Arsip

Posts Tagged ‘tambora’

Perkaya Jiwa Dengan Traveling

Juni 14, 2013 3 komentar

Malam ini saya berkunjung ke Youtube. Untungnya, walaupun jam segini dia masih buka, ya sudah saya masuk saja :mrgreen: Beberapa video yang pernah saya posting, saya putar ulang. Termasuk diantaranya beberapa video perjalanan saya dan teman-teman mengunjungi beberapa pantai menarik di Bima.

Melihat kembali beberapa dokumentasi penjelajahan yang pernah saya lakukan membuat perasaan rindu untuk kembali bertualang. Menggelar perjalanan-perjalanan kecil menyusuri aneka ragam kondisi medan dan bertemu hal-hal baru, begitu menggoda untuk dilakukan lagi.

Hasrat ingin tahu dan bertemu dengan hal-hal baru salah satunya bisa dilakukan dengan ber-traveling. Kendati kita bisa saja menjelajahi setiap sudut dunia maya, melihat gambar atau membaca tulisan orang lain yang melakukan traveling, tentunya hal ini tak dapat menggantikan sensasi jika mengalami sendiri pengalaman bertualang itu.

Apalagi, melakukan perjalanan selain menambah pengalaman, juga sarat dengan nutrisi yang bisa memperkaya jiwa kita. Bagaimana tidak, berada di tempat yang jauh dari zona kenyamanan, bersatu dengan alam, sendiri di tempat yang belum terjamah membuat kita mengalami sensasi-sensasi yang sebelumnya mungkin tak pernah dirasakan.

Sengsara Membawa Nikmat

Jalan rusak menuju destinasi, terkadang merupakan destinasi itu sendiri

Jalan rusak menuju destinasi, terkadang merupakan destinasi itu sendiri

Ada kalanya kita mengalami kesulitan di perjalanan atau di tempat yang kita tuju. Kendaraan mogok, jalan rusak, tersasar, lupa bawa bekal, atau melewati tempat yang menyeramkan misalnya. Tantangan-tantangan ini biasa terjadi bagi orang yang bepergian, tentunya dengan persiapan yang matang tentunya hal ini bisa dihindari.

Minimal kita harus memperkaya informasi mengenai tempat yang hendak kita tuju maupun persiapan yang harus kita lengkapi sebelum kita memutuskan untuk memulai perjalanan. Dan biasanya, dengan melakukan perjalanan bersama banyak orang, kesulitan-kesulitan itu tak akan begitu payah dirasakan, bahkan bisa menjelma menjadi keasyikan tersendiri untuk diceritakan nantinya.

Team CLBK di lokasi survey

Semua beban akan sirna ketika tiba di tujuan

Menggelar acara berkemah di tempat terbuka, seperti pantai atau gunung juga memiliki nilai tersendiri. Dekat dengan alam semesta, tentunya akan semakin lebih mendekatkan diri dengan tuhan, begitu salah seorang temanku pernah berkata. Berada jauh dari hiruk pikuk dan keramaian kota, membuat kita merasa kecil di tengah semesta. Desiran angin dingin gunung dan nyanyian ombak menjadi pelipur lara yang efektif untuk para manusia yang hendak lepas dari kepenatan bekerja. Begitu pula dengan keindahan panorama alam serta keunikan tempat-tempat yang kita kunjungi, beratnya perjalanan akan terlupakan dengan sendirinya digantikan dengan ketakjuban yang menjadi hiburan.

Kenikmatan itu tentunya bisa didapatkan dengan mengunjungi sejumlah tempat yang direferensikan untuk dikunjungi. Namun sejumlah catatan traveling yang banyak beredar di jagat maya masih miskin menceritakan objek perjalanan di Bima. Para traveler lokal tentunya sudah mahfum dengan sejumlah destinasi andalan di liar daerah, namun pertanyaannya, sudahkah anda menelusuri daerah kita sendiri?

Tak Perlu Jauh-Jauh ke Luar Daerah

Memandang ke arah selatan, Kota Bima sedang bertumbuh

Memandang ke arah selatan, Kota Bima sedang bertumbuh

Traveling tak harus dilakukan dengan mengunjungi tempat-tempat yang jauh. Tak perlu keluar kota, di sekitar tempat tinggal kita tentunya masih banyak tempat-tempat yang belum pernah kita kunjungi. Atau kita bisa saja mendatangi tempat yang pernah kita kunjungi semasa kecil, sekaligus bernostalgia dengan kenangan-kenangan lampau. Aku pernah mengunjungi bukit kecil yang berdiri tepat depan rumah dan membuat catatan untuk itu.

Untuk Kota Bima sendiri, beberapa tempat yang saya rekomendasikan untuk dikunjungi diantaranya: Kompleks istana dan masjid kesultanan Bima, Pelabuhan Bima, Komplek pekuburan kesultanan (Dana taraha dan Tolo Bali), Museum Samparaja. Selain itu sentra kerajinan tenun tradisional di Kelurahan Rabadompu, Ntobo, dan Kendo juga layak masuk dalam destinasi yang harus anda kunjungi.

Lebih jauh lagi dari pusat kota, pecinta pantai dan laut bisa mengunjungi pesisir Ule-Kolo. Disana banyak spot menarik untuk mandi laut atau sekedar berfoto. Untuk yang memiliki perangkat selam seperti snorkel ataupun scuba diving, di ujung barat Kolo ada pantai yang bernama So Numbe yang masih kaya dengan panorama bawah air.

Bosan ke pantai?, masih dalam wilayah kota anda bisa bertualang bersama rekan mendaki puncak Pundu Nence. Beberapa jam pendakian dari Kelurahan Lelamase anda akan tiba di bukit yang memiliki pemandangan indah ke arah kota dan Kabupaten Bima. Dirikanlah tenda dan habiskan malam mengelilingi api unggun, saya yakin pengalamannya tak akan terlupakan.

Dekat di Luar Kota Bima

Snorkeling di Oi Fanda

Snorkeling di Oi Fanda

Ingin lebih jauh lagi? Kunjungi Oi Fanda dan dua pantai di dekatnya, kita hanya butuh tak lebih dari satu setengah jam untuk sampai kesana.  Lebih ke arah utara lagi, kita bisa saja melanjutkan ke pantai Sanosu atau bercengkerama dengan ular-ular laut yang jinak di Pulau Ular dan Pantai Oi Caba Kecamatan Wera. Untuk yang masih punya waktu dan tertantang dengan pengalaman lebih, bisa saja melanjutkan perjalanan pada jalur yang sama. Menuju Sape dengan terlebih dahulu singgah di Pantai Toro Wamba yang berpasir putih.

Masih di Sape, tak jauh dari pelabuhan terdapat sebuah pulau yang dihuni oleh penduduk Suku Bajo (Bajau) yang merupakan pendatang dari Sulawesi. Aku visualisasikan pantai disana merupakan perpaduan pantai di Belitung yang bercadas dan berbatu besar. Pasirnya pun putih dengan air yang jernih. Para pecinta fotografi saya yakin akan menemukan surganya disana. Panorama pantai, maupun keseharian anak-anak suku bajo yang bersaudara dengan laut, saya rasa terlalu berharga untuk dilewatkan oleh jepretan kamera.

Sedikit Lebih Jauh di Pelosok Bima

Perkampungan nelajan bako di bajo Pulau - Sape

Perkampungan nelajan bako di bajo Pulau – Sape

Sedikit lebih jauh ke timur Kecamatan Sape, di Kecamatan Lambu terdapat pantai Papa yang eksotis. Jalur jalan yang sudah teraspal bagus membuat anda tiba dalam setengah jam dari Sape. Ingin mencoba track yang lebih ekstrim? cobalah ke Baku. Daerah transmigrasi yang jarang disebut ini konon menyimpan keindahan panorama pantai yang unik. Ganggang-ganggang dan tumbuhan laut membuat karang di sepanjang pantai yang berjarak 2 jam dari Sape ini memukau mata. Hanya saja akses jalan yang masih berbatu membuat tempat ini sulit untuk didatangi dengan menggunakan kendaraan. Penulis sendiri belum pernah kesana, namun tak sabar untuk membuktikannya.

Ke arah selatan kota, berkendara selama satu atau dua jam bisa saja membawa anda ke sejumlah tempat menarik. Saya merekomendasikan anda mengunjungi perkampungan tradisional di Sambori yang bisa dicapai dengan menempuh jalur ke arah timur dari perempatan Talabiu. Jika anda beruntung, gambaran masyarakat tradisional bima yang agraris bisa ditemukan disana lengkap dengan ragam kesenian dan budaya daerah. Tempat ini berada di pegunungan yang sekarang relatif lebih mudah dijangkau dengan kondisi jalan yang bagus.

Tempat yang sejenis bisa ditemukan di pegunungan Donggo. Di pegunungan yang ada di seberang barat Kota Bima ini, selain desa adat kita bisa menggelar kegiatan napak tilas dengan mendatangi sejumlah objek wisata sejarah. Kunjungi juga peternakan kuda tradisional di Donggo Mpili, niscaya anda akan menemukan susu kuda liar yang dipercaya berkhasiat untuk kesehatan.

Sementara pada bagian pesisirnya, di Kecamatan Soromandi dapat kita temui prasasti sejarah Wadu Tunti yang merupakan tonggak catatan sejarah Daerah Bima. Deretan pantai yang eksotis juga bisa menjadi hiburan menarik jika anda memutuskan mengunjunginya. Adapula puing-puing benteng Asakota yang pernah berdiri tegak melindungi Kesultanan Bima dulu dari serangan bajak laut dan Belanda.

Sementara pada musim kemarau, akses jalan menuju puncak Pulau Kambing konon terbuka. Menurut teman-temanku yang pernah kesana, hamparan ilalang di pulau kecil itu begitu indah ketika berpadu dengan laut Teluk Bima. Kita bisa bebas memandangi teluk Bima dari segala penjuru di puncak Doro Nisa (pulau Kambing). “Pulau kecil yang dapat ditempuh dalam waktu 15 menit dari pelabuhan bima itu harus dicoba sendiri,” ujarnya.

Masih kategori berjarak tak terlalu jauh dari Kota, jangan lewatkan mengunjungi deretan pantai selatan. Pantai Wane, Rontu, Woro, Pusu, dan Tamandaka merupakan beberapa nama yang kerap disebut oleh pecinta traveling lokal. Sayangnya dari nama-nama itu, baru pantai Rontu yang pernah saya datangi. Pantai ini berombak besar dengan hamparan pasir putih khas pantai-pantai laut selatan Indonesia. Jikalau ingin mencari padanannya dengan pantai terkenal lainnya, karakteristiknya mirip pantai Kuta di Bali atau pantai Lakey di Dompu yang menjadi primadona para bule peselancar. Insya Allah pantai-pantai selatan lainnya yang berlokasi di tiga kecamatan berbeda ini satu persatu akan saya datangi.

Lebih Jauh Lagi….

Jika dua kategori diatas saya urut berdasarkan jarak, maka pada bagian terakhir ini saya ingin menyajikan menu-menu perjalanan yang terbilang cukup jauh dari kota Bima. Di Kabupaten Bima, Kecamatan yang paling jauh adalah Kecamatan Sanggar dan Tambora. Sesi ini secara khusus mengangkat sejumlah destinasi di dua kecamatan itu yang sayang untuk dilewatkan.

Dalam suatu kesempatan saya pernah mengunjungi dua Kecamatan itu sekaligus. Untuk mencapai Sanggar kita membutuhkan waktu tiga hingga empat jam berkendara. Di Kecamatan yang pernah memiliki kerajaan sendiri ini, terdapat kompleks pemakaman kerajaan yang terletak di pusat kota Kore. Ada pula pelabuhan kecil yang menjadi salah satu urat nadi perekonomian masyarakat setempat, aktivitas nelayan yang mungkin harus anda saksikan. Ada juga Oi Tampiro, pemandian alami air tawar yang berlokasi di pesisir Piong.

sekali-kali TS nampang narsis

sekali-kali TS nampang narsis

Sementara menyusuri jalur lingkar utara menuju Tambora, panorama khas Sabana dan kehidupan satwa liar pernah saya angkat disini. Oi Marai, sebuah sungai yang bersih dan asri dengan air terjun yang tak kalah cantiknya menanti tapak kaki kita. Selain alam, sejumlah desa transmigran sepanjang perjalanan memiliki keunikan tersendiri. Terdapat sebuah desa yang isinya transmigran Bali di Desa Oi Bura, dekat jalur pendakian Tambora. Ada pula kebun kopi peninggalan Belanda di desa yang sama yang begitu unik. Dan tentunya bagi pecinta gunung bisa merasakan pengalaman mendaki gunung yang pernah menggelap-gulitakan daratan eropa ini.

Itulah beberapa mozaik keindahan Bima yang bisa saya hadirkan. Tentunya masih banyak lagi tempat yang belum terekspos dalam tulisan. Ia menungguku atau siapa saja untuk menceritakannya. So, tunggu apa lagi? Sebelum berpetualang ke luar daerah, tak ada salahnya mendatangi tempat-tempat menarik di daerah sendiri. Kunjungi mereka dan ceritakan pengalamanmu…

Iklan

Binar Harapan Tamborista ~ catatan Roadshow Pendidikan Tinggi 2012 (part 4)

Februari 27, 2012 2 komentar

Perjalanan dari Sanggar yang penuh tantangan dan memanjakan mata selama lebih dari 5 jam membuat badan terasa lelah. Kami menginap di desa Sori Panihi, sebuah desa yang relatif lebih berkembang pesat dibandingkan beberapa desa yang kami lewati dalam perjalanan dari Sanggar. Di rumah bapak wakasek SMAN 1 Tambora itu team melepas lelah dan melakukan sekedar rapat pemantapan untuk esok hari.

Berada di desa Sori Panihi, bagi saya ibarat pulang ke kampung sendiri lantaran ternyata dari sekian ratus kepala keluarga di desa ini rupanya banyak yang berasal dari desa Kendo (kota Bima) dan Ntoke (Kec. Wera Kab. Bima) tempat nenek moyang saya berasal. Tidak sulit bagi saya untuk menemukan keberadaan mereka di desa ini, bahkan beberapa saat setelah saya turun dari mobil dan duduk di sarangge di salah satu kedai dan sekedar berbincang dengan warga setempat, rupanya orang yang saya ajak ngobrol masih terbilang kerabat sendiri. Alangkah sempitnya dunia…

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Pagi hari pukul enam, kami pun bersiap menuju sekolah.  Karena desa itu tidak ada fasilitas listrik dan air bersih, team bergantian mandi. Panitia perempuan mandi di kamar mandi dalam yang airnya harus senantiasa ditimba dari sumur samping rumah, sedangkan yang laki-laki menantang dinginnya hawa Tambora dengan madi di sumur yang terbuka. Semua terlihat lancar dalam ritual antrian mandi pagi, hingga giliran saya yang terakhir mandi dan tiba-tiba  hujan lebat turun dan angin begitu kencang menerpa. Pintu seng yang menjadi pembatas sumur dengan rumah terbang terbawa angin, lalu sekonyong-konyong pohon Singkong besar disamping sumur patah dan rubuh persis di tempat saya mandi. Pengalaman mandi di tempat terbuka, menimba air ditengah gempuran hujan lebat dan angin kencang yang dingin sungguh terasa epic.

Yanti dan Mutia, Team Registrasi

Cuaca pagi Tambora yang kurang bersahabat tidak menyurutkan semangat kami untuk ke sekolah, dengan semangat 45 kami membawa perlengkapan berjalan kaki menuju sekolah yang tidak terlalu jauh itu. Memasang spanduk, memastikan genset siap beroperasi, menyetel LCD (yang kami pinjam dari Sanggar), dan mempersiapkan fasilitator menjadi aktivitas pertama sesampainya kami di sekolah. Sekolah yang sederhana, dengan pemandangan indah pegunungan Tambora berdiri kokoh didepan dan deburan ombak Laut Flores sayup-sayup terdengar dari arah belakang sekolah.  Rumput hijau tumbuh merata diatas lapangan tanah berpasir hitam khas Tambora, menjadi areal yang pasti diidamkan oleh jutaan sapi di pulau ini untuk mencari makan.

Musim hujan menjadi musim libur tak resmi anak-anak Tambora. Bukan karena malas berjalan kaki di tanah becek atau melawan dinginnya angin gunung, tetapi mereka ikut membantu orang-tua mereka berladang di gunung. Desa menjadi sepi, begitu halnya dengan sekolah. Hampir semua jenjang sekolah yang ada di lingkar tambora mengalami musim paceklik murid, seperti sekolah ini yang populasi sapi di sekolah mengalahkan jumlah total murid yang hadir.

Rencananya, menurut laporan awal jumlah siswa kelas tiga yang akan mengikuti kegiatan adalah sejumlah 30 orang namun data dengan fakta di lapangan berkata lain. Sekolah begitu lengang, hingga pukul delapan pagi siswa kelas tiga yang tercatat  meja registrasi hanya mencapai belasan orang. Setelah team bersepakat dengan guru, kami menyertakan seluruh siswa yang hadir hari itu (termasuk kelas 1 dan 2) untuk menjadi peserta hingga jumlah total peserta Roadshow Pendidikan Tinggi hari itu mencapai angka 37 orang. Baca selanjutnya…

Menapaki Lingkar Utara Tambora ~ catatan Roadshow Pendidikan Tinggi 2012 (3)

Februari 17, 2012 4 komentar

Seusai menggelar kegiatan Roadshow Pendidikan Tinggi di SMAN 1 Sanggar pada hari jumat, menjelang sore kami melajutkan perjalanan menuju Kecamatan Tambora. Di kecamatan yang paling jauh dari pusat kota inilah lokasi kedua yang akan kami datangi dalam rangkaian Roadshow di delapan sekolah kepanitiaan bersama Komunitas Jalan setapak dan Pengajar Muda dari Gerakan Indonesia Mengajar.

