Archive

Posts Tagged ‘nokia’

Akhirnya, Signal Telkomsel Menjamah Desa Nenek


Selain tiga kebutuhan pokok, apakah dua benda yang paling dibutuhkan manusia di abad ke 21 ini? angkat tangan bagi yang bisa jawab. Hei, kamu yang jawab pacar… salah. Tanpa pacar kamu masih bisa keluar rumah, traveling ke tempat wisata eksotis, salto dari puncak monas. #eh

Jawaban yang benar adalah listrik dan signal komunikasi.

Berdasarkan riset dari OnTheSpot, acara rangking salah satu televisi yang ada angka 7-nya, tanpa listrik dan signal manusia abad Jokowi ini tidak akan bertahan hidup dengan keceriaan. Orang tidak akan keluar rumah tanpa handphone yang terisi penuh, tidak betah di tempat-tempat terpencil, kegilaan dan histeria massal juga kadang akan muncul bila signal seluler untuk komunikasi mati total.

Selain energi, komunikasi adalah sektor vital bagi bangsa dan negara. Tanpa komunikasi, hidup akan sunyi. Tidak percaya? mari tanyakan kebenarannya pada nenek saya yang karena uzur tidak bisa mendengar lagi dengan baik.

Bicara soal nenek, saya punya cerita. Alkisah di sebuah desa yang bernama Talapiti. Hiduplah seorang nenek tua renta yang beberapa tahun lagi usianya seabad lamanya. (backsound jreng jreng)

Nenek super, masih mengenali yang punya blog ini tahun lalu.

Sekiranya lebih dari sepuluh tahun yang lalu, sang nenek yang sakit-sakitan setelah terjatuh saat pergi ke sawah. Setelah seminggu dirawat di rumahnya penyakitnya semakin parah hingga seluruh keluarga besar diabsen satu per satu dan saling memohonkan maaf.

Konon dalam sakitnya nenek bermimpi bertemu dengan almarhum suaminya, sebut saja namanya kakek. “Kakek datang menjemput saya? Saya sudah capek sakit-sakitan tapi tak kunjung juga meninggalkan dunia ini,” curhat nenek kepada kakek. Curhatan searah nenek tak kunjung dijawab oleh pria yang pernah menemaninya hampir separuh usianya itu…

Waktu itu Desa Konohagure Talapiti begitu terisolir. Dipagari pegunungan dan harus tiga kali menyeberang sungai untuk menuju kesana. Hal itu pula lah  yang membuat kabel listrik dan sinyal seluler sungkan untuk masuk ke desa.

Usai sakit keras, nenek ajaibnya berangsur pulih. Nenekku yang begitu perkasa pun pernah berkata, belum akan pergi sebelum rumah kediamannya benderang di malam hari. Juga belum pergi kalau dari tempat tidurnya belum bisa berbicara dengan anaknya yang tinggal di lain kota. Beliau begitu mendambakan pembangunan dan teknologi menjamah desa tempat ia menghabiskan hari-hari terakhirnya.

Jembatan Nggaronangga-Tolowata. Dulu disini salah satu dari tiga sungai yang harus disebrangi.

Hingga suatu hari jalanan berbatu menuju Talapiti diterabas buldozer, tak lama kemudian diaspal. juga beberapa tahun yang lalu, listrik menjamah Talapiti. Baca selanjutnya…