Beranda > Budaya Mbojo > Mengenal Upacara Adat Mbojo (Bima) ~Prosesi Khitanan dan Khatam Al-Quran

Mengenal Upacara Adat Mbojo (Bima) ~Prosesi Khitanan dan Khatam Al-Quran

Ketika seorang anak beranjak dewasa, bagi masyarakat Bima merupakan saat yang tidak kalah sakralnya dengan kelahiran (baca tulisan terdahulu tentang prosesi kelahiran menurut adat Mbojo). Proses menjadi dewasa sama halnya dengan momen dimana seorang manusia beralih dunia, meninggalkan masa kanak-kanak yang penuh dengan keceriaan menuju masa remaja yang penuh tanggung jawab bagi diri, keluarga maupun masyarakat.

Dalam adat Bima, proses pendewasaan seorang anak manusia ditandai dengan dua macam upacara adat. Upacara adat ini merupakan pengejawantahan syariat Islam yaitu kewajiban untuk melaksanakan khitan bagi laki-laki serta anjuran untuk menamatkan pembelajaran baca Al-Qur’an sebagai penuntun hidup seorang manusia untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Upacara Khitanan atau Sunatan Adat Mbojo.

Upacara khitanan dalam adat Mbojo disebut upacara suna ro ndoso (Suna = sunat. Ndoso = memotong atau meratakan gigi secara simbolis sebelum sunat). Biasanya upacara suna ro ndoso dilakukan ketika anak berumur lima sampai tujuh tahun. Bagi anak perempuan antara dua sampai dengan empat tahun. Upacara khitan bagi anak laki-laki disebut suna. Sedangkan bagi puteri disebut”sa ra so

1. Rangkaian upacara Suna ro Ndoso.

Upacara suna ro ndoso dilaksanakan dengan berbagai upacara adat sebagai berikut:

a. Mbolo roDampa.

Beberapa hari sebelum upacara dilaksanakan, di rumah keluarga yang punya hajat, diadakan mbolo ro dampa atau musyawarah keluarga. Dalam mbolo ro dampa akan diputuskan hari pelaksanaan suna ro ndoso.

b. Mada Rawi (Acara Inti)

Upacara mada rawi terdiri dari:

1. Kapanca (penempelan inai)

Dilakukan pada malam hari. Pada telapak tangan putra putri yang akan dikhitan ditempelkan kapanca. Dilakukan oleh lima orang tua adat wanita secara bergilir. Seusai upacara kapanca, diadakan upacara “Ngaji tadaru” (Tadarusan). Setelah tadarusan berakhir, maka dilanjutkan qasidah tradisional (Bukan qasidah modern). Acara hiburan dilanjutkan hadrah. Dihalaman rumah dipergelarkan permainan rakyat,seperti mpa’a sila,gantao dan buja kadanda.

Tujuan kapanca ialah merupakan peringatan bagi anak,bahwa setelah dikhitan, ia dianggap dewasa. Ia akan bekerja membantu orang tua. Tangan dan kaki yang selama ini tidak biasa bekerja, akan mulai bekerja. Sehingga tangan yang bersih dan halus, akan bercucuran keringat dan darah.

2. Upacara Ndoso dan Compo Sampari Serta Compo Baju.
 a. Upacara Ndoso.

Pagi hari setelah selesai kapanca, akan dilakukan upacara ndoso. Yaitu upacara pemotongan kuku, rambut dan gigi anak yang akan disunat. Gigi si anak sesungguhnya tidak dipotong.Tetapi hanya disuruh menggigit sepotong “haju tatanga” (kayu jarak liar) yang getahnya dapat menguatkan gigi. Acara pemotongan kuku, rambut dan gigi disebut ndoso. Tujuannya ialah untuk membersihkan badan si anak, sesuai dengan perintah agama.

b. Upacara Compo Sampari (Pemasangan Keris).

Setelah upacara ndoso, dilanjutkan dengan acara compo sampari bagi anak laki-laki. Compo sampari dilakukan oleh seorang tua adat. Ia memasang  sampari dirusuk kiri si anak. Diawali bacaan shalawat kepada Nabi.

Diiringi dengan musik genda Mbojo dan dimeriahkan dengan pertunjukan kesenian rakyat. Tujuan compo sampari, ialah sebagai peringatan bagi si anak, bahwa ia harus berani mengorbankan jiwa raga demi agama, bangsa dan negara. Sampari yang ia pakai, merupakan senjata dalam mempertahankan kebesaran agama, bangsa dan negara.

c. Upacara Compo Baju (Pemasangan Baju)

Bagi anak perempuan, setelah upacara ndoso, dilanjutkan dengan upacara compo baju. Yaitu pemasangan baju poro me’e kepada anak yang akan di sa ra so. Dilakukan oleh seorang tua adat wanita. Upacara compo baju dimeriahkan dengan berbagai atraksi kesenian rakyat.

Tujuan upacara compo baju, ialah merupakan peringatan bagi si anak, bahwa kalau sudah sa ra so, ia sudah dianggap dewasa. OIeh sebab itu Ia harus menjaga atau melindungi auratnya. Dengan memakai baju, tembe dan todu. (kerudung).

Upacara compo baju dimeriahkan dengan atraksi kesenian rakyat, sama dengan upacara compo  sampari.

3. Upacara Suna dan Saraso

Pada sore han, seusai ndoso dan compo  sampari, maka akan dilakukan upacara khitan. Khitan bagi anak laki-laki disebut suna. Sedangkan bagi anak wanita disebut saraso. Upacara suna dilakukan oleh seorang tokoh adat pria yang biasa melakukan sunat. Sedangkan saraso dilakukan oleh tokoh adat wanita.

Upacara suna dan saraso diiringi dengan irama genda ro no (gendang dan gong). Dilanjutkan dengan pertunjukan permainan rakyat, seperti mpa’a sila, gantao dan buja ka danda. 

Khusus bagi anak pria, seusai suna dilanjutkan dengan upacara maka dimana Anak yang baru disunat, turun ke halaman. Ia mencabut kerisnya, sambil melompat, ia mengucapkan tekad dengan suara lantang. Tekad itu berisi pernyataan setia kepada agama. Kalau ada yang memusuhi agama, ia akan siap untuk membelanya.Jadi upacara”maka” tak lain dan pernyataan si anak untuk slap membela agama. Upacara maka diiringi dengan musik genda, no, katongga dan saronatau silu.

Upacara Khatam Al Qur’an

upacara adat "Tama"Pada masa lalu, anak-anak dou Mbojo wajib belajar Al Quran. Sehingga disekitar usia tujuh dan sembilan tahun, harus sudah selesai menamatkan pelajaran membaca al Qur’an. Sebagai tanda syukur orang tua, atas keberhasilan anaknya dalam membaca Al Quran, maka akan diadakan upacara yang disebut ”Tama” atau khatam Al Qur’an.  Upacara tamadimeriahkan dengan berbagai acara. Pada malam hari, diadakan tadarusan, serta hiburan berupa atraksi hadrah, marhaban dan barzanji.

Pada upacara itu si anak akan diuji oleh para ahil baca Al Quran. Di hadapan guru ngajinya, ia akan membaca beberapasuratdan Al Quran.ApabilaIakeliru, maka para ulama yang mendengarnya, akan segera menegur. Bapak Guru Ngaji yang mendampingi akan menuntun muridnya. Apabila para ulama dan hadirin menilai, bahwa anak tersebut sudah dapat membaca dengan lancar, maka berarti ia sudah lulus. Guru ngaji bersama orang tua anak akan gembira. Sebaliknya apabila si anak sering melakukan kesalahan, guru ngaji bersama orang tua akan sedih dan malu. Mereka akan mendorong si anak untuk mengulangi lagi pelajaran baca Al Quran. Pada siang hari upacara ini akan dimeriahkan dengan upacára atraksi kesenian rakyat.

Berlanjut ke UPACARA ADAT MBOJO DAN DONGGO – PART 3 (UpacaraPernikahan Adat Bima)

Sumber: Seni Budaya Mbojo Tulisan M. Hilir Ismail dan Ny. Siti Linda Yuliarti.
dipublikasikan juga di PORTAL KJS
Gambar: http://ademataho.multiply.com
  1. Agustus 25, 2014 pukul 9:34 pm

    Sebagai Putra Bima mari kita Tetap lestarikan budaya Daerah Bima yang semakin lama semakin langka ! Ini adalah warisan nenek moyang kita yang sangat Tinggi nilai Filosofisnya.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: