Beranda > Gunung, MBOJO BIMA > Langit Penuh Bintang di TALAPITI

Langit Penuh Bintang di TALAPITI

Beautiful stars only seen in the totally dark night, Bintang yang indah hanya akan terlihat jelas dalam malam yang betul-betul gelap. Ungkapan ini terlepas dari makna kiasannya adalah sebuah fakta yang saya dapatkan. Untuk menikmati langit yang penuh dengan taburan bintang yang terlihat jelas, tempat yang gelap tanpa penerangan buatan adalah lokasi terbaik untuk mengagumi keindahan Sang Pencipta. Untuk itu Tuhan menciptakan Desa Talapiti tanpa penerangan listrik PLN dan betul-betul gelap.

Selayang Pandang Desa Talapiti

Talapiti adalah sebuah desa yang sejak “wabah pemekaran” merajalela tahun 2009 yang lalu dimekarkan dari desa induk yaitu Desa Tolowata dan sekarang secara definitif masuk ke dalam wilayah administratif Kecamatan Ambalawi Kabupaten Bima. Desa ini memiliki beberapa dusun diantaranya: Nggaro Nangga, Tolowata, Tala Na’e, Tala Rasabou, dan Boka. Sebanyak 2.348 orang mendiami desa ini. Jumlah itu terdiri dari laki-laki (1.135 orang) dan perempuan (1.213 orang) dengan jumlah KK 683.

Jelajahi Desa Talapiti Lewat Udara klik: wikimapia.org

Kata TALAPITI sendiri sampai sekarang masih banyak versi yang tersebar mengenai asal-muasal penamaan desa ini. Dalam perbendaharaan kosa kata Bahasa Bima, kata TALA memiliki 2 makna yaitu: Bicara dan Berderet (berjejer), dan kata PITI memiliki makna: uang. Mayoritas penduduk setempat lebih mempercayai dinamakannya TALAPITI karena cikal-bakal pembentukan desa adalah bermula pada sebuah area jauh kedalam dari wilayah desa sekarang yang konon terdapat gua yang ditemukan banyak uang yang berjejer (kebenaran mengenai cerita ini akan saya coba telusuri kalau saya berkunjung lagi kesana).

Dilihat dari topografinya, Desa Talapiti tergolong dataran tinggi dan berbukit karena berada pada ketinggian 200m (dpl) dengan suhu udara rata-rata 16 – 35 °C dan curah hujan tahunan mencapai 60 mm mm/tahun. Desa ini berada di sepanjang sungai Sori Tala Nae yang mengalir sepanjang tahun ke arah sungai Tera di Desa Tolowata. Secara adminstratif desa ini berbatasan dengan Desa Tolowata (sebelah utara), kelurahan Ntobo Kota Bima (sebelah selatan), Desa Rite (sebelah Barat) dan Desa Wora (sebelah timur).

Desa yang terletak 31 Km sebelah utara Kota Bima ini memiliki jarak tempuh 1-1,5 jam dengan jalan darat. Untuk menuju desa ini jalur yang ditempuh adalah jalur utara Kota Bima menuju Jatibaru, selanjutnya tinggal mengikuti jalur menuju Kec. Wera sampai Desa Tolowata dan belok kanan pada persimpangan depan SDN No.1 Tolowata. Kondisi jalan bervariasi, Aspal mulus hotmix  sampai puncak Ncai Kapenta (perbatasan Kota Bima dengan Kabupaten Bima), dan betul-betul Off Road pada saat penurunan dan bervariasi/terkadang bagai kubangan sampai Desa Tolowata.  Jalan dari Desa Tolowata ke Desa Talapiti dalam keadaan baik, Aspalisasi terakhir pada tahun 2008 membuat desa ini bisa dijangkau dengan mudah dari desa tetangga namun dari beberapa dusun yang sudah teraspal, masih ada dua dusun yang masih berupa jalan tanah berbatu yaitu desa Tala Rasabou dan Boka. Rupanya proyek Rp 1,2 milyar itu belum bisa menuntaskan kurang dari 1 km jalan yang seharusnya dikerjakan, akan tetapi jika membandingkan dengan kondisi 10 tahun yang lalu, sekarang sungguh luar biasa kemajuannya. Saya masih ingat dulu, bentang alam pegunungan dan akses masuk menyusuri sungai sepanjang sungai sejauh 5 km melalui jalan tanan berbatu, kadang menanjak curam dan terkadang (3 kali) menyebrangi sungai bagi orang luar seperti menuju desa terpencil alias desa “kerongkongan“.

Desa ini mungkin satu-satunya desa di Kab. Bima (CMIIW alias kancihi ‘batu jap warasi mancara) yang belum tersentuh jaringan Listrik PLN, Sejak jaman kakek saya masih hidup sampai presiden berganti beberapa kali pemerintah menjanjikan jaringan listrik permanen masuk ke desa ini. Untuk menghidupkan desa dari kegelapan total penduduk desa Talapiti menggunakan lampu minyak tanah sebagai sumber penerangan. Sejak beberapa tahun terakhir seiring meningkatnya taraf perekonomian masyarakat dan semakin melangitnya harga minyak tanah, sebagian kecil warga membeli genset (generator listrik tenaga bensin) untuk menerangi rumah. Genset ini juga dipakai untuk  menyalakan TV yang menggunakan antena parabola untuk menikmati siaran TV Swasta Nasional. Tidak heran ketika beranjak malam pada titik-titik tertentu di desa riuh rendah masyarakat berduyun-duyun menyaksikan megahnya pembangunan Indonesia dari balik layar kaca. Beban hidup sehari-hari seakan hilang karena mengomentari gobloknya Pak Prabu, atau sialnya nasib hidup si Amirah….:mrgreen:

Desa ini seakan-akan terjebak dalam lingkarang pegunungan yang penuh dengan medan magnet, sampai-sampai signal tidak bisa lolos. Jika anda memiliki kesempatan berkunjung, jangan lupa battery cadangan beserta signal  seluler dibungkus serta. Signal terakhir hanya bisa didapati di desa Tolowata, itupun harus sedikit naik tebing Dusun Rasabou. Mampirlah kesana jika ingin mengabarkan keluarga bahwa anda selamat dari jalur offroad (aspal rusak) dan ingin  meneruskan perjalanan ke Desa Talapiti. Saya sendiri pernah berencana merakit antena penerima signal HPuntuk dioperasikan di rumah nenek, tapi belum kesampaian hingga saat ini. Perlu survey dan survey lapangan dulu!

Selain signal HP, kontur pegunungan Ambalawi menghalangi signal jaringan radio FM di Kota Bima. Sejak (jaman kakek saya masih hidup) dulu satu-satunya sarana hiburan bagi warga desa baik dirumah maupun di sawah/ladang adalah Radio 2 Band merk National yang bertenagakan 2 buah battery ABC. Siaran yang bisa diterima dengan jelas hanya Radio Republik Indonesia (RRI) Programa 2 Ujung Pandang (Makassar). Radio vital peranannya selain sebagai sarana hiburan dan berita juga sebai penanda masuknya waktu shalat (Zona waktu Makassar dan Bima beda-beda tipislah…). Oh iya, saya jadi ingat ketika saya masih berkuliah di Makassar dulu, saya sering merequest lagu dan salam buat sanak family di Desa Talapiti. Jika anda punya kesempatan dan akses, tolong bantu saya membuat warga Talapiti masih dianggap eksis, minimal dalam dunia radio AM, sampaikan salam anda buat warga desa Talapiti Kec. Ambalawi Kabupaten Bima (NTB), saya yakin mereka akan mendengarnya.

Potensi Andalan Desa Talapiti

Namanya juga potensi, tetap saja akan sekedar berupa data-data statistik jika tidak digarap. Menurut kacamata saya, Desa ini dari topografi bergunung-gunung dan Iklim kering maka cocok dikembangkan sektor perkebunan Jambu Mete, Jati, dan juga Peternakan Sapi dan Kambing. Terdapat juga sawah irigasi ½ teknis seluas 89 Ha yang potensial untuk dikembangkan, akantetapi lokasi persawahan mengikiti sepanjang aliran sungai yang pasti setiap tahun banjir besar akan sangat rawan untuk dijadikan sumber utama kehidupan. Beberapa bulan yang lalu pada waktu musim hujan sawah-sawah di desa Talapiti banyak yang hanyut terbawa banjir, sedangkan hutan sekitar desa (1.896,45 Ha) yang turun temurun digunakan sebagai ladang terlarang bagi penduduk desa karena sifat perladangan yang masih dipakai berupa ladang berpindah. Sebuah hal yang dilematis bagi penduduk desa dalam mencari penghidupannya.

Selain sektor pertanian, desa ini sejak dulu dikenal sebagai desa penghasil produk anyaman tikar daun pandan. Rumpun-rumpun pandan berduri sangat mudah ditemukan sepanjang sungai dan dari tangan-tangan terampil perempuan terciptalah tikar pandan yang apik. Hampir seluruh warga perempuan baik yang masih remaja sampai nenek-nenek bisa menganyam tikar, akan tetapi produk ini belum bisa mengangkat taraf perekonomian keluarga karena menganyam tikar hanya biasa dilakukan dikala waktu senggang sepulang bertani/berladang. Kurangnya post production seperti pengemasan, manajemen pemasaran dan penciptaan image daerah sebagai sentra tikar pandan belum bisa membuat produk ini berbicara banyak di level kabupaten.

Foto hanya ilustrasi, saya belum punya kamera yang bisa menembak langit malam

Ok lah, tidak semua hal belum sempurna wujudnya di Desa Talapiti. Seperti judul postingan ini, desa “kerongkongan”  ini diberkahi dengan langit yang jernih dikala malam sehingga gugusan bintang dan galaksi terlihat jelas dan Indah di malam hari.  Mungkin Talapiti belum diberikan ruang dan waktu untuk berbicara pada level regional dan nasional, namun yang pasti dengan berada di Desa Talapiti pada malam hari kita bisa lebih dekat dengan seluruh jagat raya, jauh lebih dekat dari tempat manapun di dunia ini.

Kota Bima,menjelang Imsyak 3 Ramadhan 1432 H

  1. Juni 29, 2014 pukul 9:09 pm

    I all the time emailed this weblog post page to all my contacts, for the reason that
    if like to read it next my links will too.

  1. Agustus 16, 2011 pukul 1:04 pm
  2. November 7, 2011 pukul 12:51 am
  3. Januari 5, 2012 pukul 11:26 pm
  4. Februari 27, 2012 pukul 6:06 pm
  5. Juni 1, 2012 pukul 5:04 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: