Beranda > INFO > Lulusan Terbaik Salah satu Universitas Negri Menjadi PNS Tukang Sapu

Lulusan Terbaik Salah satu Universitas Negri Menjadi PNS Tukang Sapu

Dia tercatat sebagai salah seorang alumnus terbaik Universitas Riau. IP kumulatifnya 3,75. Dia juga tercatat sebagai pegawai negeri sipil golongan IIIA. Namun, tetap saja dia harus rela menjadi tukang sapu. Dialah Jack Lord.

WARGA Jalan Genteng, Perumahan Tampan Permai, Kelurahan Tuah Karya, Kecamatan Tampan, Pekanbaru, itu tercatat sebagai PNS golongan IIIA. Tapi, saat ditemui di tempat kerjanya kemarin (21/4), dia malu. Bahkan, hampir saja dia tidak mau mengakui bahwa dirinya adalah lulusan jurusan ilmu pemerintahan di fakultas ilmu sosial dan ilmu politik dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,75.

Jack Lord, laki-laki itu, menyatakan menjadi PNS sejak 2002. Namun, dia menjadi PNS dengan kualifikasi tamatan SMU dan bergolongan IIB kala itu. Dia berstatus pengatur muda tingkat satu saat itu.

Lulusan Terbaik Salah satu Universitas Negri Menjadi Tukang Sapu

Lulusan Terbaik Salah satu Universitas Negri Menjadi Tukang Sapu

Dia mulai bekerja sebagai tenaga cleaning service. Tiap hari dia harus menyapu lantai, mengepel, serta membersihkan ruang, kaca, bahkan kakus kantor. Resminya, dia tercatat sebagai pengelola kebersihan ruang belajar dan aula kecil.

Saat menceritakan itu, suara Jack terdengar lirih. Tangan kanannya yang memegang tangkai sapu bergetar. Tarikan napasnya juga cepat dan matanya mulai berkaca-kaca.

Sambil bekerja, Jack menyatakan berusaha untuk kuliah. Sebab, dia bercita-cita menjadi orang yang bisa dibanggakan oleh orang tua dan keluarga. Berkat usaha keras tersebut, dia berhasil menamatkan kuliah dan lulus dengan IP cum laude di universitas negeri terbesar di Provinsi Riau. Dia juga sudah melewati penyesuaian ijazah. Namun, sampai kini dia tetap menjadi tukang pel di kantor penjamin mutu pendidikan tersebut.

“Saya pernah protes sampai Jakarta. Tapi, tidak ada perubahan. Mungkin itulah takdir hidup saya, menjadi tukang sapu. Saudara saya juga jadi tukang sapu jalan. Kami, dua bersaudara yang sama-sama lulus kuliah, seperti dipermainkan oleh nasib. Anak yang seharusnya bisa membuat orang tua bangga masih saja jadi tukang sapu,” tuturnya dengan air mata berlinang.

Lelaki itu merasa dipermainkan dan ditindas. Dia berkali-kali wadul kepada ata­sannya. Bahkan, dia pernah bertanya, adakah PNS golongan IIIA yang jadi penyapu lantai dalam SK yang dikeluarkan oleh pemerintah? Tapi, semua itu tidak berubah.

Dulu, saat protes ke Jakarta, Jack mengatakan ditanggapi Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Kala itu SK-nya ditandatangani Ir Giri Suryatmana. Oleh Giri, atasannya di Pekanbaru, Jack disuruh memperbaiki SK itu sesuai dengan golongannya. Atasannya mengakui ada kesalahan pengetikan. Namun, kondisi toh tidak berubah.

“Dengan golongan yang sama, teman-teman duduk di ruang, bekerja dengan kertas dan bolpoin, sedangkan saya harus pegang sapu untuk membersihkan lantai. Saya tidak keberatan dengan pekerjaan itu. Sebab, sejak dulu itulah pekerjaan saya. Tapi, sesuaikah itu dengan apa yang sudah saya tempuh? Percuma saja saya kuliah,” ujar Jack, sesak.

Sambil menghapus air mata yang mengalir di pipi, Jack menyatakan memahami birokrasi pemerintahan dan manajemen kepegawaian. Menurut dia, yang dijalaninya sekarang sangat bertetangan dengan pengetahuannya tentang pekerjaan di pemerintahan. “Apakah nasib saya disebabkan kesalahan nenek moyang sebelum saya?” ujarnya serak.

Jack menyatakan mulai kehilangan rasa percaya diri saat usianya memasuki kepala tiga. Dia menuturkan belum menikah. Dia pernah terpikir untuk menikahi seorang gadis. Tapi, posisi sebagai tukang sapu membuatnya tidak berani mengungkapkan perasaan kepada sang pujaan hati. “Siapa sih yang mau bersuami saya? Sepertinya, tidak ada orang tua yang mau melepas anak gadisnya untuk hidup bersama saya,” ujar Jack dalam dialek Melayu.

Kasubag Umum LPMP Riau Drs Syukhmide Hendri saat ditemui Riau Pos (Jawa Pos Group) tidak menafikan bahwa di kantornya ada PNS lulusan S-1 yang dipekerjakan sebagai tenaga cleaning service. Namun, saat ditanya soal dasar penempatan itu, dia menghindar. Sembari berpura-pura memanggil salah seorang pegawai, dia lari begitu saja. Padahal, sebelumnya dia hendak bercerita panjang seputar tugas di LPMP. (bud/rul/jpnn/c11/soe)

TIM RIAU POS, Pekanbaru

Dikutip dari JAWAPOS

  1. budiBontank
    April 24, 2010 pukul 3:49 am

    pertamaxxxxx superrrr

    • April 24, 2010 pukul 11:22 am

      TS cuman dapat pejwan, curang!!!!
      hiks…

  2. April 24, 2010 pukul 5:41 am

    Kalo gajinya gede sih gpa2 lah aku mah terima aja😀

  3. April 24, 2010 pukul 8:53 am

    Astaghfirullah😦

  4. April 24, 2010 pukul 10:14 am

    Di indonesia kayaknya pintar dan jujur gak masuk hitungan. Justru yang berwatak korup yang sukses… Memang miris.

    • April 24, 2010 pukul 11:25 am

      Satu golongan ama Gayus, cuman beda nasib…

  5. April 24, 2010 pukul 10:54 am
    • April 24, 2010 pukul 11:29 am

      Harusnya sih disyukuri gan, tapi antara realitas dan kenyataan yang bertolak belakang tetap harus dipertanyakan, agar ada perubahan hidup kearah yang lebih baik.

      Miris juga membaca dia tidak menemukan jodohnya gara-gara pekerjaannya…

  6. Frans
    April 24, 2010 pukul 12:01 pm

    rugi juga negara membiayai pendidikan tinggi tapi lulusan terbaiknya tidak diserap dengan baik oleh pemerintahnya, apakah ini kebijakan keliru ini akan terus berlangsung,bagaimana tanggapan kepala dinas pendidikan riau, gubernur riau untuk isu ini??

  7. April 25, 2010 pukul 1:19 am

    kapan negara bisa maju, kalo yang berpotensi di amputasi

  8. April 25, 2010 pukul 3:22 am

    emang aneh negara ini….

  9. April 25, 2010 pukul 5:42 am

    Cb tempuh jalur hukum. Konsultasi kepakar hukum..
    Atau surati pimpinan daerah,bahkan presiden.
    Jgn menyerah kpd “nasib” sblm km mati..ayo berjuang trus. Km bisa! GB

  10. April 25, 2010 pukul 10:31 am

    Ironis…😦

  11. Bodronoyo
    April 25, 2010 pukul 8:04 pm

    Terlalu jujur. Kurang suap, kurang njilat,
    Minimal pake makelar buat memperlancar jabatan. Atau punya sodara yang dapet chanel ke orang penting.
    Mungkin aja gitu.

  12. doni
    April 26, 2010 pukul 11:00 am

    harusnya masih disyukuri..
    masih banyak lulusan universitas negeri terbaik yang masih nganggur,belum punya pekerjaan & penghasilan..
    masih untung punya biaya bt kebutuhan sehari2..

  13. Pika
    April 27, 2010 pukul 10:23 am

    Inilah indonesia, negara “modern” yang jungkir balik

  14. Mei 1, 2010 pukul 12:27 am

    takdir pak….. klo mau cari kerja kesini…
    http://bursa-lowongan-kita.blogspot.com/

  15. Mei 1, 2010 pukul 1:59 pm

    MANTAB!!!! Indonesia…. Indonesia…. IPK 1,9 jadi Pengusaha Sukses kaya aku saja….

  16. Mei 4, 2010 pukul 3:45 am

    KKN = WTF !!!

  17. noname
    Mei 23, 2010 pukul 8:28 pm

    ORANG KAYA ITU ORANG K*NT@L
    sehingga gua tahu kalau hidup yang diperjuangkan menjadi palsu

    Yang Kaya itu orang yang santai
    mudah menyuap menipu apalagi bersandiwara

    alhasil orang yang ingin jujur dalam kehidupan
    harus merasakan naasnya penderitaan orang-orang yang memang ingin benar hidupnya
    ujung-ujungnya bakal ditindas juga

    So ngaca ajalah yang dirinya merasa warga Negara Indonesia Benar dan Benar lagi…

    PALSU!!!!

  18. jolowok
    Juni 5, 2010 pukul 8:57 pm

    lagi ngerti to mas, yo ngono iku lagak lagone pejabat.. babar pisan ra ngajeni, sing diajeni mung kronine.. kapan indonesia maju!

  19. bgung
    Juni 21, 2010 pukul 12:25 am

    hmmm… kalo memang benar lulusan terbaik dan cum laude. seharusnya sih berani keluar dan ikut tes cpns lagi.. kalo langsung diangkat mah kok enak banget. kasian yang tes cpns dengan ijazah S1 dong, mending ikutan model kayak dia ajah… jadi tukang bersih-2 dulu pake ijazah sma terus masukin ijasah S1.jadi staff dah… hmmm… sudah dapat gaji gol 3A masih aja kurang. lucu… mestinya ngelamar kerja itu kan nyari gaji to.. bukan nyari kerjaan… kalo cuman nyari kerjaan mah.. nggak usah ke kantor… di rumah juga udah banyak….

  20. si bolang
    November 20, 2010 pukul 2:10 am

    yah, abis gmna awalnya daftar pake ijazah sma, berenti aja mendingan, gajinya dikumpulin dipakai wat dagang/ buka toko, kl malu jd tukang sapu mas..

  21. Desember 4, 2010 pukul 10:36 pm

    bisa ngak tukang sapu bisa menjadi pns.??tukang sapu ini ngak punya ijazah sama sekali.??tapi iya ingin jadi pns..??tolong kasih saran nya ya trims.??

    • NT
      Mei 2, 2011 pukul 3:10 pm

      semua tukang sapu di pemda daerah ku termasuk pns, tp ya memang rata2 lulsan SMA…liat dulu deh di pemda nya ngasih lowongan tukang sapu lagi gak….gol. semua tukang sapu sama meski dia lulsan SMA, S1, bahkan S2 sekalipun, kl jd tukang sapu ya yg di kasihkan ijazah SMU

  22. Nurdin Ar
    April 20, 2011 pukul 1:18 pm

    Salaut… itu lebih baik dari pada tukang copet kelas kakap alias koruptor..

  23. NT
    Mei 2, 2011 pukul 3:02 pm

    ahhh…itu sih salah si jack sendiri, atau memang terlalu dibesar2kan…kl dia merasa lulusan S1 gak pantes jd tukang sapu,ngapain dia sebelumnya ngelamar jadi tukang sapu, harusnya dia ikut seleksi CPNS yg minimum sarjana S1 dong(iya kl langsung diterima)…di kotaku banyak kok yg lulusan S1 yg jadi pasukan kuning pns,itu kan pilihan dia sendiri supaya bisa cepat jd pegawai PNS (atau krn sulitnya dia mendapat pekerjaan)…kakakku sendiri harus jd pengagguran dulu 5 tahun baru bisa lulus tes cpns yg gol. IIIa…di kantor omku lumayan banyak kok yg jadi pasukan kuning bagian lapangan(jd tukang sampah + tukang sapu di jalan2) yg udah gol. IIIa…karena memang masa kerjanya…..dan satu lagi jangankan si jack teman kakakku aja yg dulu lulusan S1 di PT negeri terkemuka di malang, yg dulunya juga anggota BEM dan aktif di berbagai event nasional kemahasiswaan sekarang juga jd pasukan kuning, krn sebelumnya dia juga ngelamar kerja jd pasukan kuning….jd intinya si jack ini terlanjur salah kamar, kl memang dia merasa mampu kerja di bagian administratif,TU atau bagian lainnya ngapain dia ngelamar jadi tukang sapu, sama dengan yg lainnya dong kerja keras ikut seleksi cpns yg minimum pendidikan sarjana S1…dia nya sih ngambil amannya doang, pengennya jd PNS yg gak usah susah2 ujian & bersaing dengan teman2 yg pendidikan terakhirny setara…

    • Mei 3, 2011 pukul 3:23 am

      Tapi si Jack ini beda kasusnya Mbak…
      Dia di “tukang-sapukan” gara-gara kesalahan prosedur. Tapi kalau memang dari pertama masuk PNS mau jadi tukang sapu padahal sarjana berprestasi, menurut saya sebuah langkah keliru. Letakutan berlebih tidak dapat kerja padahal dengan kemampuan yang dimiliki dia bisa bikin lapangan kerja tanpa harus teriming-imingi jadi PNS….

  24. ucup
    Juli 9, 2011 pukul 1:33 pm

    waduh, aku gak ngerti masalah ini’ tp ya tetep, mendingan berdoa pada allah aja, dan mensyukuri sambil berusaha dengan apa yang dia berikan, pada allah aja, dan mensyukuri sambil berusaha dengan apa yang dia berikan,

  25. November 21, 2011 pukul 5:35 pm

    ente aja yang tidak bersyukur mas, udah PNS banyak nuntut,lihat tuh banyak sarjana aja nganggur

  1. April 24, 2010 pukul 5:59 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: