Arsip

Posts Tagged ‘bima’

Perkaya Jiwa Dengan Traveling

Juni 14, 2013 3 komentar

Malam ini saya berkunjung ke Youtube. Untungnya, walaupun jam segini dia masih buka, ya sudah saya masuk saja :mrgreen: Beberapa video yang pernah saya posting, saya putar ulang. Termasuk diantaranya beberapa video perjalanan saya dan teman-teman mengunjungi beberapa pantai menarik di Bima.

Melihat kembali beberapa dokumentasi penjelajahan yang pernah saya lakukan membuat perasaan rindu untuk kembali bertualang. Menggelar perjalanan-perjalanan kecil menyusuri aneka ragam kondisi medan dan bertemu hal-hal baru, begitu menggoda untuk dilakukan lagi.

Hasrat ingin tahu dan bertemu dengan hal-hal baru salah satunya bisa dilakukan dengan ber-traveling. Kendati kita bisa saja menjelajahi setiap sudut dunia maya, melihat gambar atau membaca tulisan orang lain yang melakukan traveling, tentunya hal ini tak dapat menggantikan sensasi jika mengalami sendiri pengalaman bertualang itu.

Apalagi, melakukan perjalanan selain menambah pengalaman, juga sarat dengan nutrisi yang bisa memperkaya jiwa kita. Bagaimana tidak, berada di tempat yang jauh dari zona kenyamanan, bersatu dengan alam, sendiri di tempat yang belum terjamah membuat kita mengalami sensasi-sensasi yang sebelumnya mungkin tak pernah dirasakan.

Sengsara Membawa Nikmat

Jalan rusak menuju destinasi, terkadang merupakan destinasi itu sendiri

Jalan rusak menuju destinasi, terkadang merupakan destinasi itu sendiri

Ada kalanya kita mengalami kesulitan di perjalanan atau di tempat yang kita tuju. Kendaraan mogok, jalan rusak, tersasar, lupa bawa bekal, atau melewati tempat yang menyeramkan misalnya. Tantangan-tantangan ini biasa terjadi bagi orang yang bepergian, tentunya dengan persiapan yang matang tentunya hal ini bisa dihindari.

Minimal kita harus memperkaya informasi mengenai tempat yang hendak kita tuju maupun persiapan yang harus kita lengkapi sebelum kita memutuskan untuk memulai perjalanan. Dan biasanya, dengan melakukan perjalanan bersama banyak orang, kesulitan-kesulitan itu tak akan begitu payah dirasakan, bahkan bisa menjelma menjadi keasyikan tersendiri untuk diceritakan nantinya.

Team CLBK di lokasi survey

Semua beban akan sirna ketika tiba di tujuan

Menggelar acara berkemah di tempat terbuka, seperti pantai atau gunung juga memiliki nilai tersendiri. Dekat dengan alam semesta, tentunya akan semakin lebih mendekatkan diri dengan tuhan, begitu salah seorang temanku pernah berkata. Berada jauh dari hiruk pikuk dan keramaian kota, membuat kita merasa kecil di tengah semesta. Desiran angin dingin gunung dan nyanyian ombak menjadi pelipur lara yang efektif untuk para manusia yang hendak lepas dari kepenatan bekerja. Begitu pula dengan keindahan panorama alam serta keunikan tempat-tempat yang kita kunjungi, beratnya perjalanan akan terlupakan dengan sendirinya digantikan dengan ketakjuban yang menjadi hiburan.

Kenikmatan itu tentunya bisa didapatkan dengan mengunjungi sejumlah tempat yang direferensikan untuk dikunjungi. Namun sejumlah catatan traveling yang banyak beredar di jagat maya masih miskin menceritakan objek perjalanan di Bima. Para traveler lokal tentunya sudah mahfum dengan sejumlah destinasi andalan di liar daerah, namun pertanyaannya, sudahkah anda menelusuri daerah kita sendiri?

Tak Perlu Jauh-Jauh ke Luar Daerah

Memandang ke arah selatan, Kota Bima sedang bertumbuh

Memandang ke arah selatan, Kota Bima sedang bertumbuh

Traveling tak harus dilakukan dengan mengunjungi tempat-tempat yang jauh. Tak perlu keluar kota, di sekitar tempat tinggal kita tentunya masih banyak tempat-tempat yang belum pernah kita kunjungi. Atau kita bisa saja mendatangi tempat yang pernah kita kunjungi semasa kecil, sekaligus bernostalgia dengan kenangan-kenangan lampau. Aku pernah mengunjungi bukit kecil yang berdiri tepat depan rumah dan membuat catatan untuk itu.

Untuk Kota Bima sendiri, beberapa tempat yang saya rekomendasikan untuk dikunjungi diantaranya: Kompleks istana dan masjid kesultanan Bima, Pelabuhan Bima, Komplek pekuburan kesultanan (Dana taraha dan Tolo Bali), Museum Samparaja. Selain itu sentra kerajinan tenun tradisional di Kelurahan Rabadompu, Ntobo, dan Kendo juga layak masuk dalam destinasi yang harus anda kunjungi.

Lebih jauh lagi dari pusat kota, pecinta pantai dan laut bisa mengunjungi pesisir Ule-Kolo. Disana banyak spot menarik untuk mandi laut atau sekedar berfoto. Untuk yang memiliki perangkat selam seperti snorkel ataupun scuba diving, di ujung barat Kolo ada pantai yang bernama So Numbe yang masih kaya dengan panorama bawah air.

Bosan ke pantai?, masih dalam wilayah kota anda bisa bertualang bersama rekan mendaki puncak Pundu Nence. Beberapa jam pendakian dari Kelurahan Lelamase anda akan tiba di bukit yang memiliki pemandangan indah ke arah kota dan Kabupaten Bima. Dirikanlah tenda dan habiskan malam mengelilingi api unggun, saya yakin pengalamannya tak akan terlupakan.

Dekat di Luar Kota Bima

Snorkeling di Oi Fanda

Snorkeling di Oi Fanda

Ingin lebih jauh lagi? Kunjungi Oi Fanda dan dua pantai di dekatnya, kita hanya butuh tak lebih dari satu setengah jam untuk sampai kesana.  Lebih ke arah utara lagi, kita bisa saja melanjutkan ke pantai Sanosu atau bercengkerama dengan ular-ular laut yang jinak di Pulau Ular dan Pantai Oi Caba Kecamatan Wera. Untuk yang masih punya waktu dan tertantang dengan pengalaman lebih, bisa saja melanjutkan perjalanan pada jalur yang sama. Menuju Sape dengan terlebih dahulu singgah di Pantai Toro Wamba yang berpasir putih.

Masih di Sape, tak jauh dari pelabuhan terdapat sebuah pulau yang dihuni oleh penduduk Suku Bajo (Bajau) yang merupakan pendatang dari Sulawesi. Aku visualisasikan pantai disana merupakan perpaduan pantai di Belitung yang bercadas dan berbatu besar. Pasirnya pun putih dengan air yang jernih. Para pecinta fotografi saya yakin akan menemukan surganya disana. Panorama pantai, maupun keseharian anak-anak suku bajo yang bersaudara dengan laut, saya rasa terlalu berharga untuk dilewatkan oleh jepretan kamera.

Sedikit Lebih Jauh di Pelosok Bima

Perkampungan nelajan bako di bajo Pulau - Sape

Perkampungan nelajan bako di bajo Pulau – Sape

Sedikit lebih jauh ke timur Kecamatan Sape, di Kecamatan Lambu terdapat pantai Papa yang eksotis. Jalur jalan yang sudah teraspal bagus membuat anda tiba dalam setengah jam dari Sape. Ingin mencoba track yang lebih ekstrim? cobalah ke Baku. Daerah transmigrasi yang jarang disebut ini konon menyimpan keindahan panorama pantai yang unik. Ganggang-ganggang dan tumbuhan laut membuat karang di sepanjang pantai yang berjarak 2 jam dari Sape ini memukau mata. Hanya saja akses jalan yang masih berbatu membuat tempat ini sulit untuk didatangi dengan menggunakan kendaraan. Penulis sendiri belum pernah kesana, namun tak sabar untuk membuktikannya.

Ke arah selatan kota, berkendara selama satu atau dua jam bisa saja membawa anda ke sejumlah tempat menarik. Saya merekomendasikan anda mengunjungi perkampungan tradisional di Sambori yang bisa dicapai dengan menempuh jalur ke arah timur dari perempatan Talabiu. Jika anda beruntung, gambaran masyarakat tradisional bima yang agraris bisa ditemukan disana lengkap dengan ragam kesenian dan budaya daerah. Tempat ini berada di pegunungan yang sekarang relatif lebih mudah dijangkau dengan kondisi jalan yang bagus.

Tempat yang sejenis bisa ditemukan di pegunungan Donggo. Di pegunungan yang ada di seberang barat Kota Bima ini, selain desa adat kita bisa menggelar kegiatan napak tilas dengan mendatangi sejumlah objek wisata sejarah. Kunjungi juga peternakan kuda tradisional di Donggo Mpili, niscaya anda akan menemukan susu kuda liar yang dipercaya berkhasiat untuk kesehatan.

Sementara pada bagian pesisirnya, di Kecamatan Soromandi dapat kita temui prasasti sejarah Wadu Tunti yang merupakan tonggak catatan sejarah Daerah Bima. Deretan pantai yang eksotis juga bisa menjadi hiburan menarik jika anda memutuskan mengunjunginya. Adapula puing-puing benteng Asakota yang pernah berdiri tegak melindungi Kesultanan Bima dulu dari serangan bajak laut dan Belanda.

Sementara pada musim kemarau, akses jalan menuju puncak Pulau Kambing konon terbuka. Menurut teman-temanku yang pernah kesana, hamparan ilalang di pulau kecil itu begitu indah ketika berpadu dengan laut Teluk Bima. Kita bisa bebas memandangi teluk Bima dari segala penjuru di puncak Doro Nisa (pulau Kambing). “Pulau kecil yang dapat ditempuh dalam waktu 15 menit dari pelabuhan bima itu harus dicoba sendiri,” ujarnya.

Masih kategori berjarak tak terlalu jauh dari Kota, jangan lewatkan mengunjungi deretan pantai selatan. Pantai Wane, Rontu, Woro, Pusu, dan Tamandaka merupakan beberapa nama yang kerap disebut oleh pecinta traveling lokal. Sayangnya dari nama-nama itu, baru pantai Rontu yang pernah saya datangi. Pantai ini berombak besar dengan hamparan pasir putih khas pantai-pantai laut selatan Indonesia. Jikalau ingin mencari padanannya dengan pantai terkenal lainnya, karakteristiknya mirip pantai Kuta di Bali atau pantai Lakey di Dompu yang menjadi primadona para bule peselancar. Insya Allah pantai-pantai selatan lainnya yang berlokasi di tiga kecamatan berbeda ini satu persatu akan saya datangi.

Lebih Jauh Lagi….

Jika dua kategori diatas saya urut berdasarkan jarak, maka pada bagian terakhir ini saya ingin menyajikan menu-menu perjalanan yang terbilang cukup jauh dari kota Bima. Di Kabupaten Bima, Kecamatan yang paling jauh adalah Kecamatan Sanggar dan Tambora. Sesi ini secara khusus mengangkat sejumlah destinasi di dua kecamatan itu yang sayang untuk dilewatkan.

Dalam suatu kesempatan saya pernah mengunjungi dua Kecamatan itu sekaligus. Untuk mencapai Sanggar kita membutuhkan waktu tiga hingga empat jam berkendara. Di Kecamatan yang pernah memiliki kerajaan sendiri ini, terdapat kompleks pemakaman kerajaan yang terletak di pusat kota Kore. Ada pula pelabuhan kecil yang menjadi salah satu urat nadi perekonomian masyarakat setempat, aktivitas nelayan yang mungkin harus anda saksikan. Ada juga Oi Tampiro, pemandian alami air tawar yang berlokasi di pesisir Piong.

sekali-kali TS nampang narsis

sekali-kali TS nampang narsis

Sementara menyusuri jalur lingkar utara menuju Tambora, panorama khas Sabana dan kehidupan satwa liar pernah saya angkat disini. Oi Marai, sebuah sungai yang bersih dan asri dengan air terjun yang tak kalah cantiknya menanti tapak kaki kita. Selain alam, sejumlah desa transmigran sepanjang perjalanan memiliki keunikan tersendiri. Terdapat sebuah desa yang isinya transmigran Bali di Desa Oi Bura, dekat jalur pendakian Tambora. Ada pula kebun kopi peninggalan Belanda di desa yang sama yang begitu unik. Dan tentunya bagi pecinta gunung bisa merasakan pengalaman mendaki gunung yang pernah menggelap-gulitakan daratan eropa ini.

Itulah beberapa mozaik keindahan Bima yang bisa saya hadirkan. Tentunya masih banyak lagi tempat yang belum terekspos dalam tulisan. Ia menungguku atau siapa saja untuk menceritakannya. So, tunggu apa lagi? Sebelum berpetualang ke luar daerah, tak ada salahnya mendatangi tempat-tempat menarik di daerah sendiri. Kunjungi mereka dan ceritakan pengalamanmu…

Mengenal Upacara Adat Mbojo (Bima) ~Prosesi Khitanan dan Khatam Al-Quran

Desember 17, 2011 1 komentar

Ketika seorang anak beranjak dewasa, bagi masyarakat Bima merupakan saat yang tidak kalah sakralnya dengan kelahiran (baca tulisan terdahulu tentang prosesi kelahiran menurut adat Mbojo). Proses menjadi dewasa sama halnya dengan momen dimana seorang manusia beralih dunia, meninggalkan masa kanak-kanak yang penuh dengan keceriaan menuju masa remaja yang penuh tanggung jawab bagi diri, keluarga maupun masyarakat.

Dalam adat Bima, proses pendewasaan seorang anak manusia ditandai dengan dua macam upacara adat. Upacara adat ini merupakan pengejawantahan syariat Islam yaitu kewajiban untuk melaksanakan khitan bagi laki-laki serta anjuran untuk menamatkan pembelajaran baca Al-Qur’an sebagai penuntun hidup seorang manusia untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Upacara Khitanan atau Sunatan Adat Mbojo.

Upacara khitanan dalam adat Mbojo disebut upacara suna ro ndoso (Suna = sunat. Ndoso = memotong atau meratakan gigi secara simbolis sebelum sunat). Biasanya upacara suna ro ndoso dilakukan ketika anak berumur lima sampai tujuh tahun. Bagi anak perempuan antara dua sampai dengan empat tahun. Upacara khitan bagi anak laki-laki disebut suna. Sedangkan bagi puteri disebut”sa ra so

1. Rangkaian upacara Suna ro Ndoso.

Upacara suna ro ndoso dilaksanakan dengan berbagai upacara adat sebagai berikut:

a. Mbolo roDampa.

Beberapa hari sebelum upacara dilaksanakan, di rumah keluarga yang punya hajat, diadakan mbolo ro dampa atau musyawarah keluarga. Dalam mbolo ro dampa akan diputuskan hari pelaksanaan suna ro ndoso.

b. Mada Rawi (Acara Inti)

Upacara mada rawi terdiri dari:

1. Kapanca (penempelan inai)

Dilakukan pada malam hari. Pada telapak tangan putra putri yang akan dikhitan ditempelkan kapanca. Dilakukan oleh lima orang tua adat wanita secara bergilir. Seusai upacara kapanca, diadakan upacara “Ngaji tadaru” (Tadarusan). Setelah tadarusan berakhir, maka dilanjutkan qasidah tradisional (Bukan qasidah modern). Acara hiburan dilanjutkan hadrah. Dihalaman rumah dipergelarkan permainan rakyat,seperti mpa’a sila,gantao dan buja kadanda.

Tujuan kapanca ialah merupakan peringatan bagi anak,bahwa setelah dikhitan, ia dianggap dewasa. Ia akan bekerja membantu orang tua. Tangan dan kaki yang selama ini tidak biasa bekerja, akan mulai bekerja. Sehingga tangan yang bersih dan halus, akan bercucuran keringat dan darah.

2. Upacara Ndoso dan Compo Sampari Serta Compo Baju. Baca selengkapnya…

[MPAMA] Ompu Gale Ma Ne’e Lao ‘Da Goa

Juni 2, 2011 1 komentar

Mpama adalah sebuah budaya tutur lisan masyarakat Bima yang dalam istilah Bahasa Indonesia disebut Dongeng. Lazimnya di daerah lain di Indonesia Mpama kerap dituturkan dari orang tua kepada anaknya menjelang tidur. Mpama banyak berisi petuah-petuah walaupun secara tersurat Mpama dibungkus dalam canda dan humor yang menarik.

Pada postingan kali ini saya ingin membawakan Mpama dalam Bahasa Bima (Nggahi Mbojo), mengenai seorang Ompu Gale, tokoh fiktif dan kelucuannya ketika pertama kalinya naik kapal laut. Nama Ompu Gale saya pilih untuk menghormati seorang kakek yang saya hormati karena mendedikasikan sebagian besar waktu pertemuan dengan saya untuk menceritakan Mpama-Mpama sampai sekarang masih melekat dalam ingatan masa kecil saya. Beliau beberapa minggu yang lalu telah meninggal dunia, dan Mpama (saduran dari jokes yang pernah saya baca di Internet) dibawah ini saya dedikasikan untuk beliau.

OMPU GALE MA NE’E LAO ‘DA GOA

Wara ku ke Ompu Gale ku ngarana, ana cumpu kaina ba Ompu edere na sakola ‘da Goa. ‘Ba mbale lingi ade ana na, Ompu Gale edere ncau-ncau didi ‘ba ana na kau lao ‘da Goa pala cambe kaina sura ana na ede “nahu ke wati disa ku lao ‘da ‘ba watip iu ku nente kapa“. ‘Ba ntuwu kali ra didi ‘ba ana na re sekali wakatu ka io ‘ba ndai ompu.

Senai sawatipu lao ‘da kai kapa Ompu edere wa’u ra weli na tike kelas ekonomi, wa’u rau ka ambina kardus isina ‘bawa dua kilo, mangge tolu pore, ‘bongi upa ganta, ndi wa’a na ru’u ana ra meci na ede. ‘Ba kapa re na tu’u aka la’bu si’di ai ku, mpara ede Ompu ‘ba dahuna ngeri tu’u ngoa na wa’i kau ro’du si’di-si’di.

Raka aima si’di nefa lalompa wa’i ro’du ompu ma mbuipu caru maru. tu’u sadeka ompu ‘ba ringana eli kapa. Wati kone ndeuna, nggori fica na wa’i kani ka kani mpa sia ‘baju ra katente na tembe, lambe na kardus ndi wa’ana langsung losa ‘di uma ouna oje. Baca selengkapnya…

Meteor Jatuh Di Bima

Mei 4, 2010 3 komentar

meteor jatuh di Bima NTB

meteor jatuh di Bima NTB

Liputan6.com, Bima: Benda diduga meteor jatuh di Pegunungan Wawo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, Senin (3/5) malam. Benda yang terlihat bercahaya ketika turun dari langit itu sempat meledak dua kali sebelum menghujam bumi dan meninggalkan lubang berdiameter 50 X 50 centimeter.

Menurut pengakuan  warga sekitar, benda yang jatuh dari langit sekitar pukul 20.30 WITA itu mengeluarkan cahaya hingga satu kilometer panjangnya. “Ada benda bercahaya yang terbang dari langit, meledak dua kali..,” ujar Muhdar.

Warga di sekitar lokasi sempat ketakutan menyaksikan percikan cahaya dari benda tersebut. Baru Selasa tadi pagi warga memberanikan diri dan berbondong-bondong ke lokasi jatuhnya benda dari langit itu.

Lubang bekas jatuhnya meteor itu terbentuk mirip kubangan batu yang diselimuti kaca dan hingga Selasa pagi masih mengeluarkan hawa panas. Daun-daun pepohonan di sekitar lubang juga kering akibat terkena hawa panas. Baca selengkapnya…

Kategori:INFO, MBOJO BIMA, Oprexz Tag:,

Silsilah Para raja, Sang Bima dalam Mitologi I Lagaligo

April 12, 2010 6 komentar

Tulisan ini saya muat dalam group Bima Tanahku dan saya muat kembali disini agar bisa terakses lebih luas oleh siapapun yang ingin membacanya.

Membaca beberapa Notes di group ini yaitu:
1. http://www.facebook.com/notes/bimaku-tanahku/pengaruh-kekuasaan-kerajaan-majapahit-dalam-berdirinya-kerajaan-bima-1/248661172546
2. http://www.facebook.com/notes/bimaku-tanahku/pengaruh-kekuasaan-kerajaan-majapahit-dalam-berdirinya-kerajaan-bima-ke-ii/252335787546
3. http://www.facebook.com/note.php?note_id=279517242546

dua buah artikel tentang perjalanan sejarah Dana Mbojo ada jaman lampau. tulisan itu bercerita tentang asal usul Generasi raja-raja Bima yang dimulai dari kedatangan Sang Bima dst yang dikatakan berkaitan erat dengan pasang surutnya kerajaan majapahit.

Saya tertarik mengangkat informasi dari perspektif lain mengenai silsilah raja-raja Bima yang berkaitan dengan mitos sawerigading dalam Kitab I Lagaligo. Kenapa kita katakan sebagai mitos, karena kitab Lontar ada jaman dahulu banyak berceritakan tentang peristiwa masa lalu dalam bentuk legenda, mitos, atau dongeng sehingga ada sebagian yang tidak rasional dan tak bisa jadi rujukan sejarah, namun ada bagian-bagian yang berkaitan dengan realitas ada masa lalu yang bernilai sejarah. Menurut saya mitos-mitos itu banyak bisa kita temui dalam lontaraq (bahasa bugis dari kitab yang ditulis di daun lontar) seperti Bo Lama (catatan kerajaan Bima pra kesultanan), serta banyak lontaraq Bugis Makassar khususnya lontaraq paling tua yang berisi kitab I Lagaligo.

Dalam salah satu sumber pdf Epos I Laga Ligo saya pernah menemukan data Lontaraq Bugis kuno yang kini tersimpan di Belanda tentang perjalanan Sawerigading ke beberapa daerah. Data itu berbentuk risalah (ringkasan) mengenai daftar no urut pengarsipan lontaraq. ada salah satu daftar saya mendapati data ternyata perjalanan sawerigading dari Sulawesi sampai juga ke daratan Bima dan Dompo (dompu).

ROL. 6 No.5 Aksara:Bugis Lontaraq, mengenai: Perjalanan Sawerigading ke Bima dan disambut baik oleh Kerajaan Bima. Bisa dilihat di: http://www.kitlv.nl/pdf_documents/187_HASSA_Microfilms.pdf

Sawerigading sendiri dipercaya sebagai leluhur/raja pertama yang mempersatukan daratan Sulawesi. Asal usulnya dikatakan sama (segaris) dengan “mitos” asal usul Sang Bima yang titisan Dewata (jin). Baca selengkapnya…

The Year Without Summer, Bencana Dunia Berawal Dari Sumbawa

September 8, 2009 12 komentar

Tahun tanpa musim panas, juga dikenal sebagai Tahun Kemiskinan dan Seribu delapan ratus dan membeku hingga mati, terjadi pada 1816, ketika penyimpangan iklim musim panas menghancurkan panen di Eropa Utara, Amerika timur laut dan Kanada timur.

Kini orang umumnya menduga bahwa penyimpangan itu terjadi karena ledakan vulkanik Gunung Tambora pada tanggal 5 April–15 April 1815. Gunung ini terletak di pulau Sumbawa di Hindia Belanda (kini Indonesia) yang melontarkan lebih dari satu setengah juta ton – atau 400 km³ – debu ke lapisan atas atmosfer. Seperti umumnya diketahui, setelah sebuah letusan gunung berapi yang dahsyat, temperatur di seluruh dunia menurun karena berkurangnya cahaya matahari yang bersinar melalui atmosfer.

Akibat letusan

Penyimpangan iklim yang luar biasa pada 1816 menimbulkan pengaruh yang sangat hebat di Amerika timur laut, Kanada Maritim dan Eropa utara. Biasanya, pada akhir musim semi dan musim panas di Amerika timur laut cuacanya relatif stabil: temperatur rata-rata sekitar 20–25°C, dan jarang sekali turun hingga Baca selengkapnya…

Sebuah buku untuk Bima

Februari 16, 2009 3 komentar

Bima bergerak maju untuk membawa pencerahan bagi masyarakatnya. Adalah sebuah buku, lentera yang membawa pencerahan kepada tunas-tunas muda daerah yang sekian lama merindukan sumber ilmu untuk kemajuannya. Setelah pada postingan sebelumnya saya mengajak anda berbagi satu buku, maka sekarang pun saya membuka kesempatan untuk semua yang membaca postingan ini untuk beramal dan membantu sesama.

“Sumbang Sebuah Buku Untuk Bima”

Gerakan “Sumbang Sebuah Buku Untuk Bima” (SSBUB) ini adalah gerakan untuk mengajak rekan-rekan yang peduli terhadap upaya mencerdaskan masyarakat Bima dengan menyumbangkan sebuah buku untuk perpustakaan yang kami dirikan di Bima.

Upaya mencerdaskan masyarakat banyak caranya, antara lain dengan menyediakan perpustakaan dimana masyarakat, terutama generasi muda, bisa membaca dan menggali ilmu dari buku yang tersedia. Diharapkan dengan adanya perpustakaan ini dapat meningkatkan minat baca masyarakat serta menjadi sumber literatur bagi pelajar/mahasiswa yang memerlukannya.

Perpustakaan yang “kami” dirikan masih sangat sederhana dan benar-benar merupakan proyek perintis (pilot project/inisiasi) , dimana koleksi buku yang tersedia dikumpulkan dari hasil sumbangan rekan-rekan, dan pengelolaannya pun bersifat kerja bakti. Tidak mengapa, kami akan terus berjuang untuk bisa menghadirkan perpustakaan yang lebih memadai, baik dari segi jumlah koleksi maupun dalam hal pengelolaan. Saat ini perpustakaan yang kami dirikan baru satu dan terletak di desa Godo kecamatan Woha, dan baru bisa melayani masyarakat dan generasi muda sekitarnya. Jika Tuhan mengijinkan, kami ingin agar koleksi perpustakaan tersebut cukup memadai sehingga layak disebut perpustakaan, dan ingin pula membuka perpustakaan di daerah/tempat lain di Bima dimana masyarakat membutuhkannya.

Siapakah “kami”? Saat ini “kami” hanyalah sekelompok anak keturunan Bima yang kebetulan sering berjumpa dalam dunia maya (Internet), dalam sebuah kelompok diskusi bernama “bimacenter”. Ke depannya, kami juga ingin mengajak rekan dan saudara yang lain untuk ikut bahu-membahu memajukan masyarakat Bima dengan cara yang kita bisa.

Hanya “sebuah” buku? Tentu saja kami mengharapkan lebih. Namun jika anda tergerak untuk ikut berpartisipasi, sebuah buku pun akan kami terima dengan senang hati. Tidak harus buku secara fisik yang bisa anda sumbangkan, namun dana tunai atau bentuk lainnya pun akan kami terima, dan akan kami belikan buku.

Anda ingin menyumbang? Silahkan kontak kami:
Telp: 0818-0792-1772 (Nurjannah Bhakti)
Email: perpustakaan@ bimacenter. com

Transfer bank bisa dilakukan ke:
Rek.Bank: 0106 555 001 (BNI Senayan City a/n Dewi Yufriati)

Pengiriman buku bisa dilakukan ke:
Alamat: Vila Mahkota Pesona Blok D1 No. 2, Bekasi

Informasi bisa dilihat di:
www.bimacenter. com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 182 pengikut lainnya.