Arsip

Archive for the ‘mbojo’ Category

Tradisi Pako Tana Dalam Budaya Nggu’da Doro Masyarakat Bima-NTB

Desember 27, 2011 2 komentar

Kontur dan topografi Bima yang mayoritas berupa bukit dan gunung membuat masyarakatnya terbiasa bertani secara tradisional dengan melakukan ngoho (aktifitas bertani dengan membuka lahan di hutan/gunung) pada setiap musim penghujan. Pola pertanian Ngoho ini secara turun temurun dilakukan meskipun secara peraturan pemerintah ada larangan untuk membuka lahan pertanian di hutan. Walaupun sudah banyak masyarakat Bima yang melakukan pertanian menetap di sawah atau kebun permanen, pada daerah-daerah tertentu Ngoho terkadang dilakukan secara berpindah-pindah dari satu gunung ke gunung lainnya setiap tahun. Dalam melaksanakan Ngoho ini, masyarakat agraris Bima mengenal budaya pako tana sebagai panduan umum mereka mulai dari mempersiapkan lahan dan mengelola pertanian sampai masa panen.

rawa Mbojo dalam pako tana

Secara harafiah Pako Tana adalah sebuah istilah yang berarti Memanen (pako) dan Menanan (tana) dalam bahasa Mbojo/Bima.  Lebih dari itu dalam aktivitas sehari-hari Dou Mbojo (orang Bima, red) memaknai pako tana sebagai sebuah sistem tradisional pengerahan tenaga kerja dalam bidang pertanian yang dilakukan dengan prinsip kekeluargaan dan gotong royong. Dalam sistem ini sebuah pekerjaan pertanian yang membutuhkan banyak tenaga manusia seperti nggu’da (menanam), hui (menyiangi), dan pako (memanen) akan lebih mudah untuk dilaksanakan karena prinsip gotong royong dan kekeluargaan itu diaplikasikan dalam istilah weha rima (penggunaan tenaga orang lain untuk mengerjakan pekerjaan pertanian) dan ‘bali rima (membantu pekerjaan orang lain sebagai balas jasa karena telah melakukan weha rima).

Dalam video dibawah ini tampak suasana pada musim tanam, dimana puluhan orang petani yang mayoritas ibu-ibu melakukan nggu’da doro (penanaman) pada salah satu oma (ladang). Read more…

Mengenal Upacara Adat Mbojo (Bima) ~Prosesi Khitanan dan Khatam Al-Quran

Desember 17, 2011 Tinggalkan Komentar

Ketika seorang anak beranjak dewasa, bagi masyarakat Bima merupakan saat yang tidak kalah sakralnya dengan kelahiran (baca tulisan terdahulu tentang prosesi kelahiran menurut adat Mbojo). Proses menjadi dewasa sama halnya dengan momen dimana seorang manusia beralih dunia, meninggalkan masa kanak-kanak yang penuh dengan keceriaan menuju masa remaja yang penuh tanggung jawab bagi diri, keluarga maupun masyarakat.

Dalam adat Bima, proses pendewasaan seorang anak manusia ditandai dengan dua macam upacara adat. Upacara adat ini merupakan pengejawantahan syariat Islam yaitu kewajiban untuk melaksanakan khitan bagi laki-laki serta anjuran untuk menamatkan pembelajaran baca Al-Qur’an sebagai penuntun hidup seorang manusia untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Upacara Khitanan atau Sunatan Adat Mbojo.

Upacara khitanan dalam adat Mbojo disebut upacara suna ro ndoso (Suna = sunat. Ndoso = memotong atau meratakan gigi secara simbolis sebelum sunat). Biasanya upacara suna ro ndoso dilakukan ketika anak berumur lima sampai tujuh tahun. Bagi anak perempuan antara dua sampai dengan empat tahun. Upacara khitan bagi anak laki-laki disebut suna. Sedangkan bagi puteri disebut”sa ra so

1. Rangkaian upacara Suna ro Ndoso.

Upacara suna ro ndoso dilaksanakan dengan berbagai upacara adat sebagai berikut:

a. Mbolo roDampa.

Beberapa hari sebelum upacara dilaksanakan, di rumah keluarga yang punya hajat, diadakan mbolo ro dampa atau musyawarah keluarga. Dalam mbolo ro dampa akan diputuskan hari pelaksanaan suna ro ndoso.

b. Mada Rawi (Acara Inti)

Upacara mada rawi terdiri dari:

1. Kapanca (penempelan inai)

Dilakukan pada malam hari. Pada telapak tangan putra putri yang akan dikhitan ditempelkan kapanca. Dilakukan oleh lima orang tua adat wanita secara bergilir. Seusai upacara kapanca, diadakan upacara “Ngaji tadaru” (Tadarusan). Setelah tadarusan berakhir, maka dilanjutkan qasidah tradisional (Bukan qasidah modern). Acara hiburan dilanjutkan hadrah. Dihalaman rumah dipergelarkan permainan rakyat,seperti mpa’a sila,gantao dan buja kadanda.

Tujuan kapanca ialah merupakan peringatan bagi anak,bahwa setelah dikhitan, ia dianggap dewasa. Ia akan bekerja membantu orang tua. Tangan dan kaki yang selama ini tidak biasa bekerja, akan mulai bekerja. Sehingga tangan yang bersih dan halus, akan bercucuran keringat dan darah.

2. Upacara Ndoso dan Compo Sampari Serta Compo Baju. Read more…

Mengenal Upacara Adat Mbojo (Bima) ~Prosesi Kelahiran

Desember 17, 2011 1 komentar

upacara adat kelahiran BimaDalam bahasa Mbojo, upacara adat disebut “Rawi Rasa” Rawi Rasa berarti semua kegiatan yang dilakukan secara gotong-royong oleh seluruh masyarakat. Rawi rasa terdiri dan dua jenis kegiatan, yaitu rawi mori dan rawi made.  Yang dimaksud dengan rawi mori ialah kegiatan yang berhubungan dengan upacara kehamilan, kelahiran, khitanan dan pernikahan. Sedang rawi made ialah upacara yang berhubungan dengan kematian. Khusus bagi rawi made dilakukan berdasarkan hukum Islam. Sehingga tidak ada upacara adat yang dilakukan pada rawi made.

Yang akan kita kupas sekarang, ialah upacara adat pada rawi mori. Mulai dan upacara kehamilan sampai upacara pernikahan.  Karena panjangnya tulisan maka saya akan menyajikannya dalam beberapa bagian secara berurutan. Semoga sajian dari Portal KJS ini bisa menyegarkan kembali memori pembaca mengenai kekayaan budaya Mbojo yang semakin ditinggalkan oleh masyarakatnya.

Upacara nggana ro nggoa (Upacara kehamilan dan kelahiran Masyarakat Bima)

Yang dimaksud dengan upacara nggana ro nggoa ialah rangkaian upacara adat yang dimulai dan upacara “Salama Loko” sampai dengan upacara ”dore ro boru”.

1. Upacara salama loko.

Upacara Salama Loko disebut juga dengan Kiri Loko dilakukan ketika kandungan seorang ibu berumur tujuh bulan. Upacara ini hanya dilakukan bagi seorang ibu yang pertama kali mengandung. Jalannya upacara dihadiri oleh kaum ibu dan dipimpin oleh sando nggana (dukun beranak) yang dibantu oleh enam orang tua adat wanita.

Upacara akan dimulai pada saat maci oi ndeu (waktu yang tepat untuk mandi) di sekitar jam 07.00. Sando nggana menggelar tujuh lapis sarung. Setiap lapis ditaburi beras dan kuning uang perak sa ece (satu ketip = 10 sen).  Selain itu disimpan pula dua liku atau dua leo mama (dua bungkus bahan untuk menyirih). Maksud dan taburan beras kuning, ialah agar ibu beserta calon bayinya akan hidup bahagia dan jaya. Uang sa ece, sebagai peringatan kepada ibu bersama calon bayi, bahwa uang merupakan salah satu modal dalam kehidupan.

Diatas hamparan tembe dan kain putih, ibu yang salamaloko, tidur terlentang. Sando nggana mengoles perut ibu dengan sebiji telur, yang diminyaki dengan minyak kelapa. Diikuti secara bergilir oleh enam orang tua adat, memohon kepada Allah SWT, agar ibu bersama calon bayi selamat sejahtera. Read more…

Rawa Mbojo/Lagu Daerah Bima Part 3 (klasik)

November 21, 2011 1 komentar

Setelah sekian lama tidak berbagi Rawa Mbojo, hari ini saya ingin membagi beberapa koleksi Lagu Daerah Bima (NTB) yang cukup lawas dan melegenda pada zamannya.  Saya tidak memiliki data-data lengkap mengenai judul album dan judul yang tepat untuk tiap-tiap track nya, nama lagu yang tertulis dalam postingan ini sekedar perkiraan saja untuk bisa mengidentifikasi lagu yang ingin anda nikmati. Dalam album ini lagu daerah Bima disajikan dalam komposisi genre yang cukup berwarna. Jika kita perhatikan lebih teliti, mulai dari aliran dangdut, keroncong, rap, rock, pop dan country balad, tersedia dalam tiap lagunya. Ini menandakan, lagu-lagu yang tercipta hampir 20 tahun yang lalu ini dibuat dengan kesungguhan hati dan dipenuhi dengan sentuhan seni dan kemampuan membaca trend pasar pada jamannnya.

Silahkan dinikmati:

  1. Lao tonggu fare
  2. Sodi angi
  3. Ngahi rawi pahu Read more…

Kambing Qurban, Sebuah Kado Untuk Nenek

November 7, 2011 2 komentar

Gema takbir, tahlil dan tahmid bergema dipenjuru Kota Bima sejak sore terdengar begitu syahdunya, pertanda akan tibalah hari raya besar Islam yaitu Hari Raya Iedul Adha atau yang lazim disebut sebagai Lebaran Haji atau hari raya qurban. Kami sekeluarga (hanya 4 orang) dengan kecepatan sedang melaju diatas sepeda motor menyusuri jalan menuju kec. Ambalawi untuk merayakan Lebaran Haji bersama nenek dan keluarga besar di desa Talapiti. Tak lupa oleh-oleh kesukaan nenek, sebungkus ‘nasi warung’ alias nasi bungkus berlauk ayam bakar dan sebuah balsem otot untuk memijat beliau yang belakangan ini sulit tertidur dimalam hari karena kesakitan.

Belum pulih, masih harus dipapah
Belum pulih, masih harus dipapah

Kondisi  kesehatan nenekku satu-satunya (yang tersisa di dunia ini) beberapa minggu terakhir semakin memburuk. Dua minggu lalu beliau mendadak merasakan sakit yang teramat sangat pada bagian tulang punggung bagian bawah seusai melakukan aktivitas hariannya menjaga sepetak sawah di dekat rumah serta menyirami tanaman sirihnya, sebuah aktivitas yang dia lakoni hampir sepanjang hidupnya. Untuk ukuran seorang nenek yang berumur 85 tahun, banyak orang yang berkata beliau terlalu tua untuk melakukan semua itu, tetapi tidak mudah untuk membujuk beliau agar tidak  pergi bekerja di sawah atau melakukan pekerjaan berat lainnya. Sayapun pernah mencoba dan lalu menyerah meyakinkannya untuk tetap di rumah, dan akhirnya saya yang harus meyakini bahwa aktivitas berat itu pulalah yang membuat sang nenek tercinta tetap bisa bertahan di usia nya yang semakin senja.

Satu hal yang menarik tentang nenek ku ini, semenjak saya SMA sepuluh tahun yang lalu beliau sering mengatakan agar saya tidak jauh-jauh meninggalkan beliau. Menurutnya, semenjak ditinggal mati oleh kakekku pada medio 1990-an beliau memiliki firasat bahwa ajalnya tidak lama lagi. Sepuluh tahun terakhir ini demamnya sering kambuh, sejak saat itu setiap pertemuanku dengannya seakan-akan sebuah pertemuan terakhirnya yang selalu diusaikan dengan haru airmata perpisahan.  Seperti minggu lalu, saat seluruh keluarga besar termasuk tante di Jakarta yang mesti secepatnya pulang Ke rumah nenek karena kondisi kesehatannya yang sangat memburuk dan pesan lisan beliau agar seluruh anak, cucu, cicit, dan keluarga besar lainnya datang bertemu untuk yang terakhir kalinya. Sebuah firasat yang belum terbukti sampai hari ini, buktinya tadi pagi saya masih sempat Read more…

Rawa Mbojo Cambe Angi

September 15, 2011 6 komentar

Salah satu lagu daerah Bima yang legendaris menurut saya adalah lagu “Cambe Angi”. Lagu lawas yang dipopulerken pada awal tahun 1990-an ini begitu nikmat didengarkan. Syairnya sederhana, berisikan patu cambe angi (pantun berbalas) antara lelaki dan perempuan yang terpisah karena salah satunya menuntut ilmu di tempat yang jauh.  Lagu ini sangat pas untuk didengarkan ketika kita jauh dari kampung halaman (Bima), setidaknya kalau anda punya selera musik yang sama dengan saya. kwkwkwkw

Berikut liriknya:

mu lao si loja weli wa’a pu arloji
mu laosi sakola, ngguda wi’ipu  kalo….
kone ngeri di poku wara kalo di pokeku
ngahaku sabua raka aiu kabae…

foto ra wi’i nahu ma ponte wa’ana
foto ra peta tau wi’ipu dei peti
rongga si samada nangi dodo tio  kamidi
kone da pehe samonto ncau pahuna

do’o sa nonto kaceimu dengga nuntu
do’o mpoa rewo campo nggahi ra rawi

Sama sampela, sama made mpuli
indo pila kali eda ra’a ma kala
(2x)

intro Read more…

Langit Penuh Bintang di TALAPITI

Agustus 3, 2011 4 komentar

Beautiful stars only seen in the totally dark night, Bintang yang indah hanya akan terlihat jelas dalam malam yang betul-betul gelap. Ungkapan ini terlepas dari makna kiasannya adalah sebuah fakta yang saya dapatkan. Untuk menikmati langit yang penuh dengan taburan bintang yang terlihat jelas, tempat yang gelap tanpa penerangan buatan adalah lokasi terbaik untuk mengagumi keindahan Sang Pencipta. Untuk itu Tuhan menciptakan Desa Talapiti tanpa penerangan listrik PLN dan betul-betul gelap.

Selayang Pandang Desa Talapiti

Talapiti adalah sebuah desa yang sejak “wabah pemekaran” merajalela tahun 2009 yang lalu dimekarkan dari desa induk yaitu Desa Tolowata dan sekarang secara definitif masuk ke dalam wilayah administratif Kecamatan Ambalawi Kabupaten Bima. Desa ini memiliki beberapa dusun diantaranya: Nggaro Nangga, Tolowata, Tala Na’e, Tala Rasabou, dan Boka. Sebanyak 2.348 orang mendiami desa ini. Jumlah itu terdiri dari laki-laki (1.135 orang) dan perempuan (1.213 orang) dengan jumlah KK 683.

Jelajahi Desa Talapiti Lewat Udara klik: wikimapia.org

Kata TALAPITI sendiri sampai sekarang masih banyak versi yang tersebar mengenai asal-muasal penamaan desa ini. Dalam perbendaharaan kosa kata Bahasa Bima, kata TALA memiliki 2 makna yaitu: Bicara dan Berderet (berjejer), dan kata PITI memiliki makna: uang. Mayoritas penduduk setempat lebih mempercayai dinamakannya TALAPITI karena cikal-bakal pembentukan desa adalah bermula pada sebuah area jauh kedalam dari wilayah desa sekarang yang konon terdapat gua yang ditemukan banyak uang yang berjejer (kebenaran mengenai cerita ini akan saya coba telusuri kalau saya berkunjung lagi kesana).

Dilihat dari topografinya, Desa Talapiti tergolong dataran tinggi dan berbukit karena berada pada ketinggian 200m (dpl) dengan suhu udara rata-rata 16 – 35 °C dan curah hujan tahunan mencapai 60 mm mm/tahun. Desa ini berada di sepanjang sungai Sori Tala Nae yang mengalir sepanjang tahun ke arah sungai Tera di Desa Tolowata. Secara adminstratif desa ini berbatasan dengan Desa Tolowata (sebelah utara), kelurahan Ntobo Kota Bima (sebelah selatan), Desa Rite (sebelah Barat) dan Desa Wora (sebelah timur).

Desa yang terletak 31 Km sebelah utara Kota Bima ini memiliki jarak tempuh 1-1,5 jam dengan jalan darat. Untuk menuju desa ini jalur yang ditempuh adalah jalur utara Kota Bima menuju Jatibaru, selanjutnya tinggal mengikuti jalur menuju Kec. Wera sampai Desa Tolowata dan belok kanan pada persimpangan depan SDN No.1 Tolowata. Kondisi jalan bervariasi, Aspal mulus hotmix  sampai puncak Ncai Kapenta (perbatasan Kota Bima dengan Kabupaten Bima), dan betul-betul Off Road pada saat penurunan dan bervariasi/terkadang bagai kubangan sampai Desa Tolowata.  Jalan dari Desa Tolowata ke Desa Talapiti dalam keadaan baik, Aspalisasi terakhir pada tahun 2008 membuat desa ini bisa dijangkau dengan mudah dari desa tetangga namun dari beberapa dusun yang sudah teraspal, masih ada dua dusun yang masih berupa jalan tanah berbatu yaitu desa Tala Rasabou dan Boka. Rupanya proyek Rp 1,2 milyar itu belum bisa menuntaskan kurang dari 1 km jalan yang seharusnya dikerjakan, akan tetapi jika membandingkan dengan kondisi 10 tahun yang lalu, sekarang sungguh luar biasa kemajuannya. Saya masih ingat dulu, bentang alam pegunungan dan akses masuk menyusuri sungai sepanjang sungai sejauh 5 km melalui jalan tanan berbatu, kadang menanjak curam dan terkadang (3 kali) menyebrangi sungai bagi orang luar seperti menuju desa terpencil alias desa “kerongkongan“. Read more…

Categories: mbojo Tag:, , ,

BIMA GO GREEN Lomba Mewarnai, Menggambar, dan Mading KJS

Juni 9, 2011 4 komentar

Lingkungan yang menyangga eksistensi manusia dan makhluk hidup lainnya belakangan ini semakin dilupakan. Kalau bukan karena momen Hari Lingkungan Hidup, banjir, tanah longsor, dan bencana alam lainnya praktis gaung tentang lingkungan hidup tidak terdengar oleh kita padahal sebagai khalifah (pemimpin) di muka bumi sudah seharusnya manusia sadar dan peduli dengan lingkungan yang mereka tempati.

Lebih khusus lagi kampanye pelestarian lingkungan hidup harusnya juga sudah dilakukan kepada generasi muda sebagai pewaris Bumi kedepan. Semenjak usia dini mereka harus ditanamkan tentang bagaimana caranya menghargai alam sebagai sahabat penyangga kehidupan agar dalam tumbuh kembangnya nanti menjadi manusia-manusia sahabat alam sejati.

Komunitas Jalan Setapak (KJS) tertantang untuk berbuat lebih dalam mengkampanyekan cinta lingkungan sejak dini dalam bentuk kegiatan LOMBA MEWARNAI, MENGGAMBAR, DAN MAJALAH DINDING untuk siswa/siswi TK, SD, dan SMA. Kegiatan bertema BIMA GO GREEN ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan LAUNCHING KOMUNITAS JALAN SETAPAK (KJS) selain kegiatan SEMINAR KESEHATAN REPRODUKSI yang lebih dulu digelar.

poster LOMBA MEWARNAI MENGGAMBAR DAN MADING KJS BIMA

LOMBA MEWARNAI MENGGAMBAR DAN MADING KJS BIMA


Detail lebih lengkap mengenai kegiatan ini adalah sebagai berikut:

LOMBA GAMBAR & MEWARNAI

Petunjuk Umum

1. Dilaksanakan pada hari Minggu, 12 Juni 2011 pukul 10:00 – 14:00 di Pelataran ASI Mbojo, Kota Bima

2. Tema : “Bima Go Green, Care For Our City”

3. Ada 2 kategori :

I. Mewarnai : Play Group dan TK.

II.Menggambar :

a. SD kelas 1, 2 dan 3.

b. SD kelas 4, 5 dan 6.

4. Contact Person : Yus (085239568906)

5. Info lengkap, kunjungi fan page komunitas kami

Pendaftaran Lomba

1. Formulir pendaftaran diambil di sekretariatan kami di Jln. St Sultan Hasanuddin No.54 Tolomundu. Depan Masjid Raya Kota Bima.

2. Biaya pendaftaran Rp. 30.000 / peserta,

3. Formulir dan biaya pendaftaran harus sudah diterima panitia selambat-lambatnya

tanggal 09 Juni 2011 pukul 22.00 WITA.

4. Formulir pendaftaran dapat diperbanyak dengan cara fotokopi.

Tata Tertib

1. Peserta wajib hadir 30 menit sebelum acara dimulai dan segera

melakukan registrasi di sekitar area lomba.

2. Peserta wajib menjaga ketertiban dan kebersihan di arena lomba.

3. Perlengkapan dan peralatan mewarnai (meja gambar, alat gambar, dsb) tidak disediakan oleh panitia.

4. Lembar gambar dari panitia.

5. Peserta dilarang meminjam perlengkapan lomba selama acara lomba berlangsung

Penilaian dan Penjurian

Penilaian dilakukan oleh juri yang berpengalaman di bidang mewarnai dan

menggambar dari Gravity Studio Bima dan didampingi oleh panitia lomba

mewarnai. Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat. Kriteria penilaian

meliputi:

1. Ketepatan waktu,

2. Kesesuaian gambar dengan tema,

3. Kerapian,

4. Kebersihan,

5. Kreativitas dan

6. Komposisi warna.

Sistem Lomba

1. Lomba hanya 1 babak.

2. Peserta wajib membawa meja gambar sendiri.

3. Alat mewarnai adalah krayon dan pensil warna.

4. Peserta dilarang membawa gambar contoh.

5. Durasi lomba 120 menit.

6. Pendaftaran ulang dibuka 60 menit sbelum waktu pelaksanaan lomba.

Fasilitas Peserta

Kaos peserta ,sertifikat, snack, ID Card, dan kartu perdana AS.

Penghargaan Juara

Hasil lomba akan diumumkan pada tanggal 12 Juni 2011 pukul 13:00 di

tempat pelaksanaan lomba.

  1. Juara I : Uang tunai senilai Rp. 300.000 + Piala KJS + Piagam Penghargaan

  2. Juara II : Uang tunai senilai Rp. 200.000 + Piala KJS + Piagam Penghargaan

  3. Juara III : Uang tunai seniali Rp. 150.000 + Piala KJS + Piagam Penghargaan

    Categories: Info, mbojo, promo Tag:, ,

    [MPAMA] OMPU GALE MA NE’E LAO ‘DA GOA

    Juni 2, 2011 1 komentar

    Mpama adalah sebuah budaya tutur lisan masyarakat Bima yang dalam istilah Bahasa Indonesia disebut Dongeng. Lazimnya di daerah lain di Indonesia Mpama kerap dituturkan dari orang tua kepada anaknya menjelang tidur. Mpama banyak berisi petuah-petuah walaupun secara tersurat Mpama dibungkus dalam canda dan humor yang menarik.

    Pada postingan kali ini saya ingin membawakan Mpama dalam Bahasa Bima (Nggahi Mbojo), mengenai seorang Ompu Gale, tokoh fiktif dan kelucuannya ketika pertama kalinya naik kapal laut. Nama Ompu Gale saya pilih untuk menghormati seorang kakek yang saya hormati karena mendedikasikan sebagian besar waktu pertemuan dengan saya untuk menceritakan Mpama-Mpama sampai sekarang masih melekat dalam ingatan masa kecil saya. Beliau beberapa minggu yang lalu telah meninggal dunia, dan Mpama (saduran dari jokes yang pernah saya baca di Internet) dibawah ini saya dedikasikan untuk beliau.

    OMPU GALE MA NE’E LAO ‘DA GOA

    Wara ku ke Ompu Gale ku ngarana, ana cumpu kaina ba Ompu edere na sakola ‘da Goa. ‘Ba mbale lingi ade ana na, Ompu Gale edere ncau-ncau didi ‘ba ana na kau lao ‘da Goa pala cambe kaina sura ana na ede “nahu ke wati disa ku lao ‘da ‘ba watip iu ku nente kapa“. ‘Ba ntuwu kali ra didi ‘ba ana na re sekali wakatu ka io ‘ba ndai ompu.

    Senai sawatipu lao ‘da kai kapa Ompu edere wa’u ra weli na tike kelas ekonomi, wa’u rau ka ambina kardus isina ‘bawa dua kilo, mangge tolu pore, ‘bongi upa ganta, ndi wa’a na ru’u ana ra meci na ede. ‘Ba kapa re na tu’u aka la’bu si’di ai ku, mpara ede Ompu ‘ba dahuna ngeri tu’u ngoa na wa’i kau ro’du si’di-si’di.

    Raka aima si’di nefa lalompa wa’i ro’du ompu ma mbuipu caru maru. tu’u sadeka ompu ‘ba ringana eli kapa. Wati kone ndeuna, nggori fica na wa’i kani ka kani mpa sia ‘baju ra katente na tembe, lambe na kardus ndi wa’ana langsung losa ‘di uma ouna oje. Read more…

    Categories: joke, mbojo Tag:, , , ,

    Banjir Bandang Landa Bima, Dua Orang Tewas

    April 24, 2011 1 komentar

    BIMA-Banjir bandang menerjang wilayah Kecamatan Sape, Bima, kemarin pagi. Puluhan rumah warga ambruk dan hanyut. Musibah ini juga menyebabkan dua warga meninggal dunia. Informasi yang diserap Koran ini, banjir bandang terjadi setelah sungai yang melintas di wilayah Kecamatan Sape (sering disebut sungai Sape, Red) meluap. Sebelumnya, sejak Jumat (22/4) sore sampai kemarin pagi hujan deras mengguyur wilayah Kecamatan Sape dan sekitarnya. Akibatnya debit air di sungai itu meningkat drastis.

    Dua korban meninggal adalah Muhammad Thalib alias Uba Haja, 67 tahun, warga Desa Rai Oi dan Ahmad Kasim, 60 tahun, warga Dusun Bajo SaraE, Desa Bugis. Korban Uba Haja tewas setelah terseret banjir sejauh lima kilometer. Mayatnya ditemukan di Dam Wuwu, Desa Sangia.

    Detik-detik ketika air bah menerjang Sape-Bima

    Kabarnya, sebelum banjir terjadi, korban berada di sawahnya di sekitar Dam Seme, wilayah Desa Naru Barat.  Ceritanya, korban bersama keluarganya pergi menanam jagung di sawahnya. Karena banjir datang secara tiba-tiba, korban hanya sempat berpegangan pada batang pisang. Sementara keluarganya yang lain, sempat memanjat pohon. ‘’Bersama batang pisang itu korban diseret banjir,’’ tutur Abdul Muis, salah seorang warga Rai Oi. Sementara, korban Ahmad Kasim, yang juga salah seorang pamong Desa Bugis, terseret banjir ketika membersihkan sampah di bawah kolong rumahnya. Salah seorang warga setempat, Ardiansyah mengaku, sempat mengingatkan korban untuk menunggu air surut. Selang beberapa saat, tiba-tiba korban tergelincir dan jatuh. Begitu warga menolong dan mengangkatnya, korban sudah tidak bernyawa.

    Jalan Bima-Sape terputus gara-gara banjir besar

    Pantauan langsung Koran ini, rumah warga yang hanyut maupun ambruk diterjang banjir, kebanyakan berada di pinggir sungai. Saat kejadian, ketinggian air di permukiman warga mencapai satu hingga tiga meter. ‘’Kalau di wilayah RT 01 Desa Naru Barat, ketinggian air sekitar 1 meter. Sedangkan di wilayah RT 04, air sampai tiga meter,’’ ungkap Ketua RT 04 Desa Naru Barat H Mustamin. Read more…

    Kapatu Mbojo (Patu Cambe Siwe-Mone)

    Maret 16, 2011 8 komentar

    Apakah itu Kapatu Mbojo?

    Kapatu Mbojo adalah salah satu seni pantun daerah yang hidup dan berkembang di daerah Bima dan Dompu Nusa tenggara Barat yang memiliki kaidah-kaidah penulisan tertentu. Lazimnya pantun melayu Kapatu Mbojo banyak bersyairkan nasehat, jenaka, muda-mudi dan sebagainya. Dalam perkembangannya patu Mbojo tak terpisahkan dari seni musik rawa mbojo dengan diiringi dengan alunan biola atau kecapi/gambus.

    Tata Cara Menulis Patu Mbojo:
    1. Pada setiap baris ada kata yang dipersesuaikan
    2. Tiap baris merupakan satu kalimat yang utuh dan mengandung 2 makna sesuai dengan makna kata yang dipersesuaikan
    3. Berirama memikat (memukau)
    4. Tiap bait mengandung 3 baris atau 4 baris

    Berikut contoh PATU Mbojo berbaris 4:

    buneku cara na ngupa ngaha ma caru
    rawi ma da tantu ba da loa tunti
    ncoki ja ra mori ti kone loa maru
    ndake isi kula dou ma da sakola
    (persesuaian kata: cara dengan caru; tantu dengan tunti; mori dengan maru; kula dengan sakola)

    Contoh Patu Mbojo berbaris 3
    (Patu Ngoa-ra tei):
    Mori di rasa dou aina nefamu dae
    mori ma darere aina ipi darura
    ede wa’umpa co’ina ngupa ilmu ndi ca’u

    Ngupamu siwe aina ma ne’e siwi
    siwe ma ne’e siwi na ca’u ngupa suwu
    siwe mandede na ca’u ndada.

    Patu ma-Lucu (jenaka):
    Tiwara madacaru karawi ma batu cara
    tiwara madamaci karawi sampela moci
    sampela ma loa sajana mode wa’ura lao

     

    Berikut saya coba hadirkan kompilasi Kapatu Mbojo Sampel (pantun muda-mudi)  antara saya dengan salah seorang teman di facebook. Mungkin ini sedikit jauh dari kaedah penulisan patu mbojo tapi semoga bisa dinikmati….

    Arief Rhakateza Rahman 15 Maret jam 22:22
    nandadi podasi nika ndai pedere
    uta janga puru wi’i ese wawo piri
    doco sia dungga dodo pahu nggomi arie ti dengga
    tanda nahu mane’e ma ipi poda na’e Read more…

    Meteor Jatuh Di Bima

    Mei 4, 2010 3 komentar

    meteor jatuh di Bima NTB

    meteor jatuh di Bima NTB

    Liputan6.com, Bima: Benda diduga meteor jatuh di Pegunungan Wawo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, Senin (3/5) malam. Benda yang terlihat bercahaya ketika turun dari langit itu sempat meledak dua kali sebelum menghujam bumi dan meninggalkan lubang berdiameter 50 X 50 centimeter.

    Menurut pengakuan  warga sekitar, benda yang jatuh dari langit sekitar pukul 20.30 WITA itu mengeluarkan cahaya hingga satu kilometer panjangnya. “Ada benda bercahaya yang terbang dari langit, meledak dua kali..,” ujar Muhdar.

    Warga di sekitar lokasi sempat ketakutan menyaksikan percikan cahaya dari benda tersebut. Baru Selasa tadi pagi warga memberanikan diri dan berbondong-bondong ke lokasi jatuhnya benda dari langit itu.

    Lubang bekas jatuhnya meteor itu terbentuk mirip kubangan batu yang diselimuti kaca dan hingga Selasa pagi masih mengeluarkan hawa panas. Daun-daun pepohonan di sekitar lubang juga kering akibat terkena hawa panas. Read more…

    Categories: Info, mbojo, Oprexz Tag:,

    Silsilah Para raja, Sang Bima dalam Mitologi I Lagaligo

    April 12, 2010 4 komentar

    Tulisan ini saya muat dalam group Bima Tanahku dan saya muat kembali disini agar bisa terakses lebih luas oleh siapapun yang ingin membacanya.

    Membaca beberapa Notes di group ini yaitu:
    1. http://www.facebook.com/notes/bimaku-tanahku/pengaruh-kekuasaan-kerajaan-majapahit-dalam-berdirinya-kerajaan-bima-1/248661172546
    2. http://www.facebook.com/notes/bimaku-tanahku/pengaruh-kekuasaan-kerajaan-majapahit-dalam-berdirinya-kerajaan-bima-ke-ii/252335787546
    3. http://www.facebook.com/note.php?note_id=279517242546

    dua buah artikel tentang perjalanan sejarah Dana Mbojo ada jaman lampau. tulisan itu bercerita tentang asal usul Generasi raja-raja Bima yang dimulai dari kedatangan Sang Bima dst yang dikatakan berkaitan erat dengan pasang surutnya kerajaan majapahit.

    Saya tertarik mengangkat informasi dari perspektif lain mengenai silsilah raja-raja Bima yang berkaitan dengan mitos sawerigading dalam Kitab I Lagaligo. Kenapa kita katakan sebagai mitos, karena kitab Lontar ada jaman dahulu banyak berceritakan tentang peristiwa masa lalu dalam bentuk legenda, mitos, atau dongeng sehingga ada sebagian yang tidak rasional dan tak bisa jadi rujukan sejarah, namun ada bagian-bagian yang berkaitan dengan realitas ada masa lalu yang bernilai sejarah. Menurut saya mitos-mitos itu banyak bisa kita temui dalam lontaraq (bahasa bugis dari kitab yang ditulis di daun lontar) seperti Bo Lama (catatan kerajaan Bima pra kesultanan), serta banyak lontaraq Bugis Makassar khususnya lontaraq paling tua yang berisi kitab I Lagaligo.

    Dalam salah satu sumber pdf Epos I Laga Ligo saya pernah menemukan data Lontaraq Bugis kuno yang kini tersimpan di Belanda tentang perjalanan Sawerigading ke beberapa daerah. Data itu berbentuk risalah (ringkasan) mengenai daftar no urut pengarsipan lontaraq. ada salah satu daftar saya mendapati data ternyata perjalanan sawerigading dari Sulawesi sampai juga ke daratan Bima dan Dompo (dompu).

    ROL. 6 No.5 Aksara:Bugis Lontaraq, mengenai: Perjalanan Sawerigading ke Bima dan disambut baik oleh Kerajaan Bima. Bisa dilihat di: http://www.kitlv.nl/pdf_documents/187_HASSA_Microfilms.pdf

    Sawerigading sendiri dipercaya sebagai leluhur/raja pertama yang mempersatukan daratan Sulawesi. Asal usulnya dikatakan sama (segaris) dengan “mitos” asal usul Sang Bima yang titisan Dewata (jin). Read more…

    Sebuah buku untuk Bima

    Februari 16, 2009 3 komentar

    Bima bergerak maju untuk membawa pencerahan bagi masyarakatnya. Adalah sebuah buku, lentera yang membawa pencerahan kepada tunas-tunas muda daerah yang sekian lama merindukan sumber ilmu untuk kemajuannya. Setelah pada postingan sebelumnya saya mengajak anda berbagi satu buku, maka sekarang pun saya membuka kesempatan untuk semua yang membaca postingan ini untuk beramal dan membantu sesama.

    “Sumbang Sebuah Buku Untuk Bima”

    Gerakan “Sumbang Sebuah Buku Untuk Bima” (SSBUB) ini adalah gerakan untuk mengajak rekan-rekan yang peduli terhadap upaya mencerdaskan masyarakat Bima dengan menyumbangkan sebuah buku untuk perpustakaan yang kami dirikan di Bima.

    Upaya mencerdaskan masyarakat banyak caranya, antara lain dengan menyediakan perpustakaan dimana masyarakat, terutama generasi muda, bisa membaca dan menggali ilmu dari buku yang tersedia. Diharapkan dengan adanya perpustakaan ini dapat meningkatkan minat baca masyarakat serta menjadi sumber literatur bagi pelajar/mahasiswa yang memerlukannya.

    Perpustakaan yang “kami” dirikan masih sangat sederhana dan benar-benar merupakan proyek perintis (pilot project/inisiasi) , dimana koleksi buku yang tersedia dikumpulkan dari hasil sumbangan rekan-rekan, dan pengelolaannya pun bersifat kerja bakti. Tidak mengapa, kami akan terus berjuang untuk bisa menghadirkan perpustakaan yang lebih memadai, baik dari segi jumlah koleksi maupun dalam hal pengelolaan. Saat ini perpustakaan yang kami dirikan baru satu dan terletak di desa Godo kecamatan Woha, dan baru bisa melayani masyarakat dan generasi muda sekitarnya. Jika Tuhan mengijinkan, kami ingin agar koleksi perpustakaan tersebut cukup memadai sehingga layak disebut perpustakaan, dan ingin pula membuka perpustakaan di daerah/tempat lain di Bima dimana masyarakat membutuhkannya.

    Siapakah “kami”? Saat ini “kami” hanyalah sekelompok anak keturunan Bima yang kebetulan sering berjumpa dalam dunia maya (Internet), dalam sebuah kelompok diskusi bernama “bimacenter”. Ke depannya, kami juga ingin mengajak rekan dan saudara yang lain untuk ikut bahu-membahu memajukan masyarakat Bima dengan cara yang kita bisa.

    Hanya “sebuah” buku? Tentu saja kami mengharapkan lebih. Namun jika anda tergerak untuk ikut berpartisipasi, sebuah buku pun akan kami terima dengan senang hati. Tidak harus buku secara fisik yang bisa anda sumbangkan, namun dana tunai atau bentuk lainnya pun akan kami terima, dan akan kami belikan buku.

    Anda ingin menyumbang? Silahkan kontak kami:
    Telp: 0818-0792-1772 (Nurjannah Bhakti)
    Email: perpustakaan@ bimacenter. com

    Transfer bank bisa dilakukan ke:
    Rek.Bank: 0106 555 001 (BNI Senayan City a/n Dewi Yufriati)

    Pengiriman buku bisa dilakukan ke:
    Alamat: Vila Mahkota Pesona Blok D1 No. 2, Bekasi

    Informasi bisa dilihat di:
    www.bimacenter. com

    Categories: Info, mbojo Tag:, , , ,

    Video Mesum Kepala Sekolah Bikin Heboh di Bima

    November 7, 2008 15 komentar

    Bima, Nusatenggaranews.com.-
    Video mesum berdurasi 2,26 menit antara oknum Kepala SMPN 1 Lambitu, SF, dengan pegawai sukarela di Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kabupaten Bima, IF, bikin heboh. Topik porno itu menjadi perbincangan paling hangat di kalangan pegawai sejak dua hari terakhir ini. Malah, adegan yang mengeksplorasi bagian atas tubuh IF itu  mengisi file-file handphone (HP) pejabat, pegawai, dan masyarakat umum.

    Video itu direkam sendiri oleh IF menggunakan HP miliknya. Namun, belum ada kepastian soal lokasi adegan syur itu.  Tidak diketahui jelas, mengapa sampai video adegan itu beredar luas.

    Berbagai reaksi pun muncul, apalagi keduanya berada dibawah institusi pendidikan.  Pelaksana Tugas (Plt) Dinas Dikpora Kabupaten Bima, Drs H Dahlan,  mengaku sudah mendengar informasi tentang beredarnya video mesum itu. Hanya saja, belum melihat apakah adegan itu benar-benar dilakukan oleh bawahannya. Meski demikian, disesalkannya, apalagi terjadi di lingkungan pendidikan.
    “Tapi jika itu benar, maka perlu pembersihan. Jika dilakukan oleh pegawai sukareka, maka bisa cepat dicopot,” katanya di kantor Pemkab Bima, Rabu (5/11).
    Selanjutnya, kata dia, kasus itu akan ditindaklanjuti, hanya saja kewenangan lebih jauh ada pada Kadis Dikpora yang saat ini di Jakarta. Kejadian ini baginya telah mengarah pada dekadensi moral, yang berlawanan dengan nilai agama.

    Bagaimana dengan IF? Wanita yang memiliki tahi lalat di hidungnya itu terlihat menangis ketika diinterogasi oleh Kepala Bidang (Kabid) KPMP Dikpora Kabupaten Bima, Drs HM Ali Abdullah. IF terus tertunduk, pada sudut kedua bola matanya, mengalir “air sungai kecil”. Sesekali diusapnya dengan punggung tangan. Seolah penyesalan menghinggapi benaknya.

    Setelah itu, dia terlihat menjabat tangan Kabid KPMP dan duduk di kursi. Read more…

    Jangan coba-coba tidak sholat jum’at di Bima

    April 15, 2008 9 komentar

    Bima, sebagai sebuah entitas kebudayaan yang turun temurun bercorak islam, memiliki keunikan dan keistimewaan yang jarang didapatkan dari daerah lain. Sejak jaman sebelum Indonesia lahir, Dou Mbojo (orang Bima) telah banyak berkiprah melawan penjajah baik di dalam maupun diluar wilayah teritorialnya. Kesamaan nasib dan ikhwatul muslimin, adalah semangat yang menggelorakan jiwa-jiwa laskar Bima untuk bahu membahu dengan Kerajaan tetangga dalam mengusir penjajah. Penegakan syari’at islam pada masa kesultanan juga telah beralkuturasi dengan budaya dan norma-norma adat yang menjadi kearifan lokal masyarakatnya.

    Walaupun seiring perjalanan waktu, Bima yang dahulu bersyari’at kan islam kini semakin fleksibel, namun warisan keta’atan dan kepatuhan dalam menjalankan perintah agama tidak lekang dimakan zaman. Dou Mbojo sampai sekarang masih menjunjung tinggi budaya maja labo dahu (malu dan takut). Malu dan takut ini bukan berarti orang Bima pemalu dan penakut dalam bergaul, tetapi malu dan takut kalau kita berbuat salah dalam hubungan kita sesama manusia dan hubungan vertikal dengan Yang Maha Kuasa.

    Walaupun tidak terang-terangan menyatakan diri sebagai daerah yang menerapkan syariat islam, Pemerintah Bima sejak beberapa tahun yang lalu telah mengeluarkan beberapa kebijakan yang mendukung terciptanya peningkatan iman dan taqwa masyarakatnya. Beberapa program seperti pembumian Al-Qur’an dan Jum’at Khusuk terbukti berhasil dalam tataran aplikasinya dan berbuah positif dalam menunjang IMTAQ masyarakat, bahkan pada beberapa wilayah di Bima, bahkan anomo masyarakat dalam beribadah seringkali menjadi sesuatu yang menarik untuk dibahas. Seperti yang diangkat oleh salah satu situs pemberitaan beberapa hari yang lalu:

    Desa Cenggu Kecamatan Belo ditetapkan sebagai proyek percontohan (pilot project) penerapan Jumat Khusu oleh pemerintah Kecamatan Belo. Bagi warga yang tidak shalat Jumat beberapa kali, akan dijemput dengan keranda mayat.
    Camat Belo, Sudirman, SE, mengatakan, sejak ditetapkannya Peraturan Daerah (Perda) Nomor 2 Tahun 2002 tentang program Jumat Khusu, pemerintah Kecamatan Belo sudah merespons dengan membuat keputusan setiap desa wajib melaksanakan program itu. Dari delapan desa di Kecamatan Belo, Cenggu dinilai optimal menerapkan program itu.
    Bahkan, kata Sudirman, setahun setelah Perda tersebut atau 2003 lalu, pemerintah Desa Cenggu telah membuat peraturan untuk mengamankan Perda, setiap warga yang laki-laki wajib shalat Jumat. Kesepakatan itu melibatkan semua elemen masyarakat mulai dari ketua RT, ketua RW, tokoh masyarakat,  tokoh agama, dan Muspika. “Warga sepakat untuk menerapkan hukum sosial bagi warga yang kedapatan tidak shalat Jumat,” katanya di Cenggu, Sabtu (12/4) lalu.
    Apa bentuk hukuman sosial yang diterapkan? Dijelaskan Sudirman, setiap Jumat warga didata oleh masing-masing ketua RT, mereka diingatkan agar shalat Jumat. Bagi warga yang tidak shalat, tidak akan dibantu ketika mengadakan hajatan atau kegiatan lainnya.
    Bahkan, katanya, bagi warga yang tidak melaksanakan shalat hingga tiga atau empat kali akan dijemput dan diarak keliling desa dengan keranda mayat. Hukuman sosial yang disepakati itu sangat efektif, sehingga tidak ada warga yang tak Jumatan.
    Meski hukuman sosial tersebut telah lama diterapkan, namun hingga saat ini belum ada warga yang kedapatan tidak shalat Jumat. “Biasanya, pemerintah desa setempat memanfaatkan kaum perempuan untuk mendata kaum lelaki yang tidak shalat,” katanya

    Kutipan diambil dari Sumbawanews dengan judul “Jika tak Shalat Jumat, akan Dijemput dengan Keranda Mayat”

    Categories: Info, mbojo, promo Tag:, ,

    Bima – Makassar, sebuah sejarah ikatan darah

    Maret 29, 2008 37 komentar

    Arus modernisasi dan demokratisasi disegala bidang kehidupan telah mempengaruhi cara pandang dan cara berpikir seluruh element masyarakat. Hubungan keakrabatan antar etnis dan bahkan hubungan darah sekalipun terpisahkan oleh tembok modernisasi dan demokrasi hari ini. Hubungan keakrabatan dan kekeluargaan yang terjalin selama kurun waktu 1625 – 1819 (194 tahun) pun terputus hingga hari ini. Hubungan kekeluargaan antara dua kesultanan besar dikawasan Timur Indonesia yaitu Kesultanan Gowa dan Kesultanan Bima terjalin sampai pada turunan yang ke- VII. Hubungan ini merupakan perkawinan silang antara Putra Mahkota Kesultanan Bima dan Putri Mahkota Kesultanan Gowa terjalin sampai turunan ke- VI. Sedangkan yang ke- VII adalah pernikahan Putri Mahkota Kesultanan Bima dan Putra Mahkota Kesultanan Gowa. Berikut urutan pernikahan dari silsilah kedua kerajaan ini :

    1. Sultan Abdul Kahir (Sultan Bima I) menikah dengan Daeng Sikontu, Putri Karaeng Kasuarang, yang merupakan adik iparnya Sultan Alauddin pada tahun 1625. dari pernikahan ini melahirkan Sultan Abil Khair (Sultan Bima ke-II)
    2. Sultan Abil Khair (Sultan Bima ke- II) menikah dengan Karaeng Bonto Je’ne. Adalah adik kandung Sultan Hasanuddin, Gowa pada tanggal 13 April 1646. dari pernikahan ini melahirkan Sultan Nuruddin (Sultan Bima ke-III) pada tahun 1651.
    3. Sultan Nuruddin (Sultan Bima ke-III) menikah dengan Daeng Ta Memang anaknya Raja Tallo pada tanggal 7 mei 1684. dari pernikahan tersebut melahirkan Sultan Jamaluddin (Sultan Bima ke-IV)
    4. Sultan Jamaluddin (Sultan Bima ke IV) menikah dengan Fatimah Karaeng Tanatana yang merupakan putri Karaeng Bessei pada tanggal 8 Agustus 1693. dari pernikan tersebut melahirkan Sultan Hasanuddin (sultan Bima ke- V).
    5. Sultan Hasanuddin (Sultan Bima ke- V) menikah dengan Karaeng Bissa Mpole anaknya Karaeng Parang Bone dengan Karaeng Bonto Mate’ne, pada tanggal 12 september 1704. dari pernikahan ini melahirkan Sultan Alaudin Muhammad Syah pada tahun 1707 (Sultan Bima ke- VI)
    6. Sultan Alaudin Muhammad Syah (Sultan Bima ke- VI) menikah dengan Karaeng Tana Sanga Mamonca Raji putrinya sultan Gowa yaitu Sultan Sirajuddin pada tahun 1727. pernikahan ini melahirkan Kumala Bumi Pertiga dan Abdul Kadim yang kemudian diangkat menjadi Sultan Bima ke- VII pada tahun 1747. ketika itu beliau baru berumur 13 tahun. Kumala Bumi Pertiga putrinya Sultan Alauddin Muhammad Syah dengan Karaeng Tana Sanga Mamonca Raji ini kemudian menikah dengan Abdul Kudus Putra Sultan Gowa pada tahun 1747. dan dari pernikahan ini melahirkan Amas Madina Batara Gowa ke-II. Sementara Sultan Abdul Kadim yang lahir pada tahun 1729 dari pernikahan dari pernikahannya melahirkan Sultan Abdul Hamid (Sultan Bima ke- VIII). Sultan Abdul Hamid (La Hami) dilahirkan pada tahun 1762 kemudian diangkat menjadi sultan Bima tahun 1773.
    7. Sultan Abdul Kadim (Sultan Bima ke- VII) dari pernikahannya (Istrinya tidak terlacak oleh dalam referensi sejarah yang kami baca- mohon Maaf) melahirkan Sultan Abdul Hamid pada tahun 1762 dan Sultan Abdul Hamid diangkat menjadi Sultan Bima ke- VIII pada tahun 1773.
    8. Sultan Abdul Hamid (Sultan Bima ke- VIII) dari pernikahannya (Istrinya tidak terlacak oleh dalam referensi sejarah yang kami baca- Mohon Maaf) melahirkan Sultan Ismail pada tahun 1795. ketika sultan Abdul Hamid meninggal dunia pada tahun 1819, pada tahun ini juga Sultan Ismail diangkat menjadi Sultan Bima ke- IX
    9. Sultan Ismail (Sultan Bima ke- IX) dari pernikahannya (Istrinya tidak terlacak oleh dalam referensi sejarah yang kami baca- Mohon Maaf) melahirkan sultan Abdullah pada tahun 1827
    10. Sultan Abdullah (Sultan Bima ke- X) menikah dengan Sitti Saleha Bumi Pertiga, putrinya Tureli Belo. Dari pernikahan ini abdul Aziz dan Sultan Ibrahim.
    11. Sultan Ibrahim (Sultan Bima ke- XI) dari pernikahannya melahirkan Sultan Salahuddin yang kemudian diangkat menjadi Sultan Bima ke- XII pada tahun 1888 dan memimpin kesultanan hingga tahun 1917. Read more…
    Categories: Info, mbojo Tag:

    Rawa Mbojo (Lagu daerah Bima) part 2 (terupdate)

    Maret 21, 2008 98 komentar

    Heheh…. setelah beberapa lama tidak posting lagu, akhirnya kesampean juga keinginan saya mengupload lagu. Kali ini saya ingin membayar utang saya pada rekan-rekan pecinta rawa Mbojo, yang dalam postingan lagu pertama saya, saya pernah berjanji membagi koleksi di hardisk saya. Rencananya sih, dari dulu saya mau upload, tapi apalah daya, bandwith internet saya gak sanggup kalo upload mp3. Jadi untuk menguploadnya saya harus ke warnet, sekaligus refreshing karenacapek, ngenet dikamar, hihiiihihihi…….. Rencananya juga saya mau upload 3 album, yaitu AAN Saputra, Albumnya Kapenta wadu, dan terakhir, satu album lagi lagu campuran. Tapi ternyata gak kesampean juga soalnya dengan satu file mp3 berukuran rata rata 4 MB, 3 album saya rasa mustahil…. jadi, link link lagu dibawah ini merupakan pilihan pribadi saya yang sempat di upload, heheh…..

    AAN S -Rimpu Colo Cili.MP3 File 4.81 MB
    AAN S -Darmaga Mbojo.MP3 File 3.6 MB
    AAN S -Mori di Rasa Dou_2.MP3 File 4.46 MB
    AAN S -Mori Kese.MP3 File 4.46 MB

    Album campuran:

    Lopi Penge.mp3 File 5.1 MB
    HAJU JATI.mp3 File 820.92 KB
    kambali mbojo mantoi.wma File 2.33 MB
    lamba rasa.MP3 File 8.61 MB
    Lingi Ade.MP3 File 6.96 MB

    Yup, itu saja dulu untuk kesempatan ini…. Postingan link lagu sebelumnya (mbojo klasik) bisa didapatkan disini. makasih atas commentnya

    11/07/2008: Tambahan Upload sebuah lagu yang baru didapat, judulnya gak tau, alirannya R&B, plesetan dari lagunya Virus Cinta nya Dewi Dewi. Ada Juga mp3 Hamdan ATT yang judulnya Intan (ana Ibu Dija) :D

    Check This Out:

    BONGGE-AJUS..AJUS..AJUS.rar 2.64 MB Download Ta Ake

    HamdanATT-Intan.rar 2.64 MB Download Ta Ake

    UPDATE 2 November 2009

    http://www.ziddu.com/download/7178094/lainadanee.MP3.html

    http://www.ziddu.com/download/7178095/LOJANGGENGGE.mp3.html

    http://www.ziddu.com/download/7178096/Mbojo_aLan.mp3.html

    http://www.ziddu.com/download/7178097/e…aule.mp3.html

    http://www.ziddu.com/download/7178098/MbojoSerokanari.mp3.html

    http://www.ziddu.com/download/7178099/EAule.mp3.html

    http://www.ziddu.com/download/7178100/LEWIMORI.mp3.html

    http://www.ziddu.com/download/7178101/Mbojo-WADUPAA.mp3.html

    http://www.ziddu.com/download/7178102/MALINGI.mp3.html

    http://www.ziddu.com/download/7178103/Mbojo_5akeMusaWuRa.mp3.html

    Upload file Rawa Mbojo anda di:

    Rawa Mbojo (Lagu daerah Bima) part 3 (Klasik) klik disini

    Rawa Mbojo (Lagu daerah Bima)

    Januari 27, 2008 183 komentar

    Menyebarkan Lagu, atau segala kreasi cipta orang tanpa meminta izin atau lisensi dari yang berhak, saya sadari sebagai sebuah pembajakan hak cipta. Tapi banyak orang yang membutuhkan lagu-lagu daerah untuk bernostalgia, mengingat kenangan dan nuansa daerah sendiri, sekaligus memperkenalkan heritage daerah Bima keseluruk pelosok dunia. Semoga niat saya dapat diamaklumi dan bermanfaat bagi kita semua.

    Kumpulan lagu daerah bima yang ingin saya bagi pada semua saudaraku pecinta Rawa Mbojo sebenarnya banyak, tapi pada kesempatan ini, biarlah satu album dulu. Lainnya menyusul. Ingat, Link dibawah ini valid setidaknya sampai 3 bulan sejak tanggal penulisan, kalaupun nanti expired atau semacamnya, saya akan update lagi linknya.

    klik disini untuk Lokasi Download Lagu Bima Yang Baru!

    Upload file Rawa Mbojo anda di:

    Categories: lagu, mbojo, rawa Tag:, , , ,
    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.

    Bergabunglah dengan 84 pengikut lainnya.