setiap sudut dunia maya, melihat gambar atau membaca tulisan orang lain yang melakukan traveling, tentunya hal ini tak dapat menggantikan sensasi jika mengalami sendiri pengalaman bertualang itu.

Apalagi, melakukan perjalanan selain menambah pengalaman, juga sarat dengan nutrisi yang bisa memperkaya jiwa kita. Bagaimana tidak, berada di tempat yang jauh dari zona kenyamanan, bersatu dengan alam, sendiri di tempat yang belum terjamah membuat kita mengalami sensasi-sensasi yang sebelumnya mungkin tak pernah dirasakan.

Sengsara Membawa Nikmat

Jalan rusak menuju destinasi, terkadang merupakan destinasi itu sendiri

Jalan rusak menuju destinasi, terkadang merupakan destinasi itu sendiri

Ada kalanya kita mengalami kesulitan di perjalanan atau di tempat yang kita tuju. Kendaraan mogok, jalan rusak, tersasar, lupa bawa bekal, atau melewati tempat yang menyeramkan misalnya. Tantangan-tantangan ini biasa terjadi bagi orang yang bepergian, tentunya dengan persiapan yang matang tentunya hal ini bisa dihindari.

Minimal kita harus memperkaya informasi mengenai tempat yang hendak kita tuju maupun persiapan yang harus kita lengkapi sebelum kita memutuskan untuk memulai perjalanan. Dan biasanya, dengan melakukan perjalanan bersama banyak orang, kesulitan-kesulitan itu tak akan begitu payah dirasakan, bahkan bisa menjelma menjadi keasyikan tersendiri untuk diceritakan nantinya.

Team CLBK di lokasi survey

Semua beban akan sirna ketika tiba di tujuan

Menggelar acara berkemah di tempat terbuka, seperti pantai atau gunung juga memiliki nilai tersendiri. Dekat dengan alam semesta, tentunya akan semakin lebih mendekatkan diri dengan tuhan, begitu salah seorang temanku pernah berkata. Berada jauh dari hiruk pikuk dan keramaian kota, membuat kita merasa kecil di tengah semesta. Desiran angin dingin gunung dan nyanyian ombak menjadi pelipur lara yang efektif untuk para manusia yang hendak lepas dari kepenatan bekerja. Begitu pula dengan keindahan panorama alam serta keunikan tempat-tempat yang kita kunjungi, beratnya perjalanan akan terlupakan dengan sendirinya digantikan dengan ketakjuban yang menjadi hiburan.

Kenikmatan itu tentunya bisa didapatkan dengan mengunjungi sejumlah tempat yang direferensikan untuk dikunjungi. Namun sejumlah catatan traveling yang banyak beredar di jagat maya masih miskin menceritakan objek perjalanan di Bima. Para traveler lokal tentunya sudah mahfum dengan sejumlah destinasi andalan di liar daerah, namun pertanyaannya, sudahkah anda menelusuri daerah kita sendiri?

Tak Perlu Jauh-Jauh ke Luar Daerah

Memandang ke arah selatan, Kota Bima sedang bertumbuh

Memandang ke arah selatan, Kota Bima sedang bertumbuh

Traveling tak harus dilakukan dengan mengunjungi tempat-tempat yang jauh. Tak perlu keluar kota, di sekitar tempat tinggal kita tentunya masih banyak tempat-tempat yang belum pernah kita kunjungi. Atau kita bisa saja mendatangi tempat yang pernah kita kunjungi semasa kecil, sekaligus bernostalgia dengan kenangan-kenangan lampau. Aku pernah mengunjungi bukit kecil yang berdiri tepat depan rumah dan membuat catatan untuk itu.

Untuk Kota Bima sendiri, beberapa tempat yang saya rekomendasikan untuk dikunjungi diantaranya: Kompleks istana dan masjid kesultanan Bima, Pelabuhan Bima, Komplek pekuburan kesultanan (Dana taraha dan Tolo Bali), Museum Samparaja. Selain itu sentra kerajinan tenun tradisional di Kelurahan Rabadompu, Ntobo, dan Kendo juga layak masuk dalam destinasi yang harus anda kunjungi.

Lebih jauh lagi dari pusat kota, pecinta pantai dan laut bisa mengunjungi pesisir Ule-Kolo. Disana banyak spot menarik untuk mandi laut atau sekedar berfoto. Untuk yang memiliki perangkat selam seperti snorkel ataupun scuba diving, di ujung barat Kolo ada pantai yang bernama So Numbe yang masih kaya dengan panorama bawah air.

Bosan ke pantai?, masih dalam wilayah kota anda bisa bertualang bersama rekan mendaki puncak Pundu Nence. Beberapa jam pendakian dari Kelurahan Lelamase anda akan tiba di bukit yang memiliki pemandangan indah ke arah kota dan Kabupaten Bima. Dirikanlah tenda dan habiskan malam mengelilingi api unggun, saya yakin pengalamannya tak akan terlupakan.

Dekat di Luar Kota Bima

Snorkeling di Oi Fanda

Snorkeling di Oi Fanda

Ingin lebih jauh lagi? Kunjungi Oi Fanda dan dua pantai di dekatnya, kita hanya butuh tak lebih dari satu setengah jam untuk sampai kesana.  Lebih ke arah utara lagi, kita bisa saja melanjutkan ke pantai Sanosu atau bercengkerama dengan ular-ular laut yang jinak di Pulau Ular dan Pantai Oi Caba Kecamatan Wera. Untuk yang masih punya waktu dan tertantang dengan pengalaman lebih, bisa saja melanjutkan perjalanan pada jalur yang sama. Menuju Sape dengan terlebih dahulu singgah di Pantai Toro Wamba yang berpasir putih.

Masih di Sape, tak jauh dari pelabuhan terdapat sebuah pulau yang dihuni oleh penduduk Suku Bajo (Bajau) yang merupakan pendatang dari Sulawesi. Aku visualisasikan pantai disana merupakan perpaduan pantai di Belitung yang bercadas dan berbatu besar. Pasirnya pun putih dengan air yang jernih. Para pecinta fotografi saya yakin akan menemukan surganya disana. Panorama pantai, maupun keseharian anak-anak suku bajo yang bersaudara dengan laut, saya rasa terlalu berharga untuk dilewatkan oleh jepretan kamera.

Sedikit Lebih Jauh di Pelosok Bima

Perkampungan nelajan bako di bajo Pulau - Sape

Perkampungan nelajan bako di bajo Pulau – Sape

Sedikit lebih jauh ke timur Kecamatan Sape, di Kecamatan Lambu terdapat pantai Papa yang eksotis. Jalur jalan yang sudah teraspal bagus membuat anda tiba dalam setengah jam dari Sape. Ingin mencoba track yang lebih ekstrim? cobalah ke Baku. Daerah transmigrasi yang jarang disebut ini konon menyimpan keindahan panorama pantai yang unik. Ganggang-ganggang dan tumbuhan laut membuat karang di sepanjang pantai yang berjarak 2 jam dari Sape ini memukau mata. Hanya saja akses jalan yang masih berbatu membuat tempat ini sulit untuk didatangi dengan menggunakan kendaraan. Penulis sendiri belum pernah kesana, namun tak sabar untuk membuktikannya.

Ke arah selatan kota, berkendara selama satu atau dua jam bisa saja membawa anda ke sejumlah tempat menarik. Saya merekomendasikan anda mengunjungi perkampungan tradisional di Sambori yang bisa dicapai dengan menempuh jalur ke arah timur dari perempatan Talabiu. Jika anda beruntung, gambaran masyarakat tradisional bima yang agraris bisa ditemukan disana lengkap dengan ragam kesenian dan budaya daerah. Tempat ini berada di pegunungan yang sekarang relatif lebih mudah dijangkau dengan kondisi jalan yang bagus.

Tempat yang sejenis bisa ditemukan di pegunungan Donggo. Di pegunungan yang ada di seberang barat Kota Bima ini, selain desa adat kita bisa menggelar kegiatan napak tilas dengan mendatangi sejumlah objek wisata sejarah. Kunjungi juga peternakan kuda tradisional di Donggo Mpili, niscaya anda akan menemukan susu kuda liar yang dipercaya berkhasiat untuk kesehatan.

Sementara pada bagian pesisirnya, di Kecamatan Soromandi dapat kita temui prasasti sejarah Wadu Tunti yang merupakan tonggak catatan sejarah Daerah Bima. Deretan pantai yang eksotis juga bisa menjadi hiburan menarik jika anda memutuskan mengunjunginya. Adapula puing-puing benteng Asakota yang pernah berdiri tegak melindungi Kesultanan Bima dulu dari serangan bajak laut dan Belanda.

Sementara pada musim kemarau, akses jalan menuju puncak Pulau Kambing konon terbuka. Menurut teman-temanku yang pernah kesana, hamparan ilalang di pulau kecil itu begitu indah ketika berpadu dengan laut Teluk Bima. Kita bisa bebas memandangi teluk Bima dari segala penjuru di puncak Doro Nisa (pulau Kambing). “Pulau kecil yang dapat ditempuh dalam waktu 15 menit dari pelabuhan bima itu harus dicoba sendiri,” ujarnya.

Masih kategori berjarak tak terlalu jauh dari Kota, jangan lewatkan mengunjungi deretan pantai selatan. Pantai Wane, Rontu, Woro, Pusu, dan Tamandaka merupakan beberapa nama yang kerap disebut oleh pecinta traveling lokal. Sayangnya dari nama-nama itu, baru pantai Rontu yang pernah saya datangi. Pantai ini berombak besar dengan hamparan pasir putih khas pantai-pantai laut selatan Indonesia. Jikalau ingin mencari padanannya dengan pantai terkenal lainnya, karakteristiknya mirip pantai Kuta di Bali atau pantai Lakey di Dompu yang menjadi primadona para bule peselancar. Insya Allah pantai-pantai selatan lainnya yang berlokasi di tiga kecamatan berbeda ini satu persatu akan saya datangi.

Lebih Jauh Lagi….

Jika dua kategori diatas saya urut berdasarkan jarak, maka pada bagian terakhir ini saya ingin menyajikan menu-menu perjalanan yang terbilang cukup jauh dari kota Bima. Di Kabupaten Bima, Kecamatan yang paling jauh adalah Kecamatan Sanggar dan Tambora. Sesi ini secara khusus mengangkat sejumlah destinasi di dua kecamatan itu yang sayang untuk dilewatkan.

Dalam suatu kesempatan saya pernah mengunjungi dua Kecamatan itu sekaligus. Untuk mencapai Sanggar kita membutuhkan waktu tiga hingga empat jam berkendara. Di Kecamatan yang pernah memiliki kerajaan sendiri ini, terdapat kompleks pemakaman kerajaan yang terletak di pusat kota Kore. Ada pula pelabuhan kecil yang menjadi salah satu urat nadi perekonomian masyarakat setempat, aktivitas nelayan yang mungkin harus anda saksikan. Ada juga Oi Tampiro, pemandian alami air tawar yang berlokasi di pesisir Piong.

sekali-kali TS nampang narsis

sekali-kali TS nampang narsis

Sementara menyusuri jalur lingkar utara menuju Tambora, panorama khas Sabana dan kehidupan satwa liar pernah saya angkat disini. Oi Marai, sebuah sungai yang bersih dan asri dengan air terjun yang tak kalah cantiknya menanti tapak kaki kita. Selain alam, sejumlah desa transmigran sepanjang perjalanan memiliki keunikan tersendiri. Terdapat sebuah desa yang isinya transmigran Bali di Desa Oi Bura, dekat jalur pendakian Tambora. Ada pula kebun kopi peninggalan Belanda di desa yang sama yang begitu unik. Dan tentunya bagi pecinta gunung bisa merasakan pengalaman mendaki gunung yang pernah menggelap-gulitakan daratan eropa ini.

Itulah beberapa mozaik keindahan Bima yang bisa saya hadirkan. Tentunya masih banyak lagi tempat yang belum terekspos dalam tulisan. Ia menungguku atau siapa saja untuk menceritakannya. So, tunggu apa lagi? Sebelum berpetualang ke luar daerah, tak ada salahnya mendatangi tempat-tempat menarik di daerah sendiri. Kunjungi mereka dan ceritakan pengalamanmu…

Inilah Realitas Kabanta, Terimakasih Telah Terus Terjaga

Januari 21, 2013 7 komentar

Kontur daerah Bima bervariasi, deretan gunung dan bukit menjulang dengan dikelilingi laut yang indah tentunya bukan tempat yang mudah untuk ditelusuri. Dengan medan yang begitu rupa, keasrian dan kecantikan pemandangan alam akan terjaga sekaligus kehidupan masyarakat setempat juga tersisihkan pembangunan akibat sulitnya akses mereka menuju dunia luar. Ironis bukan? tetapi inilah uniknya Bima….

Perjalanan kami pada hari Kamis (17/1/2013) membawa aku mendatangi beberapa puncak yang menawan di Kota dan Kabupaten Bima. Rencanaku dan Dedi hari itu adalah membawa dua orang crew Trans7, presenter program Indonesiaku Miladia Rahma (Mila) dan Gion sang kameramen untuk melakukan liputan di sejumlah tempat diantaranya: Kabanta, Wawo, dan Donggo.

Mereka ingin mengangkat potret masyarakat terpencil dalam programnya, dan hari sebelumnya kami sudah selesai dengan liputan masyarakat nelayan di Songgela dan para pemecah batu di Kelurahan Waki Kota bima.

Kabanta, Puncak Pertama

Menuju tempat pertama, kami harus banyak melakukan perencanaan. Akses jalan mendaki dengan bebatuan dan lumpur menjadi tantangan tersendiri yang sudah kami prediksi sebelumnya. Aku pun menyarankan tim meninggalkan mobil Toyota Avanza yang sejak hari pertama dipakai meliput di Kota Bima.  Mobil diparkir rapi di Kelurahan Kendo, tempat ‘beraspal bagus’ terakhir sebelum Kabanta, sedangkan kami berempat menggunakan sepeda motor.

Kami harus berangkat pagi, bersama rombongan guru-guru MIN Al-Ikhlas yang ‘ikhlas’ menjadi host kami. Mereka bergabung dengan kami di tanjakan pertama, sekitar 3 km arah selatan Kendo. Sepertinya sedari pagi mereka sudah menunggu rombonganku yang suka kesiangan… 🙂

Saya membonceng Mila, sementara Dedi melaju bersama Gion dan ransel besar berisi kamera di punggungnya. Sementara rombongan guru-guru MTS dan penduduk setempat itu telah menghilang dari pandangan. Mesin sepeda motorku meraung keras di tanjakan menuju Kabanta pada pukul 7.15 pagi itu. Karena beberapa ratus meter telah diaspal, jalur terjal pertama itu mudah saja kami lewati.

Medan selanjutnya menjadi lebih menantang, batu-batu seukuran kepalan jari berserakan sepanjang lintasan yang mendaki itu. Terkadang pula kami harus rela bergesekan dengan semak, melaju di pinggir jalan akibat jalur tengah berlumpur atau terhadang batu besar.

Sepanjang perjalanan kami disuguhkan dengan pemandangan yang memukau mata. Hijaunya bukit-bukit dimusim penghujan seakan mengapus penat kami seketika. Dinamika warga setempat yang menuju huma dan ladang, pria-pria beruban yang memikul dua jerigen air, dan ibu-ibu yang menjunjung benih padi di sepanjang perjalanan menambah warna rute kami.

Dan karena skill berkendara ku cukup akrab dengan medan seperti itu, sekitar 20 menit kemudian tibalah kami di Kabanta.

suasana kelas MTS Al-Ikhlas Kabanta kota Bima

Selamat datang di Kabanta Kota Bima

suasana kelas MTS Al-Ikhlas Kabanta kota Bima

Aktivitas sampingan ibu-ibu warga Kabanta

Inilah realitas, terimakasih telah terus terjaga

suasana kelas MTS Al-Ikhlas Kabanta kota Bima

Kondisi sekolah MTS Al-Ikhlas Kabanta kota Bima

Awalnya aku mengira sekolah kecil di muka kampung itu yang akan kami tuju. “Kondisinya cukup bagus, kelasnya bertembok semen dan beberapa lokal tengah dibangun,” pikirku. Rupanya aku harus menarik kata-kataku setelah rombongan yang berjalan kaki masuk kampung lalu memutar ke arah belakang sekolah yang kumaksud yang rupanya bangunan sekolah SDN itu… Baca selanjutnya…

Resume Kegiatan Group CLBK 4 Agustus 2012 (Pesisir Kolo Kota Bima)

Agustus 9, 2012 1 komentar

Kronologis Singkat Perjalanan Team

Tanggal 4 agustus 2012, team Cinta Laut Bima Kita (CLBK) berinisiasi untuk mengadakan sebuah kegiatan yang insyallah bermanfaat besar bagi lingkungan laut, masyarakat pesisir dan pemerintah nantinya. kegiatan tersebut adalah kegiatan transplantasi karang, atau biasa disebut budidaya karang yang dilakukan manusia untuk memberikan intervensi terhadap kondisi lingkungannya.

Team CLBK menunggu teman-teman yang lain sebelum memulai perjalanan

Sesuai dengan tujuan inisiasi yang disampaikan admin group CLBK (Arif), bahwa kawan-kawan yang ingin berpartisipasi dan bergabung dalam kegiatan tersebut diharapkan bisa ikut serta dalam survei lokasi, dengan lokasi berkumpul (gathering point) di Museum Asi Mbojo pada pukul 14:00 wita, dan tempat survei yang dituju adalah kecamatan kolo, kota bima. Tepat jam 13.45 kawan-kawan kumpul dan berangkat dan ada juga yang menyusul kemudian. Asiknya, proses perkenalan sesama anggota survei lokasi dilakukan pertama kali di gathering point, di perjalanan dan selama kegiatan berlangsung. Secara latar belakang, anggota team survei berasal dari berbagai golongan. Ada peserta yang sudah menikah, bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil, wartawan, penggiat sosial dan ada pula yang masih berstatus mahasiswa. Dengan keragaman warna dalam team, jelas menunjukkan bahwa laut itu memiliki tempat di hati siapa saja.

Perjalan menuju kolo kami tempuh 1:30 jam. Sebelumnya team survey lokasi singgah di posko KKNP Mahasiswa UGM, untuk berkoordinasi singkat dan bertukar informasi mengenai beberapa spot yang layak untuk dikunjungi. Kami pun sempat bercerita singkat berkaitan dengan kegiatan dan mereka juga membagi pengalaman snorkeling dan diving di berbagai spot dive di sekitar kawasan Kolo.

Dalam perjalanan ini kami membawa serta 5 set Alat Selam dasar, yang terdiri dari masker, snorkel, dan beberapa pasang fin (sepatu katak). Dari hasil temu dengan mahasiswa UGM di posko KKN mereka, kami mendapatkan tambahan alat sebanyak dua unit yang sangat membantu team di lokasi.

Gambaran Umum Lokasi Survey

gambaran umum lokasi saat surut

Lokasi survei adalah So Sanumbe, sebuah daerah teluk yang memiliki vegetasi tumbuhan pantai berupa pohon , pasir putih,dan bersubtrat pasir dan patahan karang mati. Kedalaman mencapai 3-7 meter dan memiliki gobahan bawah laut yang menjadi luapan pasir yang dibawa oleh ombak dan arus bawah laut. Sesuai dengan hasil pemantau team coral dengan metode RRA (Rural Rapid Assesment), tutupan karang hidup mencapai 30% yang diwakili oleh karang keras (hard Coral ) dengan bentuk pertubuhan, Acropra Brenching, Masive, tabulate dan Foliose, Karang Mati 40%, Pasir 20% dan 20 % lainnya terdiri dari softcoral (karang lunak) yang diwakili oleh lobophilia Sp.

Kondisi Oseografi

Team hanya memantau diwaktu sore hari, padahal untuk mengataui kondisi osfis diperlukan 139 jam dengan tujuan  untuk mengetahui pola pasang surut dan tipe gelombang yang ada di lokasi survei. Karena kebutuhan itu tak mungkin dilaksanakan maka team survey mengamati langsung, dalam waktu beberapa menit. Ditemukan tipe pasang surutnya yaitu satu kali pasang dan satu kali surut dan ombak tak begitu besar. Artinya kondisi ini memang sesuai dengan lokasi yang akan dijadikan tempat transplantasi karang, yaitu daerah teluk semi tertutup.

Rencana tindak Lanjut

Berdasarkan hasil survey awal yang dilakukan Team terhadap kondisi di titik pengamatan (pantai Sanumbe), maka kami memberikan beberapa rekomendasi yang akan di-follow up dengan mata kegiatan sebagai berikut:

  1. Program transplantasi karang untuk konservasi lingkungan laut So Sanumbe
  2. Melakukan survei serupa di titik-titik (pantai) lainnya di Kota dan Kabupaten bima
  3. Menginisiasi terbentuknya lembaga formal/semi-formal untuk mendukung terselenggaranya kegiatan yang dimaksud.

Update kegiatan akan kami kabarkan secepatnya…

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

 

 

Romantika Masa Kecil di Bukit Dewa Tula

Mei 30, 2012 1 komentar

Tepat di depan rumahku berdiri sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi. Bukit Dewa tula, begitu sebagian orang di kampung memberi nama. Saya sendiri tidak begitu tau dari mana asal nama itu, namun semenjak kecil nama  Dewa Tula sudah begitu melekat dengan bukit yang berada di sebelah timur laut kantor walikota Bima itu.

Tak ada pohon yang besar di bukit ini, seingatku dulu ada sebuah pohon mangga besar pada sisi bukit yang menghadap rumahku, namun sudah ditebang sekitar sepuluh tahun yang lalu. Praktis bukit ini hanya ditumbuhi semak belukar dan pepohonan lamtoro yang dari dulu hingga sekarang tak kunjung besar. Beberapa pohon garoso (sirsak) yang yang dulu selalu ranum berbuah dan biasa ku petik kini semakin berkurang, kalaupun ada menurutku tak kan menjanjikan buah sirsak sebanyak dulu.

Kalau bukan karena ayah saya berhasil membunuh seekor tikus yang besar komplit dengan tiga ekor anaknya, tak bakalan saya mendaki bukit Dewa Tula. Siang itu saya kebagian tugas dari Ayah melenyapkan hama pengganggu itu di rumah dengan membuangnya di atas bukit. Sebuah plastik besar berwarna kuning berisi empat ekor tikus hasil perburuan Ayah di samping kamar mandi menjadi paket yang segera harus saya enyahkan. Mendaki bukit Dewa Tula pun harus saya lakoni demi tugas suci nan mulia itu, walaupun setelah sekian lama saya tidak pernah lagi menapakkan kaki diatas bukit itu.

Memandangi kantor walikota Bima dari bukit Dewa Tula

Yah, semenjak tamat SD atau kalau dinumerikkan setelah sekitar 15 tahun saya tidak pernah lagi mendaki sampai puncak bukit yang berjarak tak lebih dari 20 meter dari depan rumah itu. Dulu sewaktu kanak-kanak, Dewa Tula seakan menjadi tempat bermain wajib bagi saya dan anak-anak lain di lingkungan tempat tinggalku. Bukit yang rimbun dengan semak belukar dan batu-batu besar yang ideal untuk bersembunyi menjadikan bukit ini sebuah tempat yang pas untuk bermain petak umpet dan perang-perangan.

Pada setiap musim garoso, saya dan beberapa orang teman masa kecil selalu menyempatkan berburu buah yang manis ini. “dei garoso,” begitu orang Bima menyebutnya. Dulu kami selalu berebutan untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya garoso untuk dibawa pulang. Kalau kebetulan buah garoso tak terjangkau tangan atau dahannya terlalu kecil untuk dipijaki, sebatang galah kecil yang kami bawa sukses menjalankan tugasnya. Setelah mengantongi beberapa buah garoso untuk dinikmati berhari-hari, kami mengumpulkan seikat besar daun lamtoro untuk pakan ternak kambing di rumah masing-masing untuk menyogok orang tua yang terkadang melarang kami bermain di bukit.

Pohon Kamboja tua masih tegak berdiri, masih sama seperti dulu, -tak berdaun.

Bagi warga yang berdiam sedikit lebih jauh dari kaki bukit, Dewa Tula terbilang angker. Pernah kejadian salah seorang anak tetangga rumahku entah bagaimana ceritanya raib dari kamar di subuh buta. Warga kampung mencari ke seluruh tempat, dan ajaibnya sang bocah ditemukan sedang pulas tertidur di salah satu dahan pohon mangga yang kini sudah ditebang.

Di puncak bukit juga tak kalah kental aura mistisnya, sebatang pohon kamboja besar tanpa daun berdiri hingga kini. Dulu sering kami melihat semacam sesajen yang diletakkan oleh orang-orang yang konon mencari ilham, atau mungkin sekedar mengadu peruntungan dengan meminta nomor togel cantik pada penunggu bukit. Entahlah… malah dulu sering saya menemukan sisa api unggun, tulang ayam berserakan, dan bulu ayam di sekitar pohon yang entah kebetulan atau tidak warna bulu ayam di bawah pohon kamboja itu persis sama dengan ciri-ciri ayam tetangga kampung ku yang hilang kemarin malam. 🙂

Kami, anak-anak di lingkungan sekitar bukit tak pernah memandang bukit kecil ini angker. Malah ribuan kesenangan telah kami dapatkan dengan menjadikan Dewa Tula sebagai tempat bermain dan beraktivitas. Mulai dari bermain petak umpet, perang perangan (lewa pehe), mencari jamur, berburu gagang katapel (haju ncanga), dei garoso, menerbangkan layangan dan mengadu dengan tetangga kampung, mencari pakan kambing, atau sekedar duduk di batu besar dan memandangi seluruh penjuru kota dengan takjub. Baca selanjutnya…

Binar Harapan Tamborista ~ catatan Roadshow Pendidikan Tinggi 2012 (part 4)

Februari 27, 2012 2 komentar

Perjalanan dari Sanggar yang penuh tantangan dan memanjakan mata selama lebih dari 5 jam membuat badan terasa lelah. Kami menginap di desa Sori Panihi, sebuah desa yang relatif lebih berkembang pesat dibandingkan beberapa desa yang kami lewati dalam perjalanan dari Sanggar. Di rumah bapak wakasek SMAN 1 Tambora itu team melepas lelah dan melakukan sekedar rapat pemantapan untuk esok hari.

Berada di desa Sori Panihi, bagi saya ibarat pulang ke kampung sendiri lantaran ternyata dari sekian ratus kepala keluarga di desa ini rupanya banyak yang berasal dari desa Kendo (kota Bima) dan Ntoke (Kec. Wera Kab. Bima) tempat nenek moyang saya berasal. Tidak sulit bagi saya untuk menemukan keberadaan mereka di desa ini, bahkan beberapa saat setelah saya turun dari mobil dan duduk di sarangge di salah satu kedai dan sekedar berbincang dengan warga setempat, rupanya orang yang saya ajak ngobrol masih terbilang kerabat sendiri. Alangkah sempitnya dunia…

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Pagi hari pukul enam, kami pun bersiap menuju sekolah.  Karena desa itu tidak ada fasilitas listrik dan air bersih, team bergantian mandi. Panitia perempuan mandi di kamar mandi dalam yang airnya harus senantiasa ditimba dari sumur samping rumah, sedangkan yang laki-laki menantang dinginnya hawa Tambora dengan madi di sumur yang terbuka. Semua terlihat lancar dalam ritual antrian mandi pagi, hingga giliran saya yang terakhir mandi dan tiba-tiba  hujan lebat turun dan angin begitu kencang menerpa. Pintu seng yang menjadi pembatas sumur dengan rumah terbang terbawa angin, lalu sekonyong-konyong pohon Singkong besar disamping sumur patah dan rubuh persis di tempat saya mandi. Pengalaman mandi di tempat terbuka, menimba air ditengah gempuran hujan lebat dan angin kencang yang dingin sungguh terasa epic.

Yanti dan Mutia, Team Registrasi

Cuaca pagi Tambora yang kurang bersahabat tidak menyurutkan semangat kami untuk ke sekolah, dengan semangat 45 kami membawa perlengkapan berjalan kaki menuju sekolah yang tidak terlalu jauh itu. Memasang spanduk, memastikan genset siap beroperasi, menyetel LCD (yang kami pinjam dari Sanggar), dan mempersiapkan fasilitator menjadi aktivitas pertama sesampainya kami di sekolah. Sekolah yang sederhana, dengan pemandangan indah pegunungan Tambora berdiri kokoh didepan dan deburan ombak Laut Flores sayup-sayup terdengar dari arah belakang sekolah.  Rumput hijau tumbuh merata diatas lapangan tanah berpasir hitam khas Tambora, menjadi areal yang pasti diidamkan oleh jutaan sapi di pulau ini untuk mencari makan.

Musim hujan menjadi musim libur tak resmi anak-anak Tambora. Bukan karena malas berjalan kaki di tanah becek atau melawan dinginnya angin gunung, tetapi mereka ikut membantu orang-tua mereka berladang di gunung. Desa menjadi sepi, begitu halnya dengan sekolah. Hampir semua jenjang sekolah yang ada di lingkar tambora mengalami musim paceklik murid, seperti sekolah ini yang populasi sapi di sekolah mengalahkan jumlah total murid yang hadir.

Rencananya, menurut laporan awal jumlah siswa kelas tiga yang akan mengikuti kegiatan adalah sejumlah 30 orang namun data dengan fakta di lapangan berkata lain. Sekolah begitu lengang, hingga pukul delapan pagi siswa kelas tiga yang tercatat  meja registrasi hanya mencapai belasan orang. Setelah team bersepakat dengan guru, kami menyertakan seluruh siswa yang hadir hari itu (termasuk kelas 1 dan 2) untuk menjadi peserta hingga jumlah total peserta Roadshow Pendidikan Tinggi hari itu mencapai angka 37 orang. Baca selanjutnya…

Menapaki Lingkar Utara Tambora ~ catatan Roadshow Pendidikan Tinggi 2012 (3)

Februari 17, 2012 4 komentar

Seusai menggelar kegiatan Roadshow Pendidikan Tinggi di SMAN 1 Sanggar pada hari jumat, menjelang sore kami melajutkan perjalanan menuju Kecamatan Tambora. Di kecamatan yang paling jauh dari pusat kota inilah lokasi kedua yang akan kami datangi dalam rangkaian Roadshow di delapan sekolah kepanitiaan bersama Komunitas Jalan setapak dan Pengajar Muda dari Gerakan Indonesia Mengajar.

Pada perjalanan menuju Tambora ini baru kami mengakui ketajaman feeling Mr. dedi dalam memprediksi kebutuhan kendaraan (untuk mengangkut 15 orang dengan barang-barang yang banyak) ketika Team yang berangkat dari kota Bima bergabung dengan Team Tambora yang standbye di Sanggar (Kalau dalam inventory bakat, Mr. dedi ini sepertinya bertipe Generated Idea).

Perjalanan menuju Tambora menempuh waktu sekitar 5 jam, dengan melewati medan yang cukup berat. Mesin mobil meraung-raung menapaki tanjakan jalan berbatu dan penuh pasir khas sabana. Penampakan alam tambora begitu eksotis, mengingatkan saya pada sabana afrika yang sering muncul di TV. Terkadang satwa liar melintasi jalan di depan kami, mulai dari sapi dan kerbau yang dilepas-liar di padang rumput, kuda liar yang tersohor dengan produk susu kuda liarnya, beberapa ekor ayam hutan yang menggoda kami untuk menangkap (padahal mustahil untuk ditangkap), dan pada malam hari seekor kijang tersorot lampu mobil sedang menyebrang jalan. Pada hal terakhir sebagian anggota Team khususnya yang terkenal sebagai Sando Lambu, sepakat kalau itu penampakan mistis… hii syerem.

Kuda liar Tambora

Jalur lingkar utara yang melewati Kore, Boro, Piong, Kawinda Toi, katupa, Kawinda Nae, Labuhan Kenanga itu secara umum dalam kondisi buruk. Selepas dari Piong, kami melewati jalan tanah berpasir dengan perkerasan sehingga bisa dilalui dengan kecepatan sedang, terkadang kami mendapati jalan aspal yang terpotong-potong oleh lintasan banjir gunung, dan mayoritas jalan yang terlalu offroad untuk dilalui mobil berjenis city car. Yang paling berbahaya pada perjalanan kali ini adalah jalur yang sedang dilakukan perbaikan, dimana hampir semua jembatan di sepanjang jalur sedang dibangun sehingga pada saat melewati jembatan mobil harus mengambil jalur di kanan/kiri jembatan. Ulah kontraktor proyek jembatan yang tidak memasang rambu/penanda jembatan rusak membuat mobil kami yang sedang bergerak dengan kecepatan lumayan tinggi beberapa kali hampir disate, terperangkap dalam besi/baja cor jembatan yang sedang dibangun. Baca selanjutnya…