Arsip

Archive for the ‘MBOJO BIMA’ Category

Sejarah Bima: Hikayat Indra Zamrud dan Indra Kumala

Januari 1, 2013 2 komentar

Syahdan, berdasarkan legenda yang sekian lama hidup ditengah masyarakat Dana Mbojo (Suku Bima, red), cikal bakal berdirinya kerajaan Bima adalah dimulai dengan kedatangan Sang Bima, tokoh Kerajaan Majapahit yang melakukan perjalanan ke daratan di ujung timur pulau Sumbawa.

Pada saat menginjakkan kaki di Dana Mbojo, belum terbentuk kerajaan besar. Sang Bima lah yang dikatakan telah mempersatukan seluruh Ncuhi, Kepala Suku yang berkuasa di beberapa wilayah seluas wilayah kecamatan yang ada sekarang. Secara musyawarah, konfederasi para Ncuhi itu menunjuk dan mengangkat Sang Bima untuk menjadi pemimpin Dana Mbojo.

Wadu Paa, ukiran di dinding batu di Soromandi yang dikatakan menjadi bukti sejarah kehadiran Sang bima di Dana Mbojo.

Wadu Paa, ukiran di dinding batu di Soromandi yang dikatakan menjadi bukti sejarah kehadiran Sang bima di Dana Mbojo.

Lanjut legenda itu, Sang Bima tak lantas mengiyakan permintaan konfederasi para Ncuhi yang dipimpin oleh Ncuhi Dara itu. Ia menjanjikan bahwa kelak akan datang anak keturunannya yang ia utus untuk mewujudkan harapan Dou Mbojo tentang kepemimpinan yang menyatukan seluruh Dou Labo Dana (segenap warga, wilayah dan tumpah darah Bima).

Menurut legenda, Sebelum mencapai daratan Dana Mbojo, Sang Bima pertama kali berlabuh di pulau Satonda, kemudian melihat dengan seekor naga bersisik emas. Akibat tatapan Sang Bima, maka hamil lah naga itu dan melahirkan seorang putri dan kemudian diberi nama putri Indra Tasi Naga. Alkisah, Sang Bima yang melakukan perjalanan kembali ke Jawa itu ketika singgah di Pulau Satonda jatuh hati dan menikahi putri Indra Tasi Naga yang merupakan anaknya sendiri. Pernikahan itu menghasilkan dua orang putra yang diberi nama Indra Zamrud dan Indra Kumala.

Kedatangan Indra Zamrud dan Indra Kumala kecil ke Dana Mbojo sebelumnya telah di nubuwat (diramalkan) oleh ayahandanya, Sang Bima. Kepada para Ncuhi itu, pemimpin Dana Mbojo akan datang dengan berupa sebatang bambu yang dibawa oleh arus laut dan ombak pantai. Demikianlah menurut cerita, terdapatlah sebatang bambu dengan dua ruas yang terdampar di pantai Teluk Cempi – Dompu. Dari bambu tersebut, terdengarlah tetabuhan yang mengalun, bertanda itu bukan bambu biasa.

Sepasang Ompu dan Wai (nenek dan kakek) yang berdiam tak jauh dari tempat bambu itu terdampar tertarik oleh suara tetabuhan dari bambu itu. Karena rasa penasarannya, dibelahnya bambu itu menjadi dua. Ajaibnya, dari dua ruas bambu itu, keluarlah dua orang anak lelaki yang begitu baik dan elok parasnya. Mereka Indra Zamrud dan Indra Kumala pun diangkat menjadi anak oleh Ompu dan Wai tersebut.

Dari Dompu, kemudian kedua orang anak itu lalu dibesarkan di Bima, tempat yang diperintahkan oleh ayahnya, Sang Bima. Setelah tinggal beberapa lama di Gunung Parewa, mereka tinggal di bukit Londa. Semua Ncuhi di daerah itu, terutama Ncuhi Dara dan Ncuhi  Padolo datang untuk menjemput dan memohon mereka menjadi raja Dana Mbojo. Dengan demikian, tinggallah mereka berdua di wilayah Ncuhi Padolo, di bagian barat Kota Bima sekarang.

Tak lama berselang, Ncuhi Doro Wuni yang mengepalai para Ncuhi di bagian timur meminta kepada rapa Ncuhi wilayah barat agar salah satu anak tersebut diasuh di wilayahnya. Dengan demikian Indra Zamrud diasuh oleh Ncuhi Bagian Timur yaitu Ncuhi Doro Wuni yang berdiam di bagian timur yang secara geografis merupakan pegunungan, sedangkan saudaranya Indra Kumala dibesarkan dalam asuhan Ncuhi yang memegang wilayah pesisir barat Dana Mbojo.

Perselisihan Antara Dua Saudara

Kedua saudara yang dibesarkan dengan latar belakang yang berbeda ini bukannya tanpa cobaan. Watak keduanya yang berbeda akibat perbedaan pola asuh dan latar belakang tempat mereka dibesarkan menjadi masalah tersendiri.

Alkisah, Indra Kumala yang dibesarkan oleh Ncuhi Dara dan Ncuhi Padolo gemar mengail ikan, karena itu oleh kedua bapak angkatnya ia diberikan sebuah kail emas yang kerap ia gunakan memancing. Sedangkan Indra Zamrud yang gemar bertani oleh ayahnya diberikan tempat bibit berupa tempurung kelapa yang terbuat dari emas.

Suatu waktu, Indra Zamrud yang berkunjung ke kediaman kakaknya di pesisir bermaksud meminjam kail emas milik Indra Kumala. Permintaan itu dikabulkan dengan syarat adiknya itu harus berhati-hati menggunakannya karena kail emas itu sangat penting artinya bagi Indra Kumala.  Ia pun menerima kail itu dan memancing di Tanjung Tonggohala, suatu tempat di dekat Kota Bima. Baca selanjutnya…

Iklan

Pemerintah, Berkat Togel Program Bebas Buta Aksara Berhasil

Oktober 13, 2012 4 komentar

Saya kaget sampai terkoprol-koprol hari itu, melihat La Hasa dan La Duru (sebut saja namanya begitu). Keduanya kudapati sedang duduk di salah satu pos jaga di dekat rumah. La Hasa terlihat sedang mengoret-oret kertas sedangkan La Duru dengan antusias dan sedikit tak sabaran menanti temannya itu selesai menulis.

Rasa heran saya datangnya dari track record mereka berdua. La Hasa seingatku tidak pernah makan bangku SD (menurutnya kurang enak kali yah?).  Di usianya yang mendekati 30 tahun saya tidak pernah tahu kalau dia bisa baca-tulis, bahkan di kampungku dia tak jarang jadi bahan olok-olokan gara-gara buta huruf.

Samar-sama yang saya tangkap dari pembicaraan mereka, ada beberapa istilah ilmiah yang terucap. “Ekor naga bercabang dua, katanya tuh Hasae,” ujar La Duru. “E.. bukan Durue, itu angka mati,” kata La Hasa menimpali. Setelah beberapa saat ku berpikir, jelaslah apa yang menjadi objek fokus diskusi mereka hari itu. Keduanya ternyata sedang meriset angka-angka ramalan togel yang akan keluar besok hari.

Saya berpikir, alangkah hebatnya togel, bisa menyulap orang buta huruf jadi melek dengan abjad dan angka. La Hasa yang dulu mendadak rabun kalau disuruh membaca, hari itu begitu lincah menulis untaian angka. Nafsu ingin mendapatkan uang banyak dengan cara instant telah memaksa mereka bisa menulis dan membaca, minimal angka-angka.

Ramalan togel SGP bedah syair? Wedehel…!!

Sepertinya pemerintah kita harus mengevaluasi sistem pendidikan dan pengajaran yang selama ini digalakkan untuk memberantas buta huruf. Bentuk pendidikan formal (setengah memaksa) dengan sistem kelompok belajar paket A (Kejar Paket A) atau program lain yang terkait ABINO (Angka Buta Huruf Nol) saya pikir harus dirombak total kurikulumnya. Bagaimana kalau unsur pendidikan togel juga dimasukkan dalam kurikulum? Saya yakin akan lebih banyak orang-orang yang notabene buta huruf secara sukarela mendaftar untuk mendapatkan ilmu. Kwkwkkww… Baca selanjutnya…

Wisata Snorkling di Pantai Oi Fanda (Ambalawi)

Juli 8, 2012 11 komentar

Selain berenang, aktivitas yang paling kusukai ketika berwisata pantai adalah bersnorkling ria apabila kebetulan kondisi perairan memungkinkan. Terakhir kali saya menjajal indahnya panorama bawah laut dengan perangkat snorkel dan fin adalah lebih dari setahun yang lalu ketika ikut serta dalam kegiatan Sail Takabonerate yang dihelat oleh Pemprov Sulsel. Semenjak ekspedisi diatas KRI Diponegoro bersama puluhan sahabat dari berbagai Negara itu, praktis saya tidak pernah lagi melakukan snorkeling lantaran tak adanya alat dan terbatasnya spot penyelaman yang saya ketahui di Bima (Pulau Sumbawa – NTB).

Pantai oi Fanda Ambalawi, tempat yang tepat untuk rekreasi bawah air

Pantai oi Fanda Ambalawi, tempat yang tepat untuk rekreasi bawah air

Kesempatan sepertinya baru berpihak kepadaku ketika beberapa hari yang lalu kakak ku yang pindah tugas ke Bima membawa serta peralatan snorklingnya. Sayapun langsung menyusun rencana berkaitan dengan target-target pantai yang saya rasa ideal untuk dijelajahi dengan snorkel. Pilihan pertama saya jatuh ke Pantai Oi Fanda yang terletak di Kecamatan Ambalawi Kabupaten Bima karena berdasarkan pengalaman saya waktu berkunjung, kondisi karang dan visibilitas air lautnya relatif lebih baik dari spot-spot lainnya yang pernah saya kunjungi.

Untuk mencapai pantai Oi Fanda tidak terlalu sulit. Dari Kota Bima hanya dibutuhkan waktu tidak lebih dari 1 setengah jam dengan perincian satu jam menelusuri jalan menuju Kabupaten Wera yang saat ini dalam kondisi teraspal mulus lalu belok kiri pada pertigaan menuju desa Ujung Kalate. Dari desa terakhir ini butuh sekitar 10 menit untuk tiba di lokasi So Oi Fanda melalui diatas jalanan tanah berbatu. Opsi lain apabila anda ingin mencapai Oi Fanda dari Kelurahan Kolo, dari area wisata So Ati pengunjung tinggal meneruskan perjalanan selama 15 menit, hanya saja jalur yang harus ditempuh lebih menantang karena tanjakan dan kondisi jalan yang ekstrim.

Fishes goes to school

Fishes goes to school

Benar saja, Minggu 8 Juli kemarin ketika saya menyelam di Oi Fanda ternyata prediksi saya tidak meleset. Kendati pesisir Ambalawi dan kecamatan lain di Bima dulu pernah terkenal dengan catatan buruk mengenai tangan-tangan rakus nelayan yang suka mencari ikan dengan bom dan racun, namun kawasan Oi Fanda masih menyisakan koral-koral hidup dan ikan ikan yang menggantungkan hidup padanya yang beraneka jenis dan rupa.

Di pantai yang berada antara dua tebing karang ini lokasi snorkeling terbaik adalah pada karang bagian utara yang sedikit lebih jauh dari aktivitas perahu nelayan. Lokasi ini cenderung terjaga biotanya karena sepanjang pantai lebih didominasi bebatuan karang, bukannya pasir yang menjadi incaran para pecinta rekreasi pantai. Meski  luasan areal jelajahnya sempit namun keunggulan spot ini adalah kedalamannya yang dangkal. Dengan ketinggian air mulai dari 1-2 meter pada waktu surut akan sangat memudahkan penyelam pemula sekalipun untuk menikmati sajian pemandangan berbagai jenis karang hidup, ikan hias, bintang laut, dan lain-lain dengan mudah dan aman.

Seperti tipikal daerah pantai lainnya di Bima, kondisi Oi Fanda memang butuh perhatian kita semua. Vegetasi hutan lamun yang dulu kaya kini menyusut akibat praktek pencarian ikan oleh nelayan setempat yang tidak bersahabat dengan alam. Racun dan bom ikan telah merubah hamparan karang dengan kehidupannya menjadi hamparan karang mati yang membutuhkan waktu lama untuk kembali seperti sediakala. Semoga sepotong surga yang tertinggal di pantai Oi Fanda ini bisa bertahan hingga masih bisa dinikmati sampai anak cucu kita.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Talapiti – Bima Setelah 4512 Tahun Berlalu (Sejarah Listrik Dunia)

Juni 1, 2012 4 komentar

Apakah penemuan terbesar sepanjang 200 tahun ini? kalau anda menjawab internet, komputer, nuklir, mesin uap atau boiben korea artinya kita tak sependapat. Menurut ku LISTRIK menjadi sesuatu yang sangat vital dewasa ini yang memastikan segala macam alat buatan kesenangan, keperluan, dan kebutuhan manusia bisa tercipta. Hidup tanpa listrik itu jauh lebih sengsara bagiku jika dibandingkan dengan penderitaan sejumlah ABG alay jika Tuhan dengan kuasaNya menghapuskan boiben dari catatan sejarah umat manusia.

Bagaimana sejarah panjang penemuan listrik dan penggunaannya secara luas khususnya di Indonesia? mari kita buka catatan materi kuliah sejarah kita hari ini!

Listrik yang konsep awalnya pertama kali ditemukan sekitar 2.500 tahun Sebelum Masehi oleh seorang cendikiawan Yunani yang bernama Thales dari Melitus, yang  mengemukakan fenomena batu ambar yang bila digosok-gosokkan dengan kain akan dapat menarik bulu atau jerami. Selanjutnya dari sebuah energi yang misterius, klenik, dan dipercaya sebagai kuasa dewa/dewi primitif Yunani, konsep listrik terus berkembang menjadi lebih ilmiah seperti yang kita kenal sekarang. Sejarahnya panjang, disini saya ingin menyajikannya dalam sebuah bentuk lini masa (timeline) untuk mempermudah anda mengikutinya.

Sejarah Panjang Penemuan Listrik di Dunia dan Indonesia:

  • Pada tahun 1600 M seorang dokter dari Inggris, William Gilbert mengemukakan bahwa selain batu Amber masih banyak lagi benda-benda yang dapat diberi muatan dengan cara digosok. Oleh Gilbert, batu tersebut diberi nama electrica. Kata electrica diambil dari bahasa Yunani “elektron” yang artinya amber.
  • Pada 1646, seorang penulis dan dokter dari Inggris, Thomas Brown menggunakan istilah electricity yang diterjemahkan listrik ke dalam bahasa Indonesia.
  • Tahun 1670, Otto Von Guericke (ahli fisika, Jerman) menemukan Bahwa listrik dapat mengalir melalui suatu zat.
  • Pada awal tahun 1700-an, peristiwa hantaran listrik juga di temukan oleh Stephen Gray, lebih jauh Gray juga berhasil mencatat beberapa benda yang bertindak sebagai konduktor dan insolator listrik.
  • Pada awal tahun 1700-an, Charles Dufay(ilmuan Prancis) secara terpisah mengamati bahwa muatan listrik terdiri dari dua jenis. Ia menemukan fakta bahwa muatan listrik yang sejenis akan tolak menolak, sedangkan muatan listrik yang berbeda jenis akan tarik menarik.
  • Tahun 1752-an ilmuan amerika, Benjamin Franklin merumuskan teori bahwa listrik merupakan sejenis fluida yang dapat mengalir dari satu benda ke benda lain. Kilat merupakan salah satu gejala kelistrikan.
  • Tahun 1766 ahli kimia inggris, Joseph Priestley membuktikan bahwa gaya di antara muatan-muatan listrik berbanding terbalik dengan kuadrat jarak di antara muatan-muatan tersebut. Selain itu ahli fisika perancis, Charles Augustin de Coloumb berhasil menemukan alat untuk menentukan gaya yang berinteraksi di antara muatan-muatan listrik. Alat ini di namakan neraca torsi.
  • Pada tahun 1791, Luigi Galvani (ahli Biologi, Italia) mengumumkan hasil percobaannya yaitu otot pada kaki katak akan berkontraksi ketika di beri arus listrik.
  • Pada tahun 1800, ilmuan italia, Alessandro Volta menciptakan baterai pertama kalinya.
  • Pada tahun 1819, ilmuan Denmark, Hans Christian Oersted mendemonstrasikan bahwa arus listrik dikelilingi oleh medan magnet.
  • Andre Marie Ampere (1775-1836) seorang ilmuwan Prancis menjadi pelopor di bidang listrik dinamis (eletrodinamika).
  • Tahun 1827, Georg Simon Ohm (ilmuan Jerman) menjelaskan kemampuan beberapa zat dalam menghantarkan arus listrik dan mengemukakan hukum Ohm tentang hantaran listrik.
  • Tahun 1830 ahli fisika amerika, Joseph Henry menemukan bahwa medan magnet yang bergerak akan menimbulkan arus listrik induksi.
  • Tahun 1831 Gejala yang sama juga di temukan oleh Michael Faraday satu tahun kemudian. Faraday juga menggunakan konsep garis gaya listrik untuk menjelaskan gejala tersebut dan menciptakan generator listrik yang menjadi sumber pembangkit energi yang digunakan hingga sekarang
  • Pada tahun 1840, ilmuan inggris James Prescott Joule dan ilmuan jerman, Herman Ludwig Ferdinand Von Helmholt mendemonstrasikan bahwa listrik merupakan salah satu bentuk energi.
  • Tanggal 21 Oktober 1879 lahirlah lampu pijar listrik pertama oleh tangan si jenius Thomas Alva Edison
  • akhir abad ke-19 sejarah Ketenagalistrikan di Indonesia dimulai ketika beberapa perusahaan Belanda mendirikan pembangkit tenaga listrik untuk keperluan sendiri. dasar kompeni!. Pengusahaan tenaga listrik tersebut berkembang menjadi untuk kepentingan umum, diawali dengan perusahaan swasta Belanda yaitu NV. NIGM yang memperluas usahanya dari hanya di bidang gas ke bidang tenaga listrik. Selama Perang Dunia II berlangsung, perusahaan-perusahaan listrik tersebut dikuasai oleh Jepang
  • tanggal 17 Agustus 1945, setelah kemerdekaan Indonesia, perusahaan-perusahaan listrik tersebut direbut oleh pemuda-pemuda Indonesia pada bulan September 1945 dan diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia. Merdeka!
  • Pada tanggal 27 Oktober 1945, Presiden Soekarno membentuk Jawatan Listrik dan Gas, dengan kapasitas pembangkit tenaga listrik saat itu sebesar 157,5 MW.
  • Tanggal 1 Januari 1961, Jawatan Listrik dan Gas diubah menjadi BPU-PLN (Badan Pimpinan Umum Perusahaan Listrik Negara) yang bergerak di bidang listrik, gas dan kokas.
  • Tanggal 1 Januari 1965, BPU-PLN dibubarkan dan dibentuk 2 perusahaan negara yaitu Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang mengelola tenaga listrik. Saat itu kapasitas pembangkit tenaga listrik PLN sebesar 300 MW.
  • Tanggal 20 Mei 2012, tiang-tiang jaringan listrik PLN mulai di-dropp untuk melayani desa Talapiti Kecamatan Ambalawi Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat. Baca selanjutnya…

Romantika Masa Kecil di Bukit Dewa Tula

Mei 30, 2012 1 komentar

Tepat di depan rumahku berdiri sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi. Bukit Dewa tula, begitu sebagian orang di kampung memberi nama. Saya sendiri tidak begitu tau dari mana asal nama itu, namun semenjak kecil nama  Dewa Tula sudah begitu melekat dengan bukit yang berada di sebelah timur laut kantor walikota Bima itu.

Tak ada pohon yang besar di bukit ini, seingatku dulu ada sebuah pohon mangga besar pada sisi bukit yang menghadap rumahku, namun sudah ditebang sekitar sepuluh tahun yang lalu. Praktis bukit ini hanya ditumbuhi semak belukar dan pepohonan lamtoro yang dari dulu hingga sekarang tak kunjung besar. Beberapa pohon garoso (sirsak) yang yang dulu selalu ranum berbuah dan biasa ku petik kini semakin berkurang, kalaupun ada menurutku tak kan menjanjikan buah sirsak sebanyak dulu.

Kalau bukan karena ayah saya berhasil membunuh seekor tikus yang besar komplit dengan tiga ekor anaknya, tak bakalan saya mendaki bukit Dewa Tula. Siang itu saya kebagian tugas dari Ayah melenyapkan hama pengganggu itu di rumah dengan membuangnya di atas bukit. Sebuah plastik besar berwarna kuning berisi empat ekor tikus hasil perburuan Ayah di samping kamar mandi menjadi paket yang segera harus saya enyahkan. Mendaki bukit Dewa Tula pun harus saya lakoni demi tugas suci nan mulia itu, walaupun setelah sekian lama saya tidak pernah lagi menapakkan kaki diatas bukit itu.

Memandangi kantor walikota Bima dari bukit Dewa Tula

Yah, semenjak tamat SD atau kalau dinumerikkan setelah sekitar 15 tahun saya tidak pernah lagi mendaki sampai puncak bukit yang berjarak tak lebih dari 20 meter dari depan rumah itu. Dulu sewaktu kanak-kanak, Dewa Tula seakan menjadi tempat bermain wajib bagi saya dan anak-anak lain di lingkungan tempat tinggalku. Bukit yang rimbun dengan semak belukar dan batu-batu besar yang ideal untuk bersembunyi menjadikan bukit ini sebuah tempat yang pas untuk bermain petak umpet dan perang-perangan.

Pada setiap musim garoso, saya dan beberapa orang teman masa kecil selalu menyempatkan berburu buah yang manis ini. “dei garoso,” begitu orang Bima menyebutnya. Dulu kami selalu berebutan untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya garoso untuk dibawa pulang. Kalau kebetulan buah garoso tak terjangkau tangan atau dahannya terlalu kecil untuk dipijaki, sebatang galah kecil yang kami bawa sukses menjalankan tugasnya. Setelah mengantongi beberapa buah garoso untuk dinikmati berhari-hari, kami mengumpulkan seikat besar daun lamtoro untuk pakan ternak kambing di rumah masing-masing untuk menyogok orang tua yang terkadang melarang kami bermain di bukit.

Pohon Kamboja tua masih tegak berdiri, masih sama seperti dulu, -tak berdaun.

Bagi warga yang berdiam sedikit lebih jauh dari kaki bukit, Dewa Tula terbilang angker. Pernah kejadian salah seorang anak tetangga rumahku entah bagaimana ceritanya raib dari kamar di subuh buta. Warga kampung mencari ke seluruh tempat, dan ajaibnya sang bocah ditemukan sedang pulas tertidur di salah satu dahan pohon mangga yang kini sudah ditebang.

Di puncak bukit juga tak kalah kental aura mistisnya, sebatang pohon kamboja besar tanpa daun berdiri hingga kini. Dulu sering kami melihat semacam sesajen yang diletakkan oleh orang-orang yang konon mencari ilham, atau mungkin sekedar mengadu peruntungan dengan meminta nomor togel cantik pada penunggu bukit. Entahlah… malah dulu sering saya menemukan sisa api unggun, tulang ayam berserakan, dan bulu ayam di sekitar pohon yang entah kebetulan atau tidak warna bulu ayam di bawah pohon kamboja itu persis sama dengan ciri-ciri ayam tetangga kampung ku yang hilang kemarin malam. 🙂

Kami, anak-anak di lingkungan sekitar bukit tak pernah memandang bukit kecil ini angker. Malah ribuan kesenangan telah kami dapatkan dengan menjadikan Dewa Tula sebagai tempat bermain dan beraktivitas. Mulai dari bermain petak umpet, perang perangan (lewa pehe), mencari jamur, berburu gagang katapel (haju ncanga), dei garoso, menerbangkan layangan dan mengadu dengan tetangga kampung, mencari pakan kambing, atau sekedar duduk di batu besar dan memandangi seluruh penjuru kota dengan takjub. Baca selanjutnya…

Tradisi Pako Tana Dalam Budaya Nggu’da Doro Masyarakat Bima-NTB

Desember 27, 2011 4 komentar

Kontur dan topografi Bima yang mayoritas berupa bukit dan gunung membuat masyarakatnya terbiasa bertani secara tradisional dengan melakukan ngoho (aktifitas bertani dengan membuka lahan di hutan/gunung) pada setiap musim penghujan. Pola pertanian Ngoho ini secara turun temurun dilakukan meskipun secara peraturan pemerintah ada larangan untuk membuka lahan pertanian di hutan. Walaupun sudah banyak masyarakat Bima yang melakukan pertanian menetap di sawah atau kebun permanen, pada daerah-daerah tertentu Ngoho terkadang dilakukan secara berpindah-pindah dari satu gunung ke gunung lainnya setiap tahun. Dalam melaksanakan Ngoho ini, masyarakat agraris Bima mengenal budaya pako tana sebagai panduan umum mereka mulai dari mempersiapkan lahan dan mengelola pertanian sampai masa panen.

rawa Mbojo dalam pako tana

Secara harafiah Pako Tana adalah sebuah istilah yang berarti Memanen (pako) dan Menanan (tana) dalam bahasa Mbojo/Bima.  Lebih dari itu dalam aktivitas sehari-hari Dou Mbojo (orang Bima, red) memaknai pako tana sebagai sebuah sistem tradisional pengerahan tenaga kerja dalam bidang pertanian yang dilakukan dengan prinsip kekeluargaan dan gotong royong. Dalam sistem ini sebuah pekerjaan pertanian yang membutuhkan banyak tenaga manusia seperti nggu’da (menanam), hui (menyiangi), dan pako (memanen) akan lebih mudah untuk dilaksanakan karena prinsip gotong royong dan kekeluargaan itu diaplikasikan dalam istilah weha rima (penggunaan tenaga orang lain untuk mengerjakan pekerjaan pertanian) dan ‘bali rima (membantu pekerjaan orang lain sebagai balas jasa karena telah melakukan weha rima).

Dalam video dibawah ini tampak suasana pada musim tanam, dimana puluhan orang petani yang mayoritas ibu-ibu melakukan nggu’da doro (penanaman) pada salah satu oma (ladang). Baca selanjutnya…

Mengenal Upacara Adat Mbojo (Bima) ~Prosesi Khitanan dan Khatam Al-Quran

Desember 17, 2011 2 komentar

Ketika seorang anak beranjak dewasa, bagi masyarakat Bima merupakan saat yang tidak kalah sakralnya dengan kelahiran (baca tulisan terdahulu tentang prosesi kelahiran menurut adat Mbojo). Proses menjadi dewasa sama halnya dengan momen dimana seorang manusia beralih dunia, meninggalkan masa kanak-kanak yang penuh dengan keceriaan menuju masa remaja yang penuh tanggung jawab bagi diri, keluarga maupun masyarakat.

Dalam adat Bima, proses pendewasaan seorang anak manusia ditandai dengan dua macam upacara adat. Upacara adat ini merupakan pengejawantahan syariat Islam yaitu kewajiban untuk melaksanakan khitan bagi laki-laki serta anjuran untuk menamatkan pembelajaran baca Al-Qur’an sebagai penuntun hidup seorang manusia untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Upacara Khitanan atau Sunatan Adat Mbojo.

Upacara khitanan dalam adat Mbojo disebut upacara suna ro ndoso (Suna = sunat. Ndoso = memotong atau meratakan gigi secara simbolis sebelum sunat). Biasanya upacara suna ro ndoso dilakukan ketika anak berumur lima sampai tujuh tahun. Bagi anak perempuan antara dua sampai dengan empat tahun. Upacara khitan bagi anak laki-laki disebut suna. Sedangkan bagi puteri disebut”sa ra so

1. Rangkaian upacara Suna ro Ndoso.

Upacara suna ro ndoso dilaksanakan dengan berbagai upacara adat sebagai berikut:

a. Mbolo roDampa.

Beberapa hari sebelum upacara dilaksanakan, di rumah keluarga yang punya hajat, diadakan mbolo ro dampa atau musyawarah keluarga. Dalam mbolo ro dampa akan diputuskan hari pelaksanaan suna ro ndoso.

b. Mada Rawi (Acara Inti)

Upacara mada rawi terdiri dari:

1. Kapanca (penempelan inai)

Dilakukan pada malam hari. Pada telapak tangan putra putri yang akan dikhitan ditempelkan kapanca. Dilakukan oleh lima orang tua adat wanita secara bergilir. Seusai upacara kapanca, diadakan upacara “Ngaji tadaru” (Tadarusan). Setelah tadarusan berakhir, maka dilanjutkan qasidah tradisional (Bukan qasidah modern). Acara hiburan dilanjutkan hadrah. Dihalaman rumah dipergelarkan permainan rakyat,seperti mpa’a sila,gantao dan buja kadanda.

Tujuan kapanca ialah merupakan peringatan bagi anak,bahwa setelah dikhitan, ia dianggap dewasa. Ia akan bekerja membantu orang tua. Tangan dan kaki yang selama ini tidak biasa bekerja, akan mulai bekerja. Sehingga tangan yang bersih dan halus, akan bercucuran keringat dan darah.

2. Upacara Ndoso dan Compo Sampari Serta Compo Baju. Baca selanjutnya…