Pada perjalanan menuju Tambora ini baru kami mengakui ketajaman feeling Mr. dedi dalam memprediksi kebutuhan kendaraan (untuk mengangkut 15 orang dengan barang-barang yang banyak) ketika Team yang berangkat dari kota Bima bergabung dengan Team Tambora yang standbye di Sanggar (Kalau dalam inventory bakat, Mr. dedi ini sepertinya bertipe Generated Idea).

Perjalanan menuju Tambora menempuh waktu sekitar 5 jam, dengan melewati medan yang cukup berat. Mesin mobil meraung-raung menapaki tanjakan jalan berbatu dan penuh pasir khas sabana. Penampakan alam tambora begitu eksotis, mengingatkan saya pada sabana afrika yang sering muncul di TV. Terkadang satwa liar melintasi jalan di depan kami, mulai dari sapi dan kerbau yang dilepas-liar di padang rumput, kuda liar yang tersohor dengan produk susu kuda liarnya, beberapa ekor ayam hutan yang menggoda kami untuk menangkap (padahal mustahil untuk ditangkap), dan pada malam hari seekor kijang tersorot lampu mobil sedang menyebrang jalan. Pada hal terakhir sebagian anggota Team khususnya yang terkenal sebagai Sando Lambu, sepakat kalau itu penampakan mistis… hii syerem.

Kuda liar Tambora

Jalur lingkar utara yang melewati Kore, Boro, Piong, Kawinda Toi, katupa, Kawinda Nae, Labuhan Kenanga itu secara umum dalam kondisi buruk. Selepas dari Piong, kami melewati jalan tanah berpasir dengan perkerasan sehingga bisa dilalui dengan kecepatan sedang, terkadang kami mendapati jalan aspal yang terpotong-potong oleh lintasan banjir gunung, dan mayoritas jalan yang terlalu offroad untuk dilalui mobil berjenis city car. Yang paling berbahaya pada perjalanan kali ini adalah jalur yang sedang dilakukan perbaikan, dimana hampir semua jembatan di sepanjang jalur sedang dibangun sehingga pada saat melewati jembatan mobil harus mengambil jalur di kanan/kiri jembatan. Ulah kontraktor proyek jembatan yang tidak memasang rambu/penanda jembatan rusak membuat mobil kami yang sedang bergerak dengan kecepatan lumayan tinggi beberapa kali hampir disate, terperangkap dalam besi/baja cor jembatan yang sedang dibangun. Baca selanjutnya…

The Year Without Summer, Bencana Dunia Berawal Dari Sumbawa

September 8, 2009 12 komentar

Tahun tanpa musim panas, juga dikenal sebagai Tahun Kemiskinan dan Seribu delapan ratus dan membeku hingga mati, terjadi pada 1816, ketika penyimpangan iklim musim panas menghancurkan panen di Eropa Utara, Amerika timur laut dan Kanada timur.

Kini orang umumnya menduga bahwa penyimpangan itu terjadi karena ledakan vulkanik Gunung Tambora pada tanggal 5 April–15 April 1815. Gunung ini terletak di pulau Sumbawa di Hindia Belanda (kini Indonesia) yang melontarkan lebih dari satu setengah juta ton – atau 400 km³ – debu ke lapisan atas atmosfer. Seperti umumnya diketahui, setelah sebuah letusan gunung berapi yang dahsyat, temperatur di seluruh dunia menurun karena berkurangnya cahaya matahari yang bersinar melalui atmosfer.

Akibat letusan

Penyimpangan iklim yang luar biasa pada 1816 menimbulkan pengaruh yang sangat hebat di Amerika timur laut, Kanada Maritim dan Eropa utara. Biasanya, pada akhir musim semi dan musim panas di Amerika timur laut cuacanya relatif stabil: temperatur rata-rata sekitar 20–25°C, dan jarang sekali turun hingga Baca selanjutnya…