Beranda > Budaya Mbojo, Rawa Mbojo > Tradisi Pako Tana Dalam Budaya Nggu’da Doro Masyarakat Bima-NTB

Tradisi Pako Tana Dalam Budaya Nggu’da Doro Masyarakat Bima-NTB

Kontur dan topografi Bima yang mayoritas berupa bukit dan gunung membuat masyarakatnya terbiasa bertani secara tradisional dengan melakukan ngoho (aktifitas bertani dengan membuka lahan di hutan/gunung) pada setiap musim penghujan. Pola pertanian Ngoho ini secara turun temurun dilakukan meskipun secara peraturan pemerintah ada larangan untuk membuka lahan pertanian di hutan. Walaupun sudah banyak masyarakat Bima yang melakukan pertanian menetap di sawah atau kebun permanen, pada daerah-daerah tertentu Ngoho terkadang dilakukan secara berpindah-pindah dari satu gunung ke gunung lainnya setiap tahun. Dalam melaksanakan Ngoho ini, masyarakat agraris Bima mengenal budaya pako tana sebagai panduan umum mereka mulai dari mempersiapkan lahan dan mengelola pertanian sampai masa panen.

rawa Mbojo dalam pako tana

Secara harafiah Pako Tana adalah sebuah istilah yang berarti Memanen (pako) dan Menanan (tana) dalam bahasa Mbojo/Bima.  Lebih dari itu dalam aktivitas sehari-hari Dou Mbojo (orang Bima, red) memaknai pako tana sebagai sebuah sistem tradisional pengerahan tenaga kerja dalam bidang pertanian yang dilakukan dengan prinsip kekeluargaan dan gotong royong. Dalam sistem ini sebuah pekerjaan pertanian yang membutuhkan banyak tenaga manusia seperti nggu’da (menanam), hui (menyiangi), dan pako (memanen) akan lebih mudah untuk dilaksanakan karena prinsip gotong royong dan kekeluargaan itu diaplikasikan dalam istilah weha rima (penggunaan tenaga orang lain untuk mengerjakan pekerjaan pertanian) dan ‘bali rima (membantu pekerjaan orang lain sebagai balas jasa karena telah melakukan weha rima).

Dalam video dibawah ini tampak suasana pada musim tanam, dimana puluhan orang petani yang mayoritas ibu-ibu melakukan nggu’da doro (penanaman) pada salah satu oma (ladang). sebuah oma seluas hampir 1 hectare bisa diselesaikan dalam tempo satu hari dengan menggunakan alat pertanian tradisional. Untuk menambah semangat dan menyeragamkan ritme  alat tanam ditancapkan ke tanah untuk memasukkan benih padi maka prosesi ini biasa diiringi dengan alunan musik tradisional gambus (gambo) lengkap dengan penyanyi yang menyairkan pantun-pantun berbahasa daerah Bima dalam sebuah rawa Mbojo (lagu daerah Bima).


Dengan menggunakan alat musik tradisional, selain membuat proses penanaman menjadi lebih teratur, juga membuat para petani menjadi lebih bersemangat karena rasa capek dan lelah bisa sedikit terobati dengan hiburan musik dan lagu-lagu jenaka.

  1. Desember 29, 2011 pukul 10:09 am

    Mai mena ta kabou mantoi, pai da lao mborana tradisi pako tana, rawa mbozo wunga ngguda fare ese dana mbozo mantika poda. Mari kita ciptakan kedamaian dan kesejahteraan di dana mbozo tercinta.

  2. Januari 4, 2012 pukul 4:13 pm

    lihat juga lagu yang lain🙂
    disini:
    http://www.metrotvnews.com/wideshot//play.php?vid=4543

  3. sahbudin
    September 13, 2012 pukul 10:31 am

    Rawa mbojo dengan biola atau gambo budaya yang menakjubkan sekaligus mengejukkan hati, menggelitikan, bikir terhibur hati karena begitu lucu, mohon pada pemerintah bima mebuat kebijakan untuk melestarikan budaya bima ini mungkin melalui festifal/lomba rawa mbojo dalam bentuk pop, dandut, dan juga dalam bentuk jenaka, luar biasa

  4. Januari 15, 2013 pukul 10:59 am

    BIMA ngangenin….

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: