Archive

Archive for the ‘INFO’ Category

Perkampungan Bajo Pulau Terbakar, Ayo Peduli

November 26, 2015 Tinggalkan komentar

Musibah tak kenal tempat dan waktu. Inalillahi wainailaihirojiun, Rabu (25/11) sore, telah terjadi musibah kebakaran besar yang melanda desa Bajo Pulo, Kabupaten Bima. Ratusan warga setempat sedang menanti uluran tangan kita sekarang.

Lokasi kebakaran di pulau kecil dengan akses utama transportasi laut menyebabkan pekerjaan memadamkan api menjadi hal yang mustahil. Api begitu cepat merambat dan menghanguskan satu demi satu rumah penduduk yang didominasi rumah panggung yang terbuat dari kayu. Rumah penduduk yang berdempetan di pulau kecil itu telah rata dengan tanah, meninggalkan puing yang tak lagi berguna.

Desa Bajo Pulo merupakan desa yang terletak sebuah pulau dengan tiga dusun, yaitu Bajo Barat, Bajo Tengah, dan Pasir Putih. Desa ini berpenduduk 1800 jiwa dengan 509 kepala keluarga. Kebakaran para Rabu malam telah memusnahkan 63 unit rumah milik sekitar 100 kepala keluarga.

Selain rumah milik 323 jiwa, sejumlah fasilitas umum yang terdiri dari pasar, masjid, polindes, posyandu, dan fasilitas pengajaran Alquran (TPQ) musnah menjadi abu.  Dua unit perahu warga setempat juga tak luput dari kobaran api sehingga praktis mereka tidak dapat melaut.

Puluhan hingga ratusan rumah rata dengan tanah

Puluhan hingga ratusan rumah rata dengan tanah

Bajo Pulo adalah pemukiman terbesar suku Bajo dan Bugis di Kabupaten Bima – NTB. Berdiri diatas pulau cadas di lepas pantai Kecamatan Sape, Pulau cantik ini menyandarkan kebutuhan pangan dan air bersih dari daratan Sape di pulau utama. Penghasilan pokok masyarakatnya adalah sebagai nelayan yang menggantungkan hidup dari laut.

Hingga postingan ini diterbitkan, pemerintah setempat tengah mengupayakan tanggap darurat dengan mendirikan tenda pengungsi serta mendata kerugian. Untuk membantu meringankan beban para korban kebakaran, relawan lokal juga sedang berusaha memberikan penanganan pasca kejadian ini.

Jika ingin mengirim barang (obat-obatan, pakaian, peralatan sekolah, logistik, dll) dapat dikirim ke alamat :
Basecamp Pengajar Muda Bima
Jl Soekarno Hatta Gunung 2 No 14 (depan pom bensin Taman Ria)
Kelurahan Monggonao Kecamatan Mpunda Kabupaten
Bima Nusa Tenggara Barat Kode pos 84100
atau check poin terdekat dari lokasi:
Muhammad Olan Wardiansyah  (Olan Sang Ilalang)
Dusun nari RT. 009 Rw. 005 Desa Naru Kecamatan Sape Kabupaten Bima NTB.
CP 085945190514.
 Donasi juga bisa disalurkan melalui No. Rekening:

    BRI 1662.01.003160.505 a.n Etika Indah Febriani
BNI 0378459248 a.n Etika Indah Febriani
BNI 0409646257 a.n Husnul Khatimah

 
Contact person:
  1.  Etika
    HP +6282282342200
    WA +6285755988405
  2. Marwan (082147802090)
  3. Sisi Timur (085205714880)

Mohon doa dan bantuannya.

(Data akan diupdate)

 

Kategori:INFO Tag:, ,

Menjaga Laut Kita Dengan Teknologi

Oktober 29, 2015 Tinggalkan komentar

Illegal fishing dewasa ini telah menjadi masalah serius bagi sejumlah negara, khususnya negara-negara pantai dan kepulauan. Indonesia yang terdiri dari 13 ribu pulau tengah giat menjaga laut dan samuderanya dari penjarahan hasil laut dari bangsa-bangsa lain.

Pada tahun 2014, tercatat kerugian Indonesia akibat aktivitas illegal di laut terutama pencurian ikan mencapai angka Rp 240 triliun. Jumlah itu diyakini masih jauh dari gambaran sebenarnya, karena penjarahan besar-besaran kekayaan Indonesia yang harusnya dimanfaatkan untuk membangun bangsa dan negara ini berlangsung secara sembunyi-sembunyi .

Dibawah kepemimpinan Presiden RI Joko Widodo, upaya mencegah kehilangan potensi kekayaan negara ini menjadi fokus utama arah kebijakan pemerintah. Kementerian Kelautan dan Perikanan RI sebagai stakeholder bidang kelautan dan perikanan menyatakan perang terbuka terhadap para pelaku illegal fishing. Upaya pemberantasan illegal fishing pun dilakukan secara massive dengan melakukan pengawasan, penangkapan, dan penenggelaman terhadap banyak kapal ikan asing yang terbukti melakukan pelanggaran dengan secara sembunyi-sembunyi menangkap ikan di dalam wilayah perairan kita.

Namun luasnya perairan kita menjadi sebuah masalah tersendiri dalam upaya penegakan kedaulatan atas pemanfaatan sumber daya kelautan. Wilayah laut Indonesia seluas 20 juta km² hanya dijaga oleh 31 unit kapal pengawas. Kapal-kapal pengawas itu setiap hari melakukan pengawasan pada titik-titik utama yang dicurigai menjadi jalur keluar masuk kapal ikan asing. Praktis ada banyak blank spot khususnya pada wilayah-wilayah perbatasan laut yang tidak mendapatkan pantauan dan pengawasan petugas.

Tampilan radar pantai LPTK yang diaplikasikan dalam area konservasi

Tampilan radar pantai LPTK yang diaplikasikan dalam area konservasi

Di berbagai negara maju, pengawasan teritorial laut dari illegal fishing tidak hanya melibatkan armada-armada pengawasan konvensional. Teknologi multi-satelit untuk melacak posisi dan pergerakan armada kapal terbukti efektif dalam menjawab tantangan pengawasan laut pada area yang luas. Basis data objek-objek yang terindikasi sebagai kapal-kapal ilegal tersebut kemudian akan menjadi modal awal bagi jajaran armada pengawas dalam merancang serta melaksanakan operasi penegakkan hukum pemberantasan illegal fishing yang efektif dan efisien.

Kementerian Kelautan dan Perikanan sejak tahun 2014 telah memanfaatkan teknologi satelit untuk pengawasan laut. Penggunaan teknologi radarsat, satelit khusus untuk pengidentifikasi objek-objek tertentu itu telah berhasil meningkatkan jumlah kapal ilegal yang berhasil ditangkap khususnya untuk wilayah-wilayah yang jauh dari pangkalan kapal pengawas. KKP juga mengembangkan sistem pemantauan kapal perikanan dengan berbasis transponder kapal atau yang lebih dikenal sebagai Vessel Monitoring System (VMS). Dengan memasang ‘pelacak’ pada kapal-kapal ikan legal, maka citra kapal-kapal yang tertangkap oleh teknologi satelit akan dapat difilter untuk membedakan jenis dan status perijinan kapal yang beroperasi di dalam wilayah perairan kita.

Selain kedua teknologi yang sudah diterapkan tersebut, untuk meningkatkan akurasi dan keragaman data kapal, KKP perlu mengintegrasikan ragam teknologi lainnya ke dalam sistem. Auto Identification System (AIS) yang juga berbasis transponder telah lama diaplikasikan untuk kapal-kapal barang dan penumpang atau kapal-kapal lainnya yang melakukan pelayaran lintas negara dan benua.

Untuk pengawasan yang lebih intensif, pembangunan stasiun radar maritim sudah selayaknya digiatkan di sejumlah titik. Perairan konservasi seperti Taman Nasional Laut (TNL) dan juga beberapa titik-titik terluar Indonesia yang selama ini menjadi jalur lalu-lalangnya kapal-kapal ilegal harus mendapatkan pengawasan ekstra dengan memanfaatkan teknologi radar. Ini dilakukan mengingat besarnya potensi ekonomi, ekologi, dan kepentingan kedaulatan negara yang harus dijaga pada kawasan tersebut.

Keterkaitan antar teknologi pemantauan: satelit, VMS, AIS, dan radar pantai diyakini oleh banyak pihak akan mampu memberikan peran serta yang besar dalam upaya pemberantasan illegal fishing. Tentunya seiring peningkatan kemampuan pengawasan laut dan pesisir, maka potensi kekayaan alam bangsa kita akan terus terjaga untuk bisa dimanfaatkan oleh rakyat kita sendiri dalam bingkai kelestarian sumber daya hayati. Dengan demikian Indonesia akan mampu mewujudkan cita-cita luhurnya dalam mensejahterakan rakyat serta melindungi seluruh tumpah darah Indonesia.

Radar pantai LPTK ketika menerima kunjungan Kepala Basarnas

Radar pantai LPTK ketika menerima kunjungan Kepala Basarnas

Sistem radar pantai

Sistem radar pantai

Sebenarnya Anda Cukup Beruntung Jika Dibandingkan Dengan…

Maret 31, 2013 1 komentar

Kawanku, jika saja seluruh penduduk di bumi ini bisa diwakilkan dengan 100 orang saja, atau seluruh populasi manusia berkurang hingga menjadi sebuah desa berpenduduk hanya 100 orang, seperti apakah profil desa kecil yang heterogen ini?

Ilustrasi

Ilustrasi

Jika seluruh perhitungan rasio kependudukan dianggap masih berlaku, Phillip M. Harter, M.D., seorang Professor  di Fakultas Kedokteran Stanford University Amerika Serikat mencoba menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut. Berikut jawabannya mengenai komposisi 100 jiwa pada desa kecil itu:

  • 57 orang Asia
  • 21 orang Eropa
  • 14 orang berasal dari belahan bumi sebelah barat
  • 8 orang Afrika
  • 52 perempuan
  • 48 laki-laki
  • 80 bukan kulit putih
  • 20 kulit putih
  • 89 heteroseksual
  • 11 homoseksual
  • 6 orang memiliki 59% dari seluruh kekayaan bumi, dan keenam orang tersebut seluruhnya berasal dari Amerika Serikat.
  • 80 orang tinggal di rumah-rumah yang tidak menenuhi standard
  • 70 orang tidak dapat membaca
  • 50 orang menderita kekurangan gizi
  • 1 orang hampir meninggal
  • 1 orang sedang hamil
  • 1 orang memiliki latar belakang perguruan tinggi
  • 1 orang memiliki komputer

Sekarang mari kita renungkan analisa Hartner dan simak hal-hal berikut ini :

  1. Jika anda tinggal di rumah yang baik, memiliki banyak makanan dan dapat membaca — maka anda adalah bagian dari kelompok terpilih dan lebih kaya dari 75% penduduk bumi yang lain.

  2. Jika anda memiliki rumah yang baik, memiliki banyak makanan , dapat membaca, memiliki komputer –maka anda adalah bagian dari kelompok elit.

  3. Jika anda bangun pagi ini dan merasa sehat — anda lebih beruntung dari jutaan orang yang mungkin yang mungkin tidak dapat bertahan hidup hingga minggu ini Baca selanjutnya…

Minggu kedua, Berkunjung Ke Bumi Paradise ~ catatan Roadshow Pendidikan Tinggi 2012 (part 5)

Maret 8, 2012 2 komentar

Kegiatan Roadshow Pendidikan Tinggi 2012 direncanakan digelar tiap minggu dengan mengunjungi masing-masing dua sekolah pada hari jum’at dan sabtu.  Dengan pola seperti itu target delapan sekolah selama satu bulan secara realistis bisa dicapai. Setelah mengunjungi Sanggar dan Tambora pada minggu lalu, tanggal 3 Februari adalah giliran SMAN 1 Parado untuk kami datangi.

Berbeda dengan kegiatan minggu sebelumnya, mengunjungi Parado dan Langgudu  kami hanya menggunakan satu mobil. Sebenarnya kami sudah menyiapkan dua buah mobil untuk berjaga-jaga kalau kebutuhan di hari-H memaksa. Dengan alasan efisiensi berhubung jumlah anggota Team yang berangkat dari Kota Bima ternyata tidak lebih dari delapan orang disamping itu karena sebagian anggota Team Roadshow sudah standbye sehari sebelumnya di Parado dan setelah kegiatan mereka juga akan langsung menuju ke Langgudu untuk kegiatan keesokan harinya (4 Februari) maka kami hanya menggunakan satu mobil kijang kapsul milik dinas Dikpora.  Selain menggunakan mobil, jarak Bima-Parado yang relatif dekat membuat beberapa orang anggota Team mempergunakan tiga buah sepeda motor.

Saya ikut rombongan motor dan start bersamaan dengan rombongan lain. Seumur hidup saya baru kali ini berkunjung ke Parado, jadi navigasi sepenuhnya saya serahkan pada Bagus, boncengan saya yang “katanya” hafal jalan kesana. Rupanya driver dan navigator sama-sama tidak hafal jalan, bertanya pun enggan karena kepedean. Kami berdua baru sadar kalau sudah melenceng 20 km dari jalur semula setelah melihat gerbang selamat datang di Kecamatan langgudu :mrgreen: Sebuah insiden memalukan hahaha… Untunglah kami langsung menerima SMS dari anggota team lainnya yang katanya sudah hampir sampai di tujuan seharusnya, kalau tidak insiden nyasar ini kan keterusan sampai di kecamatan sebelah.

Setelah kembali ke jalan yang benar dan tiba di tujuan yang seharusnya, kami mendapati acara rupanya sudah dimulai. Seremoni pembukaan oleh petinggi sekolah dan ketua panitia menjadi tanda dimulainya kegiatan. Jumlah siswa yang menjadi peserta pada Sekolah Menengah Atas yang baru beberapa tahun berdiri ini adalah sejumlah 50an orang yang tersebar pada dua kelas. Mereka dibimbing untuk menemukan bakat dan minatnya lewat instrumen test psikologi, selanjutnya diberikan motivasi dengan menyajikan tayangan video dan slide yang menggugah semangat belajar dan berusaha. Pada sesi ini didapati beberapa orang siswi mengeluarkan air mata padahal seingat saya video motivasi dari dr. Hidayat yang saya edit tidak sedih-sedih amat, malah musik yang ceria dan semangat saya jadikan latar video (kalau tidak percaya, silahkan cekidot video berikut ini)

Sambil menunggu lembar test diperiksa oleh team fasilitator, peserta diajak untuk mengunjungi satu demi satu kampus-kampus negeri yang ada di Indonesia lewat presentasi kampus. Team Panitia yang kebetulan berasal dari universitas berbeda-beda memberikan presentasi mengenai gambaran umum, fasilitas, biaya pendidikan, biaya hidup, dan banyak hal-hal lainnya pada kampusnya masing-masing . Tidak lupa pula beasiswa Bidik Misi yang menjadi prioritas beasiswa yang direkomendasikan untuk diikuti kami presentasikan sehingga diharapkan selain peserta menemukan jurusan/kampus sesuai dengan minat dan bakatnya mereka akan memiliki motivasi yang lebih untuk bersaing mendapatkan keringanan biaya pendidikan melalui program Bidik Misi. Setelah itu peserta dibimbing oleh fasilitator melakukan proses pengambilan keputusan (decision making) melalui sebuah game outdoor.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Baca selanjutnya…

Binar Harapan Tamborista ~ catatan Roadshow Pendidikan Tinggi 2012 (part 4)

Februari 27, 2012 2 komentar

Perjalanan dari Sanggar yang penuh tantangan dan memanjakan mata selama lebih dari 5 jam membuat badan terasa lelah. Kami menginap di desa Sori Panihi, sebuah desa yang relatif lebih berkembang pesat dibandingkan beberapa desa yang kami lewati dalam perjalanan dari Sanggar. Di rumah bapak wakasek SMAN 1 Tambora itu team melepas lelah dan melakukan sekedar rapat pemantapan untuk esok hari.

Berada di desa Sori Panihi, bagi saya ibarat pulang ke kampung sendiri lantaran ternyata dari sekian ratus kepala keluarga di desa ini rupanya banyak yang berasal dari desa Kendo (kota Bima) dan Ntoke (Kec. Wera Kab. Bima) tempat nenek moyang saya berasal. Tidak sulit bagi saya untuk menemukan keberadaan mereka di desa ini, bahkan beberapa saat setelah saya turun dari mobil dan duduk di sarangge di salah satu kedai dan sekedar berbincang dengan warga setempat, rupanya orang yang saya ajak ngobrol masih terbilang kerabat sendiri. Alangkah sempitnya dunia…

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Pagi hari pukul enam, kami pun bersiap menuju sekolah.  Karena desa itu tidak ada fasilitas listrik dan air bersih, team bergantian mandi. Panitia perempuan mandi di kamar mandi dalam yang airnya harus senantiasa ditimba dari sumur samping rumah, sedangkan yang laki-laki menantang dinginnya hawa Tambora dengan madi di sumur yang terbuka. Semua terlihat lancar dalam ritual antrian mandi pagi, hingga giliran saya yang terakhir mandi dan tiba-tiba  hujan lebat turun dan angin begitu kencang menerpa. Pintu seng yang menjadi pembatas sumur dengan rumah terbang terbawa angin, lalu sekonyong-konyong pohon Singkong besar disamping sumur patah dan rubuh persis di tempat saya mandi. Pengalaman mandi di tempat terbuka, menimba air ditengah gempuran hujan lebat dan angin kencang yang dingin sungguh terasa epic.

Yanti dan Mutia, Team Registrasi

Cuaca pagi Tambora yang kurang bersahabat tidak menyurutkan semangat kami untuk ke sekolah, dengan semangat 45 kami membawa perlengkapan berjalan kaki menuju sekolah yang tidak terlalu jauh itu. Memasang spanduk, memastikan genset siap beroperasi, menyetel LCD (yang kami pinjam dari Sanggar), dan mempersiapkan fasilitator menjadi aktivitas pertama sesampainya kami di sekolah. Sekolah yang sederhana, dengan pemandangan indah pegunungan Tambora berdiri kokoh didepan dan deburan ombak Laut Flores sayup-sayup terdengar dari arah belakang sekolah.  Rumput hijau tumbuh merata diatas lapangan tanah berpasir hitam khas Tambora, menjadi areal yang pasti diidamkan oleh jutaan sapi di pulau ini untuk mencari makan.

Musim hujan menjadi musim libur tak resmi anak-anak Tambora. Bukan karena malas berjalan kaki di tanah becek atau melawan dinginnya angin gunung, tetapi mereka ikut membantu orang-tua mereka berladang di gunung. Desa menjadi sepi, begitu halnya dengan sekolah. Hampir semua jenjang sekolah yang ada di lingkar tambora mengalami musim paceklik murid, seperti sekolah ini yang populasi sapi di sekolah mengalahkan jumlah total murid yang hadir.

Rencananya, menurut laporan awal jumlah siswa kelas tiga yang akan mengikuti kegiatan adalah sejumlah 30 orang namun data dengan fakta di lapangan berkata lain. Sekolah begitu lengang, hingga pukul delapan pagi siswa kelas tiga yang tercatat  meja registrasi hanya mencapai belasan orang. Setelah team bersepakat dengan guru, kami menyertakan seluruh siswa yang hadir hari itu (termasuk kelas 1 dan 2) untuk menjadi peserta hingga jumlah total peserta Roadshow Pendidikan Tinggi hari itu mencapai angka 37 orang. Baca selanjutnya…

Menapaki Lingkar Utara Tambora ~ catatan Roadshow Pendidikan Tinggi 2012 (3)

Februari 17, 2012 4 komentar

Seusai menggelar kegiatan Roadshow Pendidikan Tinggi di SMAN 1 Sanggar pada hari jumat, menjelang sore kami melajutkan perjalanan menuju Kecamatan Tambora. Di kecamatan yang paling jauh dari pusat kota inilah lokasi kedua yang akan kami datangi dalam rangkaian Roadshow di delapan sekolah kepanitiaan bersama Komunitas Jalan setapak dan Pengajar Muda dari Gerakan Indonesia Mengajar.

Pada perjalanan menuju Tambora ini baru kami mengakui ketajaman feeling Mr. dedi dalam memprediksi kebutuhan kendaraan (untuk mengangkut 15 orang dengan barang-barang yang banyak) ketika Team yang berangkat dari kota Bima bergabung dengan Team Tambora yang standbye di Sanggar (Kalau dalam inventory bakat, Mr. dedi ini sepertinya bertipe Generated Idea).

Perjalanan menuju Tambora menempuh waktu sekitar 5 jam, dengan melewati medan yang cukup berat. Mesin mobil meraung-raung menapaki tanjakan jalan berbatu dan penuh pasir khas sabana. Penampakan alam tambora begitu eksotis, mengingatkan saya pada sabana afrika yang sering muncul di TV. Terkadang satwa liar melintasi jalan di depan kami, mulai dari sapi dan kerbau yang dilepas-liar di padang rumput, kuda liar yang tersohor dengan produk susu kuda liarnya, beberapa ekor ayam hutan yang menggoda kami untuk menangkap (padahal mustahil untuk ditangkap), dan pada malam hari seekor kijang tersorot lampu mobil sedang menyebrang jalan. Pada hal terakhir sebagian anggota Team khususnya yang terkenal sebagai Sando Lambu, sepakat kalau itu penampakan mistis… hii syerem.

Kuda liar Tambora

Jalur lingkar utara yang melewati Kore, Boro, Piong, Kawinda Toi, katupa, Kawinda Nae, Labuhan Kenanga itu secara umum dalam kondisi buruk. Selepas dari Piong, kami melewati jalan tanah berpasir dengan perkerasan sehingga bisa dilalui dengan kecepatan sedang, terkadang kami mendapati jalan aspal yang terpotong-potong oleh lintasan banjir gunung, dan mayoritas jalan yang terlalu offroad untuk dilalui mobil berjenis city car. Yang paling berbahaya pada perjalanan kali ini adalah jalur yang sedang dilakukan perbaikan, dimana hampir semua jembatan di sepanjang jalur sedang dibangun sehingga pada saat melewati jembatan mobil harus mengambil jalur di kanan/kiri jembatan. Ulah kontraktor proyek jembatan yang tidak memasang rambu/penanda jembatan rusak membuat mobil kami yang sedang bergerak dengan kecepatan lumayan tinggi beberapa kali hampir disate, terperangkap dalam besi/baja cor jembatan yang sedang dibangun. Baca selanjutnya…

Sanggarista, Here we Come! ~ Roadshow Pendidikan Tinggi 2012 (2)

Februari 17, 2012 1 komentar

So far, perjalanan Kota-Bima menuju Sanggar terbilang lancar tanpa hambatan. Kekhawatiran mobil bergincu dihadang oleh demonstran di jalan jauh dari kenyataan. Satu-satunya alasan kami berhenti di jalan adalah karena salah satu anggota team ternyata Jack Pot (mabuk perjalanan –red) cukup parah. Pertama kami harus berhenti di Desa O’o Dompu dan yang kedua kali terpaksa harus berhenti lagi di tengah ladang jagung Desa Lanci, singgah di kedua tempat ini tidak disia-siakan oleh team untuk sekedar beristirahat sejenak sambil foto-foto narsis.

Kami memasuki desa Kore Kec. Sanggar pada pukul 19.00 dan finish di kediaman Pak Enco Sukarsa, Wakasek SMAN 1 Sanggar. Di rumah Pak Enco sudah menunggu sebagian Team yang datang dari Tambora sejak sore hari (Bagus, Beryl, Sally, dan Habib) dan beberapa adik-adik OSIS yang akan menjadi co-fasilitator yang akan banyak membatu pelaksanaan kegiatan esok hari. Malam hari itu diisi dengan breafing Team dengan co-fasil serta memenuhi jamuan dari tuan rumah.  makan-makan besar.

Malam itu ternyata jamuan makan-makan besarJ tidak hanya di rumah Pak Enco, di rumah Pak Edi yang menjadi basecamp Team cowok kembali kami disuguhi bebek bakar yang sungguh menggugah selera. Walhasil anak-anak pun tidur dengan full tankkwkwkw. Saya sendiri masih memiliki tugas menyelesaikan editing video profil motivasi yang akan diputar secara perdana esok pagi, jadi praktis waktu istirahat dipergunakan untuk begadang di depan netbook sampai saya tepar pada pukul 4.45 subuh.

Waktu menunjukkan hampir pukul enam pagi, ketika saya terbangun karena team yang lain ternyata sudah siap dengan kostum dan perlengkapannya untuk ke sekolah. Waktu satu setengah jam cukuplah bagi saya untuk me-recharge energi dan langsung beranjak ke kamar mandi. Eh, ternyata hidangan makan pagi sudah siap di ruangan tengah, terpaksa jadwal mandi diulur sampai saya sarapan bersama tuan rumah dan anggota team yang lain. Good Morning Sanggar, Are you ready to Rock???

Perhelatan perdana Roadshow di SMAN 1 Sanggar ini dilangsungkan di lapangan basket sekolah. Sebuah terop sudah berdiri dengan panggung utama yang ternyata dilengkapi dengan seperangkat organ. Secara sepintas kita seperti sedang berada di tengah acara dangdutan sebuah hajatan kawinan, tarik maaaang!!!!

Acara pembukaan  terasa normal sampai kami menyadari ternyata listrik mati ditengah sambutan Bapak Kepala UPT. Di belahan barat Kabupaten bima belakangan ini sedang fakir listrik, konon dalam sehari mati listrik melebihi jadwal minum obat, “bisa 4 atau bisa juga 8 kali sehari” kata salah seorang guru di SMAN 1 Tambora. Karena kegiatan yang sangat bergantung pada supply listrik, para guru akhirnya berhasil menyiapkan sebuah genset yang menjadi penyambung nyawa acara. Sebenarnya miris melihat sekolah yang berdiri di depan kantor PLN cabang Sanggar ini mati lampu, tapi mau gimana lagi… Ini Indonesia Bung!!! Baca selanjutnya…