Everyone wants to live on top of the mountain, but all the happiness and growth occurs while you're climbing it...! Sudahkah Anda membaca Berita Bima Hari Ini?

Sebenarnya Anda Cukup Beruntung Jika Dibandingkan Dengan…

Maret 31, 2013 1 komentar

Kawanku, jika saja seluruh penduduk di bumi ini bisa diwakilkan dengan 100 orang saja, atau seluruh populasi manusia berkurang hingga menjadi sebuah desa berpenduduk hanya 100 orang, seperti apakah profil desa kecil yang heterogen ini?

Ilustrasi

Ilustrasi

Jika seluruh perhitungan rasio kependudukan dianggap masih berlaku, Phillip M. Harter, M.D., seorang Professor  di Fakultas Kedokteran Stanford University Amerika Serikat mencoba menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut. Berikut jawabannya mengenai komposisi 100 jiwa pada desa kecil itu:

  • 57 orang Asia
  • 21 orang Eropa
  • 14 orang berasal dari belahan bumi sebelah barat
  • 8 orang Afrika
  • 52 perempuan
  • 48 laki-laki
  • 80 bukan kulit putih
  • 20 kulit putih
  • 89 heteroseksual
  • 11 homoseksual
  • 6 orang memiliki 59% dari seluruh kekayaan bumi, dan keenam orang tersebut seluruhnya berasal dari Amerika Serikat.
  • 80 orang tinggal di rumah-rumah yang tidak menenuhi standard
  • 70 orang tidak dapat membaca
  • 50 orang menderita kekurangan gizi
  • 1 orang hampir meninggal
  • 1 orang sedang hamil
  • 1 orang memiliki latar belakang perguruan tinggi
  • 1 orang memiliki komputer

Sekarang mari kita renungkan analisa Hartner dan simak hal-hal berikut ini :

  1. Jika anda tinggal di rumah yang baik, memiliki banyak makanan dan dapat membaca — maka anda adalah bagian dari kelompok terpilih dan lebih kaya dari 75% penduduk bumi yang lain.

  2. Jika anda memiliki rumah yang baik, memiliki banyak makanan , dapat membaca, memiliki komputer –maka anda adalah bagian dari kelompok elit.

  3. Jika anda bangun pagi ini dan merasa sehat — anda lebih beruntung dari jutaan orang yang mungkin yang mungkin tidak dapat bertahan hidup hingga minggu ini Baca selanjutnya…

Inilah Realitas Kabanta, Terimakasih Telah Terus Terjaga

Januari 21, 2013 7 komentar

Kontur daerah Bima bervariasi, deretan gunung dan bukit menjulang dengan dikelilingi laut yang indah tentunya bukan tempat yang mudah untuk ditelusuri. Dengan medan yang begitu rupa, keasrian dan kecantikan pemandangan alam akan terjaga sekaligus kehidupan masyarakat setempat juga tersisihkan pembangunan akibat sulitnya akses mereka menuju dunia luar. Ironis bukan? tetapi inilah uniknya Bima….

Perjalanan kami pada hari Kamis (17/1/2013) membawa aku mendatangi beberapa puncak yang menawan di Kota dan Kabupaten Bima. Rencanaku dan Dedi hari itu adalah membawa dua orang crew Trans7, presenter program Indonesiaku Miladia Rahma (Mila) dan Gion sang kameramen untuk melakukan liputan di sejumlah tempat diantaranya: Kabanta, Wawo, dan Donggo.

Mereka ingin mengangkat potret masyarakat terpencil dalam programnya, dan hari sebelumnya kami sudah selesai dengan liputan masyarakat nelayan di Songgela dan para pemecah batu di Kelurahan Waki Kota bima.

Kabanta, Puncak Pertama

Menuju tempat pertama, kami harus banyak melakukan perencanaan. Akses jalan mendaki dengan bebatuan dan lumpur menjadi tantangan tersendiri yang sudah kami prediksi sebelumnya. Aku pun menyarankan tim meninggalkan mobil Toyota Avanza yang sejak hari pertama dipakai meliput di Kota Bima.  Mobil diparkir rapi di Kelurahan Kendo, tempat ‘beraspal bagus’ terakhir sebelum Kabanta, sedangkan kami berempat menggunakan sepeda motor.

Kami harus berangkat pagi, bersama rombongan guru-guru MIN Al-Ikhlas yang ‘ikhlas’ menjadi host kami. Mereka bergabung dengan kami di tanjakan pertama, sekitar 3 km arah selatan Kendo. Sepertinya sedari pagi mereka sudah menunggu rombonganku yang suka kesiangan… 🙂

Saya membonceng Mila, sementara Dedi melaju bersama Gion dan ransel besar berisi kamera di punggungnya. Sementara rombongan guru-guru MTS dan penduduk setempat itu telah menghilang dari pandangan. Mesin sepeda motorku meraung keras di tanjakan menuju Kabanta pada pukul 7.15 pagi itu. Karena beberapa ratus meter telah diaspal, jalur terjal pertama itu mudah saja kami lewati.

Medan selanjutnya menjadi lebih menantang, batu-batu seukuran kepalan jari berserakan sepanjang lintasan yang mendaki itu. Terkadang pula kami harus rela bergesekan dengan semak, melaju di pinggir jalan akibat jalur tengah berlumpur atau terhadang batu besar.

Sepanjang perjalanan kami disuguhkan dengan pemandangan yang memukau mata. Hijaunya bukit-bukit dimusim penghujan seakan mengapus penat kami seketika. Dinamika warga setempat yang menuju huma dan ladang, pria-pria beruban yang memikul dua jerigen air, dan ibu-ibu yang menjunjung benih padi di sepanjang perjalanan menambah warna rute kami.

Dan karena skill berkendara ku cukup akrab dengan medan seperti itu, sekitar 20 menit kemudian tibalah kami di Kabanta.

suasana kelas MTS Al-Ikhlas Kabanta kota Bima

Selamat datang di Kabanta Kota Bima

suasana kelas MTS Al-Ikhlas Kabanta kota Bima

Aktivitas sampingan ibu-ibu warga Kabanta

Inilah realitas, terimakasih telah terus terjaga

suasana kelas MTS Al-Ikhlas Kabanta kota Bima

Kondisi sekolah MTS Al-Ikhlas Kabanta kota Bima

Awalnya aku mengira sekolah kecil di muka kampung itu yang akan kami tuju. “Kondisinya cukup bagus, kelasnya bertembok semen dan beberapa lokal tengah dibangun,” pikirku. Rupanya aku harus menarik kata-kataku setelah rombongan yang berjalan kaki masuk kampung lalu memutar ke arah belakang sekolah yang kumaksud yang rupanya bangunan sekolah SDN itu… Baca selanjutnya…

Sejarah Bima: Hikayat Indra Zamrud dan Indra Kumala

Januari 1, 2013 2 komentar

Syahdan, berdasarkan legenda yang sekian lama hidup ditengah masyarakat Dana Mbojo (Suku Bima, red), cikal bakal berdirinya kerajaan Bima adalah dimulai dengan kedatangan Sang Bima, tokoh Kerajaan Majapahit yang melakukan perjalanan ke daratan di ujung timur pulau Sumbawa.

Pada saat menginjakkan kaki di Dana Mbojo, belum terbentuk kerajaan besar. Sang Bima lah yang dikatakan telah mempersatukan seluruh Ncuhi, Kepala Suku yang berkuasa di beberapa wilayah seluas wilayah kecamatan yang ada sekarang. Secara musyawarah, konfederasi para Ncuhi itu menunjuk dan mengangkat Sang Bima untuk menjadi pemimpin Dana Mbojo.

Wadu Paa, ukiran di dinding batu di Soromandi yang dikatakan menjadi bukti sejarah kehadiran Sang bima di Dana Mbojo.

Wadu Paa, ukiran di dinding batu di Soromandi yang dikatakan menjadi bukti sejarah kehadiran Sang bima di Dana Mbojo.

Lanjut legenda itu, Sang Bima tak lantas mengiyakan permintaan konfederasi para Ncuhi yang dipimpin oleh Ncuhi Dara itu. Ia menjanjikan bahwa kelak akan datang anak keturunannya yang ia utus untuk mewujudkan harapan Dou Mbojo tentang kepemimpinan yang menyatukan seluruh Dou Labo Dana (segenap warga, wilayah dan tumpah darah Bima).

Menurut legenda, Sebelum mencapai daratan Dana Mbojo, Sang Bima pertama kali berlabuh di pulau Satonda, kemudian melihat dengan seekor naga bersisik emas. Akibat tatapan Sang Bima, maka hamil lah naga itu dan melahirkan seorang putri dan kemudian diberi nama putri Indra Tasi Naga. Alkisah, Sang Bima yang melakukan perjalanan kembali ke Jawa itu ketika singgah di Pulau Satonda jatuh hati dan menikahi putri Indra Tasi Naga yang merupakan anaknya sendiri. Pernikahan itu menghasilkan dua orang putra yang diberi nama Indra Zamrud dan Indra Kumala.

Kedatangan Indra Zamrud dan Indra Kumala kecil ke Dana Mbojo sebelumnya telah di nubuwat (diramalkan) oleh ayahandanya, Sang Bima. Kepada para Ncuhi itu, pemimpin Dana Mbojo akan datang dengan berupa sebatang bambu yang dibawa oleh arus laut dan ombak pantai. Demikianlah menurut cerita, terdapatlah sebatang bambu dengan dua ruas yang terdampar di pantai Teluk Cempi – Dompu. Dari bambu tersebut, terdengarlah tetabuhan yang mengalun, bertanda itu bukan bambu biasa.

Sepasang Ompu dan Wai (nenek dan kakek) yang berdiam tak jauh dari tempat bambu itu terdampar tertarik oleh suara tetabuhan dari bambu itu. Karena rasa penasarannya, dibelahnya bambu itu menjadi dua. Ajaibnya, dari dua ruas bambu itu, keluarlah dua orang anak lelaki yang begitu baik dan elok parasnya. Mereka Indra Zamrud dan Indra Kumala pun diangkat menjadi anak oleh Ompu dan Wai tersebut.

Dari Dompu, kemudian kedua orang anak itu lalu dibesarkan di Bima, tempat yang diperintahkan oleh ayahnya, Sang Bima. Setelah tinggal beberapa lama di Gunung Parewa, mereka tinggal di bukit Londa. Semua Ncuhi di daerah itu, terutama Ncuhi Dara dan Ncuhi  Padolo datang untuk menjemput dan memohon mereka menjadi raja Dana Mbojo. Dengan demikian, tinggallah mereka berdua di wilayah Ncuhi Padolo, di bagian barat Kota Bima sekarang.

Tak lama berselang, Ncuhi Doro Wuni yang mengepalai para Ncuhi di bagian timur meminta kepada rapa Ncuhi wilayah barat agar salah satu anak tersebut diasuh di wilayahnya. Dengan demikian Indra Zamrud diasuh oleh Ncuhi Bagian Timur yaitu Ncuhi Doro Wuni yang berdiam di bagian timur yang secara geografis merupakan pegunungan, sedangkan saudaranya Indra Kumala dibesarkan dalam asuhan Ncuhi yang memegang wilayah pesisir barat Dana Mbojo.

Perselisihan Antara Dua Saudara

Kedua saudara yang dibesarkan dengan latar belakang yang berbeda ini bukannya tanpa cobaan. Watak keduanya yang berbeda akibat perbedaan pola asuh dan latar belakang tempat mereka dibesarkan menjadi masalah tersendiri.

Alkisah, Indra Kumala yang dibesarkan oleh Ncuhi Dara dan Ncuhi Padolo gemar mengail ikan, karena itu oleh kedua bapak angkatnya ia diberikan sebuah kail emas yang kerap ia gunakan memancing. Sedangkan Indra Zamrud yang gemar bertani oleh ayahnya diberikan tempat bibit berupa tempurung kelapa yang terbuat dari emas.

Suatu waktu, Indra Zamrud yang berkunjung ke kediaman kakaknya di pesisir bermaksud meminjam kail emas milik Indra Kumala. Permintaan itu dikabulkan dengan syarat adiknya itu harus berhati-hati menggunakannya karena kail emas itu sangat penting artinya bagi Indra Kumala.  Ia pun menerima kail itu dan memancing di Tanjung Tonggohala, suatu tempat di dekat Kota Bima. Baca selanjutnya…

Resolusi 2013 Ala Rhakateza

Desember 31, 2012 1 komentar

23:58 PM, terhitung dua menit lagi jam di komputerku akan kembali ter-reset ke angka 00.00 menuju hari baru tertanggal 31 Desember 2012. Aku berharap bisa menulis lebih lama, hingga menyambut datangnya hari terakhir dalam penanggalan tahun ini dengan menulis di blog yang semakin jarang ku lirik ini.

newyearfireworks

Melepas Tahun 2012

Dalam postingan pengujung tahun ini aku hanya ingin melakukan sedikit review perjalanan kehidupanku selama tahun yang katanya menjadi tahun terakhir dalam siklus kalender Suku Maya. Ada banyak tonggak-tonggak sejarah penting (subjektif) yang dipancangkan pada tahun ini.

Di bidang karir, banyak pencapaian-pencapaian penting yang telah ku raih, kendati tidak signifikan dalam menolong napas dompet yang tetap aja kembang kempis. Banyak job-job kecil yang mutlak harus ku syukuri, banyak planning yang sukses tereksekusi walaupun lebih banyak lagi yang betah tidur dalam ruang mimpi. Ada kebebasan berkarya untuk kaum sanguin,  yang mesti disyukuri.

Dibalik dinamika psikologi, suhu kantong, dan anomali cuaca yang unik di Kota Kelahiranku, aku bersyukur tahun ini tidak pernah merasakan hambatan dalam hal kesehatan. Satu-satunya gangguan kesehatan yang kualami selama tahun ini adalah serangan flu ringan yang berlangsung hanya sehari. Alhamdulillah dan semoga bisa dipertahankan. Baca selanjutnya…

Pemerintah, Berkat Togel Program Bebas Buta Aksara Berhasil

Oktober 13, 2012 4 komentar

Saya kaget sampai terkoprol-koprol hari itu, melihat La Hasa dan La Duru (sebut saja namanya begitu). Keduanya kudapati sedang duduk di salah satu pos jaga di dekat rumah. La Hasa terlihat sedang mengoret-oret kertas sedangkan La Duru dengan antusias dan sedikit tak sabaran menanti temannya itu selesai menulis.

Rasa heran saya datangnya dari track record mereka berdua. La Hasa seingatku tidak pernah makan bangku SD (menurutnya kurang enak kali yah?).  Di usianya yang mendekati 30 tahun saya tidak pernah tahu kalau dia bisa baca-tulis, bahkan di kampungku dia tak jarang jadi bahan olok-olokan gara-gara buta huruf.

Samar-sama yang saya tangkap dari pembicaraan mereka, ada beberapa istilah ilmiah yang terucap. “Ekor naga bercabang dua, katanya tuh Hasae,” ujar La Duru. “E.. bukan Durue, itu angka mati,” kata La Hasa menimpali. Setelah beberapa saat ku berpikir, jelaslah apa yang menjadi objek fokus diskusi mereka hari itu. Keduanya ternyata sedang meriset angka-angka ramalan togel yang akan keluar besok hari.

Saya berpikir, alangkah hebatnya togel, bisa menyulap orang buta huruf jadi melek dengan abjad dan angka. La Hasa yang dulu mendadak rabun kalau disuruh membaca, hari itu begitu lincah menulis untaian angka. Nafsu ingin mendapatkan uang banyak dengan cara instant telah memaksa mereka bisa menulis dan membaca, minimal angka-angka.

Ramalan togel SGP bedah syair? Wedehel…!!

Sepertinya pemerintah kita harus mengevaluasi sistem pendidikan dan pengajaran yang selama ini digalakkan untuk memberantas buta huruf. Bentuk pendidikan formal (setengah memaksa) dengan sistem kelompok belajar paket A (Kejar Paket A) atau program lain yang terkait ABINO (Angka Buta Huruf Nol) saya pikir harus dirombak total kurikulumnya. Bagaimana kalau unsur pendidikan togel juga dimasukkan dalam kurikulum? Saya yakin akan lebih banyak orang-orang yang notabene buta huruf secara sukarela mendaftar untuk mendapatkan ilmu. Kwkwkkww… Baca selanjutnya…

Pusing, Dashboard WordPress.com yang baru bikin pusing!

Oktober 12, 2012 2 komentar

Kaget lihat tampilan posting page di dashboard wordpress yang baru begitu berbeda. Setelah nulis banyak, eh ternyata kaget lagi gegara  page gak sengaja  keganti dan lalu tulisan yg sudah hampir satu buku itu hilang dari peredaran. Rupanya gak ada tombol save dan autosave nya pemirsah….

Rupanya sudah terlalu lama saya tinggalkan blog ini sampe² gak apdet dengan perubahannya…

Bukannya saya mau curhat ala ababil di fesbuk, tapi iya sih emImejeng curhat ini namanya… :p

 

 

Hari Kemerdekaan Indonesia

Agustus 17, 2012 1 komentar

Hari Kemerdekaan Indonesia!

Hari Kemerdekaan Indonesia

Hari Kemerdekaan Indonesia, sebuah doodle dari Google.co.id

Sebuah pekik yang mewakilkan semangat rakyat indonesia yang terbebas dari belenggu penjajahan pada pertengahan bulan ini terdengar lagi. Sejak 67 tahun yang lalu saat dwitunggal Soekarno-Hatta memploklamirkan kemerdekaan negara di Jakarta, 17 Agustus selalu diidentikkan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia, hari untuk mengingat berdirinya tonggak bangsa ini. Namun belakangan pekik merdeka seakan berkurang kesakralannya, renungan serta upacara peringatan hanya terkesan sebagai seremonial belaka. Masih pentingkah memperingati hari kemerdekaan? ataukah sejatinya memang kita belum merdeka?

Tak dapat dipungkiri, dalam sejarah bangsa ini, kemerdekaan sebagai sebuah negara telah berhasil kita wujudkan pada tahun 1945. Namun lebih dari itu, kemerdekaan bangsa dari penjajahan itu harusnya bisa mengantarkan rakyat Indonesia ke dalam dunia yang merdeka pula. Bangunan Kemerdekaan Indonesia, seharusnya bisa melindungi rakyat dari penindasan yang dilakukan oleh bangsa lain maupun oleh sesama anak bangsa sendiri.

Apabila prinsip terlepasnya belenggu bangsa lain terhadap sebuah negara dijadikan ukuran sebuah kemerdekaan, maka Indonesia belum bisa dikatakan telah merdeka. Penjajahan bangsa asing terhadap negara kita masih terus terjadi hingga sekarang, baik secara ekonomi, politik, maupun ideologi. Tak terhitung harta simpanan kekayaan bangsa yang secara kepemilikan merupakan milik rakyat yang habis dirampok dan dinikmati sendiri oleh pihak asing. Perampokan ‘legal’ ini nyatanya direstui oleh segelintir orang yang mengendalikan arah kebijakan negara ini, sementara rakyat terusir dari tanah dan airnya sendiri dan dipaksa sadar maupun tidak untuk hidup seadanya sambil menyaksikan negara-negara lain berpesta pora menikmati setiap jengkal tanah kita yang kaya.

Bukan menjadi rahasia umum jika setiap kebijakan yang dihasilkan oleh penguasa negara ini merupakan titipan dari pihak asing. Swastanisasi BUMN yang menguasai sektor-sektor vital negara seperi migas, industri dasar, perkebunan dan kehutanan merupakan indikasi kuat keberpihakan penguasa ini terhadap kepentingan asing. Presiden sebagai pemegang kekuasaan tertinggi terkesan didikte dan menjadi budak kapitalisme negara-negara adidaya. Pada saat seperti inilah, ketegasan hati dan kemandirian ideologis seorang Ir. Soekarno dan  Drs. Moh. Hatta menjadi begitu dirindukan.

Arah kebijakan yang merampas hak hidup seseorang maupun sekelompok kaum dari tanah dan airnya inilah yang menjadi ciri ketidak-merdekaan Indonesia. Merdeka adalah keleluasaan menentukan pilihan hidup tanpa ada rasa ketakutan, tekanan dan paksaan. Kemerdekaan diikuti dengan pengakuan adanya kemerdekaan yang sama pada diri orang atau pihak lain. Seseorang yang merasa merdeka tetapi merampas kemerdekaan orang lain pada hakikatnya ia belum merdeka. Karena biasanya perilaku merampas, merampok, dan memaksakan kehendak itu adalah ciri-ciri dari kekurangan, keterikatan dan ketergantungan orang pada hal atau pihak lain. Artinya orang itu belumlah merdeka dalam arti yang sebenarnya.

Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia!