Beranda > I THINK, INFO > Berhenti merokok untuk kapal pesiar (mitos)

Berhenti merokok untuk kapal pesiar (mitos)

Teringat sebuah anekdot perokok sejak jaman dulu, begini ceritanya (fiktif):

Ada seorang pelajar yang sedang menunggu angkot sambil merokok ditegur oleh seorang polisi.

Polisi: “Kenapa kamu merokok?”
La Gale: “Saya suka, Pak.”
Polisi: “Dari mana uang kamu untuk membeli rokok?”
La Gale: “Dari uang jajan Saya.”
Polisi : “Sehari kamu habis berapa? Dan harganya berapa?”
La Gale: “Paling satu bungkus dan harganya sekitar Rp 11.000,- Pak.”
Polisi : “Kenapa uang Rp 11.000,- kamu bakar setiap hari? Coba kamu kumpulkan uang itu selama setahun, mungkin kamu bisa membeli sepeda motor, tidak perlu menunggu angkot yang berdesakan seperti saat ini.”
La Gale: “Sekarang saya boleh tanya sama bapak?”
Polisi : “Tentu.”
La Gale: “Apakah bapak merokok?”
Polisi : “Tentu tidak.”
La Gale: “Kok Saya tidak melihat motor Bapak?”
Polisi: !@3$%^&*?!

smoking room serem..

smoking room serem..

Cuplikan dialog diatas mungkin bisa dimaknai sebagai jokes belaka, tetapi bagi saya lebih dari itu.  Menurut saya tokoh polisi diatas mencerminkan sebagian asumsi dan anggapan kebanyakan masyarakat Indonesia bahwa merokok adalah prilaku konsumtif yang menghambur-hamburkan uang untuk mendapatkan kenikmatan sesaat dari hembusan asap tembakau. Dengan mengenyampingkan faktor kesehatan, faktor ekonomi menurut banyak orang menjadikan rokok sebagai benda yang tergolong sia-sia untuk dibeli. Menganggarkan sekian rupiah perhari untuk sebungkus rokok adalah pemborosan apalagi apabila dilakukan oleh orang-orang dengan kantong pas-pasan kayak saya.

Tapi coba kita lihat dari sisi lainnya, tidak semua asumsi yang dilontarkan dengan mengaitkan kecanduan merokok dengan faktor ekonomi adalah kebenaran dan bisa dijadikan senjata ampuh untuk memutuskan ketergantungan orang-orang terdekat kita terhadap nikotin rokok.  Selain alasan yang dilontarkan oleh tokoh (fiktif) Ompu Gale diatas, rokok juga bisa menjadi faktor pemicu seseorang berusaha lebih keras dan giat lagi untuk mendapatkan rokok. Ketergantungan memaksa mekanisme otak bekerja lebih keras lagi tentang bagaimana mencari uang untuk hidup (minimal untuk memenuhi kebutuhan rokok sekian batang sehari).

Faktor motivasi karena rokok ini bisa saja disamakan dengan motivasi bekerja keras demi keluarga atau orang yang kita sayangi, dimana seseorang akan rela bekerja keras untuk memastikan anak dan istrinya bisa makan dan hidup yang ‘cukup’ untuk hari ini, besok, dan masa yang akan datang. Setelah memenuhi kebutuhan primer ini, secara otomatis akan semakin terbukalah jalan perokok untuk memenuhi kebutuhan lainnya, bahkan bisa membeli kapal pesiar sekalipun🙂

Dari usaha mendapatkan rokok ini pulalah lahirnya istilah populer seperti “uang rokok”,  “join rokok”, atau “sumitro” alias suka minta rokok…  golongan terakhir adalah selemah-lemanya iman :ngacir:

Beberapa aspek positif merokok (masih subjektif alias menurut saya pribadi):

  1. Meningkatkan kreativitas dan keandalan bekerja (kecuali kerja di POM bensin)
  2. Meningkatkan rasa percaya diri di depan umum, ketika berjalan di kerumunan sebatang rokok yang terselip di bibir atau di sela jari sama halnya mengunyah permen karet. PEDE istilah nya…
  3. Diet yang praktis dan menyenangkan, banyak orang yang saya dengar tubuhnya makin bongsor alias gendut sejak berhenti merokok
  4. Parameter kesehatan, orang pasti sehat ketika merokok dan ketika sakit pasti tidak merokok, dan banyak alasan lainnya :p

kembali ke topik, bagi anda yang menginginkan orang terdekat anda berhenti merokok, saran saya jangan pernah memakai alasan ekonomi seperti diatas. Motif kesehatan dan kenyamanan publik bisa menjadi senjata yang ampuh untuk membuat anda bebas dari perokok tersebut. Atau yang paling canggih, carikan mereka motivasi yang lain selain rokok agar mereka bekerja, misalnya mencarikan perokok aktif seorang istri yang manis dan anak untuk mereka urusi setiap hari dan menjadi tanggungan meraka. Saya bisa jamin 60% manusia perokok akan tetap bisa giat dan ulet mencari uang tanpa merokok…🙂

  1. Oktober 15, 2011 pukul 1:11 am

    Kalau begitu, mencarikan istri yang janda beranak 14 bisa jadi solusi berhenti merokok?😀

    • Oktober 18, 2011 pukul 5:45 am

      Bisa banget… memaksa kita berhenti merokok dan mulai ngenyot akar pohon…😀

  2. Abed Saragih
    Oktober 25, 2011 pukul 12:54 am

    kunjungan dan komentar balik ya gan

    salam perkenalan dari

    http://diketik.wordpress.com

    sekalian tukaran link ya…

    semoga semuanya sahabat blogger semakin eksis dan berjaya.

  3. Abed Saragih
    Oktober 28, 2011 pukul 11:20 am

    Kunjungan lagi ke blog ini… hehehe🙂
    ditunggu kunjungan dan komentar baliknya🙂
    salam persahabatan🙂

  1. November 7, 2011 pukul 12:51 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: