Beranda > Gunung, KJS > Menapaki Lingkar Utara Tambora ~ catatan Roadshow Pendidikan Tinggi 2012 (3)

Menapaki Lingkar Utara Tambora ~ catatan Roadshow Pendidikan Tinggi 2012 (3)

Seusai menggelar kegiatan Roadshow Pendidikan Tinggi di SMAN 1 Sanggar pada hari jumat, menjelang sore kami melajutkan perjalanan menuju Kecamatan Tambora. Di kecamatan yang paling jauh dari pusat kota inilah lokasi kedua yang akan kami datangi dalam rangkaian Roadshow di delapan sekolah kepanitiaan bersama Komunitas Jalan setapak dan Pengajar Muda dari Gerakan Indonesia Mengajar.

Pada perjalanan menuju Tambora ini baru kami mengakui ketajaman feeling Mr. dedi dalam memprediksi kebutuhan kendaraan (untuk mengangkut 15 orang dengan barang-barang yang banyak) ketika Team yang berangkat dari kota Bima bergabung dengan Team Tambora yang standbye di Sanggar (Kalau dalam inventory bakat, Mr. dedi ini sepertinya bertipe Generated Idea).

Perjalanan menuju Tambora menempuh waktu sekitar 5 jam, dengan melewati medan yang cukup berat. Mesin mobil meraung-raung menapaki tanjakan jalan berbatu dan penuh pasir khas sabana. Penampakan alam tambora begitu eksotis, mengingatkan saya pada sabana afrika yang sering muncul di TV. Terkadang satwa liar melintasi jalan di depan kami, mulai dari sapi dan kerbau yang dilepas-liar di padang rumput, kuda liar yang tersohor dengan produk susu kuda liarnya, beberapa ekor ayam hutan yang menggoda kami untuk menangkap (padahal mustahil untuk ditangkap), dan pada malam hari seekor kijang tersorot lampu mobil sedang menyebrang jalan. Pada hal terakhir sebagian anggota Team khususnya yang terkenal sebagai Sando Lambu, sepakat kalau itu penampakan mistis… hii syerem.

Kuda liar Tambora

Jalur lingkar utara yang melewati Kore, Boro, Piong, Kawinda Toi, katupa, Kawinda Nae, Labuhan Kenanga itu secara umum dalam kondisi buruk. Selepas dari Piong, kami melewati jalan tanah berpasir dengan perkerasan sehingga bisa dilalui dengan kecepatan sedang, terkadang kami mendapati jalan aspal yang terpotong-potong oleh lintasan banjir gunung, dan mayoritas jalan yang terlalu offroad untuk dilalui mobil berjenis city car. Yang paling berbahaya pada perjalanan kali ini adalah jalur yang sedang dilakukan perbaikan, dimana hampir semua jembatan di sepanjang jalur sedang dibangun sehingga pada saat melewati jembatan mobil harus mengambil jalur di kanan/kiri jembatan. Ulah kontraktor proyek jembatan yang tidak memasang rambu/penanda jembatan rusak membuat mobil kami yang sedang bergerak dengan kecepatan lumayan tinggi beberapa kali hampir disate, terperangkap dalam besi/baja cor jembatan yang sedang dibangun.

Perjalanan yang panjang dan melelahkan rasanya terobati dengan suguhan pemandangan alam Tambora yang sulit dilupakan. Sebelah kiri jalan hamparan sabana yang membentang berkilo-kilo jauhnya sampai ke kaki gunung Tambora yang bersanding dengan megahnya seakan menunggu untuk ditaklukkan. Sedangkan di kanan jalan kontur berbukit-bukit dengan latar birunya Laut Flores yang tidak kalah indahnya untuk memaksa kami berhenti sejenak dan mengabadikanya dalam gambar.

Kehidupan perkampungan Tambora yang unik dan khas ala pemukiman transmigran juga menjadi objek yang menarik, setiap memasuki perkampungan (SP5-SP1)  saya seakan-akan merasa menjadi seorang coboy memasuki small town  Haha… Jarak antara satu perkampungan dengan kampung lainnya sangat jauh (puluhan km), tanpa penerangan listrik dan fakir signal telepon seluler. Jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya tidak bisa dikatakan dekat untuk sebuah pemukiman, saya tidak bisa membayangkan bagaimana cara anak-anak mereka pergi ke sekolah tiap hari dengan kondisi itu. Petak-petak lahan garapan transmigran yang berasal dari berbagai daerah seperti Bali, Lombok, Jawa, Makassar dan Bima hanya kami lalui tanpa berhenti.

Baca mengenai jalannya Roadshow di SMAN 1 Tambora~ Part 4 disini

  1. yanti
    Maret 3, 2012 pukul 6:32 pm

    Pada perjalanan menuju Tambora ini baru kami mengakui ketajaman feeling Mr. dedi dalam memprediksi kebutuhan kendaraan (untuk mengangkut 15 orang dengan barang-barang yang banyak) ketika Team yang berangkat dari kota Bima bergabung dengan Team Tambora yang standbye di Sanggar (Kalau dalam inventory bakat, Mr. dedi ini sepertinya bertipe Generated Idea).

    like banget dengan kelebay-an paragraf ini… pengalaman roadshow tlah mengantarkan penulis sebagai fasilitator handal. two thumbs up!!

  2. Oktober 26, 2012 pukul 3:42 pm

    Bro backlink donk… imajiner

  1. Februari 27, 2012 pukul 6:06 pm
  2. Juni 14, 2013 pukul 7:31 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: