Beranda > Teknologi > Menjaga Laut Kita Dengan Teknologi

Menjaga Laut Kita Dengan Teknologi

Illegal fishing dewasa ini telah menjadi masalah serius bagi sejumlah negara, khususnya negara-negara pantai dan kepulauan. Indonesia yang terdiri dari 13 ribu pulau tengah giat menjaga laut dan samuderanya dari penjarahan hasil laut dari bangsa-bangsa lain.

Pada tahun 2014, tercatat kerugian Indonesia akibat aktivitas illegal di laut terutama pencurian ikan mencapai angka Rp 240 triliun. Jumlah itu diyakini masih jauh dari gambaran sebenarnya, karena penjarahan besar-besaran kekayaan Indonesia yang harusnya dimanfaatkan untuk membangun bangsa dan negara ini berlangsung secara sembunyi-sembunyi .

Dibawah kepemimpinan Presiden RI Joko Widodo, upaya mencegah kehilangan potensi kekayaan negara ini menjadi fokus utama arah kebijakan pemerintah. Kementerian Kelautan dan Perikanan RI sebagai stakeholder bidang kelautan dan perikanan menyatakan perang terbuka terhadap para pelaku illegal fishing. Upaya pemberantasan illegal fishing pun dilakukan secara massive dengan melakukan pengawasan, penangkapan, dan penenggelaman terhadap banyak kapal ikan asing yang terbukti melakukan pelanggaran dengan secara sembunyi-sembunyi menangkap ikan di dalam wilayah perairan kita.

Namun luasnya perairan kita menjadi sebuah masalah tersendiri dalam upaya penegakan kedaulatan atas pemanfaatan sumber daya kelautan. Wilayah laut Indonesia seluas 20 juta km² hanya dijaga oleh 31 unit kapal pengawas. Kapal-kapal pengawas itu setiap hari melakukan pengawasan pada titik-titik utama yang dicurigai menjadi jalur keluar masuk kapal ikan asing. Praktis ada banyak blank spot khususnya pada wilayah-wilayah perbatasan laut yang tidak mendapatkan pantauan dan pengawasan petugas.

Tampilan radar pantai LPTK yang diaplikasikan dalam area konservasi

Tampilan radar pantai LPTK yang diaplikasikan dalam area konservasi

Di berbagai negara maju, pengawasan teritorial laut dari illegal fishing tidak hanya melibatkan armada-armada pengawasan konvensional. Teknologi multi-satelit untuk melacak posisi dan pergerakan armada kapal terbukti efektif dalam menjawab tantangan pengawasan laut pada area yang luas. Basis data objek-objek yang terindikasi sebagai kapal-kapal ilegal tersebut kemudian akan menjadi modal awal bagi jajaran armada pengawas dalam merancang serta melaksanakan operasi penegakkan hukum pemberantasan illegal fishing yang efektif dan efisien.

Kementerian Kelautan dan Perikanan sejak tahun 2014 telah memanfaatkan teknologi satelit untuk pengawasan laut. Penggunaan teknologi radarsat, satelit khusus untuk pengidentifikasi objek-objek tertentu itu telah berhasil meningkatkan jumlah kapal ilegal yang berhasil ditangkap khususnya untuk wilayah-wilayah yang jauh dari pangkalan kapal pengawas. KKP juga mengembangkan sistem pemantauan kapal perikanan dengan berbasis transponder kapal atau yang lebih dikenal sebagai Vessel Monitoring System (VMS). Dengan memasang ‘pelacak’ pada kapal-kapal ikan legal, maka citra kapal-kapal yang tertangkap oleh teknologi satelit akan dapat difilter untuk membedakan jenis dan status perijinan kapal yang beroperasi di dalam wilayah perairan kita.

Selain kedua teknologi yang sudah diterapkan tersebut, untuk meningkatkan akurasi dan keragaman data kapal, KKP perlu mengintegrasikan ragam teknologi lainnya ke dalam sistem. Auto Identification System (AIS) yang juga berbasis transponder telah lama diaplikasikan untuk kapal-kapal barang dan penumpang atau kapal-kapal lainnya yang melakukan pelayaran lintas negara dan benua.

Untuk pengawasan yang lebih intensif, pembangunan stasiun radar maritim sudah selayaknya digiatkan di sejumlah titik. Perairan konservasi seperti Taman Nasional Laut (TNL) dan juga beberapa titik-titik terluar Indonesia yang selama ini menjadi jalur lalu-lalangnya kapal-kapal ilegal harus mendapatkan pengawasan ekstra dengan memanfaatkan teknologi radar. Ini dilakukan mengingat besarnya potensi ekonomi, ekologi, dan kepentingan kedaulatan negara yang harus dijaga pada kawasan tersebut.

Keterkaitan antar teknologi pemantauan: satelit, VMS, AIS, dan radar pantai diyakini oleh banyak pihak akan mampu memberikan peran serta yang besar dalam upaya pemberantasan illegal fishing. Tentunya seiring peningkatan kemampuan pengawasan laut dan pesisir, maka potensi kekayaan alam bangsa kita akan terus terjaga untuk bisa dimanfaatkan oleh rakyat kita sendiri dalam bingkai kelestarian sumber daya hayati. Dengan demikian Indonesia akan mampu mewujudkan cita-cita luhurnya dalam mensejahterakan rakyat serta melindungi seluruh tumpah darah Indonesia.

Radar pantai LPTK ketika menerima kunjungan Kepala Basarnas

Radar pantai LPTK ketika menerima kunjungan Kepala Basarnas

Sistem radar pantai

Sistem radar pantai

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: