Beranda > Pantai > Bencana Ekologis Menanti Sail Komodo 2013

Bencana Ekologis Menanti Sail Komodo 2013

Medio bulan September ini Indonesia khususnya pada wilayah Kepulauan Nusa Tenggara disibukkan dengan berbagai even akbar internasional. Sebut saja pegelaran Miss World 2013 dan APEC Summit di Pulau Dewata Bali juga kegiatan maritim ‘Sail Komodo 2013’ yang puncaknya dipusatkan di Labuan Bajo Provinsi NTT.

Bangkai Penyu (ilustrasi)

Bangkai Penyu (ilustrasi)

Terlepas dari kepentingan promosi pariwisata yang akan mengangkat nama Pulau Komodo di mata dunia, even yang terakhir disebutkan tidak ayal akan menyisakan permasalahan ekologis yang semestinya diantisipasi oleh pemerintah dan penyelenggara acara.

Berkaca pada kegiatan yang sama, Visit Takabonerate yang pernah penulis ikuti di gugusan kepulauan Bonerate-Selayar (Sulsel) pada akhir tahun 2010, Sail Komodo dikhawatirkan akan mengulang sebuah kesalahan yang sama.

Even berskala nasional tiga tahun lalu yang menjadi agenda tahunan Gubernur Sulsel itu melibatkan kapal perang KRI Surabaya. Pasca seluruh rombongan bertolak pulang usai kegiatan sehari itu, terpantau oleh panitia lokal kematian bagi sejumlah biota laut di sekitar wilayah beraktivitasnya para ‘tamu’.

Yang terlihat paling mencolok, panitia lokal melaporkan empat bangkai penyu terapung di pantai sekitar Pulau Rajuni. Penyu-penyu malang itu didapati mati sepanjang jalur lintas menuju Selayar. Diperkirakan masih banyak kasus kematian fauna lainnya pasca ‘pesta besar’ itu.

Pulau terbesar di gugusan Spermonde itu telah lama dikenal sebagai habitat alami penyu yang dilindungi keberadaannya berdasarkan Undang-Undang. Hilir-mudiknnya kapal besar, sekoci, dan kendaraan amphibi pengangkut personil (LPD) milik TNI AL ditengarai menyebabkan fauna-fauna itu menemui ajalnya. Terkena baling-baling kapal dan stress akibat meningginya aktivitas manusia di laut memang menjadi musuh penyu dewasa ini.

Berkaca dari hal tersebut, penyelenggara kegiatan Sail Komodo 2013 harusnya mengantisipasi datangnya bencana ekologi akibat kematian fauna laut. Apalagi jika dibandingkan dengan ‘kasus Takabonerate’ yang saat itu hanya satu KRI yang dikerahkan, tahun ini sekitar wilayah perairan Selat Sape dan kepulauan Komodo akan dilintasi tak kurang dari 25 kapal angkatan laut berbagai jenis dan ukuran. Tentunya hal ini akan berpotensi menimbulkan ‘bencana ekologi’ yang luas mengingat kawasan tersebut termasuk wilayah konservasi yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi.

Diperlukan kesadaran dan ketegasan panitia serta pemerintah agar bisa meminimalisir kematian hewan serta terganggunya ekosistem laut dan daratan. Pastinya kita semua tidak mengharapkan ‘pesta’ senilai 11 Miliar Rupiah itu hanya menyisakan kerugian lingkungan yang nyata-nyata jauh dari harapan atas pelaksanaan kegiatan.

  1. September 14, 2013 pukul 3:35 pm

    Nice blog, smoga mendapat perhatian yg lebih serius dr pemerintah terkait.

    • September 14, 2013 pukul 3:56 pm

      Teriimakasih dek Niken. Maaf tulisannya masih acak-acakan, saya tulis pakai HP soalnya😀

  2. irsal
    September 14, 2013 pukul 3:52 pm

    Betul sekali, harusnya kawasan perairan konservasi bebas dari pelayaran kapal besar dan aktivitas berlebih manusia. Keep writing, saya suka tulisan anda

    • September 14, 2013 pukul 3:57 pm

      Terimakasih bung Irsal, masih belajar juga…

  3. September 15, 2013 pukul 2:24 am

    ternyata😦

  4. Maret 14, 2014 pukul 3:40 pm

    ngeri banget ya… hanya melihat pada keuntungan dan manfaat, masalah kerusakan ekologis masuk prioritas sekian ratus….

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: