Bima - Makassar, sebuah sejarah ikatan darah

Maret 29, 2008 at 9:03 am (Info, mbojo) ()

Arus modernisasi dan demokratisasi disegala bidang kehidupan telah mempengaruhi cara pandang dan cara berpikir seluruh element masyarakat. Hubungan keakrabatan antar etnis dan bahkan hubungan darah sekalipun terpisahkan oleh tembok modernisasi dan demokrasi hari ini. Hubungan keakrabatan dan kekeluargaan yang terjalin selama kurun waktu 1625 – 1819 (194 tahun) pun terputus hingga hari ini. Hubungan kekeluargaan antara dua kesultanan besar dikawasan Timur Indonesia yaitu Kesultanan Gowa dan Kesultanan Bima terjalin sampai pada turunan yang ke- VII. Hubungan ini merupakan perkawinan silang antara Putra Mahkota Kesultanan Bima dan Putri Mahkota Kesultanan Gowa terjalin sampai turunan ke- VI. Sedangkan yang ke- VII adalah pernikahan Putri Mahkota Kesultanan Bima dan Putra Mahkota Kesultanan Gowa. Berikut urutan pernikahan dari silsilah kedua kerajaan ini :

  1. Sultan Abdul Kahir (Sultan Bima I) menikah dengan Daeng Sikontu, Putri Karaeng Kasuarang, yang merupakan adik iparnya Sultan Alauddin pada tahun 1625. dari pernikahan ini melahirkan Sultan Abil Khair (Sultan Bima ke-II)
  2. Sultan Abil Khair (Sultan Bima ke- II) menikah dengan Karaeng Bonto Je’ne. Adalah adik kandung Sultan Hasanuddin, Gowa pada tanggal 13 April 1646. dari pernikahan ini melahirkan Sultan Nuruddin (Sultan Bima ke-III) pada tahun 1651.
  3. Sultan Nuruddin (Sultan Bima ke-III) menikah dengan Daeng Ta Memang anaknya Raja Tallo pada tanggal 7 mei 1684. dari pernikahan tersebut melahirkan Sultan Jamaluddin (Sultan Bima ke-IV)
  4. Sultan Jamaluddin (Sultan Bima ke IV) menikah dengan Fatimah Karaeng Tanatana yang merupakan putri Karaeng Bessei pada tanggal 8 Agustus 1693. dari pernikan tersebut melahirkan Sultan Hasanuddin (sultan Bima ke- V).
  5. Sultan Hasanuddin (Sultan Bima ke- V) menikah dengan Karaeng Bissa Mpole anaknya Karaeng Parang Bone dengan Karaeng Bonto Mate’ne, pada tanggal 12 september 1704. dari pernikahan ini melahirkan Sultan Alaudin Muhammad Syah pada tahun 1707 (Sultan Bima ke- VI)
  6. Sultan Alaudin Muhammad Syah (Sultan Bima ke- VI) menikah dengan Karaeng Tana Sanga Mamonca Raji putrinya sultan Gowa yaitu Sultan Sirajuddin pada tahun 1727. pernikahan ini melahirkan Kumala Bumi Pertiga dan Abdul Kadim yang kemudian diangkat menjadi Sultan Bima ke- VII pada tahun 1747. ketika itu beliau baru berumur 13 tahun. Kumala Bumi Pertiga putrinya Sultan Alauddin Muhammad Syah dengan Karaeng Tana Sanga Mamonca Raji ini kemudian menikah dengan Abdul Kudus Putra Sultan Gowa pada tahun 1747. dan dari pernikahan ini melahirkan Amas Madina Batara Gowa ke-II. Sementara Sultan Abdul Kadim yang lahir pada tahun 1729 dari pernikahan dari pernikahannya melahirkan Sultan Abdul Hamid (Sultan Bima ke- VIII). Sultan Abdul Hamid (La Hami) dilahirkan pada tahun 1762 kemudian diangkat menjadi sultan Bima tahun 1773.
  7. Sultan Abdul Kadim (Sultan Bima ke- VII) dari pernikahannya (Istrinya tidak terlacak oleh dalam referensi sejarah yang kami baca- mohon Maaf) melahirkan Sultan Abdul Hamid pada tahun 1762 dan Sultan Abdul Hamid diangkat menjadi Sultan Bima ke- VIII pada tahun 1773.
  8. Sultan Abdul Hamid (Sultan Bima ke- VIII) dari pernikahannya (Istrinya tidak terlacak oleh dalam referensi sejarah yang kami baca- Mohon Maaf) melahirkan Sultan Ismail pada tahun 1795. ketika sultan Abdul Hamid meninggal dunia pada tahun 1819, pada tahun ini juga Sultan Ismail diangkat menjadi Sultan Bima ke- IX
  9. Sultan Ismail (Sultan Bima ke- IX) dari pernikahannya (Istrinya tidak terlacak oleh dalam referensi sejarah yang kami baca- Mohon Maaf) melahirkan sultan Abdullah pada tahun 1827
  10. Sultan Abdullah (Sultan Bima ke- X) menikah dengan Sitti Saleha Bumi Pertiga, putrinya Tureli Belo. Dari pernikahan ini abdul Aziz dan Sultan Ibrahim.
  11. Sultan Ibrahim (Sultan Bima ke- XI) dari pernikahannya melahirkan Sultan Salahuddin yang kemudian diangkat menjadi Sultan Bima ke- XII pada tahun 1888 dan memimpin kesultanan hingga tahun 1917.
  12. Sultan Salahuddin (Sultan Bima ke- XII) sebagai Sultan Bima terakhir dari pernikahannya melahirkan Abdul Kahir II (Ama Ka’u Kahi) yang biasa dipanggil dengan Putra Kahi dan St Maryam Rahman (Ina Ka’u Mari). Putra Kahir ini kemudian Menikah dengan Putri dari Keturunan Raja Banten (Saudari Kandung Bapak Ekky Syachruddin) dan dari pernikahannya melahirkan Bapak Fery Zulkarnaen

Adalah sangat Ironi memang jika pada hari ini generasi baru dari kedua Kesultanan Besar ini kemudian tidak saling kenal satu sama lain. Bahkan pada zaman kerajaan, pertumbuhan dan perkembangan penduduk Gowa dan Bima merupakan Etnis yang tidak bisa dipisahkan dan bahkan masyarakat Gowa pada umumnya tidak bisa dipisahkan dengan Etnis Bima (Mbojo) sebagai salah satu Etnis terpenting dalam perkembangan kekuatan kerajaan Gowa. Dari catatan sejarah yang dapat dikumpulkan dan dianalisa, hubungan kekeluargaan antara kedua kesultanan tersebut berjalan sampai pada keturunan ke- IX dari masing-masing kesultanan, dan jika dihitung hal ini berjalan selama 194 tahun. Dari data yang berhasil dikumpulkan, dapat disimpulkan bahwa hubungan kesultanan Bima dan Gowa dengan pendekatan kekeluargaan (Darah) terjalin sampai pada tahun 1819. Analisa ini berawal dari pemikiran bahwa ada hubungan darah yang masih dekat antara Amas Madina Batara Gowa Ke- II anaknya Kumala Bumi Pertiga dengan Sultan Abdul Hamid (Sultan Bima ke- VIII). Karena keduanya masih merupakan saudara sepupu satu kali. Bahkan ada kemungkinan yang lebih lama lagi hubungan ini terjalin. Yaitu ketika Sultan Abdul Hamid meninggal pada tahun 1819 dan pada tahun itu juga langsung digantikan oleh putra mahkotanya yaitu Sultan Ismail sebagai sultan Bima ke- IX. Karena Sultan Ismail ini kalau dilihat keturunannya masih merupakan kemenakan langsungnya Amas Madina Batara Gowa Ke- II, jadi hubungan ini ternyata berjalan kurang lebih 194 tahun.

Pada beberapa catatan yang kami temukan, bahwa pernikahan Salah satu Keturunan Sultan Ibrahim (Sultan Bima ke- XI) masih terjadi dengan keturunan Sultan Gowa. Sebab pada tahun 1900 (pada kepemimpinan Sultan Ibrahim), terjadi acara melamar oleh Kesultanan Bima ke Kesultanan Gowa. Mahar pada lamaran tersebut adalah Tanah Manggarai. Sebab Manggarai dikuasai oleh kesultanan Bima sejak abad 17. Namun, pada catatan sejarah tersebut tidak tercatat secara jelas.

Sumber Data :

  • Buku Sejarah Bima; Drs M. Hilir Ismail, 1997 (Mantan Ketua Harian Istana Kesultanan Bima)
  • BO, Catatan Sangaji Bima, Hj. Sitti Maryam Rahman, 1994 (Putri Sultan Bima terakhir)
  • Kumpulan artikel (Lontara) Sulawesi Selatan, Perpustakaan Daerah Sulawesi Selatan

Tulisan diatas, saya ambil dengan sedikit editan dari web bimacenter.com dipublish pada tanggal 18 maret 2008 dengan juul asli ” Mengungkap Kembali Hubungan Darah Bima-Bugis-Makassar” oleh anonim

12 Komentar

  1. Furkan berkata,

    April 6, 2008 pada 7:41 pm

    pertamaX

    Ane Pingginnya Nulis Tentang Kerajaan Sanggar

  2. rhakateza berkata,

    April 6, 2008 pada 7:45 pm

    iya… kerajaan sanggar, The Lost Treasure. Bagusnya, sekalian bikin skenario film nya, hehehehhe…..

  3. UWIUW berkata,

    April 7, 2008 pada 8:01 pm

    hmm menarik jg nih….sy suka ama sejarah sih hhehehe :)

    yup, karena kita hari ini adalah sejarah untuk besok….

  4. Muhsinin berkata,

    April 11, 2008 pada 12:59 am

    ake labo cou sih…….

    ada deh… Ini Mr. Muhsinin Kehutanan 2K kan???? pakabar om???

  5. Mus_ berkata,

    April 11, 2008 pada 4:05 pm

    iya. di buku sejarah gowa juga ada disebutkan tentang kekerabatan Gowa dan Bima.

    Tulisan yang bermanfaat sekali!

  6. viRoEs berkata,

    April 14, 2008 pada 10:08 pm

    kebetulan nih. memperingati hari jadi BIMA dan napak tilas sejarah hubungan bima - makassar, KOPA Mbojo akan melakukan ekspedisi di dua puncak di makassar. rencananya ekspedisi akan dilakukan awal juli 2008 ini. ayooo dukuuung

    yup, saya dukung sepenuhnya… mau mendaki yah, mau dong ikut juga… eh, tapi hari ini ada anak Mapala Unhas meninggal di Gunung Bulusaraung, takut²!!!! soalnya saya gak pernah naek gunung

  7. silver X berkata,

    April 24, 2008 pada 4:58 pm

    bagaimana dengan ikatan darah antara BIMA DAN DOMPU om????

    wah, kalo Bima-Dompu tuh, udah kayak sodara kandung…. tapi saia belom dapat referensi buat nulis hal itu di blog

  8. bagas berkata,

    April 25, 2008 pada 4:26 pm

    ( DARI SEJARAH NGANJUK )
    Adapun penguasa daerah Berbek dan Godean dapat dijelaskan sebagai berikut :
    1.Raja Bima mempunyai seorang putra, yaitu : Haji Datuk Sulaeman, yang kawin dengan putri Kyai Wiroyudo dan berputra 4 (empat) orang.

    Ayahnya Haji Datuk Sulaeman ini Raja Bima yang ke berapa?

  9. hilman berkata,

    Mei 3, 2008 pada 8:45 pm

    salam…. kemajuan dana mbojo ma ndai neka’i mba ruma ta’ala, dou mbojo labo dou makasar oru zama ma ntoi wau ra kadeni angi, munga tampu’u wara sangaji mbojo (lihat…BO), menurut mada mba ndeni angi ntoina aka laimpa kada ndeni angi wali, dalam artian rahi-wei raja dana mbojo ntoina ede ndei karu’u karongga dei zama ake aka daga kai, sekolah kai, labo maka lai-lai, laina ka ncara ma wau wara, mba au de…, konsekuansi ra ne’e dou ra rasa labo dana, ndei ake loa mbo ndai aka mbuneku katoho dana mbojo mulai ihake. salam……………………………………………………………………..thenks.

  10. radhinal berkata,

    Mei 19, 2008 pada 7:47 pm

    aduh….
    maaf kangampu
    selama ini saya selalu membaca sejarah bima pasti dimulai dengan raja pertama bima yang memeluk islam, bagaimana sejarah sebelum itu
    sebelum bima mengenal islam?

    tolong, saya berkali kali browsing dan baca buku tetep tdk ada

  11. alif berkata,

    Juli 9, 2008 pada 10:23 am

    ALIF,SALAM KENAL YACH CEzZZZ”””!!!

    yup !!!!!!!!!!

    Saya senang dengan termuatnya artikel sejarah RAJA-RAJA BIMA di WEBBLOGNYA RHAKATEZA’S———- soalnya lebih Mengingatkan,membawa kita pada kenyataan dana ro rasa MBOZO ndai yang sebenarnya,,,,,, mengenai sejarah asal usul serta hubungan darah antara kerajaan satu dengan kerajaan di luar bima ……malu lho..!! klo nda tau sejarah daerahnya sendiri,,,?????? jangan sampe ada orang nanya ?? t’long ceritain dong, gimana sich sejarah kerajaan di dearahmu ??? mau ngomong apalagi klo sejarahnya nda TAU !!!!!???????? MALU KAN……..(katanya daerah yang berkerajaan) ADUH,,,,, MAU DI SIMPAN DIMANA MUKA KU??

    lagian anak2 daerah mbozo sekarang banyak yang ndak tau mengenai sejarah raja-rajanya dulu kan,,,jangan kan pemahaman tantang kerajaan dulu,kerajaan sekarang aja mungkin pemahamanya masih ngambang nda jelas??????KARENA remaja-remaja BIMA sekarang lebih cenderung TAU ke sifat KEMODERNISASIAN sehingga budaya TRADISIONALNYA cenderung di abaikan,,,Bukan berarti saya melarang untuk berkembang !!!! justru,,mengetahui perkembangan itu sangatlah penting”"”"”"”"”"” tapi alangkah bagusnya lagi kita padukan dan imbangi dengan kehidupan zaman sekarang. OK dech

    TQ ya……..UDAH KASI INFORMASI nya, klo bisa sosialisasikan lagi…. terutama untuk gerasi muda mbojo sendiri,,,

  12. syamsudin berkata,

    Juli 20, 2008 pada 12:33 am

    mohon editor mengulas mengupas keadaan bima di jaman pra sejarah, trima kasih

    yup, masalahnya saya bukan ahli sejarah. Adapun tulisan saya selama ini rata-rata saduran atau kupipes dari situs dan media lain.
    Salah satu ketertinggalan dou mbojo menurut saya, adalah belum ada dan berfungsinya sebuah media online yang bisa menghadirkan informasi selengkap-lengkapnya tentang Mbojo. Bahkan informasi tentang bima baik sebagai entitas sejarah maupun kultural kebanyakan saya sadur dari media yang menyajikan budaya Melayu

    saya sedang mencoba berkorespondensi dengan sang pemilik situs, agar artikel-artikelnya bisa juga ditampilkan disini.

Tulis sebuah Komentar